Bagian 3
“Ha-ha-ha, bidadari yang cantik manis! Kami adalah laki-laki sejati, jantan tulen yang menjagoi hutan sekitar tempat ini,dan bukan harimau yang menjadi raja hutan, melainkan aku, singa Pragal badan sebelas orang anak buahku ini! Bagaimana kau menyangka kami pemberontak? Sudah lama aku
Singa Pragalba hidup membujuang belum mempunyai isteri, dan agaknya pantas sekali menjadi istriku. Ha,ha, ha!“
“Kakang Singa, dara jelita ini wajahnya mengingatkan aku kepada puteri yang ditolong oleh kakek tua itu!“ tiba-tiba seorang diantara berkata. Mendengar ucapan ini semua perampok memandang penuh perhatian dan Singa Pragalba sendiripun mengakui bahwa wajah daraini benar-benar mirip dengan puteri yang dulu mereka ganggu.
“Benar, Reksamuka (Si Muka Beruang), memang dia mirip sekali. Akan tetapi yang ini lebih segar, lebih muda, dan lebih manis!“
“Patut benar menjadi bini kakang Singa!” kata seorang lain.
Sementara itu tanpa diketahui oleh perampok-perampok yang bodoh dan sial itu, wajah-wajah Ratnawulan mulai berubah kemerah-merahan,sepasang matanya bersinar-sinar mengeluarkan cahaya panas.Tadinya ia merasa lega bahwa mereka ini bukanlahorang-orang yang oleh ibunya disebut kawan-kawan seperjuangan, dan ia hendak meninggalkan mereka begitu saja. Akan tetapi, melihat sikap dan mendengar kekurangajaran mereka, timbulah amarah dalam hatinya dan ia takkan merasa puas sebelum memberi hajaran ke pada orang-orang liar ini. Ia pun maklum bahwa yang mereka bicarakan adalah ibunya, karena ibunya pernah menuturkan bahwa dulu ketika ibunya mulai mendaki Gunung Mahameru, ibunya diganggu oleh sekawanan perampok dan kemudian ditolong oleh gurunya. Jadi inikah gerangan perampok-perampok jahanam yang pernah mengganggu ibunya. Mendapat kesempatan untuk membalas sakitjati ibunya dengancara demikian mudah tanpa mencari musuh-musuhnya ini, Ratnawulan menjadi demikian girang sehingga ia tertawa bergelak.Kawanan perampok itu lagi-lagi saling pandang terheran-heran, karena bagamanakah anak perawan ini demikian tabah sehingga menghadapi m reka ini sambil tertawa-tawa? Kalau saja anak gadis ini
mejadi ketakutan, melarikan diri dengan wajah pucat dan menjerit-jerit, mereka akan mengalami kesenangan mengejar-ngejar gadis yang lari ketakutan itu, berlumba berdulu-duluan untuk menangkap dan memeluk tubuh muda itu. Akan tetapi, gadis itu bukanlah lari ketakutan dan menangis, bahkan berdiri dengan gagah, masih bertolak pinggang dan tertawa bergelak-gelak, seakan-akan tidak sedang berhadapan dengan dua belas orang perampok tinggi besar, akan tetapi menghadapi dua belas ekor tikus yang lucu-lucusaja.
“Eh, kunyuk-kunyuk bercelana!“ Ratnawulan memaki sambil menudingkan telunjuknya yang runcing kearah mereka.“Ingatkah kalian bahwa puteri yang kalian kejar-kejar dulu itu menggendong seorang anak perempuan? Nah, bukalah matamu lebar-lebar!Akulah anak itu yang sekarang datang hendak menuntut balas atas kekurangajaran dahulu terhadap ibuku “
Koleksi Kang Zusi
Terkejutlah para perampok itu, terkejut dan memandang kagum. Mereka bukan terkejut karena takut, akan tetapi terkejut dan kagum melihat betapa anak kecil dahulu itu kini telah menjadi seorang remaja puteri yang demikian cantiknya.
“Ha, ha, bagus sekali. Kakang Singa, kuntumyang dulu itu kini telah mekar menjadi kembang.“
Singa Pragalba menyeringai senang dan ialalu maju menubruk dengan maksud memeluk Ratnawulan sambil mendengus. “Manis, marilah ikut kakang!“
“Monyet tua! Hari ini adalah hari terkutuk bagi kau dan kawan-kawanmu!“seru Ratnawulan sambil mengelak ke samping dan ketika tubuh kepala rampok itu memeluk angin, kaki kiri dara perkasa itu bergerak cepat menterampang kedua kaki Singa Pragalba sehingga tentu saja tubuh yang tiba-tiba kakinya terangkat itu menjadi terguling, terdorong kedepan dan jatuh dengan hidung menyentuh tanah lebih dulu.
“Aduh biung!“Singa Pragalba berteriak dan ketikaia merangkak, hidungnya yang besar itu telah penyok dan berdarah karena mencium batu hitam. Ratnawulan tertawa geli. “Ha,ha, tak pantas kau bernama singa! Lebih baik ganti saja namamu dengan Kapi(Monyet) atau Sona (Anjing). Kau seperti monyet makan teletong (tai lembu)“
Biarpun merasa geli di dalam hati, namun anak-anak buah Singa Pragalda tak berani tertawa dan mereka memandang dengan mata terbelalak saking herannya. Kepala mereka adalah seorang yang terkenal kuat dan memiliki kepandaian berkelahi yang mereka kagumi, akan tetapi kini menghadapi dara itu, baru satu gebrakan saja telah berdarah hidungnya.
Sementara itu, Singa Pragalba menjadi amat marah. Ia melopat berdiri, mengeluarkan geraman seperti seekor serigala, lalu mencabut goloknya dan memberi komando kepada anak buahnya. “Serbu!“tangannya menuding kearah Ratnawulan.Anak buahnya lalu mencabut golok masing-masing
karena untuk menghadapi dara perkasa itu dengan tangan kosong, mereka takut kalau mereka pun akan mengalami nasib seperti pemimpin mereka. Kemudian, sambil bersorak-sorak mereka menyerbu danmenyerang Ratnawulan dari segala jurusan. Golok mereka yang tiap hari diasah itu berkilap-kilap terkena cahaya matahari dan diacungkan dengan sikap mengancam. Akan tetapi Ratnawulan tetap tenangdan sepasang matanya mengerling ke kanan kiri, sikapnya waspada sekali.Sebelum lawan-lawannya bergerakia telah mendahului mereka sambil berseru nyaring.
