Bagian 4
Tiba-tiba mata Ratnawulan yang awas itu melihat seekor kelinci putih yang gemuk lari ke bawah pohon. Cepat ia mengambil anak panah dan memasangnya pada busur yang telah dipegang semenjak tadi, akan tetapisebelum ia melepaskan anak panahnya, ia mendengar suara lain yang lebih menarik perhatianya. Suara Kijang! Ratnawulan membatalkan niatnya memanah kelinci dan segera jalan dengan hati-hatikea rahsuara kijang itu.Benar saja, seekorkijang betina yang bagus dan gemuksedang berjalan perlahan dibawah pohon waringin yang amat besar. Kijang itu makan rumput di bawahwaringinitu, makandenganasyiknya, tidak tahu bahwa bahaya maut telah mengintainya darisebelah kiri. Olehkarena anginayang bersilir perlahan itu datang darijurusan depan, makakijangitu tidak tahu bahwa Ratnawulan telah berdiri dibalik tetumbuhan dan telah membidikkan anak panah kepadanya. Terdengarsuara gendewa menjepret dan sebatang anak panah meluncur bagaikan burung srikatanke arahkijang itu.Ratnawulan memandang denganmatagembira. Akan tetapi tak terasa lagiia mengangkat tangan kirinya menutupi mulutnya yang hampir saja mengeluarkan seruan karena terkejut dan heranya ketika melihat sinar putih berkelebatdari atas pohon beringin itu! Ia melihat betapa tubuh kijang itu terlempar kedepan sehinggaanak panahnyayang tadi dibidikkan kea rah leher, kinimenancap pada perut binatang itu.
Ratnawulan cepatmelompat mendekati tubuh kijang yang telah rebah tak bernyawa lagidan mukanya menjadi merah karena marah ketika melihat betapa pada leher kijangitu menancap sebatan ganak panahlain yang mendahului anak panahnya dan yang ternyata lebih tepat kenanya dan yang mendatangkan kematianpadabinatang itu. Ternyata adaorang lain yang telah mendahuluinya!Siapakah gerangan orang yang berani berbuat ini? Siapakah dia yang begitu kurang ajarberani mendahuluiRatnawulan yanghendak merobohkan buruannya?
Akan tetapi, sebelum iamelihat orang yang berani berlancang tangan ini, tiba-tiba ia mendengar auman hebat dari belakangnya dan ketika ia cepat membalikkantubuhnya, ternyata bahwa seekormacan gembong yang besar sekali, sebesarlembumuda, telahberdiri dibelakangnya dan tibatiba harimau itu menubruk sambilmenggerengdengan suarayang dahsyat sekali! Ratnawulan cepatmelompat kesamping untuk megelak,akan tetapi oleh karena harimau itugerakannya cepat sekali, hampirsajapundaknya kena dicakar.Bukanmain marahnya Ratnawulan, karenasebelum diserang olehharimaugembong itu, iamemang telah marah sekali kepada orangyang mendaghului memanah kijang. Kinidenganhatigeramia mencabut keris pusaka Banaspati danmenghadapi harimau itudenganmata berapi-api! Tidak biasaRatnawulan menghadapiseekor harimau saja dengan kemarahan demikian besar. Pada saatitu terdengar jepretan jemparing (busur) dan tiba-tiba dariatas pohon beringin itumenyabar turuntigabatang anak panah dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar dan dengan tepat sekali tiga batang anak panah itu menancap di tubuhharimauyang telah siaphendak menerkam Ratnawulan lagi, menancap di leher punggung, dan lambung! Sambilmengeluarkan gerengan keras danpanjang robohlahmacan ituberguling-guling, mengeliatdan akhirnya keempat kakinya berkelojotan laludiam! Kalau tadi kemarahan Ratnawulan laksanaapiberkobar panas, kinimakin kejatuhan hujan, mendidih Kawah Candradikuma kejatuhan hujan, mendidihdan menggelora sehingga dadanya naik turun amat hebatnya. Kalautadi si pelepas panah yang mendahuluinya membunuhkijangdianggaphanyalancing tangan, kini melihat anak panah pembunuh harimau yang samabentuknyaitu, ia menganggap bahwaorang ini telah menghinanya! Dengan kerisBanaspati di tangan, ia memandang ke atas pohon dan membentak kertas.
“Keparat rendah dari manakah beranimenghina Ratnawulan?“
Tiba-tiba terdengar suara ketawa di ataspohon dandisusul oleh suara seorang laki-laki yang tenang,
“Alangkahindah namaitu. Sesuai benar denganorangnya!“ Ucapan ini disusul pula oleh melayangnya bayangan seorangpemuda dari atascabang pohon itu. Ketikakeduakakinya menginjak tanah,tak terdengar suara sedikitpun sehingga diam-diam Ratnawulan terkejut melihat ilmu lompatorang itu dan memandang penuhperhatian.
Orang itumasih muda,paling banyak duapuluh satuatau dua puluh dua tahunusianya,berkulithitam manis dan wajahnya amat gagahdan tampan. Alis matanya sehitamrambutnya, tebal dan mengingatkan orangakan alis Raden Gatotkaca. Sepasang matanya bercahaya-cahaya bagaikan bintangpagi, lebar danbersinar tajam. Bola mata yang tak mau diamitu menandakan bahwa dia adalah seorang periang.Hidungnya mancung danbagusbentuknya, sedangkan mulutnya yangmanis itu membayangkan kekerasan hatinya, terutama dagunya yang kuat dengan lekuk di tengahtengahnya. Tubuhnya sedang saja, yakni potongan bambang. Pakaiannya sederhana,seperti yang biasadi pakai oleh petani-petani muda.Ikatkepalanya sempit dan hanya dikatkan secarasembarangan di ataskeningnya. Gagang keris terselip pada pinggangnya.Sedangkan dipunggungnya nampak tempat anak panah dikalungi busur yang besarberwarna putih.
Mendengar pemuda itu memuji namanya, Ratnawulanmenjadimarahdan jugaheran. Bagaimana adaorang seberani ini? Belum pernah dara perkasa ini melihat orangberani bermain-mainpadanya,dan melihat pemuda ini tersenyum-senyummemandangnya rendah, ia menjadigemas sekali. “Benar-benar nama yangindah,dan orangnyalebihayu lagi!“ katapemuda itu pula sambil memandang dengan mata jujur,sama sekali tidak menyembunyikan kekagumannya.
“Tutup mulutmuyang kotor!“ Ratnawulanmembentak dengan bibirmerengut dan mata memancarkan api. “Kaumanusia sombong, manusia kurang ajar.“
“Lho, bagaimanapula ini?Mengapa kau marah-marahdan menyebutkusombong dan kurang ajar?“
“Kau. kau telah berani memanah mati harimau itu!“ Ratnawulan mengigit bibir menahan
kemarahannyaoleh karenadipanahnya harimau tadi benar-benar menyakitkan hatinya.
