Bagian 5
Mendengar pertanyaan ini, Adiprana diam saja dan sampai lama tak dapat menjawab.Akhirnya ia
menjawab juga.
“Ratna, hal ini sungguh sukar bagi ku untuk menjawabnya. Mereka adalah orang-orang yang pernah
mengalami perang melawan Majapahit dan tentu saja cita-cita mereka itu bukannya tanpa dasar.
Adapunaku ini, semenjak kecil aku berada dipuncak gunung ,aku tidak tahu akan keadaan Majapahit,
tidak tahu pula akan kebaikan-kebaikannya, maka bagaimana aku dapat memiliki cita-cita tentang
pemberontakan? Pemberontakan hanya mungkin timbul dalam hati orang-orang yang sakit hati, yang
merasa dirugikan dan yang tidak merasa senang dengan pemerintah yang ada. Sedangkan aku yang
tidak mengalami semua ini, bagaimana aku dapat menyatakan pendapatku?“
Ratnawulan dapat menginsafi hal ini. “Akan tetapi, setidak-tidaknya kau tentu akan suka untuk
memimpin terus mereka itu, bukan?“
“Tentu saja, Ratna!“ jawab Adiprana cepat dan tanpa ragu-ragu. “Kalau tidak suka, masa aku mau
tinggal di sinis ampai tiga pekan.“
“Kalau aku minta kepadamu untuk tetap memimpin dan melatih mereka sampai tiba masanya mereka
melakukan pemberontakan itu, menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan peberontakan.”
“Demikianlah, Adiprana. Ibuku terlunta-lunta, ayah tewas dalam keadaaan penasaran, semua akibat
perbuatan Kartika keparat itu. Dan menurut penuturananak-anak Pasukan Candrasa Bayu, Kartika
tinggal di kota raja,menduduki pangkat senopati dan orang itu selalu berada dekat dengan Bagawan
Mahapati yang berkuasabesar. Oleh karenaitu,akudapat menduga bahwa untuk membunuh Kartika,
mungkin aku harus menghadapi Bagawan Mahapati.Aku hendak naik kepuncak Mahameru lebih dulu
untuk memberitahukan hal ini kepada ibu dan untuk minta diri karena telah lima pecan lebih aku
meninggalkan ibu.“
Dengan pikiran asyik membayangkan masa depannya, Ratnawulan menundukan muka dan memandang
rumput yang dicabutnya. Keadaan hening dansunyi. Ketika ia mengangkat muka memandang kepada
Adiprana, ia menjadi terkejut. Sinar mata pemuda yang sedang menatapnya itu berbeda dari
biasanya dan sinar mata ini membingungkan hati dara perkasa itu.
“Adiprana. kau kenapakah.?Kenapa kau memandangku seperti itu?“
Biarpun Ratnawulan sudah berusia hampir depalan belas tahun, aku tetapi oleh karena selalu
bertempat tinggal ditempat sunyi, maka iabelummengerti akan makna pandangan mata pria seperti
itu.
“Ratna. ijinkanlah aku ikut kau pergi ke kota raja! Aku pun hendak mencari ibuku dan.dan aku akan
membantumu membalas dndam terhadapmusuh-musuhmu!aku khawatir kalau-kalau kau akan menemui
bencana ditempat itu, Ratna. Aku harus mengantarkaupergi! Ucapan ini dikeluarkan dengan suara
bernafsu sehingga Ratnawulan memandang makin heran.
Koleksi Kang Zusi
“Ah, Adiprana, halini tak mungkin!“
“Mengapatak mungkin, Ratnawulan?“ Tanya Adiprana dengan suara gemetar.
“Pertama, karena iniadalah urusanku pribadi yang tiada sangkut-pautnya dengan kau dan tak perlu
akan membawa orang lain terseret dalam permusuhan ini. Kedua, kau harus tinggal di sini memberi
bimbingan dan latihan kepada Pasukan Candrasa Bayu,dan ketiga, karena betapapun juga, tidak
pantas dan melanggar tata susila bagi seorang gadis melakukan perjalanan jauh berduasaja dengan
seorang pria!“
Adiprana menggeser duduknya mendekati Ratnawulan dan suaranya makin hemetar ketika ia
menjawab penuh nafsu.
“Ratnawulan, ketiga soal itu dapat kujawab sekarang juga. Pertama, urusan pribadimu telah
kuanggap sebagai urusanku sendiri, bahkan kuanggap lebih mulia dan penting
daripadaurusankupribadi. Kedua,akutakkan tahantinggal di tempatini tanpa adanya kaudisini, seakanakan
sunyi senyap dunia ini tanpa adanyakaudi dekatlu! Ketiga, kelak setiba kitadikotaraja, akuakan
mintaibuku melamarku sebagai jodohku, maka apa salahnya bagi seorangcalon jodohmu untuk
mengantar kau ke mana kau pergi?“Melihat betapa gadisitu memandangnya dengan pucat dan mata
terbelalak, Adiprana melanjutkan ucapannya, “Ratna.Ratna. tak tahukah betapa sinar matamu yang
tajam melebihi Dewandanu itu telah mematahkan pertahanan imanku semenjak pertemuan kita
pertama, sebagaimana anak-anak panahmu mematahkan ujung anak-anak panahku? Taktahukah kau
betapa senyum dan kerling matamu itu merupakan belenggu baja yang telah mengikat kedua kaki
tanganku sehingga aku tidak kuasalagi melepaskan diridan tak kuasameninggalkantempat ini? Ratna.
Ratnawulan,dewi pujaan hatiku, aku. hambamu yang rendah ini. aku bersedia mengorbankan apa saja,
jiwaku sekalianpun, untukmu karena. karena aku cinta padamu Ratna.!
Mendengar pernyataan kasih ini, Ratnawulan melompat berdiri bagaikan diserang oleh seekor ular
berbisa.Ia memandang dengan muka sebentar pucat sebentar merah dan sepasang matanya
terbelalak lebar memandang wajah pemuda yangmasih duduk berlutut di depannya.
“Adiprana. jangan. jangan kau mengeluarkan kata-kata seperti itu!“
Koleksi Kang Zusi
“Ratnawulan, kekasih hati pujaan kalbu, kau boleh melarang aku makan minum, boleh melarang aku
tidur, boleh pula melarang aku bernafas, akan tetapi kau tidak bisa melarang aku menyatakan suara
hatiku, bisikan kalbuku.!“
“Kaugila, Adiprana!“kata Ratnawulan sambil melangkah mundur dua tindak,akan tetapi Adiprana juga
berdiri melangkah maju, merungrum (merayu) dara itu dengan cumbu rayu dan kata-kata bermadu.
“Memang aku sudah gila, Ratnawulan! Aku telah gila, tergila-gila oleh kecantikanmu. Kau cantik
jelita melebihi Dewi Ratih! Kaugagah perkasa melebihi Wara Srikandi! Kau lemah lembut dan setia
melebihi Diah Setiawati! Kau melati sucidi antara segala puspita!“
Wanita manakah yang takkan luluh imannya menhadapi cumburayu dari orang teruna setampan dan
segagah Adiprana?Kalau saja yang dirungrum itu seorang wanita lain, tentu ia akan melempar perisai
danmenyerah dengan hati bangga. Akan tetapiRatnawulan adalah seorang dara perkasa yang teguh
imannya,dan pulaia masih asing dengan suaraasmaraini, maka cemburayu itu sungguh-sungguhpun
membuat dadanya berdebar bangga, namun mendatangkan kekagetan besar.
