Bagian 6
Sebagaimana pernah ia ceritaka kepada Ratnawulan, Adiprana mempunyai seorang ibu yang telah
janda dan yang amat cantik rupanya. Ketika ia turun dari perguruannya, ia bermaksud kembali ke
kota raja mencariibunya, akan tetapi ia tertahandi hutan randu setelah pertemuannya dengan
Ratanwulan. Ia telah berjanji kepada Ratnawulan, gadis yang dicintainya itu, untuk tinggal di dalam
hutan mewakili Ratnawulan dan melatih kepada Pasukan CandraBayu. Akantetapi, seperginya
Ratnawulan darisitu, ia merasa sunyi sekalidan rindunya kepada ibu datang lagi menggangu hatinya.
Oleh karena itu, ia lalu berpamit kepada kawan-kawannya untuk pergi ke kota raja dan menjemput
ibunya yang hendak dibawah pindah ke hutan randu. Pak Waluyo sebagai ketua dari Pasukan
Candrasa Byu, maklumakan perasaanpemuda ini, maka iapun menyatakan persetujuannya.
Demikianlah, oleh karena Ratnawulan sebelum berangkat ke kotaraja singgah dulu di puncak
Mahameru, maka keberangkatan Adiprana ini hampir berbareng dengan Ratnawulan. Kalau
Ratnawulan tiba di kota pada malam hari, adalah Adiprana datangpada senja tinggal ibunya.
Alangkah terkejut,heran dan kecewanya ketika iamendengar bahwa ibunyakini menjadi ledek dan
pada malam hari itu sedang menari di gedung seorang tumenggung yang mengadakan pesta tayuban.
Hatinya merasa sedih dan perih sekali mendengar betapa nama ibunya sekarang adalah Puspamirah.
Adiprana takdapat menahan sabar lagi, terutama ketika ia mendengar keterangan penduduk di situ
bahwa sekarang ibunya telah menjadi selir dari seorang pembesar keraton. Panasalah hatinya dan ia
segera menyusul ke tempat pesta dengan hati penuh amarah.Bagaimana ibunya sampai merendahkan
diri semacam itu?
Koleksi Kang Zusi
Ketika Adiprana tiba ditempat pesta, pertempuran antara tiga cabang atas dari madura melawan
Ratnawulan telah pergi dari situ. Melihat keributan yang masih terlihat pada muka para penonton,
Adiprana lalu bertanya kepada seorang penonton apakah gerangan yang telah terjadi?
"Aah ,kau datang terlambat, kawan." kata orang itu."Baru saja terjadi perang tanding yang amat
hebat dan ramainya.Raden Mas Indrajaya yang gagah bertanding melawan Mas Bei Bajrabumi!
Ah,mana mas bei bisa menang? Raden Mas Indrajaya adalah seorang ahli pencak yang pandai. Akan
tetapi tiba-tiba muncul tiga orang cabang atas yang mengeroyok Raden Mas Indrajaya.
Bukan main hebat danserunya pertempuran itu. Dantahukah kau? Cabang atas itu kebal.Coba
bayangkan! Keris Raden Indrajaya diterima dengan dada terbuka begitu saja dan kerisnya sampai
bengkok ketika bertemu dengan dada cabang atas itu! Hebat tidak? Akantetapi,itu masih belum
seberapa tiba-tiba muncul diatas panggung seorang yang luar biasa, menghadapi tigacabang atas itu
dengan tangankosong! Ya, dengan tangan kosong,kawan, sedangkantiga cabang atas itu
mempergunakan golok!Kemudian pemuda ajaib itu mencabut kerisnya dan sekali gerak. trang!Tiga
batang golok itu sapat! Kemudian yang terhebat terjadilah. Tiga orang cabang atas itu
menghujanipukulankepada tubuh bambang saktiitu, akan tetapipemudaitu tanpa mengelak menerima
semua pukulan sambil tersenyum, seakan-akan pukulan-pukulan itu di anggapnya seperti tangan
puteri-puteri yang memijat tubunya yang kelelahan!"
Adiprana tidak sabar lagi mendengar dongeng orang ini, maka ia menyela, "Mengapa terjadi
perkelahian-perkelahian?"
Orang itu kecewa karena ceritanya diganggu.
"Dengarlah dulu ceritaku. Kukatakan kau terlambat dan hal ini amat sayang karena kalau kau
menyaksikan pertempuran antara pemuda itu dengan tiga cabang atas tadi,benar-benar kau akan
melongo terheran-heran dankagum. Dengan amat tangkasanya pemuda yang seperti Arjuna
itu,bukan, bukan seperti Arjuna,akan tetapi pantas disebut Raden Angkawijaya putera Sang arjuna,
menghadapi tiga orang lawannya yang merupakan tiga orang raksasa jahat. Kemudian dengan amat
tenang dan mudahnya sama mudahnya seperti aku sendiri menghadapi tiga orang juadah manis, ia
melalap tiga orang lawannya yang ketiganya dilontarkan ke bawah panggung! Bukan main!"
"Apa sebabnya terjadi perkelahian? "Tanya Adiprana sambil memandang ke atas panggung,
mencari-cari ledeknya.
"Apalagi sebabnya? Tentu memperebutkan di cantik jelita Puspamirah, ledek yang menggairahkan
hati tiap laki-laki itu!"
Koleksi Kang Zusi
"Di mana ledek itu.Puspamirah itu.? "Tanya pula Adiprana dengan hati kecut dan telinga
panas.
"Eh, eh, agaknya kau bukan orang sini, kawan. Itu dia yang duduk didekat tukang kendang. Coba saja
kaulihat, alangkah molek bantuk tubuhnya, alangkah cantik jelita wajahnya. Ia sudah agak tua,
kawan, akan tetapi,mau akau menukarnya dengan tiga belas orang perawan! Siapa yang takkan
tergila-gila melihat betapa lemas dan luwes ia menari? Siapa yang takan merasa bimbang rindu
mendengar suaranya yang seperti madu manisnya? Aah,mau usiaku dikurangi lima tahun asalkan aku
dapat memetik Puspamirah."
"Plak!" Tangan kanan Adiprana menyambar dan menampar muka orangitu yang tiba-tiba merasa
seakan-akan ribuan binatang di langit jatuh berhamburan dari atas. Kedua manik matanya mendekati
hidungdan kepalanya bergoyang-goyang bagaikan terhuyung-huyung karena kedua kakinya lemas
danakhirnya iajatuh pingsan bagaikan kena sambar petir.
Adiprana lalu melompat ke atas panggung,langsung menyerbu ketempat duduk para yogo dan
menubruk Puspamirah yang terus dipondongnya. Ledek itu terkejut sekali dan meronta-ronta, akan
tetapi di dalam pondongan lengan tangan Adiprana, ia tak berdaya sama sekali. Tukang kendang
melihat hal ini lalu bangun berdirihendak menghalangi, akan tetapi sebuah tendangan kaki Adiprana
yang menyambut dadanya membuat ia terlempar dan menubruk kawan-akawan di belakangnya.