“Awas! Terimalah pembagian hadiah dari Ratnawulan!“
Seruan yang nyaring dan keras itu membuat para perampok itu untuk sedetik menahan gerakan mereka dan memandang dengan penuh perhatian.Akan tetapi, tiba-tiba tubuh gadis ditengah-tengah itu lenyap, berubah menjadi sinar yang menyambar-nyambar mereka. Demikian cepatnya gerakan kaki tanganRatnawulan dan luar biasa pula terjangannya sehingga sukarlah mengikuti gerakan tubuhnya dengan mata. Segera terdengar jerit kesakitan susyl-menyusuldan robohlah para perampok itumalangmelintang dan tumpang tindih. Inilah Ilmu Pukulan Liman Bramantya (GajahMengamuk Marah) yang dimainkan oleh Ratnawulan dengan baik sekali.Tentu saja para perampok yang hanya terdiri mengandalkan tenaga otot itu tak dapat bertahan menghadapi ilmu pukulan yang hebat ini. Mereka itu biasanya berkelahi mempergunakan tenaga, tanpa disertai kecerdikan otak. Sebenta rsaja dua belas orang itut telah rebah mengaduh-aduh, ada yang benjolbenjol kepalanya, bocor hidung dan mulutnya, biru hitam matanya, bahkan ada pula yang patah-patah tulangnya. Singa Pragalba sendiri untuk kedua kalinya terbanting sehingga kini pada jidatnya, tepat di tengah atas alisnya, nampak kulitnya benjol sebesar telur bebek yang berwarna biru. Semua perampok merangkak dan menjauhkan diri dari dara perkasa itu yang mereka anggap telah mempergunakan ilmu sihir sehingga mereka menjadi ketakutan ak berani maju lagi. Akan tetapi Singa Pragalba tidak mau menyerah begitu saja. Ia melompat bangun lagidan sambil menuding kepada Ratnawulan yang masih berdiri tersenyum-senyum sambil bertolak pinggang, ia berkata keras.
“Perawan keparat! Kau telah mengandalkan ilmu sihir untuk melawan kami. Kalau kau memang keturunan pendekar dan bukan seorang pengecut, pergunakan cara perkelahian yang jujur. Atau, kau tentu takut melawan aku tanpa mempergunakan ilmusihirmu?“
Ratnawulan tersenyum mengejek. “Pembalasanku tadi sebenarnya masih terlampau lunak, mengingat bahwa kalian hanyalah orang-orang kasar yang tak berotak,maka aku masih memberi ampun.Akan tetapi, tidak tahunya kau benar-benarseorang yang bermartabat rendah. Kau ingin berkelahi? Baik, baik! Memang dosamu telah terlalu banyak maka kau perlu mendapat hajaran yang lebih berat.Nah, bagaimana kau mau berkelahi? Menggunakan senjata atau bagaimana? Aku siap sedia menghadapimu
dan jangan takut, aku takkan menggunakan ilmu sihir.“
Paraanak buah Singa Pragalba maju mendekat lagiuntuk menyaksikan perkelahian ini. Mereka mengharapkan agar pemimpin mereka akandapat membekuk perawan yang telah membuat mereka merasa sakit-sakit seluruh tubuh itu, agar mereka dapat pula membalas dendam. “Tak perlu aku mempergunakan senjata-senjata.“ jawab Singa Pragalba, “cukup dengan kedua tangan ini.Rasakan pukulan!“ Sambil berkata demikian, kepala rampok itumenyerbu sambil mengirim pukulan sebesar buah kelapa itu kearah dada Ratnawulan!
“Hm, tak tahu malu!“ seru Ratnawulan yang merasa marah sekali sambil menggeser kakinya ke belakang dan miringkan tubuhnya sehingga pukulanitu mengenai angin. “Lihat aku tidak mempergunaan kecepatan dan ilmu berkelahi yang baik!“
Singa Pragalba menjadi penasaran sekali dan kembali ia menyerang. Tingkahnya seperti seekor babi hutan yang menyeruduk saja, mengandalkan tenaga yang besar. Pukulan tangannya ini dengan mudah menghancukan sebutir kepala, maka kalau seandainya pukulannya itu mengenai tubuh Ratnawulan, akan celakalah dara itu. Akan tetapi serangan Singa Pragalba bukan merupakan apa-apa bagi Ratnawulan dan sampailimakali ia dapat mengelak dengan amat mudahnya.
“Tangkislah pukulanku! “teriak Singa Pragalba dengan amat marah dan penasaran.“Tangkislah kalau kau berani!“
Bibir Ratnawulan yan gtersenyum itu mengeras. Orang ini benar-benar tak tahu diri. Memang, siapakah yang takkan merasa penasaran? Menghadapi seorang remaja puteri yang mulai dewasa, seorang gadis yang berpinggang ramping dan bertubuh kecil lemah itu,masa seorang kepala perampok yang terkenal sampai kalah dan dipermainkan? Hampir gila karena marahnya Singa Pragalba memikirkanhal ini. Sementara itu a menyerang terus dengan pukulan bertubi-tubi sungguhpun pukulannya selalu mengenai angin, jangan kata dapat menyeramkan kulit tubuh lawannya, menyentuh ujung kembennyapun tak pernah!
“Kau ingin merasakan tangkisanku? Nah, rasakanlah!“ Sambil berkata demikian, Ratnawulan miringkan tubuhnya dan dengan jari-jari terbuka dan tangan dimiringkan,ia membabat kearah pergelangan tangan Singa Pragalba.
“Dukk!“terdengar suara ketika pergelangan lengan yangbesar itu ditumbuk oleh tangan Ratnawulan yang kecil dan berkulit halus. Kalau tidak melihat sendiri, para perampok itu tentu takkan mimpin mereka berlutut sambil memegangi tangannya, lalu menjerit-jerit kesakitan. Pergelangan tangan kirinya yang dipakai memukul tadi telah lumpuh karena tulangnya retak!
Namun,kepala rampok inibenar-benar bendeldan tidak mau menyerah dengan mudah.Tiba-tiba ia melompat dan tangan kanannya yang tidak terluka itu diulur merupakan cangkeraman yang menyerang pundak Ratnawulan, agaknya ia hendak mencekik leher gadis itu. Ratnawulan terkejut dan menangkis kilat tangan kanan Singa Pragalba menangkap tangan gadis itu dan dengan geraman liar ia membetot tangan Ratnawulan hendak memeluk tubuh dara perkasa itu. Akan tetapi, secepat kilat tangan kanan Singa Pragalba menangkap tangan gadis itu dan dengan
geraman liar iamembentot tangan Ratnawulan hendak memeluk tubuh dara perkasa itu. Akan tetapi, selagi paraanak buah perampok merasa girang, tiba-tiba terjadilah halyang aneh sekali. Entahbagaimana daraperkasa itu bergerakkarena tahu-tahu tubuh Singa Pragalba yang tinggi besaritu mencelat danterlemparjauh, jatuhdi bawah sebatang pohon.Kebetulansekali di bawah pohonitu terdapat teletong (tai lembu) yang hitamdan masih empuk, bergunduk seperti bukitkecil. Tubuh Singa Pragalbajatuh dengan muka lebih dulu,tempat diatas teletongitu sehingga mukanya masukke dalam tai lembu itu. Kini menggigilah tubuh para perampok itu dan mereka tidak merasa lucu ketika melihat betapa Singa Pragalba merangkak-rangka bangun sambil membersihkan mukanya dari tai lembu dan terdengar ia merintih-rintih kesakitan.