Pemuda itu menggaruk-garuk kepalanyayang tidak gatal. “Kalau kau tidaksedang bicara danberadadi depanku sehinggaakumelihatjelas bahwa kedua kakimu mengambah (menginjak) tanah, tentu aku akan kusangka peri!“
“Gila!“Ratnawulan memaki.
“Memang mungkin aku sudah menjadi gila, atau memang kau yang bukan manusia!Di dalam hutanliarseperti ini, dimana orang-oranglelaki biasapunbelumtentuada yangebrani memasukinya, aku bertemu dengan seorang dara seperti engkau seorang diri! Inisudahamataneh namanya. Kemudian kau menghadapi harimau dengan keris di tangan dan samasekali tidaktakut, bahkandapat mengelak dari terkaman harimau tadi. Ini lebih aneh nemanya. Kemudianaku menolongmu daribahaya maut,dengan anak panahkukubinasakanharimau busa itu, dan apakah bunyiterima kasihmu?Kau member hadiahmakian! Ini namanyalebihanehdari sekalian yanganeh!“ Biarpun katanya menunjukkan bahwa ia merasa penasaran melihat sikap yang tak tahuakan terimakasihitu, namun wajah pemuda itu masih saja memperlihatkan keriangan hatinya. Ratnawulan cemberut.“Siapa butuh pertolonganmu? Siapa tadi melihat kau berlancang tangan membantuku? Aku tidak butuhakan bantuanmu!Kau telahberlaku lancing, memanahbinatang buruanku, kemudian kau membunuh pulaharimau yang sedang hendak kubunuh! Kau telah sombong memperlihatkan sedikit kepandaianmu, apakah kaukira di dunia ini hanya kau seorang saja yang paling gagah? Tanpa bantuanmu,akupun akandapat membinasakan harimau itu dengan mata
meram.Jangankan baru seekor harimau,biarpun ada sepuluh ekorpun aku tak takut. Kaumenghinaku,bukanlaku seorangksatria untuk menghina orang lainmengandalkan kepandaiannya!“
Semenjak tadi pemuda itu memandang dengankagum sambil tersenyum, seakan-akan melihat gadis berkata-kata dengan muka merah danmatabersinar-sinaritu merupakan pemandangan yang amat menarikhatidan menyenangkan. Ia sama sekalitidak perduli melihat kemarahan orang. Bahkankini ia lalu bersedekap (menyilangkan lengan di depan dada) danbertanya.
“Habis, kalau kau menganggap aku kurang ajar, sombong dan sebagainya lagi, kau hendak member hukuman apakah kepadaku?“
“Aku bukan algojoyang berwenang menghukum orang, apalagi orang macam engkau!“jawabRatnawula dengan marah sekali.
“Kalau begitu, apakah kehendakmu selanjutnya?Biarlahkauketahuibahwa akubernama Adiprana,
masih jejakaberusia duapuluh satutahun, baru saja turunGunung Bromo danhendak pergike.“
“Aku tidak perduli!Akutidak perduli kau bernama setanatau iblis, tidak perdulikau baru turun dari neraka pula!“ Ratnawulan memotong dengansuara keraskarena hatinya mendongkol sekali, akan tetapi diam-diam namaAdiprana itu terukir di dalam hatinya. “Kauharus mintamaafkepadaku karena segala kelancanganmu tadi!“
“Kalau aku tidak mau?“
“Aku akanmembinasakanmu dengan kerisku!“
Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepala danbibirnya berbisik, “Aduh,galak dan ganasnya.!
Biarlahakuminta maaf saja.” Kemudian ia membungkuk sambil berkata,“Padukaputeri yang mulia,
semogasudimelimpahkan maaf sebesarnya kepada hamba yangrendah.“
Koleksi Kang Zusi
Makin panas hati Ratnawulanmelihatbetapa pemuda itu sengaja megejeknya,maka ia lalu
membentak,
“Kalau kau tidak berlutut dan menyembah, aku tak maumemaafkankau!“
Kini sepasang mata pemuda itumemandang tajam dan suaranyaterdengar penasaran sekali
ketikaberkata.
“Ah, bagus sekali! Kaukirakau hanya main-main saja,tidaktahunya kau bersunguh-sungguh! Sayang,
seorang gadis yang cantik dangagah seperti kau inimemilikikesombongan seperti itu. Aku kulihat
sampai di mana sih tingginya kepandaianmu makaakuberani bersikapdemikian terhadap anak Gunung
Bromo!“
“Kaupun belum kenal sepak-terjang anak Mahameru!“ Ratnawulanmembalas“Majulah!“Sambil berkata
demikian, ia berdiri dengantubuh agak merendah, tangan kanan memegangkerisyang ditarik sampai kesamping pinggangnya, sedangkantangan kirinyaditaruh didepan dada dengan jari tangan terbuka. Adipranayang melihat sikap ini maklumbahwa gadisitu memilikikepandaian, dan pula iadapat mengenal keris pusaka di tangan gadis itu, maka ia tidak mau berlaku sembronodan cepat mencabutpula kerisnya yangjuga mengeluarkan cahaya tanda keris pusaka ampuh.
“Tidak pantas seorang pria menyerang lebih dulu,“ jawab Adiparana yangbetapapun juga masih memandang ringan, “Kau majulah hendakkulihat sampai dimana kepandaianmu!“
Ratnawulan tak dapat menahan sabarlagi dan segeramengirimserangan dengan kerisnya meluncurdengan tusukanke arah dada lawan. Adiprana berlakuwaspadadan kagum melihatkecepatangerakandara perkasaini, makaia cepat menggerakkan kerisnya untukmenangkis. “Trangg!“Ketika duabilahkeris itu salingmembentur, memerciklah bunga api dan keduanyamerasa betapa telapak tanganmerekayang menggenggamgagangkeris, menjadi panas dansakit. Keduanyaterkejut sekalidan cepat memeriksa keris masing-masing, akantetapi senjata mereka tidak rusak, maka mereka menjadi legadan mulaiserang-menyerang lagidengan lebih hati-hati.
Bukan main kagum danherannya Adiprana ketika ia menyaksikanketangkasan dan kehebatan ilmu keris gadis itu.Hal ini sama sekalitak pernahdisangkanya. Tidaksajadalamhal tenaga lawanya tidka kalah olehnya, bahkan kecepatannyapunhanyadapat mengimbangi dara ini!Iakagumsekali dan mengerahkan seluruhkepandaiannya yang ia warisidari gurunya, yaituPanembahan Bromosakti,seorang pertapa yangsakti mandraguna di puncak Gunung Bromo.