Keadaan geger dan terdengar teriakan orang-orang. Akan tetapi Adiprana telah melompat jauh
danberlari cepat pergi daritempat itu. Ia sebelumnya telah mencari keterangan di manaadanya
rumah Puspamirah, maka kini ia langsung menujuke rumah ledek itu. Kemarahannya memuncak dan ia
merasa terhina sekali setelah mendengar penuturan orang tadi. Ibunya menjadi ledek umum sudah
sudah merupakan hal yangamatmemalukannya, apalagi kini mendengar betapa ibunya menjadi
rebutan orang-orang kasar dan bahkan orang orang yang menceritakan peristiwa tadipun
mengeluarkan kata-kata yang amat menghina! Ia dapat membayangkan perasaan orang-orang
terhadap ibunya.
Dalam kemarahannya, Adiprana tidak tahu bahwa ada sesosok bayangan lain yangmengikuti larinya,
dan lebih-lebih tidak menyangka bahwa yang mengikuti adalah Ratnawulan!
Dara pendekar ini dengan hati marah dan juga amat sebelnya, mengikuti terus dan ketika ia melihat
Adiprana membawa ledek itu ke dalam sebuah rumah sederhana, Ratnawulan lalu melompat ke
belakang rumah itu dan mengintai! Ia melihat Adiprana mebawa Puspamirah ke dalam sebuah kamar
dan menurunkan wanita itulalu berdiri memandang dengan mata merah.
Koleksi Kang Zusi
Puspamirah berdiri dengan marah dan membentak.
"Bangsat kurang ajar! Siapakah kau berani mati melakukan perbuatan terkutuk ini, menculik aku dan
membawaku ke rumah kusendiri dengan paksa? Apakah kau sudah bosan hidup barangkali? Kalau
kakangmas adipati menengar akan hal ini, tentu kepalamu akan dihancurkan! Kau masih muda, lagi
tampan,mengapa kau melakukan ini? Melarikan seorang ledek, cih! Tak tahu malu!"
Mendengar ucapan ini, diam-diam Ratnawulan merasa girang dan memuji ledek itu. Kalau memang
ledek itu berbatin rendah. Tentu ia akan jatuh hati kepada penculiknya yang masih mudadan
rupawan pula.
Sebaliknya, Adiprana lalu menjawab dengan kata-kata yang amat pedas dan di luar dugaan
Puspamirah maupun Ratnawulan yang mendengar diluar bilik.
"Puspamirah, kau menyeret dirimu sendiri ke dalam berpura-pura menasehati orang lain? Apakah
kau lupa bahwa kau kepada anakmu yang semenjak kecil kau kirimkan kepada Eyang Bromosakti? Aku
adalah Adiprana, atau. sudah lupa lagikah kau kepada nama itu?"
Puspamirah tiba-tiba menjadi pucat bagaikan mayat. Sepsang matanya memandang wajah Adiprana
dengan terbuka lebar, seakan-akan tak percaya kepada pandang matanya sendiri.Sampai lama ia
berdiri bagaikan patung, takkuasa mengeluarkan suara bahkan hampir tak dapat bernapas, kemudian
keluarlah keluhan dari mulutnya.
"Ya Dewata Agung. Adiprana. kau kaukah ini, Adiprana.? Anakku.!" Dengan isak tangis yang tak
dapat ditahannya lagi, Puspamirah menubruk maju hendak memeluk pemuda itu, akan tetapi Adipraa
mengulurkan kedua tangan dan menahan ibunya dengan memegang kedua pundak ledek itu.
"Jangan memeluk aku! Jangan menyentuhaku! Aku bukanlah seorang di antara laki-laki yang tergilagila
kepada ledek Puspamirah!"
Koleksi Kang Zusi
"Adiprana.!"Puspamirah menjerit ngeri sambil memandang kepada wajah puteranya dengan air mata
membanjir keluar dari kedua matanya. Tubuhnya menjadi lemas,tangisanya mengguguk membuat
dadanya serasa akan meledak, kepalanya pening dan ia hanya dapat mengeluh berkali-kali,
"Adiprana.ampun Gusti.kau. kau Adiprana. anakku sendiri." dan akhirnya ia tak dapat mengeluarkan
keluhan lagi, bahkan takdapat bergerak sama sekali, ia berdiri dengan pundak terpegang oleh
pemuda itu dan lehernya mejadi lemas sehingga kepalanya menunduk ke bawah. Puspamirah telah
roboh pingsan karena tikaman pada batinnya yang amat hebat.
Untuk sesaat Adiprana memandang dengan muka marah, akan tetapi lambat laun kemarahannya
terganti kekhawatiran melihat keadaan ibunya. Ia mulai mengoyang-goyang pundak ibunya dan
memanggil.
"Ibu." Akan tetapitubuhwanita itumasih saja menyandar pada pegangan kedua tangannya dan tak
menajwab.
"Ibu.! Ibu.!" Suara Adipranamulai mengandung kekhawatiran. Kemudian ia memondongtubuh ibunya
dan mengangkatnya keatas pembaringan yang berada didalam kamar itu.
"Ibu. sadarlah.ampunkan anakmu, ibu."
Sampai lama Puspamirah pingsan,sedangkan Ratnawulan yang mengintai di luar bilik menjadi
demikian terkejut sehingga takdapat bergerak, hanya berdiri bagaikan patung. Tak disangkasangkanya
sama sekali bahwa Adiprana adalah putera ledek Puspamirah ini. Ia merasa terharu
melihat keadaan mereka,akan tetapi juga timbul rasa penasaran di dalam hatinya. Betapapun juga, ia
tadi telah menyaksikan lagak Puspamirah dihadapan para tamu dan betapa ledek itu telah menjadi
pujaan semua laki-laki yang berada disana. Benarkah ini ibu dari Adiprana, pemuda yang gagah
perkasa itu? Hampir tak dapat ia mempercayainya!
Akhirnya Puspamirah siuman dari pingsannya. Ia bangun dan duduk, memandang kepada Pemuda
yang telah berdiri dihadapannya itu dengan mata sayu.
"Adiprana, tak kusangka sama sekali bahwa kita akan berjumpa dalam keadaan begini."