“Nah, biarlah huhuman ini merupakan pelajaran bagi kalian! “kata Ratnawulan.“ Dan lain kali janganlah kalian memandang rendah kaum wanita! Kalau aku mendengar lagi tentang kekurangajaranmu terhadap wanita, awaslah! Ratnawulan akan datang dan menghabiskan nyawa kalian!“
Setelah berkatad emikian, sekali ia berkelebat dengan mengeluarkan Aji Kesaktian Marga Kenaka (Kijang Emas), tubuhnya melompat jauh dan lenyap di balik pohon-pohon, sehingga para perampok itu
saling pandang dengan mata terbelalak dan mulut melongo, akhirnya mereka berlutut dan menyembah oleh karena mereka menduga bahwa gadis itu tentulah sebangsa peri dari kahyangan.
*
Menjelang senjakala, sampailah Ratnawulan di hutan randu dikaki Mahameru sebelah timur itu. Hutan ini besar dan memang di situ tumbuh banyak sekali pohon-pohon randu alas di samping pohonpohon raksasa lain. Dari luar,hutan itu nampak angker sekali,sehingga tidak sembarang orang beranimemasukinya. Kadang-kadang terdengar auman harimau dan salak anjing serigala yang melolong-lolong mendirikan bulu tengkuk.
Tanpa ragu sedikitpun juga, Ratnawulan memasuki hutan itu dan menuju ke tengah. Karena hutan itu amat rangkut (penuh tetumbuhan),maka kalau di luarhutan masihsenja, didalam hutan itu telag gelap sekali.Cahaya matahari Siang sudah lemah itu hanya sedikit saja dapat menembus celah-celah daun pohon.
Tiba-tiba Ratnawulan menahan langkahnya. Telinganya yang terlatih dan mempunyai tenaga yang lebih kuat daripada telinga orang biasa itu dapat mendengar suara orang-orang dari jauh yang hanya terdengar sebagaibisik-bisiksajadiseling suara ketawa. Bagi oranglain,tentu suara itu akandisangka suara jin dan setan penghuninya hutan liar akan tetapi Ratnawulan maklum bahwa itu adalah suara orang-orang bercakap-cakap yang menggema di dalam hutan. Ia lalu mengarahkan langkahnya ke jurusan suara-suara itu mendatang.
Tak lama kemudian tampaklah olehnya sinar terang dan ternyata bahwadi tempat terbuka karena pohon-pohonan agaknya telag ditebang, terdapat tiga unggun api besar bernyala-nyala dan di sekitar api itu terdapat banyak orang laki-laki.Adayang bercakap-cakap, ada yang bersendau gurau, bahkan ada yang sedang memanggang daging binatang hutan.
“Hm, inilah mereka!“kata Ratnawulan dalam hatinya dan tanpa takut sedikitpun ia melangkah maju dengan cepat sehingga sebentar sajaia telah berdiri di dekat kelompok orang-orang yang jumlahnya kurang lebih tiga puluh orang itu.
Seorang di antara mereka, masih muda berusiadua puluhan, adalah orang pertama yang melihat menuding kearah Ratnawulanyang disangkanya periatau jinperempuan,ia berdiri dengan kedua kaki wel-welan(menggigil) dan mulutnya yang hendak berseru “Setan. Setan!“ itu hanya dapat mengeluarkan suara,
“Uuh.uuuuh.!“
Kawan-kawannya memandangnya dengan heran dan ketika mereka menengok mereka heran dan juga terkejut sekali.Pada penglihatan pertama, semua orangjuga timbul persangkaan bahwa yang berdiri dengan kedua kaki terpentang dan tangan bertolakpinggang itutentulah sebangsa peri atau jin. Seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun dan agaknya berani dari kawannya, lalu bangkit berdiri dan melangkah maju,akan tetapi tidak sampai terlampau dekat Ratnawulan, lalu menegurnya.
“Siapakah di depan? Kalau manusia, datang darimana, siapa nama,dan apa maksud kedatangan? Kalau
makhluk halus, harap pergi dan jangan mengganggu kmi yang mempunyai niat jahat!“
Ratnawulan menjadi geli hatinya dan terasa lagi ia tersenyum.Mereka menahan napas ketika melihat senyum ini. Silau mata mereka melihat kecantikan wajah dengan senyumnya yang amat manis itu. Melihat pendangan mata mereka, timbul sifat kenakalan Ratnawulan yang hendak mempermainkan mereka.
“Hai para pemberontak! Kalian menyatakan tidak berniat jahat, akan tetapi mengapa kalian mengganggu penduduk Mahameru danm erampok mereka?“
Benar saja, ucapan ini membuat tiga puluh lebih orang laki-laki itu menjadi gemetar dan ketakutan.Merekatak syak lagi, wanita initentulah seorang peridari Mahameru yang datang hendak menghukum mereka! Orangtua yang tadi menegur Ratnawulan lalu berkata lagi setelah menjilat-jilat bibirnya yang terasa kering.
“Sang Mahadewi, kami terpaksa merampok karena kami harus makan. Mengandalkan hasil buruansaja tidak cukup untuk memberi ransum kepada kawan-kawan kami yang puluhan jumlahnya. Kalau kami tidak merampok hasil tani para penduduk, tentu kami akan mati kelaparan!“
Suara Ratnawulan terdengar keras dan berpengaruh ketika ia berat dengan marah. “Pandir, lemah dan pengecut! Kalian menganggap diri sendiri ksatria-ksatria yang gagah, yang telah berani memberontak untuk menumbangkan kekauasaan jahat! Apakah tujuan dari pemberontak kalian itu? Bukanlah kalian bertujuan untuk membasmi kekuasaan jahat guna membela rakyat daripada penindasan? Dan sekarang apakah yang kalian perbuat? Merampoki rakyat jelata malah! Tahukah kalian bahwa dengan alasan mencegah diri sendiri dari kelaparan kalian telah membuat penduduk Mahameru terancam bahaya kelaparan kalau padidan hasil sawahnya kalian rampok? Inikah pahlawan-pahlawan perkasa? Memalukan sekali!“
Pada saat itu,semua orang memandang kepada Ratnawulan dengan melongo, bakan orang-orang yang
tadi memanggang daging juga meninggalkan pekerjaannya sehingga daging yang terpanggang dan dibiarkan menjadi hangus dan asap bergulung-gulung.
Semenjak berangkat daripuncak gunung, Ratnawulan belum makan apa-apa, maka kini mencium daging panggang, ia merasalaparsekali.Kemarahan danucapan yangkeras membuat perutnya terasa makin lapar saja, makatanpa memperdulikan orang-orangyang berada disitu, ia lalu melangkah maju ketempat pemanggangan daging,dan membalik-balikkan daging yang dipanggang itu sampai matang benar. Kemudian ia mulai makan daging tanpa melirik atau menawarkan kepada orang-orangyang masih berdiri dan mengawasi seluruh gerak-geriknya bagaikan patung.
