Bagian 7
Bukan main hebatnya kesaktian ini. Pengaruh bentakan ini membawa tenaga yang gaib dan luar biasa
sehingga dengan bentakan inisaja, Bagawan Mahapati telah banyak menundukkan dan mengalahkan
lawan tanpa mengangkat tangannya. Seekor singa buas pun akan mendekam dan bertekuk lutut
mendengar bentakan yang amat berpengaruh olehkarena mengandung tenaga batin yangamatkuat ini.
Ratnawulan tidak kuat menerima pengaruh ini dan tiba-tibaia bertekuk lutut. Akan tetapihanya
untuk sebentarsaja, oleh karena begitu lututnya menyentuhtanah ia telah melompat lagi dan berdiri
tersenyum memandang kepada Bagawan Mahapati.
Kakek saktiitu terkejutsekali melihat kekebalan mantranya, maka ia berseru.
"Kartika, mari kitatangkap dia! Kakek ini telahmelihatsendiri ketangguhan dara perkasa itu, maka
dengan amat licik ia memerntahkan kepada muridnya untuk mengeroyok!
Ratnawulan telah merasa lelah,dan sekarang dikeroyokdua olehKartikayang mempergunakan lagi
kerisnya danBagawan Mahapati yang mainkan tongkatnyasecara hebat sekali. Hanya dengan
kegigihan Ratnawulan saja yangmembuat iamasih dapat mempertahankan diri sampai lama, membuat
kagum hati Indrayana dan menggiriskan hati Kartika.Akhirnya, karena tenaga sudah mulai habis
dantelapaktangan memegang gagang keris udah penuh peluh, ketika Mahapatimenyerang
dengantongkat dania menangkis, kerisnya terlepas daritangan. Mahapati menubruk dan
denganmudah dapat meringkusnya, Ratnawulan lalu dibelenggu tangannya.
Sebagai seorang tawanan, Ratnawulan hendakdiseret kegedung kadipaten,akan tetapi Raden Mas
Indrayanalalu menghampiri Mahapati serta membisikkan sesuatu kepada telinga bagawan itu.
Bagawan Mahapati tersenyum dan mengangguk, kemudian ia berkata kepada Kartika.
"Kartika, niar kita serahkan tawanan gadis liar ini kepada Raden Indrayana!"
Adipati Kartika memandang heran,akan tetapi ia tidakberani memandang heran, kehendak
gurunyadan demikianlah dengan cekatan Indrayana memondong tubuhRatnawulan, dinaikkan ke atas
kuda, kemudian ialarikan kudanya ke rah rumah gedungnya sendiri.
Koleksi Kang Zusi
"Bapa bagawan, mengapa gadis yang berbahaya itu diserahkan kepada Raden Indrajaya?"
Tanya Kartika kepada gurnya setelah mereka kembalike kadipaten.
Mahapati tersenyum penuharti. "Raden Indrajaya tergila-gila kepada gadis yang cantik itudan ingin
membujuknya menjadi selirnya. Besok pagi Raden indrajaya hendak menghadap sang prabu untuk
minta perkenan beliau. Kau maklum sendiri akan pengaruh pemuda itu dan apabila kita tidak
menuruti permintaannya, tentu kita akan mengalami kesukaran."
"Akan tetapi, bapa Bagawan, gadis itu adalah puteri dari Nagawisena.Ia sengaja datang untuk
mencari dan membunuh hamba. Anak itu amat saktidan amat berbahaya bagi hamba, kalau sekarang
tidak dibinasakan, apakah kelak takkan mendatangkan malapetaka?"
"Jangan Khawatir, muridku! Betapapun digdayanya, selama masih ada gurumu dia sini,ia takan dapat
melakukan sesuatu. Apalagi kalau iasudahberhasildipetik oleh Raden Indrajaya, tentu putera
pangeran itu takkanmembiarkan dia melakukankeributan, karena hal itu akan mencemarkan
namaRaden Indrajaya sendiri. Kalau kitaberkeras membinasakan gadis itu,tentu Raden Indrajaya
akan merasa sakit hatidan marah, dan hal ini akan jauhlebih berbahaya daripada kemarahan atau
sakit hati gadis liar itu kepadamu."
Kartika memandang dengan penasaran. "Apakah berbahayanya seorang seperti Indrajaya?
Kepandaiannya tidak berapa hebat, jauh lebih rendah daripada kepandaian gadis itu."
"Kau tidak tahu, Kartika.Kau sendirilah yang berlaku ceroboh, menyuruh seorang bodoh dan tidak
becus seperti Bajrabumi itu! Tahukahkau bahwaRaden Indrajaya telah tahuakan usahamu
membinasakannyadenganmenyuruh Bajrabumidan tiga orang cabang atasdari Madura yang terjadi
malam kemarin? Bukanitu saja, Indrajayabahkan telah tahu akan maksud-maksud kita menggulingkan
raja!"
Kartika menjadi pucat mukanya mendengar ini. Memang, penyerangan atas diri Indrajaya yang
terjadi di dalam pestaitu sebenarnya adalahdia sendiri yang mendalanginya. Indrajaya terlalu besar
pengaruhnya kepada rajadan pemuda ini amat setia dan berpengaruh, oleh karena itu, sesuai dengan
rencana merekauntuk melemahkan pemerintahan Jayanagara, pemuda itu harus dibinasakan!Dengan
diam-diam dan secara rahasia, ia dan gurunya telah mengadakan kontrak dengan pemimpin
pemberontak Semi,untuk membantu pemberontak itu menggulingkan Jayanagara!Kalau Indrajaya
benar-benar telahakan rahasiaini, maka tentu saja tentubaik menyerahkan, Ratnawulan kepadanya,
Koleksi Kang Zusi
karena urusandara itu tak berarti apabila dibandingkan dengan urusan pemberontakan yang lebih
besar!
Memang benar,Indrajaya sungguhpun belum mendapatkan bukti-bukti,namun ia telah merasa curiga
kepada Mahapati danKartikadan iaselaluberlaku waspada untuk menjaga keselamatan
junjungannya.Tadi iamelihatbetapa Ratnawulan tertawan dan karenaia memang jatuh cinta kepda
dara perkasa ini, juga melihat kesaktian dara itu ia ingin menarik dara itu sebagai sekutunya, maka
ialalu menggunakan akal, minta tawanan itu sambil membisikkan kata-kata kepada Mahapati. Yang ia
bisikkan itu adalah janji bahwa ia takkan mengadukan sesuatu yang ia ketahui tentang mereka dan
Semi kepada sang prabu !Ini hanya kira-kira dan dugaan saja, akan tetapi Mahapati kena tertipu dan
mengira bahwa pemuda itu telah mengetahui segala rahasianya!
"Karena aku telah mengetahui siapa maka memperkuat alasanku untuk membantumu. Menolong
orang yang tak diketahui siapa adanya dan tanpa alasan sesuatu mengapa ia menolong orang itu
adalah hal yang lebih aneh lagi. Aku menolongmukarena dasar-dasar yanglebih suci dan yang keluar
dari lubuk hatiku."
"Dasar-dasar apakah?" Tanya Ratnawulan memandang tajam.
"Dasar perasaan hatiku yang penuh kagunm padamu, karena kau seorang yang berbakti kepada
orang tua sehingga bairpun kau hanya seorang wanita akan tetapi kau bertekad untuk membalas
sakti hati mendiangayahmu tanpa memperdulikan bahaya. Aku kagum kepadamu, kagum melihat
kegagahanmu dan aku. Aku suka kepadamu, timbul kasih sayangku kepadamu. Inilah yang memaksaku
untuk menolongmu, Ratnawulan!"
Ratnawulan melangkah mundur dia tindak dengan kaget. "Apa. apa maksudmu?"
"Aku cinta kepadamu!" pengakuan Indrajaya ini seakan-akan merupakan pengakuan yang sudah
sewajarnya, dengan suara yang amat tenangdan meyakinkan "Aku cinta kepadamu seperti juga
perasaan cinta yangmulai tumbuh dalam hatimu terhadap aku!"
"Kau. kau gila!"
Koleksi Kang Zusi
Indrajaya mengangkat tangan kanannya seakan-akan menahan gadis itu berkata terlebih
lanjut."Ratnawulan, semenjak kau melompatke ataspanggung dan menolongku, pandang matamu telah
membuataku binggung dna heran. Pandang matamu itu menyatakan perasaan hatimu kepadaku. Aku
telah mempelajari ilmu membaca muka orang, membaca perasaanhati yang timbuldari sinar
matanya.Aku yakin bahwa aku mencinta.atau setidaknya, merasa suka kepadaku!"