“Tidak, tidak, Adiprana! Sadarlah kau, hai ksatria utama! Demikian lemahnya imanmu?
Ucapanmu itu mencemarkan kegagahanmu.“
“Apa, Ratnawulan? Jangan salah sangka! Kasih sayangku kepadamu bukanlah kasih sayang terdorong
nafsu semata. Aku mencintaimu dengantulus ikhlas,denganhatisuci, dengan seluruhjiwaragaku. Cinta
murni seperti inibukanmencemarkan kegagahan, bahkan membuat nama seorang ksatria dijunjung
tinggi sepanjang masa. Cintaku kepadamu bagaikan cinta Palgunadi terhadap Anggraeni, cinta yang
akan kubawa sampai mati!“
“Cukup.Adiprana. Tetapkanlah hatimu dan sadarlah!“
“Kau menolak cintaku, Ratnawulan? Kau tega menghancurkan hidupku? Penolakanmu berarti
hancurnya hidupku, seakan-akan dunia ditinggalkan Dewangkara (matahari). Aku akan binasa, tak
kuat menghadapi gelombang hidup di mayapada.“
Koleksi Kang Zusi
“Adiprana, sekarang belum tiba saatnya bagiku untuk bicara tentang hal itu. Aku belum dapat
membuka pintu hatiku kepada siapapun juga,tidakkepada priayang manapunjuga. Aku masih
mempunyai tugas yang maha penting, Adiprana,dan aku tidak sudi memikirkan tentang. Jodoh dan
lain-lain seperti itu sebelum tugas kewajibanku membalas dendam mendiang ayahku terlaksana!“
Sadarlah Adiprana dari keadaannya yang seakan-akan mabuk dan gandrung tadi.Ia berkata lemah.
“Maafkan sikapku tadi, Ratnawulan. Apakah kata-katamu tadi bukan hanya merupakan alasan untuk
menolak cintaku?“
“Tidak, Adiprana.Aku tidak. menerima maupun menolak! Aku bersumpah bahwa sebelum terlaksana
tugasku, aku takkan mengikat janji hati terhadap pria yang manapun juga.“
“Jadi aku masihmempunyai harapan, Ratna?“
“Harapan selalu ada, Adiprana. Siapa tahu? Jodoh adalah kehendak Hyang Agung.“
“Terima kasih, Ratnawulan! Besar hatiku mendengar kata-katamu ini. Selama masih ada harapan aku
akan kuat menahan derita asmara, aku akan berbantal rindu berguling dendam. Aku takkan merabaraba
di dalam gelap karena harapan itu merupakan lampu yang menjadi sumber penerangan bagiku.“
“Sudahlah Adiprana,jangan terlalu lemah, kau mengecewakan hatiku. Sekarang jawablah
sungguh-sungguh, apakah kau bersedia menggantikan kedudukan dan memimpin kawan-kawandari
Pasukan Candrasa Bayu.“
“Aku bersedia, Ratna, bahkan aku akan membawa ibuku tinggal bersamaku di tempat ini. Aku akan
membantu bahkan akan ikut dalam perjuangan mereka, kewajiban ini masih terlampau ringan bagiku,
biarlah kujadikan pemanis harapanku.“
“Kalau begitu, sekarang juga aku hendak pergi, Adiprana, aku hendak naik keMahameru
Koleksi Kang Zusi
menemui ibuku, kemudian aku akan berangkat mencari musuhku di kotaraja.“
“Mengapa demikian tergesa-gesa, Ratnawulan?“
“Telah terlampau lama waktunya tertunda disini, Adiprana.“ Gadis ini tak dapat menyatakan isi
hatinya,ia merasa tadak enak untuk berdiam lebih lama di dekat Adiprana.
“Kalau begitu, selamat jalan,Ratnawulan. Semangat dan doaku menyertaimu!“
“Selamat tinggal,Adiprana, danjangan terlalu banyak melamun yang bukan-bukan!“
Maka pergilah Ratnawulan,keluar dari hutan randu di manaia tinggal selama lima pecan. Dalam
perjalanannya merupakan sawahladang di mana ia bertemu dengan beberapa orang anggota pasukan
Camdrasa Bayu. Ia berhenti sebentar dan dengan singkat memberitahukan maksudnya meninggalkan
pasukan itudan menyerahkan tugas para anggota itu merasa kecewa, akan tetapi mereka tidak
putusasa karena Adiprana yangmengantikan daraperkasa itu.
Karena menggunakan aji kesaktiannya,maka sebelum matahari terbenam, ia sampai di tempat
tinggal ibunya, yaitu di puncak Mahameru. Dengan hati girang ia mendapat kenyataan bahwa gurunya,
EyangS emeru, telah kembali dari perjalanannya puladan telah berada di dalam gua pertapaannya.
Dengansingkat Ratnawulan menceritakan pengalamannya kepada ibunya tanpa menyembunyikan
sesuatu, bahkan ia menuturkan pula tentang pinangan Adiprana. Ibunya menghela napas dan berkata.
“Itulah yang memberatkan pikiranku, anakku. Kau telah dewasa dan selain tugasmu membalas
musuhitu sudah cukup berat, kaupun menghadapi penggoda lainyang lebih berbahaya, yaitu dari kaum
pria yang tentu takkan membiarkan kau lalu begitu saja tanpa menggoda. Ketahuilah bahwa kau
memiliki kecantikan yang membanggakan hatiku, dan hal ini amat berbahaya bagi seorang wanita
muda dalam perjalanan, sungguhpun aku cukup maklum bahwa kau cukup kuat untuk menjaga dirimu.
Kauberlaku benar telah menolak pinangan pemuda itu, karenamemang cita-cita tak boleh terganggu
oleh keinginan hendak mempersenang diri dan menurutkan kata nafsu hati.Orang bercita-cita
harusmantap dan harus mencurahkan segenapperhatian ke arah pelaksanaan cita-citanyaitu, barulah
ada kemungkinancita-cita itu berhasil.Sekalisaja orang berlaku lemah terhadap pengoda, terutama
godaan yangbersifat asmara, maka besar sekali kemungkinan cita-citanya
Koleksi Kang Zusi
takkanterlaksanadengansempurna bahkan akan berhenti di tengah jalan, oleh karena pikirannya
telah bercabang dan tidakdipusatkan.Memang cita-citamu untuk membalas dendam ayahmu,yang
menjadi cita-cita ibumu adalah cita-cita yang luhur, anakku. Tidak saja kau akan membalaskan sakit
hatiorang tua, akan tetapi kalau kau berhasil membinasakan keparat Kartika, berarti bahwakau
telah menolong banyak orang pula, membebaskan mereka dari kekejaman dan kecurangan hati
penjahat itu!“
“Segala petuahmu akan kuperhatikan dan kujunjung tinggi, ibu.“ jawab Ratnawulan sambil memeluk
ibunya.
“Akan tetapi, kauharus mintaizin dan doa restu lebih dahulu dari eyangmu, Wulan. Tak ada yang
lebihberharga untukbekal perjalanan melaksanakan cita-cita melainkan doa restu dari orang-orang
tua,terutama dari gurumu yang bijaksana.“
Maka pergilah Ratnawulan dalam gurupertapaan Panembahan Mahendraguna yang kini telah nampak
tua sekali. Pertapaitu sedang bersamadhi ketika Ratnawulan masuk kedalam guanya. Ratnawulan
tidak berani mengganggu, bahkan lalududukbersila tidak jauh dari gurunya dan ikut bersamadhi
mengheningkancipta.