Melihat betapa “peri“ itu makan daging panggang dengan enaknya, mereka mulai bisik-bisik.
“Ia suka daging panggang!“ kata seorang.
“Ia bukan peri! Mana adaperi makan dagingpanggang!“ terdengar suara lain.
“Mahkluk halus tak pernah makan.“kata suara ketiga.
“Dia orang biasa! Dia penipu!“ kata orang lain dengan suara marah.
Maka mulai beginilah orang-orang itu dan dengan hati geram mereka mulai bergerak mendekatiRatnawulan. Akant etapi orang tua yang agaknya menjadi pemimpin itu berkata.
“Jangan ganggu Dia, biarkan dia makan lebih dahulu. Kasihan kelihatannya amat lapar!“
Sambil makan daging panggang, diam-diam Ratnawulan mendengarkan semua percakapan ini dan ia merasa amat geli. Ia agak merasa amat puas melihat sikap mereka, karena tidak sekasar parap erampok yang dihajarnya siang tadi. Bahkan didalam hati ia memanfaatkan perbuatan mereka yang telah merampok setelah mendengar alasan orangtua tadi. Mereka memang bodoh, akan tetapi kadaaan mereka patut dikasihani.
Setela hselesai makan, Ratnawulan memetik daun pisang bagian pupusnya (daunmuda) untuk membersihkan bibir,kemudiania berdiri untuk menghadapi mereka.
“Setidaknya aku berterima kasih untuk daging yang baru saja kumakan tadi.“ katanya.
Kini mereka menghadapinya dengan marah. Orangtua itu berkata sambil tersenyum, karena ternyata ia adalah seorang penyabar.
“Nini, jangan kau mencoba untuk menipu kami. Kau bukanlah seorang peri, akan tetapi seorang gadis biasa. Sebetulnya siapakah kau dan mengapa kau seorang remaja puteri seorang diri datang dihutan berlukar pada malam hari?“
Ratnawulan tersenyum manis. “Siapakah yang menipu kalian dan siapa pula yang mengaku menjadi peri siluman? Kalian sendirilah yang bodoh dan tahyul ,menganggap aku sebagai peri! Aku adalah seorang biasa dan kedatanganku ini untuk menghentikan kesesatan kalian yang telah berani menganggu pendudukGunung Mahameru!“
Mendengar pengakuan bahwa dara ini bukanlah seorang peri, kembalilah keberanian semua orang dankini mereka terheran-heran mendengar pernyataan Ratnawulan yang hendak melarang mereka! Timbul geli dalam hati mereka, bahkan seorang di antara mereka yang tinggi besar lalu melangkah maju dan bertanya dengan suara mengejek.
“Nona manis, ucapanmu sombong sekali! Dengan jalan apakah engkau hendak menghentikan perbuatankami?“
“Mungkin dengan senyumnya yang manis!“ terdengar seorang mengejek.
“Lirikan mata yang tajam memikat memang dapat melumpuhkan semangat kita!“ seru seorang lain.
“Kalau diamenjadi punyaku, disuruh apapun juga saya akan rela!“ katapula seorang lain yang agak kurangajar.
Akan tetapi jawaban dara itu benar-benar membuat semua orang tertegun, karena dengan sikap tenang dan suara keren. Ratnawulan berkata.
“Aku akan menghentikan kesesatan kalian dengan jalan melarang kalian melakukan perampokan kepada orang-orang dusun!“
Untuk beberapa lama semua orang terdiam karena suara ini biarpun halus dan merdu, namun amat berpengaruh dan mengejutkan. Aka tetapi, hal itu hanya berlangsung sebentar, karena segera meledaklah suara ketawa mereka. Bahkan orang tua yang sabar itupun tersenyum geli melihat kecongkakan gadis ini.
“Nini,“ kanta sambil menahansenyum, “kau benar-benar gagah berani.Akan tetapi, kau adalah seorang gadis lemah lembut dan cantik jelita, tak kalah oleh puteri-puteri Majapahit. Sedangkan kami adalah orang-orang kasar, perajurit-perajurit yangt angkas dan kuat. Dengan cara bagaimanakah kau dapat melarang kami?“
Semua orang terdiam sambil tersenyum dan memperhatikan dara itu karena ingin sekali mereka mendengar jawabannya.
“Aku melarang kalian mengganggu penduduk di sini, dan dengan cara apa saja yang akan kaluan kehendaki. Dengan cara halus,aku hanya memberi nasihat dan peringatan saja, akan tetapi andaikata kalian menghendaki cara kasar, suruhlah maju orang yang terkuat di antara kalian untuk melawanku mengadu ketangkasan dan kegagahan!“
Orang yang tinggi besar tadi lalu melangkah maju dan mengangkat dadanya yang membusung ke depan. Ia memang nampak kuat sekali dan seluruh tubuhnya dilingkari otot-otot yang menonjol keluar dibawah kulitnya. Ia terkenal sebagai jagoan di antara rombongan orang itu dan namanya adalah Bejo. Orang ini belum tua benar, usianya kurang lebih tigapuluh tahun dan dahulu adalah anak buah tentara yang dipimpin oleh RanggaLawe di Tuban.Ia dahulu bekerja menjadi jagal (Pemotong hewan)dan selain tangannyabesar, juga ia amat pandai berkelahi, mengenal banyak macam ilmu pukulan dan gulat.Orangnya besar, akan tetapi hatinya jujur. Ketika Bupati Rangga Lawe memberontak terhadap Majapahit, ia measuk menjadi menjadi anggota barisan dan sepak terjangnyad alam peprangan amat mengejutkan musuh-musuhnya. Akan tetapi akhirnya, barisan Rangga Lawe hancur sehingga Bejo terpaksa melarikan diri dengan beberapa orang kawannya. Kini melihat seorang dara yang demikian gagah dan sombongnya, ia menjadi tidak sabar lagi karena merasa bahwa kehormatan rombongannya disinggung dan dihina.
“Akulah orang terkuat diantara kawan-kawanku. Namanya Bejo asal dari Tuban. Kau ini anak perempuan ringkih (lemah) ternyata bermulut lancing. Apakah kegagahanmu menyamai Srikandi?
Nah, aku telah maju,hayo, kau boleh bertindak apa saja untuk mencoba kepandaian!“ Sambil berkata demikian ia melembungkand adanya dan berdiri di depan Ratnawulan sambil bertolak pnggang,seakan-akania menawarkan dadanya untuk dipukul.
Karena Bejo melangkah maju sampai dekat sekali dengan Ratnawulan, gadis itu melangkah mundur setindak sambil berkata menyindir.