Peningkepala Ratnawulan mendengar ini. Betatpapun juga, ucapan pemuda ini ada benarnya. Ia
memang amat tertarik kepada Indrayana, tertarikdan merasa suka. Akan tetapitentu saja ia tidak
mau mengaku begitu saja,tidakmau menyerah demikian mudahnya. Ia memandangmarahdan
membentak.
"Tutup mulutmu! Kaukira aku ini wanitamacam apakah? Kaukira aku begitu mudah tunduk dan jatuh
hati melihat ketampananmu?"
"Kau adalah seorang wanita pilihan!Seorang puteri sejati yang selaingagah perkasa, juga cantik
jelita. Seorang srikanditulen! Seorang wanita yang patut dicinta dengan hati suci.Ratnawulan,
jangankau mencoba menyembunyikannya dari padaku.Bahkan dalam kemarahannya ini,sinar
matamutidakhanyamemancarkanapi kemarahan, akan etapi jelas kulihat api yangberasal dari
DewiRatih memancar keluar!"
"Tidak, tidak! Diam kau! Aku tidaksudi bicara tentang hal itu sebelum tercapai cita-citaku, sebelum
terpenuhi tugasku. Aku harus membunuh Kartika!Ah. keris pusakaku telah hilang.akan tetapi, tidak
apa, dengan kedua tangan iniakan kurenggutkan nyawa Kartika dari tubuhnya. Biarkan aku pergi,
Indrajaya, dan lupakanlah kata-katamu yanggila tadi!"
"Tak mungkin Ratnawulan.Tak mungkinkau dapat pergi darisini. Kau harus tinggal di rumahku ini, dan
jangankau tinggalkankotaraja!"
Kini sinar mata Ratnawulan memandang dengan marah sekali.
"Hmm begitukah? Untuk itukah gerangan maka kau menolongku terlepasdan tangan mereka agar
supaya aku selamanya tinggal di sini menurut segala kehendakmu?"
Koleksi Kang Zusi
Indrajaya tersenyum. "Tidakada lain kesenangan dan kebahagiaan didunia ini bagiku yang melebihi
kenyataankata-katamu tadi, Ratnawulan.Akan bahagialah hidupkukalau kau mau tinggal selama hidup
di sampingku.Tak adacita-cita yang lebih mulia terkandung di dalam hatiku. Akn tetapi kau salah
sangka.Bukan untuk itulah sesungguhnya aku membawamu kemari. Dan bukan untuk itu pula aku
melarangmu pergi dari sinibegitusaja.Akubukanmanusia serendah itu. Aku tidak sudi
memaksaseorang dara untuk menyerahkan diri kepadaku. Tidak. Ratnawulan, aku hanya menerima
sebagai kawan hidup selamanya apabila kau datang dengan sukarela, dengan hati mencinta."
"Cukup!" Ratnawulan merasa khawatir untuk mendengar rayuan ini lebih lama, khawatir akan
kelemahan hatinya sendiri. Pemuda ini demikian pandai mencumbu rayu, lebih manis daripada madu,
lebih merdu daripada gamelan Surgaloka segala kata-katanya. "Kalau bukan untuk itu, mengapa kau
melarangku keluar darisini?"
"Cinta kasihku jualahyang memaksa aku melarangnya. Ketahuilah, Kartika dan Bagawan Mahapati
bukanlah orang-orang demikian bodoh untuk menyerahkan kau kepadaku begitu saja. Mereka tentu
telah berjaga-jagadan mungkin sekarangjuga rumahku telah dintai oleh banyak mata para penyelidik
mereka.Kau takkandapat keluar dengan selamat dan kalau kau sampai tertangkap kembali, sukarlah
begikuuntuk menolongmu."
"Aku tidak takut! Akau akan mencari dan menyerang Kartika, biarpun untuk usaha itu aku harus
tewas!"
"Aku percayaakan kegagahanmu akantetapi akulah yang merasa khawatir akan bahaya itu,
Ratnawulan. Percayalah mungkin tak ada orang lain yang akan menyedihi kematianmu, akan tetapi aku
takan dapat menikmati hidup lagi kalau kau sampai tewas."
Ratnawulan merasa terharu juga mencengar ucapan ini.
"Ratnawulan,akupun maklum bahwa kau tentu tak sudi untuk tinggal di sini bersamaku hanya untuk
menyelamatkan dirmu. Akan tetapikalau kau hendak keluar dari sini, harus mencari jalan yang baik
dan aman, jangan secara sembrono saja. Kalaukau keluar dari sini, laluhendak pergi ke mana?"
"Aku hendak mengumpulkan kawan-kawanku dan kemudian menyerbu kadipaten dan
menyerangKartika." Jawab Ratnawulan terus terang.
Koleksi Kang Zusi
"Hanya satujalanbagimu untuk dapat keluar darikota rajadan itupun belum tentu berhasil pula.
Jalan itu ialahakuharus mengawani keluar darikota ini, bukan pada sianghari, melainkan pada malama
harinanti."
"Kalaukita bertemudenganKartikadan Mahapati bagaimana?" Tanya Ratnawulan, sesungguhnya
pertanyaan ini bukan menyatakan bahwaia merasa takut, akan tetapi tanpa disengaja ia menyatakan
kekhawatiran terhadap nasibmudaitu.
Indrajayatersenyum. "terima kasih atas perhatianmu terhadap diriku, Ratnawulan. Kalau kita
bertemu dengan mereka, aku akanmemberi alasan. Kalau mereka tidak percaya, tidak ada jalan lain
bagiku selain membantumu mengamuk danmenyerang mereka."
"Kau.? Bukanlah kau sahabat baikdari mereka?"
Indrajaya tersenyum dan menggeleng kepala. "Kaukiraaku ini sederajat orang-oarang macam
mereka? ketahuilah,Ratnawulan. Ayahku seorang pangeran yangsetia kepada keluarga raja. Akupun
seorang yang setiadan aku bersedia mengurbankannyawa untuk membela Kerajaan Majapahit.Adapun
mereka itu, mereka adalah manusia-manusia dengan hatidengki,khianat, berhati palsu.Mereka kini
telah mengadakan persekutuan dengan diam-diam bersama pemimpin-pemimpin pemberontak di
luarkota. Mereka berniat menjatuhkan kerajaan agar mereka mendapat kedudukan yang lebih tinggi
dan kuat.Hal ini terjadi oleh karena sang prabu mulai merasacurigakepada BagawanMahapatiyang
mulairenggangperhubungannya."
Bukan main terkejutnya hati Ratnawulan mendengar penuturan ini. Mahapati dan Kartika bersekutu
denganpemberontak.Padahal pemberontak-pemberontak adalah kawannya sendiri. Buktinya Pasukan
Candrasa Bayu yang dilatihnya, bukankah mereka jugaakan menggabungkan kepada barisan induk
pemberontak. Bagaimana pulakahitu akan tetapiia tidak mau ambil pusing. Urusan pemberontakan
bukanlah urusannya.Yang terpenting baginya adalah membalas dendamkepada Kartika. Habis
perkara.Di fihak manapun Kartika berdiri, ia tetap musuh bersarnya, penghianatan yang telah
membunuh ayahnya secara curang.
"Dengarlah, Ratnawulan, sebelum kita keluar darikora raja, lebih dahulu aku akan memberitahukan
hal ini kepadasang prabu. Sesungguhnya sang prabu belum tahuakan hal ini kepada sangprabu.
Sesunggunya sang prabu belum tahu akan hal ini, hanya akulah seorang yang mengetahuinya. Inipun
baru dugaan saja,akan tetapi dugaanyan berdasarkan kenyataan, dan telahkubuktikan
pula.Ketahuilah,kalau saja aku tidak menggunakan ancaman bahwa aku telah mengetahui rahasia
mereka,tak mungkin kau akandiserahkan kepadaku."
"Ratnawulan penuturan mumembuat aku merasa bingung sekali, Indrajaya. Menurut penuturan
ibuku, Mahapati adalah orang yang membantu Sang Prabu Jayanagara, bahkan bagawan inilah yang
memukulhancur semuapanglima yang memberontak. Mengapapula sekarang bagawan itu mengadakan
persekutuan dengan pemberontak?"
"Panjang ceritanya, Ratnawulan." kata Inrajaya yang diam-diam merasa girang melihat dara perkasa
itu agaknya telah menaruh kepercayaan padanya. "Sementara itu, lebih baik kau makan dulu,
dannanti akankulanjutkan penuturanku. Juga, kalau kau percaya kepadaku, ingin sekali aku
mendengar riwayat ayahmu yang terbunuh oleh Kartika itu."