Belum lama ia tenggelam dalam alam hening, terdengar gurunya memanggil dan melihat gurunya
telah duduk memandangnyadengan matanya yang berpengaruh dan penuh kesabaran.
“Ratnawulan,bilakah kau kembali dari hutan randu?“
Ratnawulan telah maklumbahwa gurunyaini waspada akan segala hal, akan tetapi selalu tidak
menampakkannya sungguhpun kadang-kadang kewaspadaannya itutanpa sengaja dan tanpa
disadarinya bahwa di dalam kalimat itu terlihat bahwa kakek sakti ini telah tahu akan keadaannya,
tahu bahwa ia selama iniberadadi hutan randu, sungguhpun tak seorangpun memberitahu kepada
kakek itu.
“Baru saja kemarin sore hamba datang, eyang Panembahan. Sekarang datang menghadap untuk
mohon izin dandoa restu dari eyang karena hamba hendak pergi ke kota raja Majapahit untuk
mencari musuh besar ayah hambadan membalas dendam.”
Koleksi Kang Zusi
Kakek itu menhela napas dan bibirnya bergerak-gerak. “Muridku ya cucuku yang ayu. Dengan dasar
apakah kau hendakmembalas dendam kepada Kartika?“
“Berdasarkan kebaktian hamba kepada ayah yang telah dicurangioleh Kartika sehingga ibu
menderita sengsara karenanya dan mengingat pula bahwa seorang jahatseperti Kartika harus
dibasmi untuk mencegahnya mendatangkan malapetaka kepada orang lain, selain dengan watak
pendekar utama telah eyang ajarkan kepadahamba.“
Eyang Semeru tersenyum dan menghela napas lagi. “KehendakHyang Agung takkan berubah. Kau
masih terbawa oleh pergerakan Triloka dan terpengaruh olehJanaloka atauArcapada, oleh karena
itu kau masih terikat oleh Karma, masih terikat oleh segala sesuatu yang berputar dijagat raya
ini.Akutidakberhak mencegah atau mendorongmu. Ratnawulan, hanya kesadaran dan batinmu
sendirilah yang harus memegang kendali dan memutuskanke mana kauhendak menuju. Sebagaiorang
tua, aku hanya memberi doa restu, semogakau selalu akandapat memilih mana yang benarmana yang
salah, dan dapatmelalui jalan kebenaran jangansampai kesasar. Hanya satupesanku, Ratnawulan,
semoga Hyang agung mengampuniaku akrena pesan iniyang timbul dari kasih sayangku kepadamu
sebagai cucu dan murid, yaitu, berhati-hatilah kau apabila berhadapan dengan Mahapati! Dewa
kebenaran akan melindungimu dan akan memperkuat kau sehingga kau tak perlu kalah menghadapi
kesaktiannya, akan tetapi. kau waspadalah terhadap lembing bagawan itu! Lembingnya itu ampuh
sekali dan kebetulan sekali lembing pusakanya itu bernama Nyi Ratnawulan! Sekali lagi, kau tak
usahtakut berhadapan dengan Mahapati,akan tetapi apabila ia mengeluarkan lembingnya yang
ampuhitu,akan lebih baik apabila kau menjauhkan dirimu, muridku!“
Sambil menyembah Ratnawulan menjawab.
“Segala wejangandan nasihat eyang akanhamba perhatikan dan junjung tinggi sebagai jimat hamba.“
“Berangkatlah,Ratnawulan, kuberi bekalpengestu kepadamu.“
Setelah menyambah lagi, keluarlah daraperkasa itu darigua pertapaan Panembahan
Mahendraguna.Kakek yangsakti itu lalu menghela napas dan berbisik perlahan.
“Duh gusti, ampunilah kiranyaSi Ratnawulan itu.“
Koleksi Kang Zusi
Kemudiania melanjutkan samadhinyayang tadi tergangguoleh kedatangan muridnya.
*
Pada keesokan harinya, dari puncak Mahameru turunlah seorang pemuda yang amat elok dan
rupawan. Sungguhpun tubuhnya tidak besar dan kakitangannya nampaklemahdan berkulit kuning
halus, namun gerak-geriknyacekatandan larinya bagakan kijang dikejar harimau. Pemuda inidemikian
halus dan tampannya sehingga orang yang melihatnya tentu akan bertanya apakah Sang Arjuna yang
terkenal sebagaipria paling menandingi ketampanan pemuda yang sedang turun dari Mahameru itu.
Memang luar biasasekali pemuda itu. Wajah dangerak-geriknya yanghalus tak
sesuaidenganketangkasannya ketika ia menuruni gunung, melompati batu karang dan jurang. Melihat
matanya yang bening dan bibirnya yang merah, ia kelihatan seperti Batara Kamajaya Dewa Asmara,
akan tetapi melihat ketangkasannya, ia menyamai Raden Gatotkaca yang dapatngambah jumantara
(terbang)!
Siapakah dia ini? Lihatlah baik-baik dananda akan mengenalnya! Ya,diabukanlain adalah daraperkasa
Ratnawulan! Gadis ini telah menyamar sebagai seorang pemuda atas nasehat ibunda.
“Wulan“. Kata ibunya sebagainasehat terakhir ketika anaknyahendak berangkat kokota
raja,“Seorang daraseperti kau melakukan perjalanan seorang diri keluar masuk hutan masih tidak
terlalu menarik perhatianpara penduduk gunung dandusun. Akan tetapi, apabila kau mamasuki kota
raja, kauakan menimbulkan kegemparan di kalangan penduduk. Amat langka terdapat dan amat
ganjilah apabila mereka melihat seorang dara muda berjalan seorang diri tanpa pengiring di kota
raja. Apa akan kata orang? Halitu hanya akan menimbulkan kesulitan bagimu, nak, dan akubahkan
khawatir kalau-kalau engkau akan akan menemui bahaya sebelumcita-citamu tercapai. Oleh karena
itu, janganlah kau masuk ke kota raja sebagaiwanita, akantetapi sebagai seorangpria, sebagais
eorang jakalelana. Dengand emikian, takkan ada orang yang menaruh perhatian kepadamu dank au
takkan menimbulkan kecurigaan.“
Demikianlah, dengan pertolongan ibunya, Ratnawulanl alu menyamar sebagai seorang pemuda.
Ibunya berlinang air mata ketika memandang puterinya dalam penyamaran itu.
“Anaku, Wulan,“ bisiknya sambil memeluk pundakanaknya, “kau mengingatkan ibunya kepada
mendiang ayahmu pada waktu kamu mula-mula bersuara.“
Koleksi Kang Zusi
Amat terharulah Ratnawulan mendengar keluhan ibunyaini, dania dapat memaklumi kesedihan hati
ibunya.Dipeluknya ibunya dengana kasih sayang yang amat besar dan untuk beberapa lamanya
keduanyaterbenam dalamlaut keharuan.
“Sekali lagi, Wulan. Berhati-hatilah kau menjaga dirimu sendiri, tertama sekali teguhkanlah imanmu
menghadapi godaanasmaradidalam hatimu sendiri, oleh karena tiada musuhyang lebih berbahaya
daripada musuh didalam dada sendiri!“
Maka berangkatlah Ratnawulan meninggalkan ibunya, berangkatlah menuju keKota Raja Majapahit
,menuju kearah pelaksanaan cita-citanya, yaitu membalas dendam kepada musuh besarnya, Kartika!