Sebaliknya, Ratnawulan jugamerasaterkejut dankagum. Baru kali ini semenjak turun gunung ia menjumpai lawan yangbenar-benar berat dan tinggiilmukepandaiannya. Ia telahmenyerang dengan hebatdan telahmengeluarkan segala aji kesaktian,akan tetapi tak berhasil mendobrak dan membobolkan pertanahan lawannya. Tipu dilawan tipu,kegesitan dilawan kecepatan,dan ilmu dengan ilmu telahia pergunakantanpa hasil sehingga ia menjadi makin penasaran dan gemas.
Kedua orang itu benar-benar hebat. Pertempuranyang terjadi kali inisayangtidakada yang menyaksikannya, karena kalau ada orangketiga yangmenyaksikan, ia tentu akan berdiri bengong saking takjubnya. Tubuhkeduaorang mudaitu berkelebatankesanakemari, keris mereka menyambarnyambarbagaikan
kilat, kadang-kadang terdengarbunyi nyaring kalau sepasang senjata beradu dan nampakbunga api berpijar.
Akan tetapi, setelah bertempur puluhan juruslamanya, akhirnya pemuda itumerasa betapa tangannya yangmemegangkeris mulai gemetar dan panas sekali. Ia maklum bahwa hal ini terjadi oleh karena kerispusakanya kalah ampuh dan kalau diteruskan,banyakkemungkinan ia akan kalah.Makin meninggi rasakagumnyadan tiba-tiba ia melompatke belakang sambil berseru.
“Tahan!“
Bagaikan seekor banteng mencium darah, Ratnawulan berdirid engan keris di tangan kanan dan tangan kirinya menolak pinggang, kakinya terpentang dan matanya menatap lawannya dengan pandang mata beapi, dadanya naik turun dan dari jidatnya yang berkulit kuning langsat danhalus itu menitik keluar beberapa butir peluh.
“Mau apa lagi? Hayo majulah, keluarkanlah semua kepandaianmu, Adiprana! Jangan kauanggap dirimu sendiri saja yang gagah perkasa. Keluarkan kesaktianmu dan coba jatuhkan aku kalau kaubisa!“ Ia menggunakan tangan kirinya menepuk-nepuk dadanya dan berkata, “Kerahkan kejantanmu, karena kau baru patut memandang rendah dan berlaku sombong kalau kau sudah bias mengalahkan aku. Inilah anak Mahameru yang tak sudi dihina oleh siapapun juga!“ Dalam sumbar dan tantangannya ini Ratnawulan melepaskan semua kegemasannya dan kemarahannya terhadap pemuda itu, pemuda yang begitu bertemu telah menimbulkan benci, marah dan juga kagum di dalam hatinya.
Mendengar sumbar dan tantangan ini, Adiprana tersenyum dan sambil menghapus peluhnya yang membasahi muka,ia berkata, “Ratnawulan, kau benar-benar gagah perkasa. Tak pernah aku melihat atau mendengar, bahkan dalam mimpipun tidak, bahwa di dunia ada seorang dara segagah engkau! Tak dapat diragukan lagi, kau tentulah anak murid Panembahan Mahendraguna yang disebut Eyang Semeru, bukan?“
Ratnawulan tertegun.“Bagaimana kau bisa tahu?“
Adiprana menarik napas panjang dan memasukkan kerisnya ke dalam warangka. “Lebih dahulu kita harus berdamai, maukah kau? Tak enak untuk bercakap-cakap dengan seorang yang masih marahmarah kepadaku. Maukah kau berdamai dengan aku?“
“Itu tergantung.“
“Tergantung bagaimana?“
“Tergantung kepadamu sendiri apakah kau masih sombong dan memandang rendah kepadaku! Kau telah berlaku lancing dan menyakiti hatiku dengan perbuatanmu yang sombong tadi.Apakah kini kau masih merasa bahwa aku pantas ditolong dari harimau ini?“Ia menunjuk kepada bangkai harimau. “Memang aku bersalah, Ratnawulan. Memang kau tadi benar, jangan baru seekor harimau, dengan kepandaianmu itu, biarpun kau dikepung lima ekor harimau pun, rasanya kau belum berada dalam bahaya. Aku telah salah duga tadi.“
“Nah, kalausaja sikapmutadiseperti sekarang, siap ayang akanmenjad marah-marah?Tadi akuketerlaluan, minta maaf sajatidakmaubahkan mengejek. Begitukahsikapseorangksatria terhadap waita? Memalukan sekali!“
Adiprana menarik napas panjang. “Aku minta maaf, Ratnawula, kala memang kaukehendaki,
biarlahaku berlututdan menyembah kepadamu.“
“Cih!Siapa yangingin disembah-sembah? Asal kau benar-benar merasa menyesal dengan kesombonganmu tadi, tak perlu hal itu dibongar-bongkarlagi. Kau sudah membuktikansendiri bahwa dalam hal ketangkasanbermain keris danolah yuda,aku tidak kalah olehmu. Ataukalau masih penasaran, boleh kitateruskan lagi sampai salah seorangmenggeletakdi sini!“
“Tidak, tidak! Aku sudah cukup puas. Kau benar digdaya!“
“Namun aku masih belum puas kalau belum bertandingpanah denganmu, Adiprana!Anak panahmulahyang melukai danmenyinggunghatiku tadi,maka sekarang akau ingin kausaksikan bahwa dalam hal ilmu memanah, anakMahameru juga tidak perlumenyerah kalahterhadap anak Bromo!“
Dari ucapan dan nada suaranya ini, Adiprana maklum bahwa gadis inimasih merasa panas hatinya,maka sambil tersenyum ia lalumenurunkan gendewanyadan memasang anak panah. Sekali pasang ia telah menggunakan limabatang anak panah dan ia segera berkata.
“Baiklah, marikita berlomba panah.Dengananak-anak panahku aku akan membuat lingkaran dipohon waringin depan itu!“ Baru saja ucapannya habislima batang anakpanahnya telah melucur dari gendewadengansekali tariksaja dan anak-anakpanah itumenancap dengan rapinya merupakansetengah bulatan pada batang pohon waringin yang besar. Sekali lagi diprana mengeluarkan lima batang anak panah dan sekali lagilimabatang anak panah itu meluncur cepat melengkapi dan menyempurnakan lingkaranyang baru jadi setengahnya. Kini di atasbatang pohonitu nampak sepuluh batanganak panahyang teratur rapi, berderet-deret merupakansebuah lingkarankecil.