Pelayan dipanggil dan Indrajaya lalu memerintahkan untuk menyediakan hidangan. Ia tidak mau
memperkenalkan Ratnawulan kepada ibunyaoleh karenadalamkeadaan seperti sekarang, kurang
baiklah kalau Ratnawulandiperkenalkan.Gadis itupun tidak malu-malu lagi danketika hidangantelah
dikaluarkan, ia makan bersama pemudaitu dengan enak karena perutnya memang amat lapar.
Setelah Ratnawulan menuturkan riwayatnya secara singkat, Indrajaya menghela napas dan merasa
amat terharu.
"Memang, tak dapat disalahkan ayahmudan para penglima yang dahulu memberontak, oleh karena
memang di keraton Majapahitterdapat pengaruh jahatdari Bagawan Mahapati. Pernah ayahku
dahulubercerita betapaketika ang prabu masih amat muda, Bagawan Mahapati makin besar.
Ayahkumersa curiga bahwa bagawanitu telahmemasang sihir kepada sang prabu dan semenjadk
saatitu,ayahkujatuh sakitberat sampai meninggalkan dunia ini. Aku menduga bahwa penyakit ayah
itupun hasil tening dari bagawanitu, akan tetapi oleh karena tidak ada bukti, aku tidak berani
melanjutkan sangkaanitu."
"Betapapun juga, ayah tetapsetia kepada raja, dandemikianpun aku.Sebagai seorang keturunan
keluarga raja, aku harus bersetia dan membela kerajaan,apapun juga yang akan terjadi!" Indrajaya
menutup penuturannya. Diam-diamRatnawulan merasa kagum kepada pemuda ini, sungguhpun ia tidak
menyatakan sesuatu karena ia memang tidak mau ikut mencampuriurusan kerjaan dan
pemberontakan yangsama sekali tidak diketahui seluk beluknya. Ia hendak mengerakan Pasukan
Candrasa Bayu bukan dengan maksud memberontak terhadap Majapahit, akan tetapidengan maksud
membalas dendamnya kepada Kartika.
Koleksi Kang Zusi
Mereka bercakap-cakap dengan asiknyasampaihari menjadi malam. Maka berangkatlah mereka
berdua keluar dari gedung itu. Akan tetapi, tiba-tiba mereka mendengar derap kakikuda dan
sebentar sajaterdengar rebut-ribut di seluruhkota.
"Tunggu dulu." bisik Indrayana, "Kau tunggulah di ruangdepan, hendak kulihat apakah sebenarnya
yang terjadi dengan rebut-ribut itu."
Ratnawulan mengangguk dan pemuda itu lalu berlari keluar. Dengan hati tak sabar Ratnawulan
menanti diruang depanyang besar dan indah. Alangkah bagusnya ukiran didalam rumah gedung itu. Ia
merasa suka sekali tinggal di rumah ini. Ia merasa suka sekali tinggal di rumah ini. Pikiran ini
membuat mukanyatiba-tiba menjadi merah padam. Ah, akutelah menjadi gila, pikirnya dan
diusahakan sekuat tenaga untuk mengusir pikiran itu. An tetapi tetapsajaia duduk termenung dan
membayangkanketentraman dan kebahagiaan hidup. Kalau saja iahidup sebagaiseorang isteri
yangmencinta dandicinta, didalam rumah gedung sepertiini, mengurus rumah tangga, menguasai
semua pelayan, mendampingi suami yang berhati mulia.
Tiba-tiba Indrajaya berlari masuk. Wajahnya yangtampan itu agak pucat.
"Apa yang terjadi, Indrajaya?" TanyaRatnawulan, kini namaitu disebut dengan lancer tanpa raguragu,
seakan-akannama Indrajaya adalah nama seorang sahabat karibyang telahlama dikenalnya.
"Pemberontaktelah mulai bergerak! Bukan main besarnya kekuatanmerekadan mereka kini telah
menyerbu dan mendekati kora raja!"
"Kalau begitu kewajibanmulah untuk mengatur penjagaan dengan penglima-panglima lain, biar aku
pergi seorang diri!"
"Tidak, Ratnawulan.Hatikutakkan merasa tenteram sebelum melihat kau keluar darikotaraja dengan
selamat!"
Ratnawulan tidak menjawabsesuatu hanya sepasang matanyayang bening memandang kepada
Indrajayadengan mesra, penuhharu dan terima kasih. Indrajaya yang memiliki pengetahuan tentang
kewaspadaan membaca perasaan orang dari sinarmatanya,menjadi amat girang dan hatinya
berdebarpenuh kebahagiaan.
Koleksi Kang Zusi
Keduanyalalu keluar dengan cepat darigedung itu. Keadaandikotaraja mulai gampar. Tampak
penduduk keluar dari rumahnya dengan amat gelisah.Indrayana mempergunakankeadaanyang
sedanag rebut ini untuk membawa Ratnawulan ke arah selatan, karena iahendak menghantarkan dara
perkasa itukeluardari gerbang sebelah selatan.
Akan tetapi tiba-tiba Ia memegang tangan Ratnawulan danmukanya berubah. JugaRatnawulan
terkejut sekalimelihatdatangnya duaorang diringibelasan orang prajurit, karena duaorang itu bukan
lain adalah Kartika dan BagawanMahapatisendiri.
Kartikatertawa mengejek sambil memandang kepada Indrajaya.
Siang tadi Indrayana telah menyuruh seorang pembantunya untuk menyerahkan
sepucuksuratkepada sangprabu, memberitahukan bahwa ia telah mendapatketerangan
tentangmaksud Bagawan Mahapati danKartikayang hendakmembantupemberontak. Akan tetapi,
tidak tahunya bahwa banyak sekali mata-mata dilepas leh Kartika sehingga
sebelumsuratitusampaike tangan sri baginda, pesuruhnya telahdisergap dan suratnya dirampas.
Dengan amat marah Kartika alu berunding dengan Mahapati dan mereka berdua kini sedang menuju
ke gedung putera pangeran itu untuk menangkap dan membunuhnya. Kebetulan sekalimerekabertemu
dijalan.
"Indrajaya!"kata kartika. "Kau hendak lari ke mana bersama perempuan pemberontak itu?"
"Jangan menuduh secara sembrono pamanadipati!"Indrajaya menjawabdengan tegas." Siapa yang
hendak memberontaktelah kauketahu baik-baik!Ratnawulan tidak berdosa danbukan
pemberontak,akuhendak mengantarkannya ke laurdarikotaraja agar iadapat pulang ke tempat
asalnya."
"Ha,ha, ha! Siapa yang tidakmengetahuimaksudmu?"tiba-tiba Bagawan Mahapati berkata. "Kalian
tentu akan mengabungkan diri dengan para pemberontak yang menyerbu Majapahit. Kalian adalah
pembantu-pembantu pemimpin pemberontak tak Semi."
Koleksi Kang Zusi
"Paman bagawan!" indrajaya berkata marah. "Perlukah paman Bagawan mengeluarkan ucapan yang
kosong danmembalik-balikkan kenyataan ini?Perlukah sayamembuka mulutmenyatakan siapa orangnya
yan:sebenarnya membantu Semi?"
"Jangan banyak mulut!" Kartika berseru keras dan menyerangIndrajaya. Pemuda itu cepat
mencabut kerisnya dan menangkis, dan mereka lalubertempur sengit.
Sementara itu,Ratnawulan yangmelihatbetapa Kartika telah mempergunakan kerisnya Kayai
Banaspati, merasa marah sekali. Ia mendahului gerakanBagawan Mahapati dansebelum kakek itu
sempatmenyerangnya, ia menubruk majuke arahseorangprajurit.Sekalisaja ia
menggerakkantangannya, ia telah berhasil merampas pedang di tangan perajurititu sambil memberi
tendangan yang membuat perajurit ituroboh bergulingan.
"Perempuan liar,sekarangaku takkanmemberi ampun kepadamu!" Bagawan Mahapati berseru keras
dan menyerang dengan tongkatnya. Akan tetapiserangannya dengan mudah ditangkis oleh
Ratnawulan dengan pedangnya dan ia membalas dengan serangan kilat.Paraperajurit tidakada yang
membantu bagawan itu oleh karena mereka bertempur sengan gerakan cepat sekali sehingga
bayangan merekalenyapditelah sinar pedangdi tangan Ratnawulan dan tongkat di tanganBagawan
Mahapati.
Sementara itu,Indrajayayang bertempur melawan Kartika, sebentar sajaterdesakhebat. Bukan saja
kepandaiannya memang kalahtinggi, akantetapi kerisKyai Banaspati di tangan Kartika itu membuat
orangini menjadi makintangguh saja.