Benar sebagaimana kata ibunya,dengan menyamar sebagaiseorang pria, dengan mudah tanpa
menimbulkan kecurigaan orang, Ratnawulan dapat masuk kekotaraja. Memang ia menarik perhatian
karenake elokan wajahnya, akan tetapi keelokan wajah seorang priahanyamembuat orang
menengokdan mengagumi sekilas saja. Begitu ia lewat, orang telah melupakan lagi.
Karena hari sudah malam ketika ia tiba di kotaraja, maka Ratnawulan menunda niatnya mencari
rumah Kartika.Ia tidak mau menimbulkan kecurigaan orang yang akan membuat usahanya menemui
rintangan, oleh karena itu ia sengaja berjalan-jalan sekeliling kota, melihat-lihat dan mengagumi
bangunan gedung-gedung besaryang amat indah dan yang belum pernah dilihat seumur hidupnya. Di
dusun-dusun sekitar Gunung Mahameru hanya melihat bangunan-bangunan dari bamboo yangberatap
daun, palingbesarhanyalah rumah-rumah lurah yang terbuat daripada kayu gunung beratap
genteng.Di kotaraja melihat bangunan-bangunan raksasa dengan pilar-pilar terukir dan tercat indah
merupakan bangunan yang besarnya seperti anak bukit!
Tiba-tiba ia mendengar suara gamelan ramai menggema di gelap malam. Suara kenong dangongnya
bertalu-taluseperti memanggil-manggil semua orang untuk datang menonton. Ah, tentu pertunjukan
wayang kulit, piker Ratnawulan dengangembira. Lumayan juga untuk melewatkan malamini. Ia pernah
menonton pertunjukan wayang kulit yang sering diadakan didusun-dusun dan ia gemar sekali
akancerita pewayangan, terutama ceritayang mengisahkan perjalanan pahlawan wanita
Srikandi.Biasanyaia tidak kuat sampai semalam untuk menonton wayang kecualikalau ceritaya
mengisahkan pengalaman pahlawanwanita itu, terutama cerita yang mengisahkan pengalaman wanita
itu, terutama sekali ia paling suka menonton cerita Srikandi Belajar memanah!
Dengan langkah lebar ia menuju ke arah suara gamelan itudan darijauh ia telah melihat penerangan
tempat pertunjukan itu. Ternyata bahwa gamelan itu keluar dari sebuah gedung tumenggungan dan
pertujukan diadakan di halaman depangedung itu. Melihat banyak orang menonton berjubel di luar
panggungyang dibangun di depan gedung, Ratnawulan juga mendesak maju dan mencari tempat di
Koleksi Kang Zusi
depan. Akan tetapi alangkah herannya ketia ia tidak melihat layer wayang di situ, juga tidak ada
batangpohon pisang melintang untuk tempat wayang-wayang kulit ituditancapkan. Yang ada hanyalah
para yogo penabuh gamelan dandi atas panggng itu kelihatan seorang ledek tengah menaridan
menyanyi dengangerak kaki tangan yang amat lemasdan suaranya amat merdu. Ledek itu tidak muda
lagi, akantetapi jelas bahwa ia memiliki potongan tubuh yang menggairahkan dan wajah yang amat
cantiknya. Lirikan matanya tajam menggurat kalbu sedangkan senyumnya mengalahkan bunga yang
mengharum. Di sekeliling panggung itu penuh dengan tamu-tamududukdi kursi. Mereka ini semuanya
kaum pria dantidakada seorang pundi antara mereka yang tersenyum dantertawa-tawa gembira.
Diatas meja tersedia kendi-kendi arak yang menyiarkan bau keras, sedangkan beberapa buah cawan
menggeletak di sana-sini.Dengan heran Ratnawulan melihat betapa wajahpara tamu itu berbeda
dengan orangbiasa, dan ketawa mereka juga ketawa tidak sewajarnya. Bahkan ada orang yang
berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang seakan-akan hendak jatuh. Ia tidak tahu bahwa sebagian
besar para tamu itu telah mabok!
Pesta malam itu adalah pesta tayuban, yaitu pesta malam gembira dengan tari-tarian dan
nyanyianledek, dandi dalam pesta tayubanini para tamu yang “ketiban sampur“ diharuskan menari
bersama ledek itu.Ketiban sampur berartikejatuhanselendang, dan ledek itulah yang menetapkan
siapa-siapa orangnya yang hendak diajak menari. Sambil menari-nariia berjalan lenggang-lenggok ke
arah para tamu dengan mata tajam mengerling ke kanan kiri, mencari-cari “korbannya“ yang hendak
dijatuhi selendangnya. Biasanya ledek ini memilih seorang tamu yang kantongnya padat, olehkarena
sehabis menari, sudah menjadi kelaziman bahwa tamu itu memberi hadiah uang beberapa realkepada
si ledek.Akan tetapi ada pulaledek yang tidak begitu mementingkan uang dansengaja memilih tamutamu
yang muda dant ampan, terutama yang pandai untuk memenuhi kesenangan sendiri.
Ledek inipun agaknya hendak mencari seorang lawan yang baik, karena ia tidak menghampiri tamutamu
tua yang berpakaian mewah, akan tetapi menghampiri seorang tam umuda yang amat menarik
perhatian. Pemuda ini usianya dua puluh tahun lebih, tubuhnya tubuh ksatria, kuat tegap tidak
dempel atau tinggi besar, rambutnya keriting dan sepasang matanya bercahaya tajam. Wajahnya
amat tampan dan menunjukkan kegagahan, terutama sepasang alisnya yangtebal danbulu matanya
yang lentik melengkung keatas yaitu bulu mata yang biasanya hanya terdapat pada kaum bangsawan
atau darah keraton. Pakaiannya jugaindah dan mahal, tanda bahwa iabenar-ronta dan memekikmekik
ketakutan, sedangkan para tamu bermacam-macam sikapnya melihat peristiwa ini. Ada yang
melindungi sambil tertawa terkekeh-kekeh ada yang berdiri dan membujuk sigemuk itu untuk turun
kembali dan jangan merusak suasana, akan tetapi tidakada orang yang berani naikke panggung untuk
menghalanginya. Sementara itu, para yogo masih tetap menabuh gamelannya dengan riuh.
Raden Indrajaya yang melihat perbuatan si gemuk ini,segera mengeluarkan tangan dan sekali
renggut saja, terlepaslah pelukan tangan si gemuk itu ari tubuh Puspamirah. Sambil menangkis
Puspamirah lalu berlari ke tempat yogo dan duduk sambil menutupi mukanya dengan selendang yang
berwarna merah jingga.
Koleksi Kang Zusi
“Mas Bei Bajrabumi, jangan melanggar kesusilaan di tempat ini! Mundurlah dan jangan membikin
kacau!“ pemuda itu membentakdengan halus, mukanya merah tanda bahwa ia marah, akan tetapi
iakan Arjuna itu.Geraktarian pemuda itu benar-benar hebat dan indah, tidak saja lemas dan sesuai
batul dengan Irama lagu, akan tetapi juga hidup dan seakan-akan setiap gerakannya menyatakan
sesuatu yang berarti. Sepasang matanya memancarkan cahaya gemilang, bibirnya tersenyum dan
wajahnya berseri-seri. Sungguh seorang pemuda yang akan meruntuhkan iman setiap orangdara,
danbenar-benar tariannyaitu tarian yang indahdan bermutu. Orang-orangyang berada disitu tidak
merasa heran oleh karena pemuda ini memang seorang ahli tariyang kenamaan di Majapahit dan
seringkali ia memperlihatkan keahliannya di depan sang prabu sendiri dengan seluruh keluarga
keraton.Akan tetapi bagi Ratnawulan yang tidak tahu siapa adanya pemuda ini, memandangnya
bagaikan memandang kepada seorang dewata yang baru melayang turun dari Swargaloka! Benarbenar
hatinya terpikatdan jari-jari tangan muda yang bergerak-gerak dalam tariannya itu seakanakan
menjentik-jentik kalbunya, membuat mukanya terasa panas dan matanya memandang sayu.