“Nah, kau keluarkan anak panahmu dan coba kauusahakan untuk memasukkan sepuluh batanganak panah ke dalam lingkarananak panahku itu!“
Ratnawulan memandangke arah lingkaran itudan iamerasabahwa ilmu memanah pemuda ini benarbenar hebat.Iamelihat betapa lingkaranitu kecilsajasehingga takkan cukupdimasuki oleh sepuluh batanganak panah, makaia tahu akan kelicikan ini.Akan tetapi, iatetaptenang, bahkan kini tersenyummengejek.
“Apakah susahnya memasukkansepuluh batang anak panah dalamlingkaran itu? Kaulihatlah!“ Sambil
berkata demikian iamemasang lima batang anakpanah pada gendewanyadan setelah membidik, terdengartali gendewanya menjepret dan limabatang anak panah dengan kecepatan luar biasa meluncurke arah batang pohonitu.
Adipranamemandang penuh perhatian dan ia merasa heran melihat ketenangan gadis itu. Ia tahu betul bahwaruang lingkaran itutakkan mungkindapat dimasukisepuluh batang anak panah akan tetapi setelahanak-anak panahdara perkasaitu menyambarkearah lingkaran, ia menjadi terkejut sekalidan jugakagum oleh karenaanak-anak panahitu bukannya menancap di dalam lingkaran, melainkan menyambar tepat pada gagang anak-anak panahnya sehingga patah-patahdan lima batanganak panahnya jatuh keatas tanah bersama lima batang anak panah Ratnawulan. Kembali lima batanganak panahgadis itumenyambar danhabislahanak panahnyayang tadi menancappadabatang pohon itu! Sambil melangkah tenang, Ratnawulanmengambil kesepuluhbatang anak panahnya, sedangkan anakanak panah Adiprana telah patahkepalanya dan tak dapat dipakai lagi!
Akan tetapipemudaitu tidak menjadimarah. Iamaklum bahwadenganjalanitu,Ratnawulan hendak membalas dendam dan melampiaskan amarah dan kegemasannya. Ia bahkan memji dan tersenyumramah.
“Hebatsekali!Ilmu panahmu memang lebih unggul daripada kepandaianku!“
Mendengar pujianini dan melihat sikap Adiprana, timbulah rasa menyesal dalam hati Ratnawulan.
Memang hati seorangwanita ituperasa sekali, mudah tersinggungdan mudah terharu, gampang marahdan gampang menyesal, sebentargirang sebentar berduka. Kalau saja Adipranamenjadi marah karena anak-anak panahnya dirusak dan menegur Ratnawulan, daraini tentu akan menjadi marah sekali dan mengingatkania akankelancangannya mempergunakan anak panah untuk membunuhkijangdan harimau tadi.Akan tetapi karena Adipranatidakmenjadi marah bukan memujinya, luhlah hati dara perkasa itu dan ia menjadimenyesal mengapaia telah merusak semuaanak panahdan menyerahkannyakepada Adiprana sambilberkata. “Aku telahmerusakkan sepuluhbatang anak panahmu.Terimalah lima batang sebagai penggantinya, sehingga kita masing-masingkehilanganlima batang!“
Adipranamemandang dengan mata kagum dan hatinya makin sukakepada dara perkasa yang aneh ini. Kalautadipadapertemuan pertamaia berlakukurang ajar dan menggoda, hal iniadalahkarena ia mengira bahwa Ratnawulan hanyalah seorang gadis gunung yangmempunyai sedkitkepandaian danmenjadi sombong karenanya. Akan tetapi setelah kini ia tahu betul bahwagadis ini ilmu kepandaiannya tidak beradadi sebelah bawah kepandaiannya sendiri, maka iamenjaditertarik,kagum, suka, dan menganggapnyasebagai seorang sederajat dan segolongan. Mereka duduk di atas rumput dan Ratnawulan bertanya.
“Adiparana, bagaimana kau bisa tahubahwa aku adalahmurid EyangSemeru? Siapakah kau sebenarnya dan siapa pulagurumu?“
“Sepertitelah kukatakan tadi, namaku Adiparana dan aku adalah murid tunggal dari Eyang Bromo sakti yang bertapa di puncak GunungBromo.Tadi aku hanya menduga saja bahwakauadalahmurid Eyang Semeru oleh karena gurukupenah memberi pesan bahwa Eyang Semeru mempunyai seorang murid wanitayang sakti dan yang ilmu kepandaiannya tinggisekali. Maka begitu melihatkepandaianmu bermain keris,mudah saja menerkasiapa adanya kau.Ketahuilah, Ratnawulan, gurukumasih terhitungadikangkatgurumu sendiri, maka kitabukanlah orang lain dan masihdapat disebut saudara seperguruan.“
Ratnawulan girang sekali mendengarini.
“Sayang bahwa eyang guru tak pernah menceritakanperihal gurumu itu, akantetapi melihat kepandaianmu, aku percaya bahwa kau tentulahmurid seorang sakti,“ kataRatnawulan, pandang matanyamenatap wajah yangtampan itu. Meliaht sinar mata gadis itu memandang sengan terbukadan jujur, tanpa sedikit pun sungkan dan malu-malu sebagaimana pandang mata lain gadis,Adiprana merasa suka dan kagum. Benar-benar seorangdarayang sukar ditemukan keduanya,pikirnya.Seperti inilah agaknya Srikandidi zaman pewayangan itu.Tidak,Ratnawulan lebihgagah lagi, lebih cantik jelita dan mengagumkan.