“Namamu Bejo (mujur), akan tetapi dengan sikapmu yang kasar dan sombong ini kau mendatangkan kemalangan bagi dirimu. Dalam dua hal kau mungkin melebihi kerbau, akan tetapi dalam satuhal kaukalah oleh kerbau itu!“
Bejo memandang bodoh. “Eh, apa maksudmu?“
“Kau masih melebihi kerbau dalam hal tenaga dan bau tak enak, akan etapi otakmu lebih bodoh dari pada kerbau. Binatang itu masih dapat mengenal orang yang lebih kuat daripadanya, akan tetapi kau menyeruduk saja seperti kerbau gila.“
Semua orang tertawa mendengar ini dan Bejo menjadi marah sekali.
“Bocah kurangajar! Jagalah lidahmu baik-baik. Kalau aku sudah marah, mungkin aku lupa bahwa kau adalah seorang gadis muda yang ringkih dan cantik!“
“Ringkih? Boleh kucoba! Nah, makanlah pukulanku ini!“ Sambil berkata demikian, Ratnawulan mengirimpukuan kearah dada Bejo yang tersenyum mengejek sambil memasang dadanya! Ratnawulan membuka jari tangannya dan menebak (memukul dengan telapak tangan) kearah dada itu sambil berseru.
“Robohlah kau kerbau!“
Ketika telapak tangan yang berkulit halus itu menumbuk dada ejo, terdengar suara“buk!“
bagaikan bedug ditabuh dan alangkah herannya semua orang ketika melihat betapa tubuh Bejo yang tinggi besar itu mencelat dan terlempar kebelakang dua tombak lebih seakan-akan terbawa oleh angina puyuh! Inilah dorongan yang dilakukan dengan Aji Lesus (Angin Putar) yang dahsyat sekali. Bejomerasa demikian terheran-herandan terkejut sehingga ketika pantatnya berdebuk menimpa tanah, ia terkejut dan sehingga ketika pantantnya berdebuk menimpa tanah, ia terkejut dan memandang dengan bengong. Ia tidak merasa sakit pada dadanya yang dipukul tadi, akan tetapi tenaga mendorong itu benar-benar luar biasa hebatnya, lebih kuat dari pada serudukan seekor kerbau jantan. Akan tetapi ia adalah seorang laki-laki yang kuat dan berani,maka setelah melihat bahwa dara itu bukanlah seorang biasa dan benar-benar memiliki ilmu kepandaiannya, ia lalu melompat dan sambil mengeluarkan suara keras seperti lembu menguak, ia menerkam ke depan mengirim pukulan dengan kepalan tangannya yang besardan mengerikan itu. Namun Ratnawulan memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya.Mudah saja ia mengelak dan biarpun Bejo mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan memukul dengan bertubi-tubi. Namun selalu pukulannya mengenai angin belaka. Beberapakali kepalannya telah hampir mengenai sasaran,akan tetapi dengan terampil sekali, jari-jaritangan Ratnawulanyang mengebut dengan perlahan telah cukupuntuk membuat pukulannya menjadi mencong arahnya dan tidak mengenai sasaran. “Hai,kerbau gila! Coba kaukejar aku!“ tiba-tiba Ratnawulan mentertawakannya dan tubuhdara perkasa itu berkelebat ke sanake Mari mengelilingi tubuhBejo yang menjadi pening karena ia harus berputar-putar mengejar bayangan lawannya yang gesit itu. Belumpernah ia mengalamihal luar biasa seperti ini, makas ebentar saja kepalannya menjadi pening dan pandangan matanya berkunangkunang. Terpaksa ia menghentikanserangannya dan biarpunia berdiri tegak, namun tubuhnya bergoyang-goyang seakan-akan bumi yang dipijaknya terputar atau seakan-akan ia merasa ada lindu besar saat itu. Ketika Ratnawulan juga menghentikan gerakannya dan berdiri sambil tersenyum-senyumdi depannya, Bejo yangtelah dapat memenangkan pikirannya itu tiba-tiba menyerang dengan seluruh tenaga yang ada padanya. Ia maju menubruk dengan kedua tangan dipentang bagaikan seekor alapalap menyambar anak ayam. Iamaklum bahwaia kalah gesitdan lalau iamain pukulsaja,ia takkan berhasil, maka kini hendak menggunakan ilmu gulat, hendakmenangkapdan memiting tubuh lawannya sampai gadis itu menjerit-jerit minta ampun.
Akan tetapi kembali ia salah hitung. Mana Ratnawulan mau membiarkan tubuhnya ditangkap dan.didekap oleh orang yang bau keringatnya saja telah membuat kepalanya pusing itu. Dengan amat cekatania melompat ke sampingdan ketika tubuh Bejo menubruk lewat ,ia menggerakkan kakinya dan menjegal kedua kaki Bejo yang tak dapat ditahannyalagi jatuh tersungkurdengan tubuhtertelungkup sehinggaketikaia merangkak bangundenganterheran-heran, jidat dan dadanya menjadimerah karena kulitnya lecet dan darah mengalir keluar. Bejo merangkak bangun dengan perasaan malu dan terheran-heran, sedangkan para penonton kini tak dapat ditahan lagi bersorak gemuruh karena kagum sekali melihat kehebatan Ratnawulan. Sebelum Bejo jatuh tersungkur, semuaorang menahan napas dan tak dapatmengeluarkan suarasaking herannya, akan tetapi kinibaru terbuka mata mereka bahwadara jelita itu ternyata adalah seorang pendekar wanita yang benar-benar mengingatkan mereka dan pahlawan wanita yang gagah perkasa itu.
Sementara itu,Bejo yang merasa amat marah dan malu, cepat bangun lagi dan kini ia menarik keluar kelewangnya, yaitugolok pemotong kerbau yang lebar dan tajam!
“Keparat perempuan! Berani kau menghina Bejo, awas, tubuhmu akan kucacah-cacah sampai hancur lebur!“ Ia hendak menyerang dengan kelewangnya, akan tetapi tiba-tiba orang tua tadi berseru.
“Bejo,tahan!“
Ternyata Bejo kalah pengaruh dan ia lalu mengurungkan niatnya serta melangkah mundur dengan kepala tunduk, kembali ketempat kawan-kawannya.
“Wanita digdaya ini bukanlah lawanmu!“ kata pula orangtua itu, lalu ia menghadapi Ratnawulan sambil berkata dengan mata memandang kagum.
“Sungguh hebat ilmu kepandaianmu. Kulihat kau membawa anakpanah dan busur, maukah kau memperlihatkan kepandaianmu dalam ilmu memanah?“ Sebelum Ratnawulan menjawab, ia telah memandang ke arah kelompok anak buahnya dan memanggil.
“Parta,coba kau ujiilmu memanahmu dengan wanita digdaya ini.“
Melompatlah keluar seorang anak muda yang usianya kira-kira dua puluhlimatahun, berwajah tampan dan berkulit langsat. Ia membawa sebuah gendewa dan pada punggungnya terdapat tempat anakpanah yang penuh dengan anak panah berbulu putih. Tanpa banyak bicara ia menurunkan anak panah tiga batang, dan kakek tadi lalu berkata kepada Ratnawulan.