Akantetapi,dara perkasa ini segera teringat akan petuah ibundanya, maka ialalu menahan napas,
memusatkan panca inderanya dan berhasil mengusirgodaan itu.
Pada saatia berdiridi antara sekian banyak orang sambil mengheningkan cipta untuk menekan
perasaannya yang menggelora, tiba-tiba ia menangkap bisikan tiga orang yang berdiri tak jauh dari
tempatnya.
“Saat yang baik untuk mulai gerakan kita!“ terdengar bisikan itu. “Sudah seharusnya mas bei
melihat kesempatan ini dan mulai beraksi.Banyak tamu telah mabok, maka kalau ia berpura-pura
mabok dan menyerang Raden Indrayana membuat keributan, takkan ada yang mengira bahwa ia
melakukan dengan sengaja. Dan kitaakan lebih mudah lagi bergerak.“
“Dengan alasan seperti yang sudah diatur semula?“ terdengar orang kedua berbisik.
“Bodoh! Masih kurang jelaskah perintah mas bei? Kita berpura-pura merasa cemburu kepada Raden
Indrayana dan kita mengaku menjadi kekasih-kekasih Puspamirah! Sst, diam, itu kulihat mas bei
sudah berdiri dari kursinya! Benar. Ia berdiri terhuyung-huyung seperti orang mabok. Awas, siap!“
Ratnawulan berdebar hatinya mendengar bisikan-bisikan yang terdengar oleh orang lain itu. Ia
maklumbahwa yang handak diserang adalah pemuda yang menawan hatinya itu, karena tadipun orang
menyebut nama pemuda itu Raden Indra.Tiga orang ini menyebut nama Raden Indrayana, tentu
pemuda yang sedang menari dengan asyiknya itu. Dan ia mengerling ke arah tigaorang yang berbisik
tadi. Ternyata bahwa mereka adalah orang tingg ibesar yang brengosnya sekepal melintang
dansikapmereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalahorang-orang kasar yang berlagak seperti
seorang cabang atas! Ketika Ratnawulan mengerling ke atas panggung, ke arahketiga orang
itumenujukan pandang maramereka, ia melihat seorang setengah tua yang bertubuh gemuk pendek,
berpakaian mewah, berdiri dari kursinya dandengan tubuhterhuyung-huyung menghampiri kedua
Koleksi Kang Zusi
orang yang asyik menari di tengah panggung itu.Denganpandang matanya yang amat tajam
Ratnawulan dapat melihat bahwa biarpun orang gemuk ini kelihatan mabok,akan tetapi sepasang
matanya masih bersinar cerdik dan beberapa kalisigemuk itu mengerling ke arah tiga orang yang
berdiri di sebelah kiri Ratnawulan.
Ratnawulan memandang dengan penuh perhatian dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk
mebantu Raden Indrajayaitu apabila benar-benar menghadapi bahaya. Entah apa ang menggerakkan
hatinya untuk mencampuri urusan lain orang ini, hanya ia menghibur hatinya sendiri dengan bisikan,
“Ada orang dalam bahaya, tak perduli siapa adanya orang itu, baik kakek tua buruk maupun teruna
yang elok rupanya, harus kubantu dia.“
Orang gemuk itu setelah berada di dekat puspamirah, tiba-tiba tertawa dan menangkap lengan
tangan ledek itu, menarik dan memeluknya lalu berusaha hendak menciumnya. Ledek itu meronta
benar putera bangsawan yang kayaraya.
Ketika ledek itu telah melangkah sampai di hadapan pemuda ini, ia lalu mengalungkan selendagnya
kepada pemuda itu yang menolak dengan kedua tangannyas ambil berkata halus.
“Puspamirah, pilihlah orang lain, sekali saja sudah cukup bagiku!“
Akan tetapi banyak tamu ikut membujuknya dan berkata.
“Raden Indra,menarilah sekalilagi.Tidak saja Puspa akanmerasa girang, kamipunamat
gembiramelihattarianmu yang indah!“
Terpaksa pemuda itu bangkit dari tempat duduknya dan melangkahle tengah panggung bersama
ledek itu.Gamelan dipukul dengan irama merdu danmenarilah pemuda itubersama pasangannya.
Kalau semua tamu dan semua penonton di bawah panggung merasa gembiradan kagum, adalah
Ratnawulan merasa takjubdan memandang denganmataterbelalak. Dadanya berdebaraneh, dan
sepasang matanya tidak bosannya memandang kepada pemuda yang tampan bagai menahan
kemarahannya karena melihat bahwa Bajrabumi dalam keadaan mabok.
Koleksi Kang Zusi
“Ha, ha, ha! Raden Indrayana, aku Raden Mas Ngabei Bajrabumi, tidak tunduk kepada siapa juga
kecuali sang prabu! Kalau aku tidak mau mundur, kaumau apa? Ha, ha, ha! Kau hendak memborong
Puspamirah? Tidak boleh. tidak boleh. Haimenari dengan aku sampai pagi!“
“Mas bei, kalau tidak mau kelur terpaksa akan kulontarkan kau keluar dari sini!“ Raden Indrayana
berkata marah.
“Ha, ha, ha! Dengar ocehan anak kemarin sore! Indrayana! Kau anak kecil masih bau pupuk ubunubunmu,
hendak melontarkan aku? Ha, ha, ha!Boleh kau coba!“ Si gemuk itu lalumencabut kerisnya
yang dihias ronce kembang melati.
“Raden Indra! Mundurlah dan jangan melayanidia yang mabok!“ terdengar orang berserudari
rombongan tamu.
Akan tetapi Raden Indrajaya sama sekali tidak merasa gentar menghadapi keris ditangan
Bajrabumi itu.
Ratnawulan memandang dengan kagum dan gembira ketika melihat betapa pemuda tampan itu
ternyata tidak saja pandai menari,akan tetapi pandai pulailmu pencak silat. Biarpun ia bertangan
kosongdan menghadapi seorang lawan yang bersenjata keris, ia tidak gugup dan tidak pula mencabut
kerisnyasendiri.Ternyata bahwa Bajrabumi juga bukan seorang lemah. Ilmu kerisnya cukup tinggi
dan dari gerakantangannya ternyata bahwa ia telah mempelajariilmu pencakdari pesisir utara, ilmu
kerisnya adalahilmu kerisdari daerah Tuban. Tusukannya bertenaga dancepat sekali
danpekembangannya serangannya selain bagus juga amat cekatan.Bertubi-tubiia menusukkan
kerisnya kepada pemuda lawannya itu, sehingga marahlah Indrayana karena dari pergerakan
lawannya yang tangkas dan cepat ini sama sekali ia tidak melihat sifat-sifat orang mabok. Orang
mabok takkan dapat bermain keris sebaik ini!
“Bajrabumi, kau benar gila!“ bentaknya dan dengan cepat ia mengelak sambil mengirim serangan
balasan. Dengan tangankiri iamenangkappergelangan tangan lawan yang memegang keris, sedangkan
tangan kanannya memukul dengan telapak tangan, menebakdada. Bajrabumi tak kurang gesitnya,
dengan cepat ia dapat metenggut tangannya yang tepegang dan tangan kirinya menangkis pukulan
tangan lawan dari samping.
