“Karena aku belum makan, seharusnya sekarang aku sedang duduk di sebuah kursi yang nyaman dan minum arak bersama pamanmu,” Ia tersenyum. “Tapi aku malah berada di sini, seperti orang tolol, menggali sebuah lubang.”
Soat-ji mengedip-ngedipkan matanya.
“Jadi kau mengusulkan agar seorang gadis kecil sepertiku melompat turun ke sana dan menggali, sementara kau menonton di pinggir?”
“Tidak, itulah sebabnya aku sekarang menderita.”
“Apa yang kau bicarakan? Menderita? Ini adalah sebuah kehormatan.”
“Kehormatan?”
“Jika orang lain berlutut dan memohon padaku untuk menggalikan sebuah lubang untukku, aku bahkan tak akan mau mengijinkannya.”
Liok Siau-hong menarik nafas, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia seharusnya tidak datang mencari setan kecil ini, bahkan seharusnya tidak bicara dengannya lagi.
Tapi segera ia menyadari bahwa jalan fikirannya itu keliru. Pada ayunan cangkulnya yang terakhir, ujung sebuah baju berwarna merah menyala tiba-tiba muncul di tanah.
Soat-ji pun sudah melompat bangkit.
“Lihat? Aku benar, bukan? Ada seseorang yang terkubur di sini!”
Kali ini, tanpa disuruh olehnya pun Liok Siau-hong akan terus bekerja. Ia meletakkan cangkul dan menggantinya dengan sekop. Beberapa ayunan sekop kemudian, mayat itu pun mulai kelihatan. Ajaibnya mayat itu belum mulai membusuk.
Soat-ji sudah mengambil lentera yang tergantung di sumur. Cahayanya kebetulan menyinari wajah mayat itu.
Tiba-tiba ia menjerit ngeri, hampir saja ia menjatuhkan lentera itu ke atas kepala Liok Siau-hong.
Liok Siau-hong pun terkejut. Ia belum pernah terkejut seperti ini dalam hidupnya.
Mayat itu bukanlah mayat Siangkoan Hui-yan, itu adalah mayat Siangkoan Tan-hong!
Sinar lentera terayun ke sana ke mari, karena tangan Soat-ji gemetaran tiada hentinya.
Wajah mayat itu bukan hanya belum mulai membusuk, malah wajah itu pun seperti masih hidup, kedua matanya terbelalak, seolah-olah sedang menatap Liok Siau-hong.
Liok Siau-hong bukanlah seorang pengecut, tapi waktu ia teringat pada pengalamannya bersama Siangkoan Tan-hong beberapa saat yang lalu, ketika ia teringat pada senyumnya yang manis dan menggoda, tangannya terasa seperti lumpuh dan ia tak mampu memegang sekop itu lagi.
“Buk!”
Sekop itu jatuh dari tangannya dan kebetulan mendarat di tubuh mayat tersebut. Terdengar sebuah suara seperti suara logam yang saling berbenturan. Liok Siau-hong pun membungkuk dan menyentuh mayat itu, baru kemudian ia menyadari bahwa tubuh mayat itu dingin dan keras, seolah-olah terbuat dari logam.
Tangannya pun menjadi dingin. Ia menarik nafas dalam-dalam.
“Dia benar-benar diracuni orang.” Ia menyimpulkan.
“Siapa? siapa yang meracuni dirinya?”
Liok Siau-hong tidak menjawab, karena ia tidak tahu jawabannya.
“Bila seseorang mati karena racun, tubuhnya seharusnya membusuk dengan cepat. Jadi, kelihatannya ia belum lama mati.” Soat-ji menduga-duga.
“Dia sudah lama mati.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena racun di tubuhnya telah merembes ke dalam tanah.”
Kata-kata itu persis sama dengan yang diucapkan Soat-ji tadi, ternyata dia memang benar.
“Di samping itu, coba lihat petak tanah ini, sepertinya sudah sebulan atau dua bulan tidak disentuh orang.” Liok Siau-hong menambahkan.
“Jadi maksudmu, dia sudah mati paling sedikit satu atau dua bulan?”
“Ya.”
“Lalu kenapa tubuhnya belum mulai membusuk?”
“Karena racun yang membunuhnya adalah jenis racun yang sangat aneh dan ganjil. Ada racun yang bisa mengawetkan tubuh manusia hingga beratus-ratus tahun lamanya. Di samping itu, tanah di sini bukan hanya luar biasa keringnya, di sini juga tidak ada tanda-tanda semut atau kumbang atau serangga lainnya, mayat apa pun yang dikuburkan di sini tidak akan cepat membusuk.”
Suaranya terdengar monoton dan lambat, karena sementara ia mengucapkan satu hal dengan mulutnya, fikirannya tertuju ke hal lain. Begitu banyak urusan yang ada di dalam fikirannya.
Soat-ji pun diam-diam sedang berfikir.
“Satu atau dua bulan yang lalu? Kakakku belum pergi mencari Hoa Ban-lau.” Ia bergumam pada dirinya sendiri.
Liok Siau-hong yang sedang merenung pun mengangguk.
“Setelah kakakku pulang membawa Hoa Ban-lau, baru aku pun ikut pergi dengannya untuk mencarimu.”
“Benar.”
“Jika dia telah mati satu atau dua bulan yang lalu, lalu bagaimana dia pergi dan menemukanmu? Bagaimana kau bertemu dengannya?”
“Siangkoan Tan-hong yang aku temui, bukanlah Siangkoan Tan-hong yang tulen.”
“Lalu siapa dia?”
Liok Siau-hong tidak menjawab, ia malah balik bertanya.
“Dalam dua bulan terakhir, pernahkah kau melihat kakakmu dan dia pada saat yang bersamaan?”
Soat-ji berfikir beberapa lama, lalu menggelengkan kepalanya.
“Tidak, kurasa tidak.”
“Dalam dua bulan terakhir, apakah kau merasa sikapnya padamu agak berbeda?”
Soat-ji berfikir beberapa lama lagi, lalu mengangguk.
“Ya. Sebelumnya, bila dia bertemu denganku, dia tentu akan berbincang-bincang dan bergurau sebentar, tapi akhir-akhir ini dia seperti selalu menghindariku.”
“Itu karena dia takut kalau kau mengetahui bahwa dia bukanlah Siangkoan Tan-hong yang tulen!”