“Lihatlah kepandaian memanah anak buahku ini dan kalau kau memang dapat menyamai kepandaiannya, benar-benar kau seorang gadis pendekar!“
Ratnawulan tersenyum dan iapun mengambil tiga batang anak panah dan mempersiapkan gendewanya, memandang kepada Parta dengan mulut tersenyum dan sikap tenang sekali.
“Aku siap sedia!“ katanya singkat.
Parta lalu memasang anak panah pertama pada gendewanya dan ketika ia menarik gendewanya lalu melepaskannya,terdengar bunyi angin angina anak panah yang meluncur keatas itu, lenyap ditelan malam gelap. Akan tetapikarena bulunya putih dan langit diterangi oleh bulan, orang masih dapat melihat anak panah kedua yang cepat sekali meluncur ke atas menyusulanak panah pertama dan tepat sekali anak panah itu bersambung dan terus menta lke atas dengan lurus! Kembali terdengar angina anak panah ke tiga melesatlebihcepat lagi, menyusulkedua anak panah itu dankini anak panah kedua sehingga di udara terdapat tiga batang anak panah yang sambung-menyambung!
Pecahlah tampik sorak memuji dari para anak buah rombongan itu sambil memandang kea rah tiga batang anakp anah yang telah habis tenaga luncurannya dan melayang turun kembali. Akan tetapi tiba-tiba terdengar darap erkasa itu berseru.
“Lihatlah anak panahku!“Sekaligus Ratnawulan memasang tiga batang anak panah pada tali gendewanya dan setelah membidik dan mulutnya bergerak membaca mantra (doa), ia menarik gendewanya dan melesatlah tiga batang anakpanah itu bagaikan kilat menyambar. Terdengar lengking yang nyaring ketiga tiga batang anak panah itu menembus udara dan menyambar ke arahtiga batang anak panah.Parta yang sambung-menyambung dan sedang meluncur turun itu.Parapenonton memandang dengan mata terbelalak dan mereka melihat betapa tiga batang anak
panah dara pendekar itu menyambar anak panah Parta sehingga anak-anak panah yang pertama itu terputus menjadi tiga lagid an jatuh melayang ke bawah bersama-sama anak-anak panah Ratnawulan.
Parta menjadi amat penasaran dan marah,akan tetapi ketika ia dan kawan-kawannya menghampiri anak-anakp anahnya dan melihat,ia menjadi pucat, sedangkan kawan-kawannya melenggong dengan penuh keheranan. Ternyata bahwa ketiga batang anak panah Parta itu semuatelah kehilangan kepalanya, terputus oleh anak-anak panah gadisitu.
“Bukan main!“ Parta berbisik takjub, “guruku sendiri belum tentu dapat melakukan hal ini!“
Pernyataan Parta yang sekaligus menyatakan kekalahannya ini merupakan pujian terbesar, karena semua orang disitu telah tahu akan kepandiannya dan kini pemuda itu menyatakan bahwa ilmu memanah gadis itu bahkan lebih unggul dari pada gurunya sendiri. Tentu saja semua orang menjadi kagum dan bersorak gembira.
Kakek yang memimpin rombongan itu lalu melangkah maju menghadapi Ratnawulan sambil mengembalikan tiga batang anak panahnya.
“Nona, kau benar-benar memiliki kesaktian yang mengagukan. Belum pernah aku melihat seorang wanita seperti kau, demikian gagah perkasa sunguhpun masih amat muda sekali. Nona yang gagah,jangan membuat kami menjadipensaran. Ketahuilah bahwa diantara pasukan kami ini, yang paling kuat tenaganya adalah Bejo, dan yang paling pandai mempergunakan anak panah adalah Parta.Sedangkan orang ketiga yang paling pandai berkelahi mempergunakan senjata adalah aku sendiri, maka sekarang kuharap kau suka memperlihatkan kepadakami bahwa selain kepandaianmu luar biasa tadi, engkaupun pandai mainkan senjata sebagai seorang santika (ahli main senjata) yang sakti mandraguna.“Sambil berkata demikian, kakek itu lalu mencabut kerisnya dan mengambil sebuah perisai yang bundar bentuknya.
“Paman, kau mengajak main-maind engan pusaka, apakah itu tidak berbahaya?“ kata Ratnawulan,
“kata-kataku ini bukan berarti bahwa aku takut bermain keris, akan tetapi kulihat pusakamu itu baik juga, maka sayang sekali kalau sampai rusak.“
Kakek itu memandang heran. “Rusak? Bocah ayu (anak cantik), ketahuilah, pusakaku ini adalah pusaka dari Luamajang yang amat ampuhnya, bagaimana bisa rusak?“katanya sambil mengacungacungkan kerisnya yang berluk tiga.
Berdebarlah dada Ratnawulan mendengar disebutnya Lumajang ini.
“Bolehlah saya mengetahui,paman ini siapakah?“
Orang tua itu tersenyum lalu menjawab setelah menarik napas panjang, “Dahulu aku adalah seorang di ntara pemimpin pasukan Lumajang, akan tetapi sekarang hanyalahs eorang kepala rombongan pelarian ini. Namaku Waluyo, maka berhati-hatilah kau menghadapi permainan kerisku, karena kau berhadapan dengan seorang bekas panglima perang diLumajang.“
Makin gembiralah hati Ratnawulan mendengar ini, akan tetapi sebelum bicara terlebih lanjut, ia hendak menguji dahulu sampai di mana kepandaian orang tua ini. Maka ia lalu mencabut kerisnya Kyai Banaspati dan berkata.
“Marilah kita main-main sebentar Paman Waluyo. Akan tetapi sekali lagi kuperingatkan, jangan kau terlalu berani mengadu kesaktian pusakamu dengan kerisku ini.Banyak kemungkinan pusakamu akan rusak karenanya!“
Pak Waluyo memandang pusakanya dan menjawab.
“Pusaka ini adalah senjataku semenjak pertama-tama menjadi perajurit. Kalau sekarang pusaka ini sampai rusak, itu berarti bahwa aku tak cakap pula memimpin pasukan. Hayo,majulah, dan ka uboleh meminjam sebuah tameng (Perisai) kepada seorang kawanku. “
“Tak usah paman, bukanlah kita hanya main-main saja?“
Sikap yang agaknya memandang remeh ini membuat Waluyo merasa penasaran juga, maka ia lalu berseru dan menyerang dengan kerisnya. Ratnawulan cepat menggeser kakinya dan mengelak dengan cepat, lalu dari samping ia membalas dengan serangannya. Waluyo tidak mau berlaku lambat dan sambil majukan perisai untuk menangkis serangan lawan ini, ia membarengi dengan sodokan keris pada lambung lawannya! Gerakan ini cepat sekali dan otomatis datangnya.