Koleksi Kang Zusi
Ternyata dalam hal ini kecepatan gerakan, Bajrabumi yang gemuk pendek itu masih kalah oleh
Indrayana yang gesit seperti burung srikatan.Begitu serangan balasannya gagal, kaki kirinya
menyapukaki lawan lalu di sini pergelangan tanganyang memegang keris.
Bajrabumi melompat untuk menghindarkan diri dari sapuan kaki lawan, akan tetapi ia
tidakmenyangka akan datangnya tendangan lawan yangcepat itu sehingga pergelangannya kena
tendangan keras. Ia memekik kesakitan dan kerisnya terlepas dari pegangan.
Pada saat itu, tiga bayangan tubuh yang tinggi besar melompat naik ke atas punggung. Seorang yang
terdepan berseru.
“Indrayana, kau berani merebut Puspamirah dari tangan kami?Kau benar-benar sudah rindu kepada
kuburan!“ Tiga orang yang berkumis tebal itulalu maju menyerang dengan kelewang mereka yang
berkilauan saking tajamnya.
Bukan main ributnya suasana di situ.
“Celaka. Perampok-perampok datang!“ terdengar teriakan orang, sedangkan Bajrabumi yang masih
berpura-pura mabok melanjutkan serangannya pula dengan tangan kosong. Akan tetapi ketika
melihat Indrayana mencabutkerisnya, ngabei yang bertubuh gemuk itu lalu mengundurkan diri dari
pertempuran, oleh karena tadi ia pun hanya hendak memperlihatkan bahwa ia benar-benar “mabok“
saja dan memang hendak menyerahkan pemuda itu ke pada tiga orang“perampok“yang sebenarnya
adalah tiga orang cabang atas dari Madurayang telah disewanya untuk maksud ini.
Setelah berhadapan dengan tiga orang cabang atas dariMadura ini, baru kelihatanlah kepandaian
Indrajaya, seakan-akan sebatang keris yang baru kelihatan pamornya. Tiga orang itu bersenjata
kelewang yang panjang dan tajamdan gerakan mereka menunjukkan bahwa mereka benar-benar
memiliki ilmu kepandaian pencak silat yangtakboleh dipandang ringan.Dengan lincahnya kaki mereka
bergerak secara teratur sekali, juga kelewang-kelewang di tangan mereka melakukan serangan
menurut gerakan seorang ahli,bukan secara sembarangan atau akan hal ini, maka iapun mengerahkan
seluruh kepandaiannya.Dengan amat terampil dan cekatan bagaikan seekor burung Srikatan
dikeroyok tiga oleh burung Alap-alap, tubuhnya bergerak menyelinapdi antara sinar tiga batang
kelewang, berlompatan kesana ke mari mengelak golok sambil melakukanserangan balasan. Kadangkadang
kerisnya beradu dengan golok sehingga terdengar bunyi nyaring dan berpancarlah bunga
api.Sementara itu, masih saja gamelan dipukul bertalu-talu dengan amat ramainya sehingga
bagipendatangbaru, mungkin pertempuran itu disangkanya sebuah permainan atau sebuah adegan
daricerita Bhatarayuda!
Koleksi Kang Zusi
Ratnawulan masih berdiri dan belumturun tangan oleh karena ia asyik memperhatikan gerakan
empat orang itu. Ia mendapat kenyataan bahwa Raden Indrayana memiliki ilmu pencak silat yang
cukup tinggi dan andaikata ia tidak memegang sebatang keris yang kecils aja, akan tetapi juga
memegang senjata yang panjang, tentu pemuda itu takkan memiliki ilmu kepandaian “halus“sehingga
gerakannya demikian indah bagaikansedang menari saja, hanya mengandalkan keawasan mata dan
kelincahan tubuh. Tidak seperti ketigaorang pengeroyokannya yang biarpun memilikigolok yang
hebat, akan tetapi kehebatannya itu hanya nampak pada luarnya saja karena ketiga orangcabang
atas ini memiliki ilmu pencak kasar dan yangh anya mengandalkan besarnya tenaga dan tajamnya
kelewang. Namun harus diakui bahwa kepandaian mereka sudah cukup tinggi dan merupakan lawan
yang amat berbahaya bagi pemuda itu.
Indrayana agaknya maklum akan hal ini, makaia lalu menyerang dengan amat cepatnya dengan
maksud merobohkan seorang pengeroyok lebih dahulu untuk mengurangi jumlah lawan. Ketika dua
batanggolok menyambar dari kanan kiri,ia tidak mengelak ke belakang,bahkan lalu menerjang ke
depan dengan kecepatan melebihi datangnya golok lawanke tiga yang menusuknya daridepan
yangdapat dielakkannya dengan tubuh dimiringkan, secepat kilat kerisnya menusuk dada orang itu!
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kerisnya bertemu dengan dadayang bidang dari orangitu,
kerisnya terpental kembalidan orang ituhanya tertawa mengejek! Ternyata bahwa orang itu kebal
dan memiliki AjiKesaktian Lulang Warak (Kulit Badak) yang membuat kulitnya kebal tak terluka oleh
senjata tajam! Hal ini menggoncangkan semangatnya dan kini perlawanannya menjadi lemah dan
kacau.
Ratnawlan dapatmelihatakan hal ini,maka kinidara perkasa ini setelah melihat keadaan pemuda itu
amat terdesak danberada dalam dalam bahaya, cepat menjejakkan kakinya ke atas tanah dan
tubuhnya mencelat keatas panggung!
“Mengasolah, Raden, biarkan aku menggantikanmu dan membereskan tiga ekor babi hutan ini!“ kata
Ratnawulan yang telah melompatdi hadapan Indrajaya.
Tidak saja semua penonton menjadi kagum dan heran,juga Indrajaya sendiri tertegun melihat
betapa seorang pemuda bersikap lemah-lembut dan elok sekalitahu-tahu muncul dari bawah,
bagaikan Raden Antasena muncul keluar dari permukaan bumi! Ia memang telah lelah sekali dan
melihat munculnya pemudayang aneh ini, ia menaruh kepercayaan dan segera melangkah mundur.
Akan tetapi ia masih memgang kerisnya, siap membantu apabila pemuda yang hendak membantunya
init ernyata tak dapat mengalahkan tiga orangp engeroyok itu.
Koleksi Kang Zusi
Sementara itu,ketiga orang pengeroyok tadi telah merasa amat gelisah ketika mendapat kenyataan
betapa Raden Indrajaya amat sukar dikalahkan. Mereka telah merasa gelisah kalau-kalau tugas
mereka akan gagal. Kini melihat munculnya seorang pemuda tampan dengan tiba-tiba, mereka
menjadi marah dan hendak menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, maka tanpa banyak bicara lagi
mereka lalu menyerbu dan menyerang Ratnawulan yang masih berdiri dengan tenang!
Akan tetapi, alangkah terkejut hati mereka ketika tiba-tiba tubuh pemuda elok itu sekali
berkelebat saja lenyap dari depan mereka dan tahu-tahu pemuda merdu di belakang mereka!
Mereka tercengang sejenak, akan tetapi segera menyerang lagi dan seorang diantara mereka
membentak.
“Keparat! Jangan kau kira kami takut kepada aji silumanmu!"
Ratnawulan tersenyum dan sekali tangannya bergerak kearah pinggang, keris pusaka Banaspasti
telah tercabut dan ia menyambut serangan tiga buah kelewang itu dengan memutar kerisnya.