Indrajaya melakukan perlawanan sekuat tenaga dan mengerahkan seluruh kepandaiannya, akan
tetapi ia memang bukan lawan Kartika. Beberapa kaliia hempirmenjadi korbankeris Banaspati dan
pada suatu saat, pukulan tangan kiriKartikatelah menyambarpundaknya sehinggapemuda itu
jatuhterhuyung ke belakang. Kartika menubruk maju untuk memberi tikamandengan kerisnya.
Ratnawulan menjeritmelihatpemudaitu berada dalam bahaya, maka secepat kilatia lalu melompat
meninggalkan Bagawan Mahapati dan dengan pedangnyaia menyerang Kartika dari samping. Tentu
sajaKartika menjadi terkejut ketika mendengar sambaran angina pedang yang menusuk ke arah
lambungnya, maka terpaksaia menunda seranganya terhadap Indrajaya dan cepat miringkan tubuh
dan melompat untuk mengelakkandiridari serangankilat itu. Bagawan Mahapatitidaktinggal diam
danmenyerangdengantongkatnya yang ditusukkan ke arah leher Ratnawulan.
Koleksi Kang Zusi
Kini Indrajaya yangberseru keras, "Ratna, awas.! Biarkan aku menghadapi keparat inisendiri.Kau
baik-baiklah melawan bagawansiluman itu!"
Bukan main terharu hati Ratnawulan mendengar seruan pemuda yang biarpunberada dalam keadaan
keadaan terdesak, asih saja mengkhawatirkan keselamatannya itu. Keharuan hati ini
mendatangkansemangat yang luar biasa besarnya,maka sambilmengertakgigi ia menghadapi Bagawan
Mahapati danmenyerang denganluar biasa hebatnya sehingga kakek yang aktiitu sampai melangkah
mundur tiga tindak. Pertempuran berjalan lagi dengan lebih seru dan mati-matian, sedangkan
Indrajaya yang telah terlepas daribahaya maut, kini melawan lagi serbuan Kartika yang menjadi
marah sekali melihat serangannya tadi digagalkan oleh Ratnawulan.
Karena Kartika menyerang lebih ganas dan hebar daripada tadi,kembali Indrajaya terdesak
hebatdan hanya dapat berkelahi sambil main mundur.Juga Ratnawulankini berkelahi dengan
terdesak hebat, oleh karena dara perkasaini perhatiannya terpecah. Iatakdapat menahan hatinya
untuk tidak mengerling kearah Indrajaya dan hatinya amat gelisah melihat betapa pemudaitu
didesak hebat oleh Kartika.
Pada suatu saat, ketikapertempuran sedang berjalan dengan hebatnya,tiba-tiba terdengar teriakan
dans orakan yang menggegap-gempitakan seluruhkota rajadan sorakanitu terdengar jauh dari
luarkota. Itulah sorak-sorai para pemberontak yangtelah menyerbu makindekat.
Makin gelisahnya hati Indrayana medengar sorakan itu oleh karena ia tidak hanya mengkhawatirkan
diri sendiri danRatnawulan, akan tetapijuga amat berkhawatir mengingat nasib kerajaan yang
diserbupemberontak. Bagaimanakah nasibrajanya? Sungguh celaka kalau kerajaan memiliki
pembesar-pembesar macam Kartika dan Mahapati. Diwaktu kerajaanaman, mereka hanya pandai
mengumpulkan harta benda, sedangkan kalau kerajaan berada dalam kekacauan dan terancambahaya
mereka bukan mengkhianati kerjaan itu dan mengandalkan persekutuan rahasia dan dengan musuh.
Kegelisahaannya membuat gerakan pemuda itu makin kalut danketikakembali Kartika memukulnya
dengan tangankirinya yang ampuh, iatak dapat menangkisdan roboh dengan kerisnya terlepas dari
tangannya. Kartika menubruk maju dan kerisKyai Banaspati menembus kulit dada pemuda itu,
menancap gagangnya.
Kartikatertawa bergelak dan Ratnawulan menjerit dengan ngeri melihat betapa Indrajaya roboh
mandi darah, terlukaoleh keris Kyai Banaspati! Karenakeris pusaka itu adalah kerisnya maka hati
Ratnawlan bagaikan disayat-sayat. Ia merasa seakan-akan telapak tangannya sendiri yang menikam
adapemuda yang diam-diam telah merebut hatinya itu.
Koleksi Kang Zusi
"Indrajaya.!" ia menjerit dengan hati hancur dan pada saat itulah iamendapat kenyataan bahwa
ia.mencintai pemuda itu.
Kembaliterdengar suara ketawadan Kartika dan Bagawan Mahapati, membuat Ratnawulan menjadi
mata gelap dan ia mainkan pedangnyaluar biasacepat dan ganasnya. Kebenciannya terhadap artika
memuncak.
"Jahanam berhatikejam! Kalauaku tak dapat membunuhmu,akubersumpah tidak mau menjadi
manusia lagi!" jerit Ratnawulan denganmarahsekali dan ia lalu melompat dan menyerbu kepada
Kartikadengan pedang di tangan.Akan tetapi Kartika mendapatbantuan Bagawan Mahapati, maka
untuk beberapa lamaRatnawulan tak berdaya, bahkan amat terdesak.
Sorak-soraimakin mendekatdan tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Ratnawulan jangantakut! Aku datang membantumu!" Dansesosok banyangan hitam melompat maju
danmenahan tongkatBagawan Mahapati dengan pedangnya. Inilah Adiprana, anak Gunung Bromo yang
tangguh itu.
"Adiprana!" Ratnawulan berseru. Melihat betapa pemudaitu telahbertarung melawan Bagawan
Mahapati, maka Ratnawulan lalu menerjang Kartika dengan penuh kegemasan. Pedangnya
menyambar-nyambarbagaikan seekor burunggaruda dan dengan amat lincahnya dara perkasa itu
selalu menghindarkanpedangnya beradu dengan keris Kyai Banaspati di tangan Kartika karena
iamaklum akan keampuhan keris itu.
Kartikakecut hatinya dan ia memang telah merasajerih menghadapi dara perkasa yang haus akan
darahnyaitu, maka permaianankerisnyamakin kalut saja. Ratnawulan tidak maumemberi hatidan
mendesak dengan penuh keganasan.
Sementara itu,biarpunAdiprana gagah perkasa dan ilmu kepandaiannya hebat, namun menghadap
iBagawan Mahapati iamasih kalahpengaruh, terutama dalamhal tenaga batin. Tiap kali Bagawan
Mahapati menggerakkan tongkatnya dengan seruan keras, Adiprana merasa betapa jantungnya
berdebargelisah dan gentar. Akan tetapi, ia masih dapat mempertahankan hatinya dan melawan
dengan gigihnya.
Koleksi Kang Zusi
Ratnawulan mendesak terus danpadasaat yang tepat,ia dapat menendangpergelangan tangan
Kartikayang memegang keris "Krak!" tulang pergelangan tangan itu retak terkena sambarankaki
Ratnawulan. Akantetapi Kartika benar-benar kuat karena keris itu masihdipegangnyaerat-erat.
Setelah pedang Ratnawulan berkelebatlagi menyambar lengannya, barulah ia berteriak kesakitandan
kerisnya terlempar. Ratnawulancepat menyambar KyaiBanaspati dan dengan hati penuh dendam ia
menyerangbagaikan kilat cepatnya ke arah Kartika yang telah terhuyung-huyung kebelakang. Keris
menancap dada kirinya dan terdengarjeritanmenyeramkan ketika Kartika roboh sambil mendekap
dadanya yang telah ditembusi oleh keris Kyai Banaspati!
Ratnawulan membalikkan tubuh hendak membantu Adiprana yang telah terdesak hebat oleh
Bagawan Mahapati, akan tetapipadasaat itu ia mendengar suara Indrajaya memanggil perlahan.
"Ratna."
Ratnawlan menengok dan cepat menghampiri lalu berjongkok di dekat tubuh pemuda itu.
"Indrajaya." katanya penuhharu dan tak dapatditahannya lagi air mata mengalir keluar ari kedua
mata Ratnawulan, membasahi kedua pipinya.
"Ratnawulan . pujaan kalbu. Kau menyedihi aku.?"
"Indrajaya.kau.,kau berkorban untukku."
Indrajaya tersenyum, dan senyum yangmembayang pada wajahnya yang amat pucat itu nampak oleh
Ratnawulan amatlah manisnya. Senyum penuh kebahagiaan dan kepuasan hati. Senyum yang
takkanpernah dapat terlupa oleh mata Ratnawulan.
"Ratnawulan,itulah yang membahagiakanhatiku. aku rela. aku girang dapat membelamu.
dapatmembela dengannyawaku. Ratna. aku. aku cinta padamu. sama besarnya dengan cintaku padaku.