“Kautinggal di manakah, Ratnawulan? Kalaugurumu bertapa di puncak Mahameru, mengapa kauberadadi tempat sejauhini?“
“Aku sedangbertugas memimpin Pasukan Candrasa Bayuyang bersarang di hutan randu.“
Mata Adipranaterbelalaj memandang. “Memimpin. apa.?“
Ratnawulan tersenyum bangga.“Aku memiliki sebuah pasukan yang gagah berani, terdiri daritigapuluh orang, yaitu PasukanCandrasa Bayu. Mereka bersarang ditengah hutan randu di kaki Gunung Mahamerusebelah timur.“
Bukan main heranahtipemuda itu.“Melatih pasukan? Mengapa dan untuk apa?“
Melihat wajahpemudaitu demikianterheran, Ratnawulan tertawageli. “Kau tidak tahu, Adiprana, pasukan itu bukanlah pasukan sembarangan, akan tetapi pasukan istimewa danpara anggotanya terdiridari sisa-sisapemberontak Majapahit,dahulu anak buah Panglima Nambi diLumajang dan lainlain. Mereka bercita-citauntuk membalas dendamdan mengempur Majapahit lagi, maka kini aku melatih mereka dengan ilmu pedang dan olah yuda.“
Adipranatertegun dan memandang dengan muka menunjukkan bahwaia hampir takdapat percaya akanpenuturan ini. “Kau. Kau menjadi pemimpin pemberontakyang hendakmenggempur Majapahit? “
“Aah, panjang ceritanya, Adiprana.Sekarang haritelah hampir senja dan kedua bangkai binatang inikalau tidak lekas dirawat akan menjadirusak.Maukah kau kehutan randuuntuk
kuperkenalkandenganPasukan Candrasa Bayu dan mendengar lanjutanceritaku? Aku akan menceritakanriwayatku, asal sajakau maumenceriakanriwayat hidupmu lebih dahulu padaku. Setelah saling mengadu kesaktian dan saling berkenalan, kemudian ternyata masih saudara seperguruan,
sudah sepatutnya kalau kita saling mengetahui riwayat hidup masing-masing pula.“
Mendengar bahwa dara perkasa itu memimpinsepasukan sisa para pemberontak, mulamulaAdipranamerasaragu-ragu untuk ikut, akantetapi entahmengapa, ada sesuatu pada gadis itu yang membuatia tidak kuasauntuk menolak ajakanini. Entah sepasang mata yangjernih dan indah itu, entah bibiryang merah danmanis itu. Akantetapi, ia bangunberdiri bagaikan terdorong oleh pengaruh yang jauh lebih kuatdaripada tenaga batinnya sendiri, memanggul bangkaimacan sambil berkata. “Kijangitu bagianmu karena lebih ringan.“
“Kaukiraaku tidak kuat untuk memanggul macan itu?“ Kembali sepasang mata Ratnawulan memancarkan sinar berapi.
Adipranatersenyum. Dalampekealan yang tak berapa lamaini ia telahtahu akan sifat gadis ini,maka
iamenjawab.
“Tentu sajakau kuat memanggulnya, akan tetapi sudahmenjadikelaziman umum bahwa kaum pria harus memanggul yang lebih berat.Dan pula, sekarang sudah hampirgelap,kalau tidak lekas-lekaskita akan kemalaman di jalan.“
“Mungkinbagi oranglain, akan tetapibagi kita, jarakitu tak berapa jauh.Mari kita berlombalari!“kata Ratnawulan sambil memanggul kijang itu.
Keduanyalalu menggunakan aji kesaktian mereka dan berlari cepat sambil memanggul kijangdan macan itu, berlari-lari bagaikanterbang cepatlah menujuke hutansebelah timur. Di sepanjangjalan, mereka tidak banyak bicara dan diam-diam Ratnawulan merasa gembira sekali oleh karena barukali inilah ia dapat berlari cepat dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan tidak kalah olehnya. Dalam diri Adiprana ia merasa mendapat seorang kawan yang amat baik dan cocok. Sementara itu,senja mulai mendatangdan Sang Batarasurya telah bersembunyi di balik puncak Bukit Mahameru, sungguhpun cahayanya masihmenghambatsatangnyasang malam gelap.Dan di dalam cahaya yang suram itu,di mana anginatak bertiup dansegala sesuatuagaknya diam dansunyikarena ditinggalkan oleh matahari, nampak dua bayangan berkelebat cepat.Darijauh merekatidak kelihatan seperti manusiabiasa, karenabiarpuntubuh bagian bawah seperti orang biasa,akan tetapi bagian atasnya kelihatanbesar dan aneh bentuknya.Kalau adaorang yang kebetulan melihat dua sosokbayangan ini, tentu mengira bahwa mereka adalah setan-setan pertama yang keluar dari persembunyiannya setelahSang Batara surya yang mereka takuti itu mengundurkan diri. Padahal kedua sosok bayangan inibukan lain ialah Ratnawulan dan Adipranayang memanggul kijangdan macan,sehingga dilihat dari jauh memangbentuk pundak dan kepalamereka aneh,menjadisatu dengan kedua ekor binatangyang telahmati itu! Sebelum hari menjadi gelap benar,merekatelah memasuki hutan randudi kakiMahameru sebelahtimur, dan kecepatanlari mereka agaknyatakkankalah apabila dibandinkan dengan kedua ekor binatang yangkini mereka panggul,andaikatakeduaekor binatang itu masih dapatberlari! Karena mereka telahmempergunakan aji kesaktian mereka, yaitu IlmuLari CepatMarutoBajra (AnginKilat)!
Kedatangan Ratnawulan disambut dengan girang oleh kawan-kawannya, dan semua anggota Pasukan Candrasa Bayu yang tadinya merasa gelisah karena tidak melihat dara perkasa itu, menjadi gembira melihat pemimpin atau pelatih mereka itu datang membawakijangdan harimau.Akan tetapi, mereka memandang kepada Adiprana dengan curiga dan tak senang. Terutama sekali Bejo dan Parta, dua oranggagah yangdiam-diam menaruh hati cinta kasih terhadap Ratnawulan, merasa cemburu melihat pemuda yang tampan itu. Bejoyang wataknya jujur dan terbuka serta kasarlalu melangkahmaju, menatapwajah Adiprana dan bertanya kepada Ratnawulan.
“Jeng Ratna, siapakah saudara ini dan apa kepentingannya datang ke tempat kita?“
Ratnawulan tersenyum lalu memperkenalkan pemuda itu.
“Ini adalah saudara Adiprana,seorangkelana mudayang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kami telah bertanding mengadukepandaian danbekenalan, dan tidakt ahunya bahwa dia ini adalah murid dari Eyang Bromo sakti yang menjadi saudara angkat guruku sendiri. Kalian boleh banyak belajar ilmu dari saudara Adiprana ini!“
Parta berkatadengansuara menyatakan ketidak-puasannya.
“Bagaimana kami dapat mengetahui bahwa ia boleh dipercaya dan benar-benar digdaya kalau kamibelummenyaksikannya sendiri?Jeng Ratna, apakah ilmu panahnyadapat menandingi Kukiladanu
(Gendewa Burung) kita?“
“Apakah ia dapat menandingi Candrasa Banyu?“ Tanya pula Bejo dengan sikap menantang.
Ratnawulan tersenyum lagi. “Jadi kalian hendak memuji kesaktiannya?Tunggulah sampai esok hari,
biarlah dia memperlihatkan kepandaiannya.“
Adipranamelihatsikaporang-orang itu, didalamhatinyamemenarkan pernyataanRatnawulan bahwa
anggota-anggota pasukan istimewaini benar-benarbersikap gagahdan jantan. Maka timbulah
Koleksi Kang Zusi
kegembiraannya dania maklum bahwa kalaumereka initidakdiberibuktiakan kepandaiannya, tentu
mereka akanmemandang rendah dan merasatidak puas.Maka ia lalu melangkah maju dan berkata.