"Trang! Trang!Trang!" tersengar bunyinyaring ketika kerisnya sekaligus menyambar-nyambar ke
arah senjata lawan dan suasana di situ menjadi sunyi senyap karena kini gamelan tiba-tiba
menjadibidu. Semua yogo duduk dengan melongo dan lupa untuk menabuh gamelan mereka ketika
menyaksikan betapa tiga batang golok besar itu tela putus semua sampai tinggal gagangnya saja
yang masih berada di tangan ketiga orang pengacau itu! Kemudian pecahlah suara sorak-sorai
menyatakan kagum kepada pemuda tampan yang aneh itu.
"Siapakah dia?" terdenga rsuara di mana-mana akan tetapi siapakah yang dapat menjawab? Semua
orang hanya menduga-duga sambil memandang ke arah pemuda itu.
Tiga orang lawan Ratnawulan jugaterkejut sekalis ehingga wajah mereka menjadi pucat.Akan tetapi
ketakutan mereka akan ampuhnya keris lawan itu lenyap ketika mereka melihat betapa Ratnawulan
dengan amat tenangnya menyimpan kembali kerisnya dan menghadapi mereka dengan tangan kosong.
"Bagaimana sekarang? Apakah akan kita lanjutkan dengan kedua tangan saja?" tantangnya.
Kemudiania berkata kepada orang yang mempunyai kekebalan tadi dan berkata,"Kau kebal dan kuat
menahan tusukan curiga (keris), hendak kulihat apakah kuat menerima pukulan tanganku!"
Koleksi Kang Zusi
Biarpun merasa takjub melihat ampuhnya keris di tangan pemuda yang nampak lemah ini, akan
tetapi ketiga orang itu memiliki aji kekebalan, maka mereka maju lagi dengan berani, bahkan orang
yangtadi memperlihatkan kekebalannya lalu berkata.
"Keparat! Kalau kau tidak mengandalkan keampuhan curigamu, dalam dua jurus saja kami akan
menhancurkan kepalamu!"
"Aduh mudah amat!" Ratnawulan mengejek. "Jangan hanya memperbesar sumbarmu, kawan! Kalian
coba sajalah!"
Tiga orang itulalu maju menyerbu dan memukul dengan buah kelapa besarnya. Akan tetapi, tanpa
bergerak atau berpindah dari tempatnya, Ratnawulan mengangkat kedua lengannya dan menangkis
semua pukulan itu dengan gerakan yang cepat sekali.Ketika lengan tangan mereka beradu dengan
lengan Ratnawulan yang kecil dan berkulit halusitu, ketiga orang tadi menahan seruan, karena
mereka betapa kulit lengan mereka amat pedih dan sakit. Mereka menduga bahwa pemuda aneh ini
tentu mempergunakan aji Kesaktian Srigunting,maka mereka menjadi jerih dan merasa ragu-ragu
untuk memukul lagi.
Ratnawulan tersenyum lagi."Apakah kedua tanganku masih terlampau ampuh bagimu? Nah, kalau
begitu, aku takkan menangkis, kalian pukulah sesukamu, asal saja jangan memukul kepala!" Setelah
berkata demikian,Ratnawulan lalu bersedekap, melindungi dadanya dengan kedua lengan, dan berdiri
tak bergerak bagaikan patung, mengerahkan aji kesaktiannya.Hal ini memang di luar
kebiasaannya,akan tetapi entah mengapa, di hadapan Indrayana, ia ingin sekali memamerkan
kepandaian dan kesaktiannya, terutama ketikaia mengerling dan melihat betapa Indrayana
memandangnya dengan mata penuh takjub dan kagum.
Tiga orang cabang atasdari Maduraitu saling pandang dengan heran, kemudian mereka lalu
melangkah maju dan memukul tubuh Ratnawulan. Aneh sekali! Semua pukulan mereka itu seakan-akan
mengenai segumpal karet mentah yang membuat pukulan-pukulan mereka mental kembali. Ke
manasaja mereka memukul, tak sebuahpun pukuan mereka dapat menggoyangkan tenaga yang
disertai ilmu dalam, akan tetapi tak ada kesaktian yang dapat mengalahkan kekebalan pemuda ini.
Seorang diantara mereka lalu melakukan kecurangan dan mengirim pukulan ke arah kepala pemuda
itu. Sebetulnya Ratnawulan tidak takut akan pukulan ini dan kepalanya takkan terluka oleh pukulan
orang, akan tetapi, ia tidak sudi kepalanya tersentuh tangan lawannya, maka sambil berseru kerasia
mengerahkan tangannya ke arah sambungan siku lawan.
Koleksi Kang Zusi
"Krek!" ketika pukulan orang itu melayang ke arah kepalanya, lengan tangan yang besar itu telah
didahului dan disambar oleh jari-jari tangan Ratnawulan yang dibuka dan dipukulan miring ke arah
tulang siku sehingga tulang siku itu patah! Orangitu menjerit kesakitan dan membungkuk-bingkuk
sambil memgangi sikunya yang telah lumpuh dan patah.
Ratnawulan takmau memberihati lagi."Coba pergunakan kekebalanmu!" serunya sambil
menggerakkan tubuh menyerang dua orang yang lainnya. Mereka masih mencoba menangkis dan
mempertahankan diri, akan tetapi percuma saja Ratnawulan terlalu gesit dan cepat bagi mereka
sehingga ketika dada mereka kena ditebak oleh telapak tangan gadis itu mereka mencelat dan roboh
tunggang-langgang di atas panggung. Ratnawulan menyepak tiga kali tubuh yang tinggi besaritu
melayang turun ke bawah panggung, di mana mereka merangkak-rangkak bangun lalu berlari sipat
kuping bagaikan sedang adu balap lari!
Bukan main riuhnya orang-orang yang menyaksikan kehebatan ini. Tadi mereka tak bersuara
sedikitpun menyaksikan sepak terjang yang luar biasa gagahnya itu, dan pecahlah tampik sorak dan
tepuk tangan memuji.
Raden Indrajaya sendiri lalu menghampiri Ratnawulandan dengan mesra ia memgang lengan tangan
dara perkasa itu, yang disangkanyas eorang pria.
"Kesatria yang gagah perkasa tanpa tanding!" katanya memuji sambil memandang dengan penuh
kasih sayang."Jangankan melihat dengan mata sendiri, mendengarpun belum pernah bahwa didunia
ini ada seorang muda teruna sehebat engkau! Sungguh mentakjubkan! Tubuhmu begini kecil,
tanganmu begini halus dan lunak, akan tetapi tenagamu dapat menggugurkan Mahameru!" Sambil
berkata demikian,dengan kagum dipandangnya lengan tangan Ratnwulan yang berkulit putihkuning
dan amat halus itu. Indrajaya benar-benart ertegun karena lengan itu begitu halus dan sentuhannya
membuat dadanya berdebar aneh. Ia melihat sebuah tahi lalat hitam bulat di dekat pergelangan
tangan Ratnawulan, jelas kelihatan di atas kulit yang putih kuning dan bersih itu.
Adikku yang gagah, adiku yang elok. Siapakah gerangan adik yang gagah perkasa ini? Marilah kita
duduk bercakap-cakap di sana!"
Akan tetapi, digandeng dan dipegang lengannya sedemikian rupa dan melihat sikap Indrajaya yang
amat mesra itu, tiba-tiba muka Ratnawulan menjadi merah sekali merenggutkan tangannya, maka
terlepaslah tangannya dari pegangan Indrajaya.