Koleksi Kang Zusi
"Lebih-lebih aku,ibu.Kau tidak tahu betapa hancur hatiku melihat ibu menjadi ledek yang dipujapuja
oleh banyak lelaki. Sakit hatiku melihat ibukumenjadi seorang ledek umumyang diperebutka
oleh orang-orang kasar dan rendah, menjadi bahan cemooh,menjadi alasan perkelahian, menjadi
bahan ucapan-ucapan kotor. Ibu, mengapaitu tersesat sampai demikian jauh? Mengapa ibu menjadi
ledek? Apa akan kata ayah apabila ia masih hidup? Ibu.ibu, kau mengecewakan hati anakmu!"
Puspamirah menghelanapas dan mengerakkan ujung selendangnya yang merah itu untuk menghapus
airmatanya.
"Adiprana, kau terburu nafsudan keras hati seperti mendiangayahmu.Dengarlah, nak, jangan itu
hina sebegaimana yang banyak orang kira. Tak perlu dihiraukan apa kata orang-orang,makin kotor
ucapan yang keluar dari mulut seseorang, berarti makin rendahlah jiwa orang itu. Aku menjadiledek
bukan untuk menjadi bahan hiburan orang. Jangananggapbahwa ibumu telah berlaku sesat,karena
aku masih mempunyai kesucian hati. Biarkan mereka menghina, mereka menganggap apa saja, akan
tetapi buktinya ibumu tidak melakukan perbuatan hina. Ketahuilah, Adiprana, aku menjadi ledek,
menjadi penari dan penyanyi karena dua sebab.Pertama, memang akuterdorong oleh bakatkudan
senangku akan tarian dan nyanyian. Ke dua,dan ini jauhlebih kuat, karenaaku harus mencariuang. Kau
tentu masih ingat,bahwa ibumu masih mempunyai orang tua,yaitu kakek dan nenekmu, mereka itu
orang-orang miskin di dusun Tagen. Siapakah pula yang akan membantu mereka yang sudah tua
kecuali ibumu ini? Jadi, aku menjadi ledek untuk mencari uang, untuk memberi makan kepada tiga
orang, yaitu kakek nenekmu danaku sendiri. Aku pun seorang manusia biasa yang harus makan, yang
harus memakai pakaian."
"Alasanibu memangkuat, akan tetapi ,mengapa pulaibu menyerahkan diri kepada seseorang
adipati?Mengapa pulaibu sudi diambil seliroleh adipati itu? Bukankah hal ini tidak cocok dengan
ucapan ibu tadi?"
"Aduiprana, kaududuklah ,nak. Tega hatibenar terhadap ibumu. Telah bertahun-tahun, setiap hari
aku rindu sekali kepadamu, kepada anak tunggalku.Dan sekarang. setelah kau pulang. akuseakanakanmerasa
berhadapan dengan seorang hakim yang hendak memberi hukuman kepadaku.!
Adiprana,benar-benarkah kau sekejam itu?" Kembali Puspamirah menangis.
"Ibu sendiri yangmembuat hatikubeku. Keadaanibuyang membuathati anakmu demikian kecewa
sehingga menjadi keras laksana karang. Ibu, jawablah pertanyaanku tadi. Mengapa ibu sudi menjadi
selir adipati itu?"
Koleksi Kang Zusi
"Anakku Adiprana, sebelumaku menceritakan hal ini, agarkaudapat percaya,biarlah aku bersumpah
kepada Hyang Maha Agung bahwa yang akan kuceritakan ini bukan bohong. Ketahuilah bahwa aku
menerima menjadi selir adipati itukarena mengingat akan kepentingan dan nasibmu,nak."
Adiprana mengangkat muka dan memandang wajah ibunya dengan tajam.
"Apa maksudibu? Mengapa pulaaku dibawa-bawa dalam hal penerimaan menjadi selir ini?" tanyanya
penasaran.
"Sesungguhnya ,anakku Adiprana. Tadinya ibumu telah mengambil keputusan untuk hidup menjanda
sampai hari akhir. Akantetapi ,ketika datang pinangan dari adipati itu, aku memikirkan nasibmu
kelak. Adipatiitu adalah seorangyang amat berpengaruhdan besar kekuasaannya di
Majapahit.Dengan perantaraan dan pertolongannya, akan mudah bagiku untuk menduduki pangkat
yang tinggi di kerajaan! Olehkarena itu, nak, akusengaja mengorbankan diriku agar kemudian kau
akan dapat ditolongnya, diberi pangkat yang tinggi sesuai dengan perngharapaanku!"
"Siapasudi menjadipembesar di Majapahit! Ibu, perlukiranya aku berpanjang cerita. Pendeknya aku
tidak setuju sama sekaliakan kehendak ibu ini. Yang sudah lewat biarlah lalu. Lebih baik ibu turutaku
saja pergi ke kaki Gunung Mahameru di mana aku tinggal bersama kawan-kawanku."
"Siapakah kawan-kawanmu itu,nak?"
"Ibu, akutelah menjadi pelatih daripasukan orang-orang gagah yang bercita-cita luhur. Mereka
adalahbekas anak buah BupatiRangga Lawe, dan lain-lain penglimayang telahgugur dalam
pemberontakan mereka melawan tentara Majapahit. Mereka membuat persiapan untuk mengadakan
pemberontakan."
"Apa.?! Kau. kau menjadi anggota pemberontak? Kau, anakku yang kucita-citakan menjadi seorang
pembesar di Majapahit, kau bahkan menjadipelatih pemberontak?YaJagat Dewa Batara!"
Puspamirahmenjadi pucatsekali dan memandang kepada anaknya dengan kedua mata dibuka
lebar."SemogaDeawa Agung mengampuni kita! Aduh, bagaimana kalausampaikangmas adipati
mendengar tentang ini? Ah,Adiprana, lemparlah jauh-jauh pikiran itu, nak. Insyaflah, bahwa seorang
yang sehina-hinanya.Dan pula, apakah yang akan kauandalkan? Majapahit adalah Negara yang besar
dan yang memiliki banyak panglimasakti mandraguna.Ketahuilah, anakku,adipati yang mengambil
ibumu menjadi selir adalah seorang yang amat sakti mendraguna dann kau akan dapat banyak belajar
ilmu kesaktian daripadanya. Kau akansenang tinggal disini dan menjadi seorang yang benar-benar
cocok dengan harapanibumu, dengan harapan mendiang ayahmu."
"Siapakah adipati itu, ibu? Agaknya ibu telah jatuh hati benar-benar kepadanya,"kata Adiprana
dengan suara menyindir sehingga dariluar bilik Ratnawulan merasa gemas dan benci sekali kepada
pemuda itu. Tak pernah disangkanya bahwa Adiprana dapat bersikap semacam itu kepada ibunya
sendiri. Bagi Ratnawulan,betapapun juga keadaannya, seorang itu tetap merupakan seorang ibu,
orangyang paling suci di dunia ini,yang harus paling dihormat, dicinta dan dibelanya.Akan tetapi,
Adiprana yang dianggapnya sebagai laki-laki gagah dan baik itu, dapatbersikap demikian kasar
terhadap ibunya, sungguhpun ada alasannya untuk bersikap demikian.