“Lalu siapakah dia?” Soat-ji mengerutkan keningnya. “Dia kelihatan benar-benar tulen, mungkinkah…...”
Tiba-tiba ia melompat bangkit lagi.
“Apakah kau ingin mengatakan bahwa Siangkoan Tan-hong yang kau lihat sebenarnya adalah kakakku yang menyamar?” Ia hampir berteriak.
Liok Siau-hong tidak menjawab. Kadang-kadang, tidak menjawab itu berarti mengiyakan.
Soat-ji menatapnya dengan marah.
“Apakah kau ingin mengatakan bahwa Siangkoan Tan-hong bukan hanya tidak membunuh kakakku, tapi kakakku yang malah telah membunuhnya!”
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Aku hanya tahu bahwa kenyataannya dia telah mati sekarang.”
“Tapi kenapa kakakku membunuhnya? Bisakah kau memberiku sebuah motif atau alasan?”
Liok Siau-hong tidak menjawab, tapi apakah hal itu karena ia tidak bisa memikirkan satu pun alasannya? Atau karena ia tidak ingin mengatakannya? Tiba-tiba ia berjongkok untuk melepaskan sepatu mayat itu.
“Apa yang kau lakukan?” Soat-ji bertanya dengan heran.
“Aku ingin melihat kakinya.”
“Kau gila, benar-benar gila.” Soat-ji berteriak.
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Aku tahu bahwa hal ini benar-benar gila, tapi aku tetap harus melihatnya.” Ia tersenyum putus asa.
Ia melepaskan sepatu itu, di kaki yang mulus dan indah itu benar-benar ada 6 buah jari kaki.
Soat-ji tiba-tiba terdiam.
“Ini memang sepupuku.” Ia berkata dengan suara haru.
“Kau tahu kalau sepupumu punya 6 jari kaki?”
“Mmhmm!”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Dia tak pernah membiarkan orang lain melihat kakinya. Kadang-kadang, waktu kami melepaskan sepatu kami untuk bermain-main di sungai, hanya dia yang tak mau melepaskan sepatunya.”
Semua gadis selalu ingin terlihat cantik, memiliki 6 jari kaki bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.
“Semakin ia tidak mengijinkan orang lain melihat, semakin aku ingin melihatnya. Maka, suatu hari, aku masuk ke kamarnya waktu ia sedang mandi.”
Liok Siau-hong tertawa sedih. Hanya itu yang bisa ia lakukan, setan kecil ini tampaknya mampu berbuat apa saja.
“Semula ia benar-benar marah, tapi kemudian ia memohon padaku untuk tidak memberitahu siapa-siapa.” Soat-ji meneruskan.
“Dan kau mengatakan ya?”
Soat-ji mengangguk.
“Aku belum pernah memberitahukan hal ini pada orang lain.”
“Termasuk kakakmu?”
“Ia pun tidak tahu, aku tak pernah memberitahunya.”
Liok Siau-hong berfikir sebentar.
“Kapan pamanmu membuntungi kakinya?” Tiba-tiba ia bertanya.
Terlihat ekspresi terkejut di wajah Soat-ji.
“Kakinya dibuntungi? Kenapa aku tidak tahu hal ini?”
Liok Siau-hong pun heran mendengar jawabannya.
“Kau benar-benar tidak tahu?”
“Baru kemarin siang aku melihatnya berjalan ke arah tempat kakakku memelihara burung merpatinya untuk memberi mereka makan.”
Mata Liok Siau-hong tiba-tiba mulai berkilauan.
“Seseorang menyamar sebagai sepupuku selama dua bulan terakhir, kenapa pamanku tidak mengetahuinya?” Soat-ji bergumam pada dirinya sendiri.
Ia ingin bertanya pada Liok Siau-hong, tapi Liok Siau-hong tiba-tiba telah menghilang.
Malam itu dingin dan suram, cahaya samar-samar dari lentera menyinari wajah mayat itu yang sudah membeku. Mata mayat itu terbelalak, seolah-olah sedang menatap dirinya.
Soat-ji merinding.
“Seharusnya kau tidak ikut campur dalam urusan ini.” Sebuah suara yang dingin tiba-tiba terdengar dari kegelapan.
Ia mengenali suara ini. Hatinya pun seperti karam.
______________________________
Lorong itu suram dan gelap, pintunya pun tertutup. Liok Siau-hong mengetuk pintu itu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi dengan lebih keras. Masih tidak ada jawaban.
Ekspresi di wajahnya telah berubah. Tiba-tiba ia memukul pintu itu, dan pintu setebal 10 cm itu pun hancur berkeping-keping.
Lampu minyak di atas meja masih menyala, tapi kursi itu telah kosong. Tay-kim-peng-ong biasanya duduk di kursi tersebut sepanjang waktu, tapi tampaknya dia telah menghilang sekarang.
Tidak ada perasaan heran di wajah Liok Siau-hong, seolah-olah semua ini telah diperkirakan olehnya.
Selimut sutera bersulam naga itu tertinggal di lantai. Ia membungkuk untuk memungutnya, waktu tiba-tiba ia melihat sebuah tangan.
Sebuah tangan yang kurus terjulur keluar dari balik kursi. Jari-jarinya tertekuk, seolah-olah sedang berusaha meraih sesuatu, tapi tidak berhasil.
Liok Siau-hong berjalan menghampiri dan melihat Tay-kim-peng-ong.
Tubuh laki-laki tua itu belum dingin, tapi nafasnya telah lama berhenti. Di matanya terlihat perasaan panik, terkejut dan marah. Jelas, pada saat kematiannya, dia masih tak percaya kalau si pembunuh akan menghabisi dirinya.
Di tangannya yang lain ada sebuah goresan pisau yang sangat dalam, seolah-olah seseorang ingin memotong tangan ini tapi tidak jadi.
Tangannya terkepal erat, urat-urat dan otot di punggung tangan itu tampak menonjol keluar, jelas kematiannya pun tak sanggup membuatnya melepaskan sesuatu yang ada di dalam genggamannya.
Liok Siau-hong berjongkok untuk melihat lebih dekat. Ternyata tangan itu menggenggam sebuah sepatu merah.
Sepatu merah seperti yang dipakai oleh seorang pengantin di hari pernikahannya, tapi pada sepatu itu bukan bersulamkan sepasang angsa, atau burung hantu, tapi seekor burung walet --- seekor walet terbang.
Genggamannya terlalu erat, terlalu kuat, sebuah sepatu yang mulanya sangat indah sekarang telah remuk karena remasan itu.