Kau. kau cintakepadaku,bukan.?"
Koleksi Kang Zusi
Ratnawulan tak dapat menjawab, hanya air matanyasajamengucur makin deras danuntuk menjawab
pertanyaan terakhir dari pemuda ituia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
TerdengarIndrajayamenghela napas panjang.
"Aku puas. aku puas." dan tiba-tiba kepalanya terkulai. Pemuda itu menghembuskan napas terakhir.
"Indrajaya." Ratnawulanberbisik dan menggunakantangan kirinyamenutup kedua mata pemudaitu.
Pada saatitu terdengarpekikkesakitandan suara inimenyadarkan Ratnawulan. Ia cepat melompat
berdiri dan memandang ke belakang. Alangkahterkejutnya ketika ia melihat Adiprana terhuyunghuyung
kebelakang dengan kepala berlumur darah! Ternyatabahwa pemuda murid Eyang
Bromosaktiitu telahterkenapukulan tongkat Bagawan Mahapati!
"Keparat jahanam!"Ratnawulan berseru marah dan ia meloncat dengan KyaiBanaspati di tangannya
menyerang BagawanMahapati yang hendak memberi pukulan terakhir kepada Adiprana yang telah
roboh di atas tanah.Dengan hati penuh dendam dan kedukaan karena tewasnya Indrajayadan
melihat Adiprana yang telah roboh di atas tanah. Dengan hatipenuh dendamdan kedukaan
karenatewasnyaIndrajayadan melihat Adiprana terluka hebat pula, Ratnawulan lalumenyerang
dengan amat ganasnya.Bagawan Mahapati terpaksa terdesak mundur oleh seranganyang bertubi-tubi
datangnya dan yang dilakukan dengan nekad itu.
Akan tetapi, sebelum Ratnawulan dapat mebalaskan dendam karena kematian Indrajayadan
dirobohkannya Adiprana,tiba-tiba terdengarseruan keras.
"JengRatnawulan.!"
Suara ini dibarengi dengan datangnya serombongan pasukan.Pasukan Candrasa Bayu! Ternyata
bahwa pasukanistimewa ini telah dapatmenyerbu sampaikekotaraja danbersam dengan pasukanpasukan
pemberontakyang dipimpin oleh Kuti dan Semi,Majapahit telah menggempur mundur tentara
Majapahit!
Mendengar seruan ini danmelihatdatangnya pasukanpedang yang istimewa itu, Bagaimana
Mahapatilalu meloncat dan menghilang didalam gelap! Ratnawulan takdapat mengejarnya dan
Koleksi Kang Zusi
daraperkasa inisegera menghampiri Adiprana yangmasih rebah di atas tanah. Alangkah terkejut,
sakit hati, danseihnya ketikamendapat kenyataan bahwa Adiprana telah tewas pula oleh pukulan
tongkat Mahapati! Gadis ini menubruk Adiprana sambil menangis. Hatinya merasa perih bagaikan
disayat-sayat.Duaorang teruna perkasayang mencintainyatelah tewas di tempat itu, tewas dalam
pertempuranuntuk membelanya.Kalau diwaktu merekamasih hidup, mereka mendatangkan
kebimbangan di dalam hatinya, berat untukmemilih yang mana diantara kedua orang ksatria ini,
sekarang kematian mereka mendatangkan rasasedih danharuyang amat besar. Ia menjadi beringas
dan ketika semua anggota Pasukan Candrasa Bayu mengelilingi jenazah Adiprana untukmenyatakan
bela sungkawa, iabangkitberdiri dengan muka pucat, lalu berkata.
"Kawan-kawan,akuminta beberapa orang untuk mengurusjenazah Adiprana danIndrajaya. Uruslah
baik-baik dan kuburkan jenazah mereka sebagai ksatria-ksatria utama. Yang lain-lain, hayo
menyerbu terus! Hancurkan bala tentara Majapahit, runtuhlah kekuasaanraja dan marikita basmi
Bagawan Mahapati yang mendatangkan segala kejahatan!"
Ucapannya ini disambut oleh sorak-sorai semua anggota Pasukan Candrasa Bayu. Di bawah pimpinan
Ratnawulan, merekamenyerbu terus,menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan pemberontak lain
dibawah pimpinan Kuti dan Semi terus menyerbudan mengamuk dimedanperang, bertempur melwan
pasukan-pasukanMajapahit yang masihmempertahankankotaitu.
Bukan main hebatnya peperangan itu dan Pasukan Candrasa Bayumembuat jasa yang bukan kecil
dalampertempuran ini.Dimanasajamereka bergerak, bergelimanganlah perajurit-perajurit musuh.
Namun pasukan-pasukan Majapahit melakukan perlawanansengit sehinggakurban yang jatuh di kedua
fihak amat besarnya.
Semi, pemimpin pasukan pemberontak tewas pula dalam peperanganitu, dan demikian pula beberapa
orang pemimpin lain. Bahkan beberapa orang anggota Pasukan Candrasa Bayujuga gugur.
Ratnawulan sendiri mengamuk bagaikan seekor banteng terluka. Ia didampingi oleh Bejo, Raksasa
muda yang amat kuat itu,dan Parta, ahli panah yang pandai. Didalampertempuran yang terjadi amat
serunyadi depankeraton,di fihak Majapahit muncuk senopati-senopati yang gagah perkasadan
tangguh. Tiga orang panglima musuhyang amat gagahmenyambutserbuan Ratnawulan, Bejo dan Parta.
Yang menjadilawanBejo adalah seorang tinggibesar pula, seorang panglima Majapahit yang bernama
Demang kandangan.Ia adalah seorang berpangkat demang didusun Kandangan dan
kepadaiannyatinggi, karenaia memiliki kekebalan. Kulitnyakeras tak tertembus oleh senjata tajam.
Bukan main hebatnya pertandingan yang terjadi antara DemangKandangan dan Bejo. Pukul-memukul,
tending-menendang,hempas-menghempas! Ilmu lawan ilmu, tenagabertemu tenaga, dan entah sudah
Koleksi Kang Zusi
berapa kali mereka saling terkena pukulan lawan. Terdengar "Bak! Buk!Bak!Buk!" kepalan mereka
mengenai tubuhl awan, akantetapi keduanya kebaldan kuat.Terkena pukulan keduanya merasa
dihinggapi lalat saja.
Demang Kandangan menjadi penasaran dan marah sekali. Ia mencabut senjatanya yang ampuh,
sebuah lembing dengan ronce-ronce benang lawe merah.
"Babo-babo!" sumbarnya. "Kaumengamuksepertisetankelaparan. Mampuslahdi bawah lembingku!"
Bejotertawa terbahak-bahak sambil mencabut pedangnya. "Aku sudah bosan mempergunakan
pukulantangan.Rasakanlah pedang Candrasa Bayu!" Sambil berkata demikiania menyerang dengan
sebuah tusukan hebat.
Biarpun iakebal, namun menghadapi tusukan pedang yang dilakukan dengan tenaga yang melebihi
tenaga banteng besarnya. Demang Kandangan tidak berani menerima ujung pedang dengan dadanya.
Bahanya terlalu besar,maka ia lalu menggerakkan lembingnya untuk menangkis.Kemudian ia membalas
dengan serangan yang tak kalahhebatnya, namun dengan mudah Bejo dapat menangkis pula.
Pertempuran ini benar-benar hebat. Tak seorangpun perajurit dari kedua fihak beranimembantu.
Dua orang telahtewasketikamencoba untukmembantukawan, yaitu seorang dari pemberontak.
Olehkarena itu, perajurit-perajurit lain kini hanya menonton saja, lupa untukbertempur saking
kagumdan tertariknya menyaksikan pertempuran yang luar biasa ini.
Pada suatu saat Demang Kandangan berlaku agak lambat sehingga pedang Bejo dapat menyerempet
pundaknya. Ia berteriak keras, tak sempat mempergunakan aji kekebalandan kulit pundaknya
berikut daging terbabat mengeluarkandarah. Kawan-kawan Bejo bersorak girang, membuant Demang
Kandangan marah sekali.Iaberseru kerasdan pada saatBejo memandangnya dengan mata penuh
ejekan danmulut tertawa melihat hasil babatannya ,ia mempergunakan lembingnya untuk
menyerampang kaki Bejo. Bejo melompat untuk mengelak,akan tetapi kurang cepat sehingga lembing
yang berat itumasih dapat mengetuktulang leringnya.
"Aduh.! Bangsat kurang ajar!" Bejomemaki dan terpincang-pincang karena betapapun kuatnya,
tulang kering yang dihantam lembing dengan tenaga yang amat besarnya itu sakit sekali seakan-akan
remuk.Sambil berloncat-loncat dan terpincang-pincang menahansakit ia memaki-maki. Kawan-kawan
Demang Kandangan bersorak girang.