"Adipati yang mengambil selir kepadaku, yang sekarang telah menjadi ayah tirimu itu, bukan lain
adalah Adipati Kartika,seorang yang menjadi tangan kanan Sang Bagawan Mahapati, bahkan menjadi
muridnya yang tersayang, oleh karena itu kesaktiannya telah terkenaldi mana-mana!" kata
Puspamirah dengan bangga.
Terkejulah Adiprana mendengar ini sedangkan Ratnawulan yang mendengarkan nama ini juga
terkejut sekalidan tak terasa pulatangan kanannya memegang kerisnya. Jadi ibu Adiprana ini telah
menjadi bini muda musuh besarnya, Kartika!
Adiprana teringat akan cerita Ratnawulan, maka hatinya menjadi amat gelisah mendengar bahwa
ibunya telah diambil selir olehKartikayang menjadi musuhbesar Ratnawulan itu.
"Aduh, ibu. Orang itu pulayang menjadi suami ibu! Celaka benar! Ibu, hal ini memperkuat niat hatiku.
Ibu harus ikut akuke hutan randu, berkumpul dengan kawan-kawanku, karena aku tidak sudi melihat
ibu menjadi selir keparat Kartika itu!"
"Adiprana.!" Puspamirah menjerit, "Jangan kau sekurang ajar itu!"
"Tidak, ibu. Hatiku telah tetap,kemauanku sudah bulat. Aku hendak membantu Pasukan Candrasa
Bayu menggempur Majapahit danapabilakekuasaanyang sekarang ini dapat memegang pangkat pula.
Bahkan. aku telah mempunyai calon jodoh, ibu! Dia seorang dara yang gagah perkasa, dan tinggal
menunggu ibu meminangnya. Dialah yang membentuk Pasukan Candrasa Bayu. Maka marilah ibu turut
aku pergi meninggalkan kota raja."
"Menjadi pemberontak? Kau anakku menjadi pemberontak dan mantuku juga seorang pemberontak?
Tidak, taidak! Kau tersesat anakku!"
Pada saat itu, terdengar suara seorang laki-laki yang parau di luar pondok,
"Mirah.! Apakah kau telah sampai di rumah dengan selamat? Aku amat mengkhawatirkan
keadaaanmu!" Pintu depan didorong dari luar dan terdengar tindakan kaki yang berat.
Puspamirah menjadi pucat."Nah, itu dia kangmas Kartika datang. Jangankau kurang ajar terhadap
atah tirimu, nak. Ia manisbudi, akan tetapi kalau ia tersinggung dan sampai marah, celakalahkau!"
katanya sambil turun dari pembaringandan menjawab.
"Masuklah, kangmas adipati! Jangan khawatir, aku tidak apa-apa!" Sambil berkata demikian ia
bergegas keluar dari kamar dan menyambur adipati itudi luar kamar.
Melihat kekasihnya masih berpakaian sebagai penari, penatang itu berkata tak senang.
"Mirah, sudah berkali-kali kkatakan jangan kau menari di muka umumlagi.Tadi kumendengar tentang
keributan itu danbahkan mendenga rtentang penculikan terhadapmu. Ah, kau benar-benar
membuatgelisah hatiku, manis."
Memang tadi sebelum datang kerumahini, Kartika telah mendengar tentang keributan di medan
pesta, maka iaburu-buru pergi ke rumah tumenggungan itu. Kartika adalah seorang laki-laki berusia
empat puluh lebuh yang bermuka gagah. Brengosnya yang tajam melintang membuat ia nampak
gagahseperti RadenGatotkaca.Ia menjadi adipati yang ditakuti karena besar kekuasannya dan
tinggiilmukepandaiannya.
"Apa yang telah terjadi di sini?" tanyanya dengan suarayang keren ketika ia datangke tempat pesta
dan disambut dengan penghormatan oleh semuaorang.
Koleksi Kang Zusi
Dengansingkat tuan rumah menceritakan peristiwa tadi dan mendengar betapa Mas Ngabei
Bajrabumiyang mulaimambuat kekacauan, iamelangkah menghadapi bei gemuk itu. Dengan tubuh
mengigil Bajrabumi memberi hormat dan berlutut.
"Kau berani mengganggu Puspamirah?"bentak Kartika kepada Bajrabumi.
"Mohon diampukan, raka adipati." Kata Bajrabumi dengan suara gemetar.
"Enyah kau!"seru Kartika dan kaki kirinya melayangmengirimsebuah tendangan. Tubuh yang gemuk
itu terlempar jauhdan bergulingan, lalu merayap bangun dan pergi meninggalkan tempat itu. Ia masih
merasa untung tidak dibunuh atau tidak dipecat dari kedudukannya.
"Kalaudia tidakmabok, tentu akan kusuruh buangdia!" kataKartika. Kemudian ia menghadapi
Indrayana yangmasih berada di situ.
"Raden Indrajaya, tahukahkausiapa tiga orang yang menyerangmmu?"
"Tidak, paman adipati,aku tak pernah melihat mereka sebelumnya."
Kartikamemang suka danmerasa sungkan kepada pemuda ini karena dia adalah kesayangan sang
prabu. Maka hubungan mereka amat baik seperti sanak keluarga saja.
Tukang kendang majudan menceritakan dengan wajah pucat.
"Dia adalah seoran pemuda yangtampan, gusti adipati. Akan tetapi, agaknya dia bukan orang sini,
karena hamba belum pernah melihat atau mengenalnya.”
Dengan hati murung Kartika meninggalkan tempat itus etelah berkata keras.
Koleksi Kang Zusi
"Lain kali tidakboleh siapapun juga memanggil Puspamirah untuk menari. Ia kularang menaridi depan
umum,kecualikalau dipanggil leh sangprabu sendiri. Mengerti?"
Semua orang bungkam tak berani bergerak.
Demikianlah, Kartika lalu menyusul ke rumahPuspamirah dan ia menjadigirang melihat kekasihnya
itu telah berada di rumah.
Dengan senyum manis Puspamirah berkata kepada Kartika.
"Kangmas adipati, harap kau jangan khawatir atau gelisah, karena sesungguhnya yang menculik
hamba itubukanlah orang lain, melainkan putera hamba sendiri Si Adiprana.Dia tidak suka melihat
hemba menari di depan umum."
"Bagus! Memang demikian seorang anak yang baik. Akupun tidak suka melihat kau menari dan
bernyanyi di depan umum, sungguh amat merendahkan namaku.Dimana puteramu itu sekarang?"
Puspamirah lalu menjengkuk ke dalam kamarnya dan memanggil Adiprana.
"Ngger, anakku Adiprana,keluarlah dan jumpailah ayahmu!"