Koleksi Kang Zusi
sehingga merupakan serangan balasan yang amat berbahaya. Kalau sekiranya Ratnawulan memegang perisai,tentu ia dapat mempergunakan perisainya untuk menangkis. Akan tetapi gadis ini tidak mengkhawatirkan serangan lawan, bahkan ia khawatir ketika melihat lawannya menangkis dengan perisai, oleh karena ia maklum bahwa tidak ada perisai yang akan sanggup menangkis Kyai Banaspati! Oleh karena itu, secepat kilat ia memutar tubuhnya dan memapaki perisai itu dengan pukulan telapak tangannya,sedangkan keris dari Waluyoitu terpaksa ia tangkis dengan kerisnya sendiri.
“Brak! Trang!“ Dua suara ini berbunyi hampir berbareng ketika perisai itu menjadi pecah terkena pukulan telapak tangan Ratnawulan, sedangkan ketika kedua pusaka itu beradu, memancarkan bunga api dan terdengar serua kaget dari Waluyo karena keris pusakanya telah patah ujungnya! Bekas penglima ini berdiri dengan muka pucat sekali dan memandang kepada perisainya yang telah pecah dan kerisnya yang telah patah.
Melihat kesedihan danmuka yang menunjukkan rasa malu besar itu, Ratnawulan lalu berkata menghibur.
“PamanWaluyo, jangan kau merasa penasaran, karena kau bukan dikalahkan oleh orang lain. Aku adalah Ratnawulan juga seorang Lumajang! kenalkah kau kepada Senapati Nagawisena?“
“Tentu saja aku mengenal mendiang Nagawisena dengan baik, karena dahulu aku berada di dalam pasukan yang dipimpinnya.“ kata Waluyo dengan heran
“Kau siapakah?“
“Aku adalah puteri tunggalnya!“
Bukan main girangnya hati Waluyo dan lain-lain kawannya mendengar inidan semua orang lalu mengerumuni dara perkasa itu sambil memandang dengan penuh kekaguman. Lebih-lebih Waluyo,seakan-akania bertemu kembali dengan peminpinnya yang telah meinggal dunia, sehingga iasegera berlutut hendak menyembah Ratnawulan! Akan tetapi gadis itu cepat memegangt angan kakek itu dan menariknya bangun kembali.
“Jangan begitu, paman.Akuhanyaorang biasasaja yang bodoh dan sama sekali tak patut mendapat penghormatan besar. Kedatanganku ini sebenarnya karena tertarik hatiku mendengar bahwa disini terdapat sisa-sisa pemberontak yang dipukul mundur oleh tentara majapahit,dan terutama sekali karena mendengar betapa kalian telah melakukan perampokan terhadap penduduk gunung ini. Ibuku menganggap kalian sebagai kawan-kawan seperjuangan, dantentu saja aku merasa malu kalau mempunyai kawan-kawan yang menjadiperampok dan mengganggu rakyat di sini.”
“Ibumu masih hidup?“ kata Waluyo dengan muka girang,kemudian ia menghela napas ketika mendengar celaan Ratnawulan tentang perampok itu. “Memang kami telah melakukan perampokan keberapa kali, akan tetapi percayalah, hal itukamilakukan dalam keadaaan terpaksa karena kami telah kehabisan ransum. Kamisedang mengumpulkan tenagauntuk mengabungkan diri dengan pemberontak-pemberontaklain yang akan dipimpin oleh panglima-panglima Kuti dan Sumi!“
KemudianWaluyo menceritakan bahwa sebagian besar daripada kawan-kawannya itu adalah bekas anakbauhRangga Lawe danRaden Sora, dua orang panglimayang telah gagal dan tewas dalam usaha mereka menumbangkan kekuasaan Prabu Jayanagara yang dipengaruhi oleh Begawan Mahapati. “Bertahun-tahun kamimenjadi orang buruandan menjadi pelarian yang hidup dihutan-huta, emncari kesempatan untukmembalas dendam kepada Bagawan Mahapati yang merupakan musuhbesar sekalian pemberontak,oleh karena pendeta itulah sesungguhnya yang mendatangan kebencian dalam hati kami.“
“Dan tahukahkau akan seorang yang bernama Kartika, paman?“
“Siapa yang tidak tahu akan bedebah itu!“ Sepasang mata Waluyo memancarkan api kemarahan. “Dia lebih jahat daripada gurunya dan aku telah bersumpah bahwa sekali waktu akan kubelek perutnya dan akan kukeluarkan jantungnya!”
Melihat kebencian orang tua itu terhadap Kartika, Ratnawulan merasa heran, menceritakan bahwa anak gadisnya telah ditawan oleh Kartika dan dipaksa menjadi selirnya!
Manusia busuk itu dengan kejamnya menghancurkan seluruh keluarga pemimpin-pemimpin pemberontak.Celakalah orang-orang yang diketahui menjadi anggota keluarga orang yang telah memberontak, karena mereka takkan diberi ampun.Kalau mereka bukan perempuan-perempuan muda dan cantik, pasti mereka dibunuh, sedangkan perempuan-perempuan muda mereka tawan untuk menjadi bahan penghinaan!“ Setelah berkata demikian, Waluyo berdiri mengepal tinju dan mengertakkan giginya.
“Paman Waluyo, kau tentu tahu tentang tewasnya mendiang ayahku.“
Waluyo mengangguk. “ayahmu binasa dalam tangan Kartika pula, memang manusia itu amat curang danj ahat.“
“Karena itulah ,paman, maka aku mempelajari semua kepandaian ini. Aku akan mencari mereka dan membalas dendam kepada keparat itu berikut gurunya.“
“Bagus, kami akan membantumu, jeng Ratna. Kau memiliki ilmu kepandaian yang hebat dan luar biasa, maka sudah sepatutnya kalau kau menjadi pemimpin kami! Bagaimana, kawan-kawan, setujukah kalau kita mengangkat dara perkasa ini menjadi pemimpin dara perkasa ini menjadi pemimpin kita?“
“Akur! Akur!“
“Setuju sekali!“
Ratnawulan mengangkat kedua tangannya ke atas, dan menggelengkan kepalanya.
“Sabar, saudara-saudara! Sungguhpun aku menaruh hati dendam kepada Kartika dan Mahapati, akan tetapi aku tidak tahu-menahu tentang pemberontakan terhadap Kerajaan Majapahit. Hal itu bukan urusaku. Aku hanya ingin mencari dan membalas dendam terhadap kedua orang itu, dan sama sekali tidak ingin menyerang Kerajaan Majapahit.“
Semua orangyang tadinya merasa gembira sekali karena mereka telah menaruh pengharapan besar kepada dara perkasa ini,menjadi diam dan bungkam. Akan tetapi Waluyo mencelanya.
“Jeng Ratna! Mengapa kau berkata demikian? Bukankah mendiang ayahmu juga seorang pemberontak terhadap Kerajaan Majapahit?“
Ratnawulan menggelengkan kepala lagi. “Bukan, paman. Dalam pandanganku,juga menurut seorang senapati Lumajang, seorang perajurit yang memenuhi tugasnya sebagai ksatria sejati. Tentang pemberontakan-pemberontakan itu, biarlah hal itu diserahkan dan dipimpin oleh mereka yang memang mempunyai kepentingan dengan pemberontakan itu. Bagiku, asal saja aku sudah dapat membalas dendam kepada kedua orang itu, cukuplah. Lagipula, agaknya akan lebih mudah dan leluasa bagiku untuk bekerja seorang diri saja melakukan pembalasan dendam itu, daripada harus bersama dengan kalian!“
Kecewalah semua orang mendengar ini, karena mereka ingin sekali berperang lagi melawan tentara Majapahit,dan mereka akan berbesar hati apabila mereka berperang di bawah pimpinan seorang yang gagah perkasa seperti dara ini.