Tapi wajahnya benar-benar tanpa emosi, bila dibandingkan dengan sepasang matanya yang penuh dengan perasaan panik dan marah, hal ini menciptakan sebuah pemandangan yang semakin mengerikan.
Liok Siau-hong tidak perlu mengulurkan tangan dan meraba untuk mengetahui bahwa wajahnya telah disamarkan dengan amat baik.
Laki-laki tua ini jelas bukan Tay-kim-peng-ong yang sebenarnya! Tay-kim-peng-ong tentu telah mati bersama puterinya!
Liok Siau-hong menatap matanya, lalu memandang kakinya yang buntung, dan tak tahan untuk tidak menarik nafas panjang.
“Aku telah banyak melakukan hal-hal bodoh dalam hidupku,” ia bergumam pada dirinya sendiri. “Tapi bukankah apa yang kau lakukan ini malah lebih bodoh?”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena ia telah mendengar suara desingan sepotong logam tipis yang mengiris udara.
Pedang itu berasal dari luar jendela di belakangnya, datangnya cepat, dan keji. Orang yang berusaha membunuhnya ini tentu salah seorang jago pedang kelas satu di dunia persilatan. Tidak banyak orang yang bisa disebut sebagai jago pedang kelas satu di dunia persilatan.
Liok Siau-hong menarik nafas lagi, dia telah tahu siapa orang ini.
Tubuhnya pun bergeser ke samping sejauh satu meter lebih.
“Liu Ih-hin,” ia menarik nafas. “Kau seharusnya tidak datang.”
“Tapi aku telah datang!” Suara Liu Ih-hin menjawab dengan dingin dari luar jendela.
Pedangnya lebih cepat daripada kata-katanya. Ambang jendela yang kuno dan indah itu segera hancur berkeping-keping ketika dia, bersama dengan pedangnya, melesat masuk.
Liok Siau-hong tidak memandangnya.
Pedangnya keji dan cepat, dan gerakannya berubah-ubah dengan sangat cepat, setiap tusukan selalu tertuju ke tempat yang mematikan.
Mata Liok Siau-hong tidak pernah meninggalkan ujung pedangnya, persis seperti mata seorang bocah yang tak akan pernah lepas dari kupu-kupu yang beterbangan di udara.
Dalam sekejap mata, Liu Ih-hin telah menyerangnya sebanyak 17 kali. Saat itulah Liok Siau-hong akhirnya membuat sebuah gerakan.
Ia hanya mengulurkan tangan dan menjepitkan 2 buah jarinya. Tak seorang pun yang bisa menguraikan kecepatan dan ketangkasan gerakan ini, hampir tak ada orang yang bisa membayangkannya.
Jari-jarinya seakan-akan terhubung langsung dengan hatinya, sehingga kapan pun dia bisa berbuat apa saja yang ia inginkan dengan jari-jarinya.
Waktu Liu Ih-hin menusukkan pedangnya untuk yang ke-18 kalinya, tiba-tiba ia menyadari bahwa pedangnya telah terjepit!
Pedang ini seolah-olah tertancap pada sebuah batu karang, walaupun ia telah mengerahkan seluruh tenaga yang ada di tubuhnya, ia tetap tak mampu menariknya.
Pedang itu terpasang pada pergelangan tangan kanannya, seperti jadi bagian dari tubuhnya sendiri, tapi ia masih tak mampu menariknya lepas dari jepitan jari-jari Liok Siau-hong.
Sebuah gaetan baja biasanya terpasang pada tangannya itu, sebuah gaetan baja yang mampu merampas senjata jenis apa pun. Hanya bila hendak membunuh maka ia menukar gaetan baja itu dengan sebatang pedang. Jelas dia datang ke sini dengan maksud membunuh.
Melihat wajahnya yang meringis dan kesakitan itu, hati Liok Siau-hong tiba-tiba dipenuhi oleh perasaan simpati.
“Aku tidak ingin membunuhmu, pergilah.”
Liu Ih-hin tidak menjawab dengan mulutnya, jawabannya adalah bola baja yang terpasang di tangan kirinya.
Bola baja itu meluncur deras sambil membawa angin yang kencang. Jika Liok Siau-hong tidak melepaskan tangan kanannya, kepalanya tentu akan remuk.
Tapi Liok Siau-hong masih memiliki tangan yang lain. Waktu bola baja itu datang, tangannya yang sebelah lagi memukul dari samping dengan keras, dan tangan kiri Liu Ih-hin pun menjadi lumpuh.
“Jika aku lepaskan, apakah kau mau pergi?”
Liu Ih-hin tiba-tiba tertawa dingin, tawa dingin yang mengandung perasaan memandang rendah --- memandang rendah pada Liok Siau-hong dan pada nyawanya sendiri.
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Kenapa aku selalu bertemu dengan orang-orang tolol seperti ini? Kenapa?”
Ia tidak menyelesaikan ucapannya, karena ia telah mendengar suara satu orang lagi.
Itu seperti suara Siangkoan Tan-hong, tapi ia tahu bahwa Siangkoan Tan-hong tak akan pernah muncul lagi.
Warna-warna terakhir dari matahari terbenam telah menghilang, ruangan itu jadi semakin gelap. Seperti sesosok hantu, seseorang muncul di pintu, seorang wanita yang sangat cantik, hangat dan manis.
Ia memandang pada Liok Siau-hong sambil tersenyum.
“Karena kau sendiri adalah orang tolol, orang-orang tolol biasanya berkumpul dengan sesamanya.”
Liok Siau-hong tidak perlu memandang wanita ini untuk mengetahui siapa dirinya.
“Siangkoan Hui-yan?”
“Benar.” Senyumannya seperti senyum seorang anak kecil yang tidak berdosa. “Apakah menurutmu aku lebih cantik daripada Siangkoan Tan-hong?”
Liok Siau-hong mengangguk, ia setuju.
Siangkoan Tan-hong tentu saja seorang gadis yang sangat cantik, tapi gadis yang ada di hadapannya sekarang ini tampak begitu cantiknya sehingga mendekati sosok gadis yang sempurna dalam khayalan setiap orang lelaki.
Senyumannya bukan hanya tampak cantik, tapi juga polos dan tak berdosa. Bila ia memandangmu, tatapannya seakan-akan mengatakan bahwa kau adalah satu-satunya lelaki di dunia ini, dan pada saat bersamaan kau seakan merasa bahwa dia adalah satu-satunya gadis yang ada di dunia ini.