Dengan muka merengut pemuda itu keluar. Kartika kagum melihat ketampanan wajah dan kegagahan
sikap pemuda yang menjadi anak tirinya itu. Akan tetapi ia merasa tidak senang melihat pemuda itu
memandangnya dengan mata bernyala dan sama sekali tidak menaruh hormat sedikitpun.
"Adiprana, berilahhormatkepada kang mas adipati,yang telah menjadi namamu,nak!" Puspamirah
membujuk dengan hatigelisah.
Akan tetapi, sebaliknya Adiprana memandang dengan bangis kepada Kartika dan berkata, "tidak
sudi aku memberi hormat kepada seorang pembesar berhati palsu."
Koleksi Kang Zusi
Bukan main marahnya Kartika mendengar ini. Brengosnya serasa berdiridan sepasang matanya
bernyala-nyala.
"Keparat cilik! Apa dosaku maka kau datang-datang menghinaku? Kalaukau tidak lekas berlutut
minta ampun, akan kuhajar kau!" Kartika melangkah maju denga nkedua tangan terkepal.
Adiprana tersenyum mengejek. "Orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku Adiprana sama
sekali tidak takut. Kau mau memukul? Majulah kalau kau memang jantan!"
Makin memuncak amarahdi hati Kartika.Belum pernahia ditantang orangsecara begini menghina.
"Jahanam!" teriaknya dengan suara keras. "Kuhancurkan kepalamu!" Ia melangkah maju hendak
menyerang Adiprana yang siap menanti serbuannya dengan tenang. Akan tetapi sambil menjerit dan
menangis Puspamirah menubrukadipati itu dan merangkulnya, dan membujuk-bujuknya.
"Kakangmas adipati, ampunilah dia. Ampunilah anakku."
"Hm, kalau tidak melihat muka ibumu, sekarang kau telah menjadi mayat!" kata Adipati Kartika yang
masih marah itu.
"Ha,ha! Kartika! Siapa takut akan ancamanmu?Jangan kau menggunakan nama ibu untuk
menunjukkan kegagahanmu. Majulahkalau kau memang gagah, kaukira aku takut kepadamu?"
"Eh, bocah keparat!" Kartika tak dapat menahan nafsu amarahnya lagi. Sekali ia menggerakkan
tangan, puspamirah terpelanting ke pinggir, kemudian dengan geraman dahsyat iamenubruk,
memukul kearah dada Adiprana. Pemuda itu cepat menangkis dan ketika tangan mereka beradu,
keduanya terhuyung mundur dua tindak.Adiprana terkejut akan tetapi tidak menjadi heran karena
iatelah mendengar akan kedigdayaan adipatiini. Akan tetapi Kartika hampir saja berseru karena
terkejutnya dan herannya. Bagaimana pemuda ini dengan tenaga penuh? Kalau orang lain yang
menangkis pukulannya, tulang lengan lawan itu pasti akan patah!
Koleksi Kang Zusi
"Keparat! Tidak tahunya kau memiliki kesaktian juga.Pantas saja kau berani berlagak! Rasakanlah
pukulan Brajakastala dari tanganku!" Sambil berkata demikian,Kartika menyerang lagi dengan
pukulan yang dahsyat sekali.
Adiprana dapat merasa betapa angina pukulan ini benar-benar hebat, maka ia tidak berani berlaku
gagabah dan cepatmengelak ke sampingdengan cekatandan balas menyerang yang dapatpula
ditangkis oleh adipati itu.
"Adiprana. anakku, jangan.!" Puspamirah inibenar-benar hebat, makaia tidak beran iberlaku gegabah
dan cepat mengelak kesamping dengan cekatan danbalas menyerang yangdapat pula ditangkisoleh
adipatiitu.
"Adiprana. anakku, jangan.!"Puspamirah menubruk anaknya. "Adiprana tidak taatkah kau kepada
ibumu?"
Adiprana marah dan merasa sebal sekali. Ia menrenggutkan diri dari pelukan ibunya dan melompat
keluar dari pintu.
"Adiprana.!" Puspamirah memekik sedih. "Aku ibumu. nak.!"
Jawaban yang terdengar dari luar menyayat-nyayat hatinya.
"Lebih baik aku tidak beribu.!"
"Bangsat jahanam!" Adiptai Kartika memburu keluar, akan tetapi Adiprana telah jauh meninggalkan
rumah itu, langsung keluar darikota raja.Hatinya terluka dania membenci ibunya sendiri. Dengan hati
murung danmarah pemuda itu terus berlari, kembalike kaki Gunung Mahameru dengan hati penuh
dendam.
Adipati Kartika masuk lagidan menghibur Puspamirah, akan tetapi kini lenyaplah sikap mencinta dari
wanita ini. Dengan sedih ia menangis terus, tidak memperdulikan Kartika sehingga adiptai itu
akhirnya kewalahan dan pergi dengan hati kecewa.
Koleksi Kang Zusi
Tengah malam telah jauh lewatdan Kartika dengan hati kecutberjalan pulang menuju ke gedungnya.
Bulan bersinar terang, akan tetapi hati adipatiitu amat gelap dan rusuh. Ia merasa kecewa melihat
putera Puspamirah memusuhi dan membencinya, olehkarena dari tangkisannya tadiia maklum bahwa
pemuda itumemiliki kepandaian cukup tinggi dantentuakan merupakan seorangpembantu yang amat
boleh diandalkan kalau saja tidak demikian membencinya.
Ayam telahmulai berkeruyuk ketika ia tiba di dekat gedungnya. Tiba-tiba ia terkejut karena dari
balik pohon melompat keluar sesosokbayangan orang. Iamenyangka bahwa orang ini tentu Adiprana
yang hehndak menyerangnya, makaia berlaku waspada dan menunda langkah kakinya.Akan tetapi
biarpun orang inipun seorang pemuda yang lebihelok daripada Adiprana. Pemuda ini menghadang di
depannya sambil bertolak pinggang dan sepasang matanya nampak berkilat di bawah sinar
bulanpurnama.
"Siapakah kaudan apa maksudmu menghadang di jalan? Tidakkenalkah kau kepada Adipati Kartika?"
bentak Kartika dengan marah karena dalam keadaan seperti itu ia tidak sukadiganggu.
Akan tetapi pemuda itu tertawa bergelak dan menjawab, "tentusaja akukenal padamu, Kartika.Dan
alangkah beruntung kudapat mengenalmu ketika kauberadadi rumah Puspamirah tadi! Kalau kau tidak
di sana, mungkin bertemudi jalanpun akutakkan mengenalmu!"
Mendengar ucapanyang sama sekali tidak menaruh hormat kepadanya itu, maklumlah Kartika bahwa
pemuda initidakmempunyai naik baik, maka iaberlaku makinwaspada.