“Aku mengerti maksudmu, Jeng Ratna. Akan tetapi,demi pertalian batin yang ada di antara kita, kuharapkau suka menurunkansedikit kepandaian kepada kami,agar pasukan kami mejadi lebih teratur juga ke Majapahit, oleh karena ketahuilah bahwa Majapahit memiliki panglima-panglima yang amat sakti, di samping Mahapati dan Kartika.Menurut pendapatku, akan lebih baiklahkalau kaumenanti sampai meletusnya pemberontakan baru yang jauh lebih besar dan kuat daripadayang sudahsudah, dan dalam keadaaankacau-balau itu, akanlebihmudah bagimu mencari Kartika dan Mahapati, karena mereka tentu akan maju di medan yuda. Kalausekarangkau pergike ibukotaMajapahit sengaja mencari mereka, maka kau bukan hanya akan menghadapi Kartika dan gurunya, akan tetapi kau akan berhadapan dengan seluruh panglima Majapahit.“
Diam-diam Ratnawulan membenarkan pendapat yang bijaksana ini, dan melihat betapa semua mata memandangnya dengan penuh harapan, ia tidak tega untuk menolak permintaan ini.
“Baiklah, aku akan melatih kaliand engan sedikit ilmu kepandaian yang telah kupelajari, akan tetapi mulaisaat ini, kalian tidak boleh lagi merampok penduduk di gunung ini. Untuk ransum kita harus membanturakyatterdekat denganpekerjaan mereka di sawahagar hasil lading bertambah dan dengan demikian, maka kita akan dapat mengambil bagian kitadenganadil dan bersih. Pejuang-pejuang yang baik dan benar hanya mereka yang mendapat dukungan dan simpati dari rakyat kecil. Tanpa dukungan rakyat, usahamu akan gagal. Apalagi kalau sampai memusuhi dan mengganggu rakyat,maka kalian bukanlah pejuang-pejuang lagi namanya bahkan patut disebut penjahat dan pengkhiana bangsa.“
Diam-diam Waluyo merasa tunduk dan kagum sekali. Bagaimanaseoranggadis muda remaja ini dapatmengucapkakata-katayang demikian bijaksana? Sementara itu, melihat Ratnawulan bersedia melatih dan memimpin mereka, bersoraklah semua orang yangberadadi situdan suasana menjadi gembira sekali. KetikaRatnawulan, tas pertanyaan Waluyo, menjawab bahwa ia adalah murid dari PanembahanMahendragunaatau Eyang Semeru,makin runduklahmereka karena Eyang Semeru terkenal sebagai manusiasetengahdewa yangsuci dansakti.
Demikianlah, orang-orangitu lalu memberikan pondokyang terbaik sebagai tempat tinggal Ratnawulan, sedangkan pada keesokan harinya Waluyo danbeberapaorang yang tadinya menjadianak buah Nagawisena, naikke puncak Mahameru untuk menjumpai Dara Lasmi, menghadap ibu pemimpin mereka itu untuk memberi hormat dan menyampaikan warta tentang keadaan Ratnawulan yang kinitelah mereka angkat sebagai pemimpin untuk melatih ilmu kepandaian danaji kesaktian kepada tiga puluh dua orang yang berada di hutan randu, di kaki Gunung Mahameru sebelah timur. Pada suatu hari, Ratnawulan seorang diri membawa anak panahnya hendak mencari binatang buruan. Didalamhutanrandu itu sunyi oleh karena semua orang dibawahpimpinan Waluyo telah berangkat ke dusun-dusun terdekatuntuk membantu mencangkul tanahladang. Semenjak Ratnawulan berada disitu, keadaan mereka amat berubah.Tidak lagi mereka bermalas-malasan di waktu siang hari, akantetapi semenjak matahari terbit, mereka bekerjadi sawahdan pada sore harinyabarulahmerekamenerima latihan-latihan dari Ratnawulan, bermain lembing, bermain keris,memanah dan pencak silat, sesuai dengan bakat masing-masing.Bahkan Ratnawulan lalu menyuruh semua orang membuat pedang yang sama bentuk dan ukurannya, bermata dua(tajam kedua bagian), lalu ia melatih mereka bermain pedang. Maka terbentuklah pasukanpadangyang mereka beri nama Pasukan Candrasa Bayu(Pedang angin) karena menurut pendapat mereka,permainanpedangyang diajarkanmemiliki kecepatan bagaikan angin puyuh! Tentus aja permainan mereka tidak sehebat permainan dara perkasa itu, walaupun mereka memang mendapatkan kemajuan yang cepat sekali.
Ratnawulan merasa suka melihat kemajuan mereka, dania kini mendapat kenyataan bahwa anak buanya memang bukanlah sebangsa perampok yangjahat. Mereka itu kesemunya bekas perajuritperajurit yang patuh akan perintah pemimpin dan rata-rata memiliki sifat ksatria yang mengagumkan. Oleh karenaitu bercita-citauntuk kelak maju menyerbu ke Majapahit lagi, maka ia bersungguh hati untuk melatih mereka sehingga Pasukan Candrasa Bayu menjadisebuah pasukan pedang yang benar-benar kuatsekali. Perjalanannya memburu binatang hutan, Ratnawulan menuju ke hutan sebelah utara yang belum pernahdidatanginya. Hutan ini amat luas dan liar,penuh dengan pohon-pohon tinggibesar yang telah berabad usianya. Juga disitu terdapat banya kpohon waringin yangluar biasabesarnyasehingga untuk dapat memeluk batangnya,agaknya dibutuhkan belasan orang yangberdiri dengan tangan saling bergandengan. Pohon-pohon raksasainientah sudah berapa ratus tahun umurnya. Akar-akarnyayang panjang dan besarsebagian timbul di atastanah merupakan raksasa. Akar-akargantung berjuntaike bawah seperti tambang-tambang yang sengaja dikatkan orang pada cabang-cabang pohon itu, kuat danuletsekali. Daun-daunnya lebat, memenuhi puluhan cabang-cabang dan ranting-ranting yang rata tumbuhnya mengelilingi batang pohon membuat pohon raksasa itu nampak seperti sebuah paying yang amat besar.
Auman harimau dan suara binatang-binatang lain menggembirakan hati Ratnawulan benar karena ternyata bahwa hutan liar ini amat banyak penghuninya.Memang, sebagaimana biasanya, makin liar hutannya,makin banyaklah binatangnya dan makin senanglah hati para pemburu yang memasuk ihutan
itu.