Senyuman Siangkoan Hui-yan bisa membangkitkan impian dan khayalan yang tak terhitung jumlahnya. Senyumannya bisa membuatmu melupakan segalanya.
“Kau keliru, tahu.” Liok Siau-hong menarik nafas.
“Kenapa begitu?”
“Seorang gadis secantik dirimu seharusnya tidak perlu menyamar dan pura-pura menjadi orang lain untuk alasan apa pun.”
Siangkoan Hui-yan mengedip-ngedipkan matanya.
“Jika kau melihat wajahku yang sebenarnya malam itu, apakah kau akan membiarkanku pergi?”
“Jika aku melihat wajahmu yang asli sebelumnya, aku mungkin tidak akan menunggu sampai malam itu.”
“Jadi maksudmu, di dalam kereta itu pun kau akan…...”
“Sudah kubilang padamu, aku bukan laki-laki yang tahan terhadap godaan.”
Siangkoan Hui-yan tertawa: “Kau mungkin bukan seorang laki-laki sejati, tapi kau benar-benar jujur tentang hal ini.”
“Dan bukan hanya kau bukan seorang wanita terhormat, kau pun tidak jujur tentang hal ini.”
“Jika seorang gadis terlalu jujur, maka dia akan mudah jatuh ke dalam perangkap seorang laki-laki sepertimu.” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan manis.
Suaranya juga berubah, seolah-olah yang sedang bicara adalah orang lain.
Bagi Liok Siau-hong, perubahan pada suara ini hampir tak dapat dibayangkan olehnya.
Ia bisa memahami adanya topeng dan samaran, dan ia pernah melihat, dengan mata kepalanya sendiri, topeng-topeng kulit manusia yang legendaris itu.
Tapi ia tak faham kenapa suara seseorang bisa berubah sama sekali seperti suara orang lain.
Mudah bagi Siangkoan Hui-yan untuk melihat ekspresinya yang heran itu.
“Apakah suaraku lebih merdu daripada suara Siangkoan Tan-hong?” Ia tersenyum.
Liok Siau-hong menyerah dan balas tersenyum.
“Sekarang kau mungkin bisa melihat bahwa aku lebih baik daripada dirinya dalam segala hal, tapi sejak lahir dia selalu berada di atasku.” Suaranya yang hangat dan manis tiba-tiba berubah jadi penuh dengan kebencian. “Sejak kecil aku harus mengenakan pakaian bekas miliknya, memakan makanan yang disisakan olehnya, hanya karena dia adalah seorang puteri.”
“Jadi pada kesempatan pertama, kau harus membuktikan bahwa kau lebih baik daripada dirinya.”
Siangkoan Hui-yan menjawab dengan sebuah dengusan dingin.
“Jadi sejak kakekmu meninggal, kau tidak mau lagi tinggal di tempat ini.”
“Tidak ada yang mau melayani seseorang selamanya dan selalu was-was akan suasana hati orang itu.”
“Lalu kau berencana untuk pergi berkelana di dunia persilatan, menggunakan kemampuanmu sendiri, dan melakukan beberapa hal yang mengesankan untuk diperlihatkan pada mereka. Tapi kau tidak menyangka akan bertemu dengan seorang laki-laki yang mampu merebut hatimu.”
Warna wajah Siangkoan Hui-yan tampak berubah sedikit.
“Aku tahu kalau setan kecil itu akan memberitahu semuanya padamu.”
“Laki-laki itu bukan hanya sangat mengagumimu, dia juga bersimpati padamu, dan dia pun menemukan sebuah kesempatan untukmu.”
“Teruskan.” Siangkoan Hui-yan memerintahkan dengan dingin.
“Ketika dia tahu tentang rahasia Tay-kim-peng-ong, dia lalu memikirkan sebuah gagasan untukmu.”
Siangkoan Hui-yan mendengarkan, senyuman manis di wajahnya telah lama menghilang.
“Dia meyakinkan dirimu agar memikirkan sebuah cara untuk mendapatkan harta Tay-kim-peng-ong dari Giam Thi-san dan teman-temannya. Siapa pun, tak perduli siapa orangnya, dengan uang sebanyak itu, segera akan termasyur namanya.”
“Manusia mati karena harta, burung mati karena makanan.” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan dingin. “Dengan uang sebanyak itu sebagai taruhannya, siapa pun akan tergoda.”
“Tapi kau juga tahu bahwa paman dan sepupumu tak akan menyetujui hal seperti itu. Di samping itu, jika dia masih hidup, walaupun kau berhasil mendapatkan seluruh uang itu, tetap saja uang itu akan menjadi miliknya.”
“Tentu saja aku tidak ingin melakukan sebuah pekerjaan hanya untuk dinikmati oleh orang lain hasilnya.”
“Maka kau dan kekasihmu membuat sebuah rencana yang hebat.”
“Aku hanya berencana untuk membunuh kaisar pikun itu, tapi tak perduli betapa hebatnya aku merias seseorang untuk menyamar sebagai dirinya, tetap saja Siangkoan Tan-hong tidak akan bisa diperdaya.”
“Maka kau memutuskan untuk membunuhnya juga.”
“Benar.”
“Untunglah kalian berdua memang mirip, dan sering saling menirukan suara masing-masing sejak kecil, maka kau adalah calon yang sempurna untuk menggantikannya dan pada saat yang sama bisa mencoba bagaimana rasanya menjadi seorang puteri.”
“Rasanya tidak begitu enak.” Siangkoan Hui-yan mendengus.
“Tentu saja, dengan rahasia seperti ini, kau tentu tidak mau seorang gadis kecil yang tak bisa menutup mulutnya tahu tentang hal ini, maka kau sengaja merahasiakannya dari Soat-ji. Tapi ironisnya, dia malah mengira bahwa kaulah yang dibunuh oleh Siangkoan Tan-hong.”
“Setan kecil itu bukan hanya tidak bisa menutup mulutnya,” Siangkoan Hui-yan berkomentar dengan getir. “Dia pun suka ikut campur dengan urusan orang lain.”
“Tapi yang membuat aku bingung adalah kenapa kau tidak pergi dan mencari sendiri Ho Siu dan teman-temannya.”