"Siapakah kaupemudakurang ajar?"
"Kartika, ketahuilah bahwaaku sengaja mencarimu dari tempat jauh untuk menangih hutangmu.
Masih ingatkah kau kepada Nagawisena?"
"Apa hubunganmu dengan mendiang Nagawisena?"
Koleksi Kang Zusi
Kembali pemuda itu tertawa bergelak. Biarpun suara ketawanya merdu, akan tetapi cukup membuat
Kartika merasa tak enak hatidan bulu tengkuknya meremang.
"Manusia Khianat! Ingatkah kau ketika membunuh Nagawinsenadengancara yang rendah dan
curang?Akulah anaknya! Ayahku telah tewas karena kecuranganmu dan ibumu menderita bertahuntahun
karena keganasanmu itu. Sekarang bersiaplah kauuntuk binasa dalam tanganku!"
Kartika tertegun. Dahulu ia telah menjadi sahabatyang amat karib dari Nagawisena, bahkan ia
jatuh cinta kepada Dara Lasmi, isteri sahabat karibnya itu. Ia kenal baik keluarga Nagawisena dan
sering kali iadan sahabatnya itu kunjung-mengunjungi, maka ia tahu bahwa sahabatnya tidak
mempunyai anak laki-laki.
"Ha,kaubohong! Kau penipu dari manakah beranimati sekali mengakusebagai putera Nagawisena?
Aku lebih tahu bahwa Nagawisena tidak mempunya iputera laki-laki, hanya mempunyai anak
perempuan seorang saja! Jangan kau hendak menipu aku!"
Ratnawulan pernah mendengar penuturan ibunya bahwa Kartika dahulunya memang sahabat karib
ayahnya, bahkan seringkali mengunjungi ayah bundanya, maka ia tidak merasa heran mendengar ini,
bahkan lalu bertanya.
"Kalaukautahu bahwa Nagawisena mempunyai seorang puteri, tahukah kau siapa nama anaknya itu?"
"Tentusaja akutahu, bukansepertikau yang hanya mengaku-aku. Anaknya itu adalah Ratnawulan, dan
isterinya bernama Dara Lasmiputeri Malayu."
"Kartika, buka matamu lebar-lebar jahanam! Akulah Ratnawulan yang datanghendak mengambil
nyawamu!"Sambil berkata demikian, Ratnawulan merenggut ikat kepalanya sehingga rambutnya yang
panjang hitam itu terurai di ataspundaknya. Juga jubahnya ia buka sehingga kini ia memakai baju
kutang yang berwarna hitam. Sebentar saja pemuda tampan itu berubahmenjadi seorangdara
jelitayang amat gagah dan cantik.
Kartikaberdiri melongo dan hatimu berdebar keras. Kalau tadiia menghadapi Ratnawulan yang masih
dianggapnya seorang pemuda itu dengan hati tabah dan memandang ringan, kini ia merasa gelisah
sekalioleh karena gurunya, yaitu Bagawan Mahapati,pernah berpesan kepadanya agar supaya ia
Koleksi Kang Zusi
berhati-hatimenhadapi lawanseorang wanita. Wanita memang seorang makhluk lemah, akan tetapi
apabila wanita itu telahmenjadi seorang yang memilikiilmu kepandaian tinggi,maka orang itutak boleh
dipandang ringan. Sekarang Ratnawulan telah berani masuk ke kotaraja untuk mencarinyadan
membalas dendam,maka tentu saja gadis ini telah memiliki ilmu yangtinggi.
"Ratnawulan.! Benar, kau Ratnawulan,karena kau mirip sekalidenganDara Lasmi ibumu!
Ratnawulan, janganlah kau memusuiku, nak.Ketahuilahbahwa aku, pamanmuini dahulu seringkali
memondongmu dan menimang-nimangmu ketika kau masih kecil sekali. Apakah kau hendak
mengangkat senjata melawan pamanmu?"
"Cih! Pandai sekali kau bermanis bibir! Mengapa kau tidakingat akanhalitu ketika kau membunuh dan
mencurangi mendiang ayahku? Hayo, cabutlah kerismu, kita membuat perhitungan sekarang dandi
tempatini juga!"
"Jangan,Ratnawulan, jangan kita mengadu nyawa!"
"Pengecut! Jahanam! Kau yang telah berani mengkhianati ayah, demikian kecil dan pengecutkah
hatimu sehingga tidak berani melawan seorang dara?"
Terbangunlah keangkuhan Kartika mendengar caci maki ini.
"Ratnawulan,siapakah yang takut kepadamu? Tidak, aku tidak takut, hanya aku merasa sayang
kalau-kalau kau akan menjadi kuban pusakaku. Sampai berapa tinggikah kepandaianmu maka
kauberani menantang Adipati Kartika?"
“Tutup mulut! Lebih baik membiarkan kerismu bicara daripada mulutmu yang busuk dan berbisa itu!"
Setelah berkatademikian, Ratnawulan mencabut keris pusaka Banaspatidan memasang kuda-kuda
untuk membuka serangan. Melihat sinar panas yang memancar keluar daripusaka Banaspati itu,
AdipatiKartika terkejut sekali dan ia maklum bahwa gadis yang menjadi musuhnya ini memilki keris
pusaka yang ampuh.Maka ia lalu mencabutpula kerisnya, jugasebuah keris pusaka pemberian gurunya.
Koleksi Kang Zusi
"Kaulah yang menghendaki pertumbuhan darah, Ratnawulan.Ibumu akan memaafkan aku apabila ia
tahubahwa kaulah yang memaksaku mencabut keris untuk menghadapimu. Ini hanyalah pembelaan
diri dariku!"
"Jangan banyak cakap!"teriak Ratnawulan yang segera mulai menyerang dengan kerisnya.
Serangannya ganas dan dahsyat sekali sehingga Kartika kembali merasa terkejut melihat kecepatan
gerakan gadis ini. Ia tidak berani memandang rendah dan cepat menangkis dengan kerisnya.Dua
bilah keris pusaka itu ketika beradu menimbulkan percikan bunga api.
Karena maklum bahwa menghadapigadis ini tidak boleh dilakukan dengan main-main, Kartika lalu
membalas dengan serangan yang cepat pula sehingga sebentar saja keduanya telah bertarung
dengan seru, sengit,dan mati-matian. HatiRatnawulan yangpenuh dendam membuat gerakannya amat
dahsyatdan ganas sehingga Kartika harus berlaku hati-hati danwaspada sekali. Ia maklum bahwa
untuk mengalahkan lawannya yangtangguh ini, iatidakboleh menaruh hatikasihan lagi danharus
berdaya mendahuluinya,merobohkan atau membinasakan gadis ini. Maka dikeluarkanlah ilmu kerisnya
yang hebat, latihan dari gurunya Bagawan Mahapati. Kerisnya bergerak-gerak laksana seekor ular
hidup yang menyambar-nyambar dengan bengisnya, mengarah bagian-bagian yang mematikan ,leher,
uluhati ,lambung, perut dan pusar.