Koleksi Kang Zusi
"Aku.akuharus pergi sekarang juga!" katanya seperti pada diri sendiri dan tubuhnya melompat,
hanya merupakan bayangan berkelebat dan lenyaplah ia dari hadapan Indrajaya dan lain-lain tamu
yang memandang dengan bengong.
Indrajaya menghela napas. "Sayang sekaliia pergi tanpa mau memperkenalkan diri. dia gagah
perkasa!"
Sementara itu, Mas Ngabei! Bajrabumi dengan langkah sempoyongan menghampiri Raden
Indrajayadan dengan muka merah ia berkata.
"RadenIndra, harap kau sudi memaafkan padaku. aku tadi entah mengapa kepalaku pening dan tidak
ingat sesuatu. Setelah perampok-perampok tadi datang dan melihat kau dikeroyok. barulah aku
sadar dan. dan menyesal.!"
Raden Indrajaya mencibirkan bibirnya dan kemudian tersenyum menghina. "Pergilah dari
depanku!" katanya danMas Bei yang gemukitu lalu pergi seperti seekor anjing kena gebuk.
Akan tetapi peristiwa yang menggegerkan itu disambung oleh peristiwa lain yang cukup menimbilkan
keributan besar. Tiba-tiba terdengar para yogo berteriak-teriak.
"Tangkap, tangkap! Tahan penculik itu.!"
Indrajaya dan lain-lain orang cepat memandang dan alangkah heran dan kaget mereka ketika
melihat Puspamirah ledekyang cantik itu, meronta-ronta dalam pondongan seorang pemuda
tampan.Indrajaya marah sekali dan selagi ia hendak mengejar, pemuda yang menculik ledek itu
sekali melompat telah berada ditempat jauh dan kemudian menghilang ke dalam gelap dengan
kecepatan yang membuat semua orang tertinggal jauh dan hanya dapat saling pandang dengan
terheran-heran.
"Bukan main!" Indrajaya berkata perlahan."Hebat sekali pemuda itu, hampir sama cepatnya dengan
pemuda yang tadi menolong aku! Akan terjadi apakah di kota raja ini? Tiba-tiba saja muncul orangorang
muda sakti mendraguna yang bersikap aneh. Mengapa pula Puspamirah diculik?"
Koleksi Kang Zusi
Setelah mengalahkan tiga orangcabang atasyang mengeroyok Indrajaya, kemudian melarkan diri
karena hatinya merasa tidak karuanketika ia dipeluk dan digandeng oleh pemuda yang tampan itu,
Ratnawulan tidak pergi jauh dari tempat pesta dan bersembunyi di bawah sebatang pohon. Hatinya
masih berdebar-debar kalauia mengingat betapa lengannya dipegang dengan erat dan mesra oleh
Indrajaya. Ia tahu bahwa pemuda itu tidak sengaja melakukan hal itu karena menganggap bahwa ia
seorang pria. Ah, kalau saja Indrajaya tahu bahwa ia seorang dara. wajahnya makin merah kalau
membayangkan hal itu dan ia makin bingung merasa betapa hatinya amat tertarik oleh Indrajaya. Ia
teringat akan pesan ibunya agar supaya berhati-hati menghadapi godaan asmara dan ia merasa raguragu.
Ia teringat pula keadaan Adiprana, pemudalain yang juga amat menarik hatinya, bahkan yang
telah menyatakan cinta kasih kepadanya. Ia diam-diam membuat perbandingan anatara Adipranadan
Indrajaya.Biarpun ia maklumdan sadar bahwa tak baik seorang dara seperti dia untuk memikirkan
dua orang pemuda itu, akan tetapihati dan perasaannya kedewasaannyatak dapat ditahan lagi dan
sambil duduk termenung ia membayangkan wajah kedua orang muda itu.
Adipranalebih saktidaripada Indrajaya, pikirnya. Akan tetapi Indrajaya juga memiliki sifat kesatria
utama, seorang pemuda gagahberani dan harus ia akui bahwa tentang keelokan wajah, Indrajaya
lebih menarik hatinya.Adiprana sudah terang mencintainya, dan Indrajaya. ah, daripandang mata
pemuda inipun akan jatuh cinta kepadanya kalau saja ia tahu bahwa penolongnya adalah seorang
dara. Hal ini telah merasa yakin.
Ratnawulan mengeluh didalam hatinya. Mengapa ia selalu menghadapi godaan ini? Baru saja turun
gunung ia telah bertemu dengan Adiprana anak Bromo itu.Dankini, baru saja tiba dikota raja,
iabertemu puladengan seorang teruna yang menarik hatinya. Padahal ia masih belum menunaikan
tugas cita-citanya, bahkan bertemu dengan musuh besarnyapun belum.Ia harus mengusir bayangan
dua orang pemuda yang menggoda pikirannya itu. Ratnawulan menghela napas berulang-ulang. Ia akan
menanti sampai datangnya hari baruuntuk segera mencari musuh besarnyadan membalsa
dendam.Setelah itu,ia akan segera kembali ke Mahameru karena ia baruakan merasa aman dan
tenteram hatinya apabila ia berada didekat ibunya, di dekat gurunya. Ia tidak ingin merusak hati
dan mengganggu pikirannya dengan segala lamunan yang muluk-muluk dansambil mengertak gigidan ia
berkeras mengusir bayangan wajah Indrajaya dan Adiprana.
Tiba-tiba ia mendengar teriakan-teriakandari tempat keramaian itu dan ketika ia bangun berdiri, ia
melihat bayangan orang berlari cepat sambil mengendong tubuh seorang wanita. Melihat pakaian
wanita itu, ia tahu bahwa ia adalah Puspamirah, ledek yang tadipun telah menimbulkan keributandi
atas panggung. Ratnawulan cepat bersiap menolong ledek itu, karena maklum bahwa wanita itu tentu
diculikdan dibawa lari orang.
Akan tetapi, ketika ia melihat orang yang memondong Puspamirah dan yang berlari berdiri bagaikan
patung. Ia merasa seakan-akan telapak kedua kakinya melekat pada tanah dan tak dapat diangkat
lagi. Hatinya berdebar keras dan matanya terbelalak. Bukanmain kagetnya karena ia melihat bahwa
Koleksi Kang Zusi
penculik ledek itu bukan lain ialah. Adiprana.Tiba-tiba ia menjadi marah dan sebal. Beginikah akhlak
pemuda dari Gunung bromo yang gagah itu? Hanya sebagai seorang rendah penculik ledek? Dan
pemuda ini pernah menyatakan cinta kasih kepadanya.
Tanpa disadarinya, Ratnawulan menggerakkan kedua kakinya dan mengikuti bayangan pemuda yang
memondong ledek danberlari cepat itu. Ia terus mengikuti di belakang, karena tidak ada niatnya
untuk mengejar. Ia hanya ingin tahu apakah yang hendak diperbuat oleh Adiprana terhadap leek itu
dan kalau memang pemuda itu berniat buruk, ia harus menolong perempuan itu! Kalau perlu ia akan
membunuh Adiprana, karena, sudah menjadi orang-orang jahat, tak perdul isiapapun juga orang itu.
Siapakah pemuda yang menculik Puspamirah itu? Apakah benar-benar dia itu Adiprana, murid
Bromo yang gagah perkasa? Memangbenar! Pemuda itu adalah Adiprana, akan tetapi jangan mengira
bahwa ia adalah sebangsa pemogoran yang suka bermain gila dengan wanita, terutama yang suka
menculik seorang penari umum.