“Karena baru setelah itulah kami tahu bahwa Tay-kim-peng-ong mempunyai suatu tanda rahasia yang hanya diketahui oleh pejabat-pejabat yang melarikan diri bersamanya. Maka tidak perduli siapa pun yang kami samarkan sebagai dirinya, hampir tidak mungkin bisa memperdaya Ho Siu dan rubah-rubah tua lainnya.”
“Apakah saat itu kau tahu bahwa dia memiliki 6 jari kaki?”
“Tidak, tapi aku pun tidak mau mengambil resiko.”
“Maka kalian berdua berfikir bahwa hal yang terbaik dilakukan adalah menemukan dulu seseorang yang akan membunuh rubah-rubah tua itu untuk kalian.”
“Benar.”
“Tapi orang ini tidak mudah ditemukan.” Liok Siau-hong tersenyum. “Karena dia bukan hanya harus mempunyai kemampuan untuk membunuh Ho Siu dan yang lainnya, dia juga harus memiliki kebiasaan ikut campur dalam urusan orang lain.”
“Orang ini memang sukar dicari.” Siangkoan Hui-yan mengiyakan. “Selain dari dirimu, kami benar-benar tidak berhasil memikirkan orang lain.”
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Tampaknya benar-benar tidak banyak orang sepertiku di dunia ini.”
“Membuatmu ikut campur dalam urusan ini secara sukarela juga merupakan sebuah masalah lain yang sulit.”
“Tapi untungnya, aku bukan hanya suka ikut campur dalam urusan orang lain, aku juga punya sifat seperti seekor keledai yang makin tidak mau bergerak bila kau semakin membujukku.”
Siangkoan Hui-yan akhirnya tertawa. “Ternyata kau sangat memahami dirimu sendiri.”
“Maka kau sengaja menyuruh Kau-hun-jiu dan teman-temannya untuk datang dan menghentikanku, karena kau tahu bahwa semakin seseorang tidak ingin aku melakukan sesuatu, maka aku akan semakin ingin melakukannya.”
“Keledai-keledai di propinsi Soasay juga seperti itu.” Siangkoan Hui-yan bergurau.
“Lalu setelah itu, waktu kau membunuh Siau Jiu-ih dan Tokko Hong untuk memperingatkanku, hal itu juga untuk alasan yang sama.”
“Dan juga karena mereka tahu terlalu banyak.”
“Sebabnya kau memancing kami ke kuil tua dengan nyanyianmu dan meninggalkan beberapa utas rambutmu tidak lebih hanya untuk membuat Hoa Ban-lau percaya bahwa kau masih hidup, kan?”
“Untuk tujuan itu dan untuk meyakinkan bahwa kau tak akan mempercayai sepatah kata pun ucapan setan kecil itu.”
“Kau tahu bahwa Soat-ji mengintip dari luar jendela waktu kau “membunuh” Liu Ih-hin.”
“Tentu saja, setan kecil itu tidak tahu bahwa kejadian itu tidak lebih dari sebuah drama yang sengaja aku dan Liu Ih-hin pertunjukkan padanya.” Siangkoan Hui-yan menambahkan dengan dingin.
“Dan waktu kami melihat bahwa Liu Ih-hin masih hidup, kami tentu akan semakin yakin bahwa dia tidak lebih daripada seorang pembohong.” Ia menarik nafas dan menertawakan dirinya sendiri. “Gadis kecil yang malang. Waktu ia melihat bahwa Liu Ih-hin masih hidup, ia seakan-akan melihat mayat hidup, ia terlalu ketakutan untuk mengatakan apa-apa lagi dan pergi bersamanya!”
“Seharusnya aku mengurung setan kecil itu dari awal, sayangnya……”
“Sayangnya urusan yang harus kau lakukan dalam beberapa hari itu benar-benar terlalu banyak, dan kau juga takut kalau kami tidak melihatnya waktu kami kembali maka kami mungkin akan curiga.”
“Kadang-kadang aku bingung melihatmu.” Siangkoan Hui-yan mendengus. “seolah-olah kau tahu semua yang ada dalam fikiranku.”
“Lalu kau tiba-tiba muncul di hadapan Hoa Ban-lau, tujuannya adalah untuk menimpakan semua kesalahan pada Ho Siu.”
“Benar.”
“Tapi bagaimana caramu memperdayainya?” Liok Siau-hong menarik nafas. “Telinganya bukan hanya sangat tajam, hidungnya pun sangat sensitif. Bahkan jika dia tidak mengetahui hal itu dari suaramu, dia seharusnya tahu dari aroma tubuhmu.”
Setiap orang memiliki aroma tubuh tersendiri yang tidak dimiliki orang lain, yang mungkin lebih mudah dikenali daripada suara orang itu.
“Karena, setiap kali aku menemuinya, aku selalu memakai sejenis bedak bunga yang sangat harum dan tebal aromanya. Dan kemudian bila aku muncul sebagai Siangkoan Tan-hong, aku tinggal menghilangkan aroma itu dari tubuhku.”
“Tampaknya kau telah memikirkan segalanya.”
“Itu karena aku seorang wanita,” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan manis. “Wanita tidak suka mengambil resiko.”
“Lalu kenapa kau menyuruh Liu Ih-hin mencoba membunuhku?”
“Seharusnya kau juga sudah tahu alasannya.” Ia menjawab dengan santai.
“Apakah karena dia sudah tidak berguna lagi bagimu, maka kau ingin membunuhnya melalui tanganku?”
“Seharusnya aku sudah tahu bahwa kau tidak suka membunuh.” Siangkoan Hui-yan menarik nafas. “Kalau tidak, aku pun tak perlu membunuh Giam Thi-san dengan tanganku sendiri.”
Sejak dia tiba, Liu Ih-hin seperti berubah menjadi orang lain. Laki-laki itu menjadi sangat pendiam.
Bila dia memandang gadis itu, tatapannya selalu menunjukkan sebuah perasaan yang sangat hangat.
Tapi kalimat Siangkoan Hui-yan yang terakhir itu seperti sebilah pisau belati yang tajam, tiba-tiba mengiris sampai ke hatinya.
“Kau…… kau benar-benar menginginkan aku mati?” Ia bertanya dengan suara bergetar.
“Kau seharusnya sudah mati dari dulu, untuk apa lagi orang sepertimu hidup?” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan dingin, bahkan tidak meliriknya sama sekali.
“Tapi kau…… kau mengatakan……”
“Tentu saja semua yang aku katakan adalah dusta, untuk menipumu. Kau kira aku benar-benar menyukaimu?”