Koleksi Kang Zusi
Keduanyatelah terluka dan keduanya telah menajdi marah sampaigelap mata. Dengan nekad Bejo
menubruk dengan pedang ditanga. Demang Kandangan menyambut. PedangBejo menembus dada
lawan,akan tetapi perutnya juga ditembus oleh lembing Demang Kandangan. Keduanya menjerit, akan
tetapi masih cukup mempunyai tenaga untuk saling terkam. Pergulatan terjadi,saling cekik, saling
jambakdan akhirnya roboh terguling, bergulingan sebentar ke kanan kiri, saling menghempas,
kemudian.merekatak bergerak lagi. Keduanya tewas dalam keadaan masih saling cekik. Sungguh
pemandangan yang mengerikan. Dua orangmuda dan kuat, dua orang perajurit sejati yang sedianya
akan dapat menjadi perajurit-perajurit gagah perkasa pembela Negara dan bangsa, karena
bersimpangan jalan hidup,harus mengakhiri hidup dengan salingbunuh.
Untuksesaat,perajurit-perajurit kedua belah pihak tak dapat bergerak, masih terpesonaoleh
kehebatan perkelahianantaraDemang Kandangan danBejo. Akn tetapi, setelah kedua pahlawan
itutewas, barulah merekabergerak.Sorak-soraiterdengar lagi dan pertempuran di langsungkan,
seakan-akan kedua orang gagah tadimemberi contoh kepada kawan-kawannya.
Ratnawulan dan Parta masih mengamuk terus, memimpin anak buah Pasukan Candrasa Bayu maju
terus menyerbu kedepan. Pak Waluya, anggota tertua dari pasukan itu,telah gugur sebelum pasukan
berhasilmemasuki kotaraja.
Sampai keesokan harinyapertempuran masih terjadidi sana-sini.Semalamsuntuk pasukan Majapahit
mempertahankan istana,akan tetapi fihak pemberontak lebih kuat.Akhirnya pertahanan dapat
dibobolkan, sisa-sisa tentara Majapahita melarikan diri atau menyerah.
Penyerbuan ke dalamistana dikepalai oleh Kuti sendiri, pemimpin besar pemberontak. Ternyata
bahwa Sang PrabuJaya nagara tidak berada didalamistana, telah pergi mengungsi. Memang, setelah
melihat bahwa pertahanan dapat dipukulhancur olehpasukan-pasukan pemberontak yang dipimpin
oleh Kuti,Sang Prabu Jayanagara terpaksa melarikandiri, mengungsi ke Badander.Dengan
diperlindungi olehpasukan istanayang dikepalai oleh Gajah Mada, Sang Prabu Jayanagara dapat
menyelamatkan diri dan meninggalkan istana. Iniadalah jasa Gajah Mada yang gagahperkasa dan
setia.
Kuti dapatmerampasistana danmenduduki singgasana Majapahit. Akan tetapi,alangkah kecewa dan
penasaran hatipara pembantunya, terutama para panglima yangingin melihat pengaruhBagawan
Mahapati dilenyapkan dari Majapahit, ketika melihat bahwa Kutibukan saja tidak menghukum atau
menyuruh tangkap bagawanitu, bahkan sebaliknya Bagawan Mahapati diberi kedudukanoleh
rajabaruini!
Koleksi Kang Zusi
Juga Ratnawulan menjadi kecewa sekali, akantetapi seperti juga lain-lain panglima yang tadinya
memabantu Kuti, apakah yangd apat ialakukan? Kuti telah mendudukisinggasana dan kedudukannya
kuat sekali. Dara perkasa ini masih merasa sedih karena tewasnya Indrajaya dan diprana.Hatinya
menjaid lemah dansemangatnyamenipis. Iatelah dapat membinasakan musuh besarnya, yaitu Kartika
maka ia dapat merasa puas. Namun, bukan kepuasan hati yang ia dapat marena sempurnanya tugas
ini,bahkan perjalanannyaitu menimbulkan patah hati karena dua orang teruna yangmenjadi harapan
hatinya tewas dalam membelanya.Iatiada nafsu lagi untuk ikut mencampuri urusan kerajaan, maka
setelah peperangan itu selesai,Ratnawulan lalu kembali ke Mahameru.
Ia disambut oleh ibunya dengan pelukan mesradan setelah berada dalam pelukan ibunya, barulah
Ratnawulan dapat menangis sepuasnya. Ia terisak-isakdi dalam pelukan ibunya, merasa betapa
hatinya hancurdan luka, betapa hidupnyaseakan-akansunyisenyap.
"Wulan, anakku, apakahyang terjadi, nak? Tak berhasilkan kau membalas dendam ayahmu?"
Ratnawulan tak dapat menjawabuntuk beberapa lama, hanya menangis makinsedih. Terbayang di
antara air matanya wajah Indrayana. Ia melihatsenyum di bibiryang sudah pucat dariIndrayana,
senyumyang mengantarkematian pemuda itu. Ia merasa seakan-akan pemuda itu menanti-nantinya di
seberangsana!
Kemudian, di antara isaktangisnya, Ratnawulanmencurahkan seluruh isihatinya kepada ibunya. Dara
Lasmiikut mencucurkan airmatanya mendengar kisah anaktunggalnya itu.Diam-diamia menyebutnama
Yang Maha agung,mengucapkan syukur bahwamusuh besar itu telah dapat ditewaskanlehanaknya,
akantetapi juga ia membumbungkan doa semoga kehancuran hati puterinyaitu akan dapat terhibur.
Ketika ia menanyakan tentang gurunya, ibunya memberitahu bahwa Eyang Mahameru telah lama
meninggalkan puncak Mahameru,entah kemanapergunya pertapasakti itu. Ratnawulan lalu tinggal
bersama ibunya di puncak Mahameru, hidup dengan aman dan tenteram, menjauhi dunia ramai.
Setelah pemerintahan berada di tangan Kuti yangdibantu oleh Bagawan Mahapati, barulah
semuaorang menjadimenyesal. Ternyata bahwa pemberontakini tak lebih baik daripada Sang Prabu
Jayanagara, bahkanlebihburuk dalam menjalankan kemudi pemerintahan.Apa lagi para panglima yang
tadinyamemberontak, baru terbuka mata mereka menyaksikan betapa Bagawan Mahapatiyang
dibenciitu bahkanmenduduki tempatyang tak kurangtingginya daripada ketika pemerintahanberadadi
tangan SangPrabu Jayanagara!
Koleksi Kang Zusi
Mulailah timbul bisikan-bisikandan pertemuan-pertemuan rahasia di antara para pembesar negara,
membicarakan dan menyesalkan kealahan tindakan ini. Mulailah merekamengenangkan kembali Sang
PrabuJayanagarayang kini entahberadadi mana.
Sementaraitu,Sang Prabu Jayanegara mengungsi ke Badander, dandiringkan dengan setia
oleh Gajah Madadan kawan-kawannya. Gajah Mada yangsetiadan bijaksana ini tiada hentinya
mencari keterangan tentang keadaan Majapahit setelah singgasana diduduki oleh Kuti.Ia mendengar
tentang kekecewaandan penyesalan para pembesar negara,maka dengan amat cerdiknya Gajah
Madalalu menjalankan sebuah siasat.Setelah mendapatperkenan dari Sang Prabu Jayanagara,
GajahMada diam-diam masuk ke dalam kota raja menemui para pembesar-pembesar negara yang
berkedudukan tinggi danyang menguasai pasukan-pasukanMajapahit.
Setibanya GajahMada di Majapahit, maka para pembesar negara menghujankan pertanyaan
kepadanya tentangSang Prabu Jayanagara yangdahuludiperlindungi Bhayangkari (Pasukan Pengawal
Istana)di bawah pimpinan Gajah Mada itu.
Denganwajah muram Gajah Madamenjawab."Mengapa pulasaudara-saudara bertanya tentang yang
telahkaliankhianati itu? Karena merasa amat berdukamelihatbetapa dahulu mengabdi kepada
keturunanMajapahittiba-tiba membantu para pemberontak, beliau menjadi geringdan akhirnya
meninggal dunia dalam keadaan yang amat sengsara."Sambil berkata demikian,Gajah
Madamengerling tajam kepadapara pembesarnegara itu dengan penuh perhatian.
Bukan main terkejutnya para pembesar itu demi mendengar keterangan ini. Banyak di antara
mereka yang mengucurkan air mata karena sedih dan menyesal. Hal ini amat membesarkan hati
Gajah Mada.