“Saudara-saudara yanggagah! aku adalahseorangpemuda gunug yang bodoh dan hanya memiliki
sedikit kepandaian saja. Apakah kalian inginkan, biarlah aku yang muda memperlihatkan sedikit
kebodohanku.“ Ia memandang kepada Parta yang selalu memegang sebuah gendewa yang besar lalu
berkata.
“Agaknya saudaraadalah ahli panah yang pandaidalampasukan ini.Pernahkan saudaramendengar
tentang ilmu memanahtanpa melihatsasarannya dan dapat emngenai sasaran dengan tepat hanya
dengan mendengar suara saja?“
Memang Parta pernah mendengar ilmu memanahini dari Ratnawulan. Ilmu memanah ini dari
Ratnawulan disebut Isu Destarata(Anak Panah Destarata). Sebagaimana diketahuioleh para
penggemar cerita pewayangan,Destarataadalahseorang yang buta, akan tetapi kesaktiannya
menggiriskan hati pahlawan-pahlawan seluruh permukaan bumi. Destarata inilah menggiriskan hati
pahlawan-pahlawan seluruh permukaan bumi. Destarata inilah yang menjadinenekmoyang
parasaudara Kurawa. Ilmumemanah itu disebut Anak PanahDestarata, karenadilakukan tanpamelihat
sasaran, seakan-akan pemanahnya seorang butayang memiliki pendengaran yang akan menentukandi
mana letak sasaran itu sehingga bidikan akanmengenai tepat.
Mendengar pertayaan Adiprana, Partamengangguk danberkata.
“Aku tahu tentang ilmumemanah itu sungguh punakutakdapat melakukankarena amat sukar dan
sulit.“
Adiprana menurunkan gendewanya dan mengambilsebatang anak panah. “Nah,biarlah aku
memperlihatkansedikit kebodohanku!“Sambil membawa gendewa dananak panah, Adiprana lalu
menghampirisebatangpohon randu yang besardan tinggi.Di ataspohon itu terdengar suara
burunggagakyang kadang-kadang berbunyi,akan tetapi oleh karena burung gagak bulunya hitam dan
pohon itu amat tinggi serta diselumuti olehkegelapan malam, tentu saja daribawahorang tak dapat
melihat apa-apa dan tidak tahu dimana tempat burung itu bertengger. Semua orang mengikuti
gerakan Adiprana dengan penuh perhatian.
Setelah tiba di bawah pohon randu itu, Adiprana menundukkan mukanya dan diam tak bergerak
bagaikan patung. Ia sedang menghening cipta dan mengerahkan seluruh tenaga batinnya ke arah
Koleksi Kang Zusi
telinga untuk menentukan di mana gerakan burung yang hendak dijadikan sasaran anak panahnya itu,
sebentar saja ia dapat menangkap suara burung itu dengan jelas, jangankan suara menggaoknya,
bahkan suara burung itu membersihan bulunyapun terdengar jelas olehnya. Tiba-tibaia
menggerakkan gendewa tanpa mendongakkan kepalanya dan ketika ia menarik tali gendewa,
terdengarlah suara menjepret. Akan tetapi, tepat setelah anak panahnya meluncur, dari
belakangnya ia mendengar suara tali gendewa lain ditarik dan anak panah dilepaskan sehingga hampir
berbareng dua batang anak panah melesat kearah gerombolan daun randu yang hitam gelap itu.
Terdengar bunyi daun-daun gemersik dan seekor burung gagak yang melayang jatuh. Ketika orang
ramai mengambil bangkai burung itu, ternyata bahwa dadanya telah tertusuk oleh dua batang anak
panah!
Adiparana berpaling dan tersenyum kepada Ratnawulan yang tadi juga melepas anak panahnya.Ia
malum bahwa dengan perbuatannya itu, Ratnawulan hendak memperlihatkan pula kepada anak
buahnya bahwa ia tidak kalah pandai oleh Adiprana!
Bukan main gembiranya orang-orang yang berada disitu ketika mengetahui bahwa anak panah ke dua
adalah anak panah Ratnawulan. Mereka amat kagum kepada pemuda itu, dan Parta diam-diam
mengeluh karena ia harus mengakui bahwa Adiprana benar-benar lebih pandai dari padanya,dan
sudah pantaslah kalau pemuda itu menjadi gurunya!
Adipranalalu memandang kepada Bejo sambil tersenyum dan berkata, “Saudara yang gagah perkasa
seperti Gatotkaca. Kautentulah ahli pedang yang tinggi ilmunya dan kuat tenaganya. Marilah kita
main-main sebentar dan memang hendak kubuktikan bagaimana hebatnya permainkan pedang dari
jago Paskan Candrasa Bayu!“
Betapapaun juga, Bejo adalah seorang yang patuh dan akan disiplin,dan karena Adiprana adalah
tamu dari Ratnawulan, maka ia memandang kepada dara perkasa itu dengan mata minta keputusan.
Ratnawulan menganggukdan berkata.
“Bejo,kau boleh kerahkan seluruh ilmu kepandaian dan tenagamu! Kalau kaud apat bertahan sampai
sepuluh jurus saja menghadapi saudara Adiprana,sudahcukup memuaskan hatiku.“
Mendengar ucapan pelatihnya ini, Bejo merasa makin penasaran.Benar-benarkah ia hanya dapat
melawan selama sepuluh jurussaja? Ah, jangan-jangan pemuda ini takkan dapat bertahan sampai lima
jurus.
Koleksi Kang Zusi
Bejo dan Adiprana lalu masuk kedalam lingkaran yang disediakan untuk mereka, yaitu lingkaran
orang-orang yang menjadi penonton, diterangi oleh api unggun yang dipasang di empat penjuru. Bejo
segera mencabut pedangnya, sedangkan Waluyo lalu meminjamkan pedangnya kepada Adiprana.
Disaksikan oleh semua orang yang berada disitu, ada yang berjongkok dan ada pula yang berdiri
mengelilingi lapangan seolah-olah mereka sedang menyaksikan adu ayam, kedua pendekar pedang itu
mulai berlagak. Bejo memasang kuda-kudanya dengan kaki kiri dibelakang, tubuh agak condng
kemuka, kaki kanan di depan dengan tumit di angkat, tangan kiri terbuka jarinya dimiringkan
melintang dada sedangkan tangan kanan memegang pedang melintang ditempelkan di atas pundak
kiri. Inilah sebuah gerak pembukaan yang dalam Ilmu Pedang Candrasa Bayu disebut Kukila Nendra
(Burung Tidur). Pembukaan ini dilakukan dengan berat tubuh di tengah-tengah dan tenaga kaki
dipusatkan pada kaki kiri yang berada di belakang, sehingga kaki kirilah yang merupakan tiang
penyangga tubuh, sedangkan kaki kanan hanya ujungnya saja menyentuhtanah. Sikap tubuh ini
memungkinkan ia membuka serangan dengan berbagai cara dan jalan. Tanpa mengubah kedudukan
lawan agak jauh, ia dapat mengalihkan tenaga dari kaki kanan ke kaki kiri untuk melangkah maju dan
membarengi gerakan itu dengan sebuah tusukan serong.