Seluruh tubuh Liu Ih-hin tampak membeku. Ia berdiri di sana, tanpa bergerak, menatap gadis itu dalam keadaan seperti terhipnotis. Matanya penuh dengan kebencian, tapi juga cinta. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas dengan perlahan.
“Kau benar. Tentu saja kau tidak mungkin menyukaiku. Aku tahu itu. Selama ini aku hanya berdusta pada diriku sendiri.”
“Paling tidak kau tidak terlalu bodoh.”
Liu Ih-hin mengangguk dengan lambat. Tiba-tiba dia mengayunkan pedangnya ke dadanya sendiri.
Pedang itu telah menembus jantungnya ketika darah menyembur seperti air pancuran dari punggungnya dan muncrat hingga ke dinding.
Tapi wajahnya kembali berubah tanpa ekspresi. Kematian, baginya, tampaknya bukan merupakan hal yang menyakitkan, tapi sebuah kemewahan.
Matanya tiba-tiba mulai berkilauan ketika dia tiba-tiba tertawa.
“Ternyata mati itu tidak terlalu sukar,” dia bergumam, “tapi mati di hadapanmu, paling tidak aku bisa……”
Ia roboh sebelum berhasil menyelesaikan kalimatnya.
Liok Siau-hong tidak mencegahnya, dan memang tidak bisa mencegahnya. Kadang-kadang mati dalam kedamaian adalah lebih baik daripada hidup.
“Ia benar-benar orang yang romantis dan penuh cinta, sayangnya ia jatuh cinta pada orang yang salah.”
Liok Siau-hong menatap Siangkoan Hui-yan, tiba-tiba dia dipenuhi oleh perasaan jijik terhadap gadis yang tidak memiliki perasaan iba ini.
Bukan benci, tapi jijik, persis seperti perasaan orang terhadap ular berbisa.
“Kau telah melakukan hal yang bodoh.” Ia berkata dengan dingin.
“Oh?”
“Kau seharusnya tidak memaksanya mati.”
“Kenapa?”
“Karena jika dia masih hidup, paling tidak dia tak akan membiarkanku membunuhmu.”
“Kau ingin membunuhku? Kau tega?”
“Aku memang tidak suka membunuh, selain itu aku pun tidak pernah membunuh seorang wanita, tapi kau adalah kekecualian.”
Siangkoan Hui-yan tertawa.
“Jika demikian, lalu apa lagi yang kau tunggu?”
“Aku tidak terburu-buru!”
“Tentu saja kau tidak terburu-buru, karena sepertinya aku tidak bisa lari lagi sekarang.” Siangkoan Hui-yan berkata dengan santai. “Di samping itu, kau masih punya beberapa pertanyaan untukku!”
“Kelihatannya kau pun tidak bodoh.”
“Apakah kau ingin bertanya kenapa aku menyuruh Liu Ih-hin membuntungi kaki laki-laki tua itu sebelum kalian tiba? Dan bagaimana aku tiba-tiba tahu bahwa kaisar seharusnya mempunyai 6 jari kaki?”
“Aku tidak perlu menanyakan itu lagi padamu.”
“Kau sudah bisa menebaknya?”
“Burung merpati jauh lebih cepat daripada manusia.”
“Kau benar-benar cerdas.” Siangkoan Hui-yan menarik nafas.
“Seharusnya aku tidak membocorkan rahasia itu pada Yap Siu-cu.”
“Ia satu-satunya orang yang kalian beritahu?”
“Benar.”
“Apakah kau sengaja membocorkan rahasia itu? Atau kau ingin mengujinya?”
“Aku tidak ingin menyakitinya,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Ia juga seorang gadis yang malang.”
Siangkoan Hui-yan tiba-tiba mendengus dingin.
“Kau keliru tentang dia. Dia mungkin tampak sangat jujur dan baik, tapi kenyataannya dia adalah seorang perempuan jalang.”
“Hanya karena dia jatuh cinta pada laki-laki yang sama denganmu?”
“Ia hanya memanfaatkan perempuan itu,” Wajah Siangkoan Hui-yan menjadi hijau. “Persis seperti aku memanfaatkan Liu Ih-hin.”
“Yap Siu-cu memberitahukan rahasia itu padanya, dan dia mengirimkan pesan kepadamu dengan menggunakan burung merpati.”
Siangkoan Hui-yan mengangguk, ekspresinya tiba-tiba menjadi sangat hangat dan tenang.
“Merpati hitam itu biasanya digunakan untuk membawakan surat cinta di antara kami, ternyata ia bisa juga digunakan untuk hal-hal lain.”
“Jika dia bisa memberikan perintah pada Kau-hun-jiu dan Thi-bin-boan-koan, maka mungkinkah dia adalah pemimpin Jing-ih-lau?”
“Bagaimana menurutmu?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau berharap aku akan memberitahumu?”
“Tentu saja aku tidak mengharapkan kau mau memberitahuku sekarang.”
“Nanti pun tidak akan kuberitahukan padamu, kau tak akan pernah tahu siapa dirinya.”
“Tapi kau adalah seorang wanita.”
“Lalu kenapa?”
“Bahkan seorang gadis cantik seperti dirimu, jika hidungnya dipotong, tentu saja akan menjadi amat buruk.” Liok Siau-hong berkata dengan dingin.
“Kau…… kau tega memotong hidungku?” Siangkoan Hui-yan bertanya dengan terkejut dan panik.
“Jika kau benar-benar mengira hatiku lebih lunak daripada tahu,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai, “maka kau sangat keliru.”
“Jadi jika aku tidak memberitahukan siapa dirinya padamu, kau akan memotong hidungku?” Siangkoan Hui-yan menatapnya dengan terkejut.
“Yang pertama hidung, lalu telinga.”
Siangkoan Hui-yan tiba-tiba tersenyum manis.
“Kau bicara kasar, tapi aku tahu bahwa kenyataannya kau tak akan tega.”
“Kau ingin mencoba?” Wajah Liok Siau-hong menjadi gelap.
“Aku tahu bahwa kau tak akan mencoba melakukannya, karena aku tahu kau tak mau punya teman yang tidak memiliki hidung.”
“Tapi kau bukan lagi temanku.”
“Aku tahu aku bukan temanmu, tapi Hoa Ban-lau dan Cu Ting itu kan temanmu.”
Wajah Liok Siau-hong kembali berubah warna.