"Mengapa kalianberdua? Bukankah halini yang kaliankehendaki? Apa artinya hidup atau matinya
sang prabu bagi kalian?"
Seorang adipati yang sudah berusialanjut berkata.
"Gajah Mada, kau tak tahu! Kami bukan membenci Sang Prabu Jayanagara, akn tetapi Mahapatilah
yang mendatangkan rasabenci di hatikami. Telah berkali-kalikamimengajukan usul kepada sang prabu
agar supaya bagawanyang berhati palsu itu dienyahkan dariistana, akan tetapi sang prabu yang
agaknya telah beradadi bawah pengaruh bagawanitu, tak pernah mendengarkan usul kami. Maka,
Koleksi Kang Zusi
setelah melihat gerakan Kuti yang demikian kuat,timbul harapan kami untuk mengenyahkan
kekuasaanMahapti dari Kerajaan Majapahit. Siapa kira, setelah Kuti berhasilmenduduki singgasana,
Mahapati tidakdigangu, bahkan diberikedudukan tinggi!"
Gajah Mada tersenyum. "Kalau sekiranya Sang Prabu Jayanagara masih hidup, kalian hendak
berbuat apakah?"
"Kalausang prabu masih hidup, kami sanggup untuk menggulingkankedudukan raja baruini dan
mengangkatsang prabu menjadi rajadan mendudukisinggasanakembali." kata mereka.
Maka dengan wajah berseri Gajah Madalalu menerangkan bahwa sesungguhnya Prabu Jayanagara
masih hidup dan kiniberada di Badander, bahwa iasengaja datang untuk melihat sikap parapembesar
dan panglima. Bersukacitalah semuaorang mendengar ini danmereka lalu mengadakan rencana dan
perundingan untuk melakukan pemberontakandari dalam. Setelah mengadakan perundingandengan
masak,gajah Madalalu kembali keBadanderdengan hati girang dan segera melaporkan segala
pengalamannya kepada Sang Prabu Jayanagara.
Sambil bercucuran air mata,Sang Prabu Jayanagara berkata.
"Memang aku telah terbujuk oleh kemahiran Mahapatibermanismulut.Akutelah melakukan salah
tindak,akan tetapi aku berjanji bahwa apabila YangMaha Agung memberikesempatan kepadaku untuk
memegang tampuk kerajaanlagi,akuakan mengusahakan sekuat tenaga agar Majapahit
menjadisebuah negara yangbesar dan makmurdi mana rakyatkudapat hidup dengan aman sentausa
dan penuh damai bahagia."
Maka terjadilah pemberontakan yang hebat akan tetapi cepat. Karena pemberontakan dilakukan
dari dalam, didukung oleh sebagaian besarpanglima dan pembesarnegaraberserta pasukan-pasukan
pilihan, maka perlawananyang amat lemah dari Kuti dan anak buahnya hanya dapat bertahan
sebentarsaja.Kutiikut bertempur dengan mati-matian, akantetapi akhirnya ia tewas juga dalam
perang tanding itu.
Ketika hal ini terjadi, Mahapati berada di dalam gedungnyayang baru.Ia tidak ikut berperang, dan
hanya memujaSamadhi di dalam sanggar pemujan.
Koleksi Kang Zusi
Pasukan Majapahit datang dan hendak menangkapnya, akan tetapi tak seorang panglimapun berani
secara sembrono memasuki sanggar pemujan itu, karena mereka telah maklum akan kesaktian
Bagawan Mahapati. Mereka hanya berteriak-teriak menyuruh Bagawan itu keluar dan menyerahkan
diri untuk ditangkap.
Tiba-tiba pintu pemujaan itu terbuka dari dalam dan Bagawan Mahapati sendiri keluar dari situ. Ia
berpakaian lengkap seperti seorang pendeta, bahkan di tangan kirinya ia memegang sebuah lembing
pusaka yang berkilat-kilat cahayanya, dan di tangan kanan ia memegang tongkatnya yang ampuh.
Sepasang matanya berapi-api memandangi seluruh pasukan yang mengepung tempat itu. Kemudian ia
turun perlahan-lahan dari tangga sanggar pamujaan. Semua suara sorakan dan teriakan dari pasukan
itu tiba-tiba berhenti dan keadaan menjadi hening seperti terkena sirap. Benar-benar hebat
pengaruh dan hawa gaib yang keluar dari Bagawan Mahapati ini.
"Siapa yang mau menangkap aku? Majulah kalau ada yang berani melakukan hal itu!"
Tantangan ini terdengar menggema dan mendebarkan hati setiap orang. Akan tetapi, akhirnya ada
seorang panglima muda yang melangkah maju dan mencabut pedangnya.
"Pertapa palsu! Akulah yang akan menangkapmu,mati atau hidup!" teriaknya dan menyerbu ke depan.
Akan tetapi Mahapati tertawa mengejek dan sebelum panglima itu sempat menyerang, tongkatnya
telah melayang dan tepat sekali menghantam kepala panglima itu sehingga pecah dan tubuh panglima
itu terkapar diatas rumput, mati.
Semua orang tertegun dan merasa ngeri. Akan tetapi jiwa setia kawan membuat beberapa orang
perajurit dan panglima serentak maju mengepung. Bagawan Mahapati menggerakkan tongkatnya
secara luar biasa sekali sehingga kembali beberapa orang terpukul. Sekali saja terpukul tongkat
bagawan itu, kurbannya mengelimpang tak bernyawa lagi. Kini para pengeroyokmulai menjadi gentar
dan banyak yang mundur dengan ketakutan.
Sambil tertawa bergelak-gelak, Bagawan mahapati mengamuk terus dan makin banyak darah yang
ditumpahkan lawan oleh pukulan-pukulannya, makin liar dan ganaslah dia. Sambil mengamuk ia
mengejar para perajurit yang melarikan diri dan akhirnya Bagawan Mahapati berdiri di tengah alunalun,
mengangkat tongkatnya yang berlumur darah itu tinggi-tinggi sambil menantang.
"Hayo, orang-orang Majapahit! Jangan maju seorang demi seorang, majulah bersama-sama.
Tandinglah kedigdayaan Bagawan Mahapati! Ha, ha,ha!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Mahapati, pendeta palsu! Akulah lawanmu!"
Mahapati menengok dan terkejutlah hatinya ketika ia melihat bahwa yang muncul itu adalah
Ratnawulan, dara perkasa yang telah dikenal kesaktiannya itu!
Bagaimana Ratnawulan tiba-tiba dapat muncul di situ? Dan pendekar ini biarpun berada di puncak
Mahameru, akan tetapi ia masih dapat mendengar berita dari para penduduk di sekeliling Mahameru
tentang keadaan di Majapahit. Ketika ia mendengar bahwa di Majapahit terjadi peperangan lagi oleh
karena panglima tua memberontak terhadap Kuti dan Mahapati,dara perkasa ini amat tertarik
Koleksi Kang Zusi
hatinya. Ia teringat akan hutang bagawan itu yang masih belum terbayar, hutang karena membunuh
Adiprana. Maka ia lalu berpamit kepada ibunya untuk membantu pergerakan para panglima itu dan
membinasakan kekuasaan Mahapati.
"Anakku, aku takkan dapat melarang kehendak hatimu ini, sungguhpun aku akan selalu memikirkan
dan mendoakan agar supaya kau selalu diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Agung."
Ratnawulan lalu perg ike gua pertapaan gurunya. Akan tetapi gurunya masih belum kembali dan di
dalam gua itu ia melihat sebuah anak panah yang agaknya baru di buat oleh gurunya. Ia amat
tertarik melihat anak panah yang mengeluarkan cahaya gemilang itu, maka ia lalu mengambilnya.
Alangkah herannya ketika ia melihat sehelai kain putih itu ternyata ditulisi huruf-huruf kecil. Ia
segera membaca tulisan gurunya itu yang berbunyi,
"Anak panah Margapati ini kubikin untuk Ratnawulan. Jangan sekali-kali dipergunakan kalau tidak
amat terpaksa, karena khasiat anak panah ini satu kali, dan sekali ia dipergunakan, ia akan
mengambil nyawa seorang!"
Ratnawulan menjadi girang mendapatkan anak panah ini yang lalu disimpannya di dalam tempat anak
panah. Demikianlah, setelah mendapat doa restu dari ibunya ia lalu berangkat ke Majapahit dan
ketika ia tiba disana, kebetulan sekali Mahapati sedang mengamuk hebat. Banyak panglima yang
maju telah tewas dalam tangan Bagawan Mahapati sehingga akhirnya pendeta itu menantangnantang
dialun-alun tanpa adat yang berani menyambut tantangannya. Ratnawulan menjadi panas hati
dan segera maju menghadapi pendeta yang amat dibencinya itu.