Melihat kuda-kuda lawan ini,Adiprana tersenyum dan ia pun lalu membuka kuda-kudanya yang indah.
Ia memasang kuda-kudanya dengan merendahkan tubuhnya,kaki kiri ditekuk lututnya dan bagian
belakang tubuh diturunkan sampai hampir menyenyuh tumit sedangkan kaki kanan dilonjorkan ke
depan. Tubuhnya lurus dengan mata memandang ke depan, tangan kiri diangkat ke atas kepala
dengan telapak tangan di atas sedangkan pedang di tangan kanannya dilonjorkan pula di atas kaki
kanan. Bejo tertegun melihat pembukaan lawannya ini oleh karena sikap dan kedudukan tubuh
Adiprana itu sekaligusmemecahkan pembukaan Kukila Nendra! Dengan kedudukan macam itu, maka
Adiprana boleh dibilang telah berada “di atas“, lebih mudah melancarkan serangan berbahaya
daribawah dan menempatkan kedudukan Bejo pada kedudukan yang amat sukar karena memang sulit
baginya untuk dapat memulai serangan dengan baik apabila ia tidak merobah kuda-kudanya.
Oleh karena itu, iaberseru keras dan merobah kedudukannya, dengan menarik kaki kiri maju sejajar
dengan kakikanan, tubuh direndahkan dan kedua kutut ditekuk sedikit, tangan kiri tetap bersilang
didada sedangkan pedangnya kini ditaruh di pinggir pinggang! Dengankuda-kuda ini,ia dapat
menyerang lawannya dengan mudah, mengirim tusukan atau bacokan ke bawah!
Akan tetapi Adiprana tidak merobah kedudukannya, bahkan lalu tersenyum dan berkata.
“Bagus, kini kau dapat menyerang! Mulailah Bima!“ Pemuda itu sengaja menyebut Bima, yaitu
seorang tokoh pewayangan yang bertubuh tinggi besar sehingga dengan sebutan ituia
Koleksi Kang Zusi
mengumpamakan Bejo yang tinggi besar itu sebagai Bima! Sebutan ini bukan merupakan hinaan,
bahkan pujian, olehkarena Bima adalah seorang ksatria gagah perkasa, akan tetapi tetap saja
suaranya mengandung nada mengejek.
Bejo berseru keras, “Awas pedang!“ Dan bagaikan petir menyambar, pedangnya meluncur kearah
tenggorokan Adiprana dalam sebuah tusukan yang dahsyat.
“Jurus pertama!“ Adiprana berseru tak kalah nyaringnya sambil mernggeser kedua kakinya.
Sungguh mengagumkan dan indah dipandang, oleh karena dengan amat lemas dan cekatan sekali, ia
telah berpindah tempat dengangerak kai amat indah. Tanpa menangkis telahdapat mengelak bahaya
tusukan itu. Akan tetapi tidak percumaBejo mendapatlatihan ilmu pedang dari Ratnawulan, karena
biarpun tusukannya mengenai tempat kosong, pedangnya itu tidak ditariknya kembali, bahkan
laludiubah luncurannya bagaikan burung sedang melayang. Pedangnya itu membelok ke kanan
mengejar lawannya.dan kinidengan majukan kaki kiriia mengirim bacokanke arah leher Adiprana
dibarengi dengan bentakan keras, lalu kaki kanannya menyusul dengan sebuah tendangan yang kuat
kearah lambung lawan itu!
“Jurus kedua yang bagus!“Adiprana masih sempatberseru sambil cepat-cepat menggerakkan
pedangnya menangkis dantangan kirinya dengan jari-jari terbuka cepat meluncur ke arah lambung
sendiri untuk menangkap tendangan itu!
Bukan main hebatnya gerakannya ini! Semua orangmenahan nafas karenamereka menganggap
pemuda itu terlalu sembrono untuk mencoba menangkap tendangan kaki Bejo yang tenaganya
mungkin akan dapat melemparkan seekor kerbau! Kalau saja lengan atau jari tangan pemudaitu
terkena tendangan kakiBejo, tentu akan remuklah tulang-tulangnya!
Akan tetapi, Adiprana telah membuat perhitungan yang amat tepat. Tidak saja ia dapat menaksir
sampai di mana kehebatan tenaga tenangan lawan, bahkan iapun maklumakan kecepatannya sendiri
yang jauh lebih menang.Berbareng dengan bunyinya kedua pedang bertumbuk, iatelah berhasil
menyangga tumit kaki Bejo yang menendang, dansambil berseru,“Maaf“ ia menggerakkantangannya
keatas sehinggaBejo yang kakinya didorong keatas itu tentusajatak dapat mempertahankan
tubuhnya lagi yang terjengkang ke belakang!
“Buk!“ Bejo meringis-ringis ketika pantatnya bertemu dengan tanah keras!
Terdengar sorakan memuji dari semua orang, akan tetapi Bejo masih belum puas. Ia meloncat
bangun dan kini menyerang dengan hebat bagaikan harimau hausdarah! Pedangnya berkelebatan
Koleksi Kang Zusi
cepat dan iatelah mengeluarkan Ilmu Pedang Angin itu sehingga pedangnya benar-benar menderuderu
bagaikan angin puyuh mengamuk!
Namun Adiprana tetap tenang dan tiada hentinya mulutnya menghitung sambil menangkis atau
mengelak.
“Jurus ketiga! Jurus ke empat!“
Pada serangan juruske delapan, tiba-tiba Adiprana menangkis sambil memutar-mutar pedangnya.
Bejokalah tenaga sehingga terpaksa pedangnya ikut berputar-putar.Kemudian Bejo mengerahkan
tenaganya sehingga dua batang pedang itu saling temple dan mulailah adu tenagauntuk menindas
pedang lawan. Urat-urat diseluruh tubuh Bejo menggembung, tanda bahwa ia mengeluarkan
semuatenaganya untuk menindas pedang Adiprana. Akantetapi pemuda Gunung Bromo itu hanya
tersenyum dan nampaknya tidak sukar menahan tekanan ini. Tiba-tiba Adiprana berseru.
“Awas, Bima!“ Dan iamenarik pedangnya ke bawah sambil miringkan tubuh, akan tetapi tangan
kirinya dengan jari-jari terbuka dia “masukkan“ melalui bawah lengan kanan lawan untuk “makan“
lempengnya.