“Jika kau memotong hidungku, maka mereka mungkin tidak bisa menjaga kepalanya.” Siangkoan Hui-yan berkomentar dengan santai. “Bukankah tidak berkepala itu lebih buruk daripada tidak berhidung?”
Liok Siau-hong menatapnya. Tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.
“Kau kira ini lucu?”
“Kau kira aku benar-benar percaya kalau kau telah memperdayai Hoa Ban-lau lagi?” Liok Siau-hong menjawab di antara suara tawanya.
“Jika aku bisa memperdayainya sekali, aku pun bisa memperdayainya lagi.”
“Hanya orang tolol yang bisa ditipu dua kali, dan dia bukanlah orang tolol.”
“Tapi dia adalah orang yang romantis, seorang laki-laki yang penuh perasaan. Kau bisa menipu orang tolol paling banyak dua kali, tapi seorang laki-laki yang penuh kasih sayang bisa ditipu beratus-ratus kali, karena dia memang rela ditipu.”
“Dan Cu Ting juga adalah orang yang romantis?”
“Tidak, dia terlalu pemalas untuk itu.”
“Ada baiknya juga menjadi pemalas.”
“Oh?”
“Karena jika dia begitu pemalas sehingga tak mau bergerak, lalu bagaimana mungkin dia ditipu oleh orang lain?”
“Memang benar-benar sulit menipu orang pemalas seperti dirinya,” Siangkoan Hui-yan tersenyum bangga. “Tapi untunglah dia juga punya seorang teman yang mau menuliskan sehelai cek agar dia tertipu.”
Liok Siau-hong tak bisa tertawa lagi.
“Tentu saja kau tidak ingin melihat teman-teman baikmu ini kehilangan kepalanya, kan?” Siangkoan Hui-yan tiba-tiba menambahkan. “Apalagi dia pun membawa-bawa isterinya yang cantik itu.”
“Lopannio biasanya lebih pemalas daripada Lopan,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Kenapa dia pun ikut datang?”
“Karena dia yakin bahwa kau akan menyelamatkannya, maka dia sedang menunggumu.”
“Di mana dia menungguku?”
“Kau ingin tahu?”
“Sangat ingin.”
“Kau kira aku akan membawamu ke sana?”
“Tidak!”
“Kau keliru,” Siangkoan Hui-yan tersenyum. “Jika aku tidak berniat membawamu ke sana, lalu kenapa aku muncul?”
“Paling tidak kau tak akan membawaku ke sana sekarang.”
“Kau benar-benar orang yang cerdas, tahu?” Siangkoan Hui-yan kembali tersenyum manis.
“Sayangnya teman-temanku itu tidak terlalu pemalas, tapi terlalu bodoh.” Liok Siau-hong mengeluh entah pada siapa.
“Tapi mereka tetaplah teman-temanmu, maka kau harus menolong mereka.”
“Aku akan mempertimbangkannya.”
“Apa lagi yang harus dipertimbangkan?”
“Aku harus melihat dulu apa yang kau inginkan sebagai balasannya jika kau membawaku ke sana.”
“Yang aku inginkan hanyalah sebuah tugas yang sangat sederhana dan mudah.”
“Dan apakah itu?”
“Aku hanya ingin kau membunuh seseorang untukku. Bagimu, membunuh seseorang tentu sebuah tugas yang cukup mudah.”
“Itu tergantung siapa orangnya yang akan kubunuh.”
“Kau tentu bisa menghadapi orang ini.”
“Siapa?”
“Sebun Jui-soat.”
Liok Siau-hong tertawa.
“Apa sebenarnya yang kau inginkan? Aku membunuhnya atau dia yang membunuhku?”
“Tentu saja aku ingin kau yang membunuhnya. Dia telah menghinaku, sangat menghinaku.”
“Dan karena hal kecil itu, kau ingin aku membunuhnya?”
“Itu bukan hal kecil bagi seorang gadis.”
“Dan bagaimana jika aku tidak berhasil membunuhnya, malah dia yang membunuhku?”
“Maka kau tidak perlu merasa sedih, kau akan bertemu teman-temanmu di neraka.”
“Tampaknya aku tidak punya pilihan lain dalam masalah ini.”
“Satu pun tidak ada.”
“Tidak perduli apakah dia mati atau aku yang mati, kau akan tetap gembira.”
“Sejujurnya, dalam hatiku, aku tidak akan bersedih bila kalian berdua mati.”
“Kurasa kau tidak punya perasaan lagi!”
“Tentu saja aku punya. Itulah sebabnya aku berharap kau bisa membunuhnya untuk menukarkan satu nyawanya dengan tiga nyawa Hoa Ban-lau dan teman-temannya.”
“Pertukaran kecil ini sebenarnya bukan jual-beli yang buruk,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Tapi sayangnya aku tidak tahu di mana dia berada.”
“Tapi kau tentu bisa menemukannya.”
“Bagaimana caranya?”
“Waktu dia membawa pergi Sun Siu-jing dulu, jelas dia sedang berusaha menyelamatkan nyawa gadis itu.”
“Selain mengakhiri hidup orang, kadang-kadang dia memang menyelamatkan nyawa orang.”
“Maka sekarang dia tentu berada di sebuah tempat di mana Sun Siu-jing bisa menyembuhkan luka-lukanya. Kau tentu tahu di mana dia bisa melakukan hal itu di sekitar sana.”
“Tapi orang mati tidak bisa sembuh.”
“Benar!”
“Maka aku harus bertanya padamu, setelah Sun Siu-jing terkena Hong-hui-ciam, bisakah dia selamat?”
“Yang melukai dirinya bukanlah Hong-hui-ciam, itu adalah Yan-hui-ciam (Jarum Walet Terbang).” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan getir. “Akibatnya tentu fatal, tapi Sebun Jui-soat tampaknya seorang yang ahli.”
“Oh?”
“Racun Yan-hui-ciam berbeda dengan racun biasa. Bila kau terkena jarum itu, jika kau hanya berbaring saja, maka kau tentu akan mati.”
“Itulah sebabnya Ciok Siu-hun sudah mati sekarang.” Liok Siau-hong menambahkan.
“Tapi Sebun Jui-soat membawa Sun Siu-jing berlari-lari menjelajahi lereng gunung untuk membuat racun itu merembes keluar dari tubuhnya, tentu sekarang dia punya kesempatan untuk selamat.”
“Setelah kau melukainya malam itu, kau tidak pergi kan?”