Di antara para panglima, banyak yang telah tahu akan Ratnawulan atau setidaknya mendengar nama
dara perkasa itu, maka kini melihat seorang dara jelita yang gagah muncul menghadapi pendeta itu,
mereka lalu maju mendekat untuk menyaksikan pertandingan ini. Diantara mereka itu terdapat
seorang bekas anak buah Pasukan Candrasa Bayu, maka begitu ia melihat Ratnawulan, ia segera
bersorak keras.
"Hidup Dara Perkasa Ratnawulan.!"
Ratnawulan menengok dan ketika melihat Jayun, anak buahnya dulu, berdiri diantara para panglima
kerajaan, ia tersenyum dan melambaikan tangan. Kini semua orang yang berada di situ saking
gembiranya bersorak gemuruh.
"Hidup Dara Perkasa Ratnawulan.!"
Bagawan Mahapati marah sekali mendengar ini dan iaberseru.
"Ratnawulan,saat inilah yang kutunggu-tunggu! Kau akanmampus di dalam tanganku!"
"Cobalah, Mahapati!" jawab Ratnawulan dengan tenang.
Mahapati menyerbu dengan lembing di tanga nkiri dan tongkat di tangan kanan, akan tetapi dengan
tangkas Ratnawulan mengelak dan balas menyerang dengan pedangnya. Ia bersenjata pedang di
tangan kiri dan keris Kyai Banaspati di tangan kanan untuk mengimbangi kedua senjata lawannya itu.
Pertandingan maha hebat terjadilah ditengah alun-alun itu, disaksikan oleh ratusan orang perajurit
yang sebentar saja telah meningkat jumlahnya menjadi ribuan.
Koleksi Kang Zusi
Keduanya sakti dan digdaya, dan keduanya memiliki gerakan yang luar biasa cepatnya sehingga bagi
para penonton yang tidak memiliki kepandaian tinggi, kedua orang yang bertempur itu lenyap dari
pandangan mata dan nampak hanyalah berkelebatnya empat senjata yang menyambar-nyambar
laksana kilat. Bagi yang berkepandian tinggi, mereka mengangguk-angguk dengan kagumnya
menyaksikan ilmu kepandaian yang jarang terlihat itu. Baik Mahapati maupun Ratnawulan
mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk menjatuhkan lawan. Mahapati menang
pengalaman dan menang tenaga, akan tetapi Ratnawulan lebih unggul dalam hal keterampilan dan
kecepatan, maka boleh dibilang keadaan mereka seimbang.
Pada saat mereka telah bertempur sampai ratusan jurus lamanya, Mahapati mengayun tongkatnya
dengan sepenuh tenaga kearah kepala Ratnawulan sambil menusukkan lembingnya ke arah dada dara
perkasa itu. Ratnawulan paling taku tkepada lembing itu, karena ia teringat akan nasihat gurunya
dahulu bahwa ia harus berlaku waspada terhadap lembing Mahapati yang bernama Ratnawulan ini!
Maka ia selalu memperhatikan lembing itudan ketika lembing menusuk ke dadanya, ia cepat
mengelak. Pukulan tongkat kearah kepalanya ditangkis dengan pedang.
"Trang!" dan kedua senjata itu terpental dan terlepas dari pegangan masing-masing. Kini
pertempuran dilanjutkan dengan lembing dan keris. Ratnawulan mulai terdesak karena kerisnya yang
hanya pendek itu amat sukar untuk digunakan melawan serangan lembing yang panjang. Semua
penonton menahan napas ketika melihat betapa Ratnawulan main mundur seakan-akan takut
menghadapi lembing itu. Akan tetapi, tiba-tiba Ratnawulan mengambil busurnya yang tergantung di
punggung dan kini dara perkasaitu mempergunakan senjata keris dan busur.Bukan main riuhnya para
penonton menyaksikan kehebatan gadis pendekar itu. Bagaimana sebatang busur dapat dipergunakan
sebagai senjata yang demikian hebatnya? Memang busur di tangan Ratnawulan bukanlah busur biasa,
akan tetapi busur buatan Eyang Semeru, buah senjata yang ampuh dan sakti.
Benar saja setelah kini bersenjatakan busur dan keris, Ratnawulan mulai mendesak lawannnya. Ia
mengirim serangan bertubi-tubi dengan busurnya yangsekali saja mengenal tubuh lawan, akan
berarti malapetaka besar bagi Mahapati. Dan pada saat yang amat tepat, dara pendekar ini
mengeluarkan ilmu tendangannya yang amat dahsyat. Bagawan Mahapati tidak menyangka datangnya
tendangan ini, maka iakena tertendang dadanya sehingga tubuhnya terpental sampai jauh.
Terdengar sorak-sorai yang amat riuh menyambut hasil tendangan ini.
Sugguhpun ia sama sekali tidak terluka atau merasa sakit oleh tendangan Ratnawulan, namun
Bagawan Mahapati tidak menyangka datangnya tendangan ini,maka ia kena terpental sampai jauh.
Terdengar sorak-sorai yang amat riuh menyambut hasil tendangan ini.
Sungguhpun ia sama sekali atau merasa sakit oleh tendangan Ratnawulan, namun Bagawan Mahapati
merasa malu sekali. Ia mengertak giginya, lalu bibirnya berkemak-kemik membaca mantra. Kemudian
ia tiba-tiba melompat bangun, dan sekali tangannya terayun, lembingnya meluncur cepat melebihi
kecepatan anak panah.
Ratnawulan hanya melihat berkelebatnya cahaya dari depan seakan-akan ada kilat menyambarnya
dan sebelum ia dapat mengelak, lembing pusakaitu telah menancap di ulu hatinya. Dara perkasa
membayangkan gurunya, ia membaca mantra. Benar-benar luar biasa sekali. Sungguhpun lembing itu
telah menancap di uluhatinya dan darah mengucur keluar membasahi seluruh dadanya,bahkan kini
tangan kirinya bergerak kebelakang mencabutanak panah pusaka pemberian gurunya. Ia membuka
mata,memasang anak panah itu pada busurnya.
Koleksi Kang Zusi
Sementara itu, Bagawan Mahapati ketika melihat betapa lembingnya dengan jitu telah menancap ke
uluhati lawannya, tertawa bergelak.Mulutnya terbuka lebar dan mukanya menengadah keatas,
tubuhnya bergoyang-goyang dan suara ketawanya amat menyeramkan seperti suara ketawa iblis.
Akan tetapi tiba-tiba anakpanah pusaka Margapati meluncur dari busur di tangan Ratnawulan dan.
cepp.! Anak panah itu tepat sekali menancap di dada kiri Mahapati dan menembus jantungnya.
Bagawan Mahapati mengeluarkan jerit seperti bunyi burung gaok lalu tubuhnya terhuyung-huyung
dan roboh menelungkup dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Ratnawulan tersenyum, dan ketika semua orang berlari-lari menghampiri untuk menolongnya,
mereka melihat dara perkasa itu jatuh berlutut dan terdengar oleh mereka gadis itu mengeluh.
"Indrajaya.Adiprana.tunggu.!" Kemudian tubuhnya terguling dan ketika mereka mengangkatnya,
ternyata bahwa dara perkasa itu telah meninggalkan dunia ini!
Suasana haru meliputi alun-alun dan bahkan terdengar isak tangis para anggota Candrasa Bayu yang
menyedihi kematian pemimpin atau pelatih mereka.
Sementara itu, kerajaan telah dapat dibersihkan dari pengaruh para dorna dan pembesar jahat,
dan dengan segala kehormatan, diiringi oleh suara gamelan dan sorak-sorai penduduk, Sang Prabu
Jayanagara lalu kembali ke kora raja untuk menduduki singgasana lagi. Semua rakyat menyambut
kemenangan ini dengan girang dan bahagia. Dan semenjak saat itu, Jayanagara memerintahkan
dengan tenang dan samai sampai tiba saatnya ia mangkat dalam tahun 1328.
Kalau semua orang sedang bergembira menyambut kembalinya Sang Prabu Jayanagara, terdapat
seorang wanita di puncak Mahameru yang duduk bersiladi hadapan Panembahan Mahendraguna atau
Eyang Semeru dengan wajah pucat. Dia ini adalah DaraLasmi yang telah diberitahu tentang
tewasnya Ratnawulan, dan hanya kata-kata bijaksana wejangan-wejangan Eyang Semeru jualah yang
dapat menghibur hatinya.
Semenjak hari itu, Dara Lasmi makin tekun dalam tapanya di puncak Mahameru, menanti datangnya
panggilan Yang Maha agung untuk kembali kealam asalnya.
TAMAT
.