“Heeit.!“Bejo berseru keras dan “Ngek“perutnya telahtermakan oleh sodokan jari-jari tangan
Adiprana yang amat kuat!
“Aduh.!“Tubuh Bejo terhuyung-huyung kebelakang dan roboh terlentang dengan pedang terlepas
dari tangannya! Ia lalu merangkak sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba menjadi mulas. Masih
untung baginya bahwa Adiprana tidak bermaksud mencelakakannya dan hanya mempergunakan
sebagian kecil tenaganya saja. Kalau sodokan pada perut itu dilakukan dengan seperempat tenaganya
saja,kecil sekali harapan Bejo akan dapat bangun lagi!
“Hebat.“ Bejo berkata sambil terengah-engah, “aku mengaku kalah.“
Ratnawulan tersenyum dan semua orang bergembira mendapatkan seorang pemuda yang demikian
pandai di tengah mereka. Juga Adiprana merasa girang sekali melihat kejuran Bejo.Ia makin
tertarik kepada orang-orang ini sehingga ia memutuskan untuk tinggal bersama mereka di dalam
hutan.
Koleksi Kang Zusi
*
Telah tiga pecan Adiprana tinggal bersama Pasukan Candrasa Bayudi hutan randu. Ia disukai oleh
semua orangkarena ramah tamahdan sikapnya yang amat sederhana itu menimbulkan penghormatan
dari semua orang. Diam-daim Parta danBejo mengakuibahwa pemuda ini jauh lebih sesuai untuk
menjadi sisihan Ratnawulan, sama muda, sama rupawan dan sama saktinya.
Akan tetapi, Ratnawulan sendiri menganggap tak lebih. Ia memang suka sekali bercakap-cakap
membicarakan ilmu kepandaian dengan pemuda itu dan dalam percakapan itu mereka saling
menuturkan riwayat masing-masing. Secara singkat Adiprana menuturkan riwayatnya. Ia adalah
putera tunggal dari seorang empu (pembuat keris atau pandai besi yang pandai) di kota raja. Akan
tetapi malang baginya bahwa ayahnya telah meninggal dunia karenasakit ketika ia masih berusia lima
tahun. Ibunya yang masih mudamenjanda dan akhirnya, memenuh ipesan mendiang suaminya, ibunya
itu mengirimkannya kepada Eyang Bromo untu kmengejar ilmu. Semenjak berusia delapan tahun, ia
telah ikut pertapa itu di puncak Bromodan selama itu ia tidakpernahbertemu dengan ibunya yang
tinggal seorang diri dikota raja. Ketika ia bertemu dengan Ratnawulan, ia sedang dalam perjalanan
ke kota raja mencari ibunya, akan tetapi dasar anak muda yang ingin meluaskan pengalaman dan ingin
berkelana, ia singah di kaki Mahameru dan bertemu dengan Ratnawulan. Ia mengambil keputusan
untuk berangkat kekota raja setelah tinggal barang sepekan di hutan itu. Tidak tahunya, hatinya
tuntuh oleh kecantikan dan kegagahan dara perkasa Ratnawulan sehingga beratlah rasanya untuk
meninggalkan tempat itu.
Sebaliknya, Ratnawlan juga menceritakan riwayatnya secara singkat saja. Ia menuturkan bahwa
ayahnya tewas dalam perang, dan bahwaia dan ibunya diganggu oleh perampok-perampok. Tidak
iaceritakan kepada Adiprana secara jelas siapakah yangmenimbulkan semua kesengsaraan
ibunyaitu,karena ia menganggap hal itu tidak perlu diceritakan kepada seorang yang belum
dikenalnya benar.
Diam-diam Ratnawulan mengakui bahwa Adiprana adalah satu-satunya pemuda yang dapat menarik
hatinya. Ia kagum melihat pemuda yang selain tampan dan gagah, jugaberwatak baik ini, lemah
lembut dan halus sopan sikapnya, tak pernah memperhatikan kekurangajaran dan sukarlah untuk
mendapatkan seorang sahabat yang lebih baik daripada pemuda GunungBromo ini.
Pada suatu pagi tiga pecan kemudian. Anak-anak buah Pasukan Candrasa Bayu telah pergi ke lading
untuk bekerja. Mereka ini telah mendapat kemajuan pesat berkat pimpinan Ratnawulan yang dibantu
dengan sungguh-sungguh oleh Adiprana. Tanpa terasa,pasukan itu kini benar-benar merupakan
pasukan pedangy ang amat sukar dicari bandingannya pada waktu itu.
Koleksi Kang Zusi
Menurut petunjuk dari Ratnawulan dan Adiprana, mereka itu kini tak pernah membawa perisai dan
hanya bersenjatakan sebilah pedang. Kedua orang muda yang pandai itumenyatakan bahwa perisai
selain kurang praktis, juga malahan memperlambat gerakan sendiridan sebagai pengganti perisai,
diberi pelajaran kegesitan dancara-cara mengelak dengan secepat mungkn dari serangan senjata
musuh. Dengan cara ini, selain gerakan tubuh tak terganggu, juga sambil mengelak mereka dapat
melakuan serangan balasan yang lebih cepat lagi, sedangkan tangan kiri yang tadinya memegangp
erisai,dapat dipergunakan untuk mengirim pukulanatau merampassenjata lawan, terutama apabila
lawannya mepergunakan lembing. Juga mereka semua rata-rata diberi pelajaran ilmu memanah
sehingga kini, termasuk juga Waluyo sendiri, semua mempunyai sebuah gendewa dan belasan
anakpanah yang selalu dibawa sebagai senjata ke dua.
Seperti biasa, apabilas emua orang telah pergi bekerja,Adiprana dan Ratnawulan bercakap-cakap
sambil duduk di bawah pohon atau pergi berdua memburu binatang. Pada pagi hariitu,mereka tidak
pergi berburu binatang dan dudukdi tempat terbuka menikmati cahaya mataharipagi yang hangat
dan sehat.
“Adiprana,“ terdengar Ratnawulan berkata. “Apakah kau telah merasa suka dan cocok tinggal
ditempat sunyi bersama kawan-kawan kita itu?“
“Terus terang saja Ratnawulan, aku merasa amat krasan dan agaknya belum pernah aku merasa
segembira sekarang. Aku merasa senang tinggal di sini, kawan-kawan kita itu amat baik dan amat
menyenangkan hati melihat kemajuan mereka, ikut bangga hatiku menyaksikan betapa pejuangpejuang
itu kini menjadi pasukan yang amat kuat.“
“Kausetuju dengan cita-cita mereka hendak melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan
Majapahit?“