Akan tetapi, Ratnawulan bukanlah seorang yang memiliki kepandaian biasasaja. Iatelah digembleng
bertahun-tahun oleh Panembahan Mahendraguna,dan ilmu kerisnya selain cepat, juga kuat sekali
sehingga ke mana saja Kartika menyerang,selalu dapat ditangkisatau dielakkannya.Jika dibuat
perbandingan, Kartika menang tenaga danmenangpengalaman berkelahi, akan tetapi dalam
halgerakan, ia masih kalah cepat dan kalah tangkas.
Selagi mereka ramai bertarung,lewatlah tiga orang perondadi tempatitu.Alangkah terkejutnya hati
mereka melihat Kartika sedang berperang tanding melawan seorang dara perkasa yang luar biasa
tanguhnya,maka beramai-ramai mereka majumengeroyok merekadengantombak mereka.
"Mundur!" teriak Kartika mencegah mereka akan tetapi terlambat. Mereka telah menerjang maju
dan ketika dengan tombak, mereka menusuk dan meyerang Ratnawulan dari tiga jurusan, gadis itu
melompat dan meninggalkan Kartika, menyambut ketiga orang penyerangnya itu dengankeris di
tangan. Tigaorang peronda itu hanya melihat bayangan cepat berkelebat dandua orang di antara
mereka menjerit dan robih mandi darah karena yang seorang tertusuk keris Banaspati dan tewasdi
saat itu juga,sedangkan seorang lagikena dirampas tombaknya dan ditusukdengan tombaknya sendiri
Koleksi Kang Zusi
sehingga terluka parah dadanya! Seorang lagi mundur ketakutan lalu.berlari tunggang-langgang
meninggalka ntempat itu untukmemberi laporan dan minta bantuan!
Bukan main terkejutnya hati Kartika melihat kehebatan sepak terjang Ratnawulanini, sehingga ia
menjadi gentar dan permainan kerisnya agakkalut. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh
Ratnawulan yang segera mendesak dengan amat hebatnya.
Pada suatu saat, ketika Ratnawulan menusuk ke arah dada Kartika dengan kerisnya, dibarengi
bentakan nyaring yang amat berpengaruh, Kartika mengelak ke kanan dan tangan kirinya lalu
memukul ke arah kepala lawannya dengan mengerahkan aji kesaktian yangdisertaimantraini apabila
mengenai sasaran,mana mungkin akan pecah berantakan! Namun, Ratnawulan sudah dapat merasakan
anginapukulan yang laur biasa ini, maka dara perkasa inimenggeser kakinya ke kanan dan
menghabiskan tangan kiri melakukan tangkisan sambil mengerahkan tenaga sakti dalam tangan
kirinya.Betapapunjuga, iamasih terhuyung mundur ketika tangannya beradu dengan tangan Kartika,
tandabahwa tenaga aji kesaktian SiGuntingitu benar-benar luarbiasa kuatnya.
Ratnawulan menjadi penasaran dansambil memekik keras ia lalu menubruk maju,menyerang dengan
keris dibarengi pukulan tangan kirinya yang melakukan tamparan dengan ajinya
Astadenta(TanganGading),kemudian disusulpula oleh tendangan kilatyang menyambarke arahpusat
lawannya.Inilah serangan yang luarbiasa hebatnya, karena ketiga-tiganya, baik tusukan kerisnya ke
arah leher maupun pukulan Astadenta ke arah pusar, merupakan serangan-serangan yang dapat
membawa maut.
Kartika terkejut bukan maindan cepat berusaha menyelamatkan diri. Dengan tangan kirinya ia
menangkis pukulanAstadentake arahlambung dan mengeser kakinya untuk mengelak tendangan ke
arah pusar, sedangkan tusukan keris Ratnawulania tangkis dengan keris pula. Akan tetapiia tidak
mengira bahwa pukulan Astadentaakan demikian hebatnya.Ketika tangan kirinya beradu dengan
tangan kiri Ratnawulan yang memukul, ia berseru kesakitan dan merasa betapa pergelangan
tangannya sakit sekaliseakan-akanseratus batang jarum ditusuk-tusukkan ke dalam tulangnya. Hal
inimembuat kedudukannya menjadi lemah sekali dan sungguhpun ia dapat menghindarkan diri dari
ketiga seranganitu, akan tetapiia telahmembuka lowongan bagi Ratnawulan untukmengirim serangan
berikutnya tanpa berkesempatan membalas serangan itu.
Ratnawulan yang bermata tajam tidak mau membuang kesempatan baik ini, dan ia cepat sekali
mengajukan kakinya, dan kerisnya menyambar bagaikan petirnya kearah uluhati lawannya.
"Celaka!"Kartikaberseru keras dan membuang diri ke kanan untuk mengelak dari serangan ini, akan
tetapi ia kurang cepatdan "bret!"bajunyaterobek oleh ujung keris Banaspati dan darah mengalir
Koleksi Kang Zusi
membasahi bajunya karena dadanya yang sebelah kanan berikut sedikit dagingnya telah terbeset
oleh keris itu.
"Mati aku!” Kartika menjerit dancepat ia melompat ke belakang sambil berjungkir bali. Gerakannya
ini amat cepat dan indahnya sehingga Ratnawulan memandang kagum. Dalam keadaan terluka, Kartika
masih dapat menyelamatkan diri dengan lompatan yang amat luar biasa dan yang hanya dapat
dilakukan oleh seorang yang telah tinggi ilmu kepandaiannya.
"Bangsat,jangan lari!" Ratnawulan megejar dan mengirim serangan pula.Akan tetapi kedudukan
Kartikatelah baik kembali, dansungguhpunia merasa betapakulit dadanya terasa panas dan perih
sekali terkena hawa yang keluar dari keris pusaka kayai Banaspati, dan tangan kirinya juga terasa
linudan lumpuhterkena hawa pukulan Astadenta, namun ia masih dapat menggerakkan kerisnya dan
melakukan perlawanan dengan amat gigihnya.
Pertempuran itu berjalan amat lamadan sementara itu, cahaya matahari mulaimengusir cahaya bulan
purnama dankeadaan mejadi makin terang. Peluh telah mengucur pada keseluruh muka Kartika. Ia
merasa lelah dan gelisah sekali.Tak pernah disangkanya bahwa anakNanawisena akan demikian
tangguhnya Sukar untuk dapat percaya bahwa seoranga nak dara yang usianya barubelasan tahun ini
akan dapat memiliki ilmu kepadaian setinggi ini,sehingga tidak saja dapat menghadapidan
melawannya,bahkan berhasil melukainya dan mendesaknya dengan keris!
Kalau Kartika mulai lelah dan mainmundur saja, adalah Ratnawulan makin gagah dan makin cepat
gerakannya. Dara perkasaini makin bernafsu melihat betapa usahanya membalas dendam sudah
mendekati hasil. Ia mengeluarkan seluruh kepandaian yang penah dipelajari dan mendesaktanpa
mengenal ampun lagi sehingga Kartika makin ketakutan. Sebuah tusukan telah mampir di kulit
pundaknyalagi sehingga darahtelah membasahi bagian dada dan pundaknya, akan tetapi adipatiyang
banyak pengalaman berkelahi ini masih sajadapat mempertahankan dirinya. Ia mengambil keputusan
untuk mempertahankan diri sampai titik untuk mengadu nyawa dengan gadis ini!
Pada saat Ratnwulan sudah mendesak hebat kepada musuh besarnya, tiba-tiba terdengar bentakanbentakan
orang dan munculah duaorang yang diringkan oleh sepasukan bersenjata tombok dan
perisai.
Orang yang datang ini adalah seorang kakek berjubah putih, memegang tongkathitam dan
gerakannya ketikaberlari masihamatcepatnya. Sedangkan yang seorang lagi adalah seorang
pemudayang amat tampan danjuga cepatgerak-geraknya.Merekaini bukan lain adalah Sang Bagawan
Mahapati sendiri bersama Raden Mas Indrajaya! Kebetulan sekali Raden Mas Indrajaya
mengunjungi gedung Adipati Kartika untuk membicarakantentang kedatangan dua orang pemuda
Koleksi Kang Zusi
aneh dikota rajakarena Indrajaya merasa curiga dan juga ikut merasa bertanggungjawab atas
keselamatan keraton Majapahit. Dia adalah seorang pemuda yang amat setiakepada rajanya.Ketika
mendengar bahwaKartikasedang pergi semenjak malam tadi mencari Puspamirah, ialalu mengadakan
pertemuan dengan Bagawan Mahapati yang bertempat tinggal di gedung kadipaten itu pula,dan
bercakap-cakap karena memang Raden Indrajaya seringkali mengadakan pembicaraan dengan
Bagawan yang sakti itu.
Pada saat merekas edang bercakap-cakap, datanglah peronda yang melaporkan dengan wajah pucat
bahwa Kartika sedang bertempur melawan seorang dara pendekar yang amat sakti dan luar
biasa.Maka berangkatnya Mahapati bersama Indrajaya ke tempat itu,dikuti olehsepasukan penjaga.
Kedatangan mereka tepat pada waktunya, karena dengan sebuah tendangan kakinya, Ratnawulan
telah berhasilmembuat keris di tangan Kartika terpental dan ia sudah siapuntuk menembusi jantung
musuhbesarnyaitu dengan Kyai Banaspati. Akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan
sebatang tongkat menusuk kearah pergelangan tangannya di barengi bentakan.
"Lepaskan senjata!"
Namun Bagawan Mahapati terkejut sekali karenatangan yang diserangnyaitu dapat mengelak cepat
dan bahkan mengirim tusukanke arahperutnya. Ia cepat melompat mundur dan Ratnawulan berdiri
memandangnya dengan mata bercahaya marah.
"Hm, tentu inilahorangnya yang disebut Bagawab Mahapti, dukun lepus itu!" Iamemaki.
"Siapakah kau, perempuan mudayang liar?" Tanya Bagawan Mahapati memandang kagum karena
belum pernah iabertemu dengan dara yang sehebat ini.
Sementaraitu,dengan napas terengah-engah Kartika melangkah maju dan berdiri di belakang
gurunya. Sedangkan Raden Indrajaya jugamemandang dengan penuhperhatian. Ia serasa sudah
pernah melihat wajah yang cantik jelita ini dantakterasa pula hatinya berdebar aneh.Begitu melihat
wajah yang ayu danpotongan tubuh yang denok itu,sekaligus iatergila-gila dan jatuh hati.
Sementara itu,Ratnawulan dengan amat marahnya menjawab.
Koleksi Kang Zusi
"Kau mau tahu siapa adanyaaku? Tanyakansaja kepada si keparat Kartika itu! Kalau saja ia bukan
seorang pengecut yang palingrendah dan hinadina, suruhlah iamengambil kerisnya untuk melanjutkan
pertempuran ini!Biarlahkita sama saksikan,apakah benar-benar Adipati Kartika seorang gagah
ataukahseorang pengecut besar!"
Akan tetapisemua orang dapat melihat bahwa keadaan Kertika telah amat payah, maka Bagawan
Mahapati lalu berkata dengan keren karena ia marah juga melihat betapa muridnya yang tersayang
itu dikalahkan dan terluka.
"Bocah! kau masihkecil akan tetapi teklah besar kepala! Kau telah berani menyerang seorang
adipati, berarti menyerang memberontak terhadap kerajaan. Menyerahlah baik-baik, mungkin kau
masih akan dapat diampuni."
Sementara itu,diam-diam Indrayana berdiri terheran-heran, oleh karena semalam ini ia telah
melihat dua orangmuda yang luar biasa dan sakti mengacau dikotaraja.
Hati Ratnawulan amat marah, gemasdan kecewa melihat betapa Indrayana, pemuda yang menambat
hatinya itu, ternyata datang bersama dengan Bagawan Mahapati dan agaknya menjadi sekutu
Kartika, maka dengan mengacungkan kerisnya.
"Bagawan Mahapati! Enak saja kau bicara! Dengarlah, aku adalah puteri dari Nagawisena yang
sengaja datang hendak membalas dendam kepada keparat Kartika! Kalau kau hendak membelas
muridmu, majulah kau dan semua kaki tanganmu ini!" Ia mengerling kepada Indrajaya dengan
pandang merendahkan. "Jangan majusendiri, majulah kau berbareng, aku Ratnawulan anak Mahameru
sama sekali taidak takut menghadapi kalian!" Ratnawulan benar-benarmarah sehingga ia
mengeluarkan sesumbar dan tantangan yang amat sombongnya.
"Eh, sombong dan keraskepala anak ini!" Bagawan Mahapati berkata. "Kau agaknya tak boleh diberi
hati.Kau belum tahuakan kesaktian Mahapati!" Sambil berkata demikian sepasangmata bagawan ini
menatapwajah Ratnawulan dengan amat tajamnya, seakan-akan sepasang mata itu bernyala bagaikan
mata seekor harimau.Kemudianbagawan itu membaca mantra dan tiba-tiba ia membentak dengan
suara yangamatberpengaruh.
"Ratnawulan,berlututlah engkau!"