“Bagaimana mungkin aku bisa pergi, dengan kalian semua para pendekar berada di sana?” Siangkoan Hui-yan tertawa. “Maka aku memutuskan untuk tetap berada di sana, aku melihat salah seorang dari kalian melompat keluar untuk mengejarku.”
“Ternyata kau sangat berani!”
“Aku tahu bahwa tak seorang pun dari kalian akan menduga bahwa aku berani tinggal di situ.”
“Sesudah kami semua pergi, lalu kau pun muncul.”
“Saat itu hanya ada Hoa Ban-lau di sana, dia tak akan mencurigaiku. Bahkan jika aku mengatakan padanya bahwa salju itu hitam dan tinta itu putih, dia tetap akan percaya.”
“Mengapa?”
“Karena ia mencintaiku.” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan yakin. “Bila seorang laki-laki jatuh cinta pada seorang gadis, maka ia benar-benar tidak ada harapan lagi.”
“Tepatnya karena ia menyukaimu, maka menurutmu semua tipuan dan dusta yang kau lakukan padanya itu pantas ia terima?”
“Karena ia sendiri yang rela. Aku tidak menyuruhnya jatuh cinta padaku.”
Liok Siau-hong tiba-tiba menarik nafas lagi.
“Aku hanya ingin memberitahukan satu hal padamu.”
“Apa?”
“Jika seseorang selalu menganggap orang lain sebagai orang tolol, maka orang itulah orang yang paling dungu.”
“Apa maksud ucapanmu itu?” Siangkoan Hui-yan mengerutkan keningnya.
“Jika kau berbalik dan melihat sekarang, maka kau akan mengerti.”
Siangkoan Hui-yan membalikkan tubuhnya. Ia merasa seolah-olah dirinya tiba-tiba jatuh ke dalam sebuah lubang yang gelap dan dalam.
Ruangan itu semakin gelap, seseorang berdiri dalam diam di kegelapan, benar-benar tidak bergerak.
“Hoa Ban-lau!” Siangkoan Hui-yan tak sanggup menahan seruannya.
Tapi sikap Hoa Ban-lau masih tetap tenang, seolah-olah ia tidak merasa sakit hati atau marah sedikit pun.
Siangkoan Hui-yan memandangnya dengan terkejut.
“Bagaimana…… bagaimana kau ada di sini?”
“Aku berjalan kaki.” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai.
“Tapi aku menotok urat-nadimu.”
“Jika orang lain menotok uratmu, jika kau bisa memaksakan energi tubuhmu ke daerah sekitar urat itu, setelah beberapa lama kau mungkin bisa membuka totokan itu. Untunglah aku tahu sedikit tentang ilmu itu.”
“Kau telah membuat persiapan? Apakah kau curiga kalau aku akan berbuat sesuatu?”
“Aku tidak ingin sahabatku membunuh orang hanya untuk menyelamatkanku.”
“Kau telah mendengar semua yang aku katakan?”
Hoa Ban-lau mengangguk.
“Kau…… kau…… kau tidak marah?”
“Tak seorang pun bisa terhindar dari berbuat kesalahan,” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai. “Di samping itu, kau memang tidak memaksaku untuk jatuh cinta padamu.”
Ia masih tampak setenang dan sehangat itu, karena di dalam hatinya hanya ada cinta, hanya cinta dan tidak ada kebencian.
Siangkoan Hui-yan memandangnya. Bahkan seorang gadis seperti dirinya pun merasakan penyesalan dan perasaan bersalah.
Liok Siau-hong juga memandangnya.
“Orang ini benar-benar orang yang baik.” Ia menarik nafas dengan perlahan.
Hoa Ban-lau tertawa kecil.
“Orang yang baik, orang yang bodoh, kadang-kadang tidak ada bedanya sama sekali.”
“Di mana Lopan?”
“Ia sedang menemani Lopannio, tentu saja.”
“Kenapa mereka tidak datang?”
“Mereka sedang sibuk mendengarkan cerita Soat-ji.”
“Tampaknya tak lama lagi mereka pun akan tertipu.” Liok Siau-hong tersenyum jengkel.
Tentu saja ia tahu alasan yang sebenarnya kenapa mereka tidak datang. Mereka jatuh dalam bahaya karena dirinya, maka bila mereka bertemu, tentu ia akan merasa sangat malu, dan mereka tidak ingin membuat dirinya merasa malu.
Soat-ji juga tidak ingin bertemu kakaknya. Dalam keadaan seperti ini, tidak seorang pun dari mereka yang akan merasa senang jika mereka bertemu.
Siangkoan Hui-yan akhirnya menarik nafas panjang.
“Apa yang kau ucapkan barusan, akhirnya aku faham sekarang.”
“Oh?”
“Tampaknya akulah yang bodoh sebenarnya, bodoh sekali.”
“Oh!”
“Aku menganggap kalian semua tolol, tapi baru sekarang aku sadar orang tolol yang sebenarnya adalah diriku.” Ia menarik nafas lagi. “Tapi biarpun kau potong hidungku sekarang, aku tak akan memberitahukan siapa dia.”
“Ternyata kau pun orang yang romantis.”
Siangkoan Hui-yan tertawa, tawa yang sangat sedih dan penuh kesunyian.
“Bila seorang wanita jatuh cinta pada seorang laki-laki, maka ia pun tidak ada harapan lagi.”
“Aku faham, aku faham.” Hoa Ban-lau mengangguk dengan lambat.
“Tak perduli apa, aku benar-benar telah bersalah padamu,” Siangkoan Hui-yan berkata dengan suara yang berat. “Biar pun kau membunuhku, aku tak akan menyalahkanmu!”
“Tapi aku tidak ingin membunuhmu.”
“Lalu kau akan berbuat apa padaku?”
“Tidak ada.”
“Kau…… kau membiarkanku pergi?” Siangkoan Hui-yan kembali bingung.
Hoa Ban-lau tidak menjawab, tiba-tiba ia berbalik dan berjalan keluar dengan lambat. Liok Siau-hong menarik nafas dan mengikutinya ke luar.
Siangkoan Hui-yan terkejut.
“Aku tahu apa yang hendak kalian lakukan. Kalian tahu bahwa aku akan pergi dan mencarinya sekarang, maka kalian melepaskanku dengan maksud membuntutiku.” Tiba-tiba ia berteriak.
Liok Siau-hong tidak berpaling.
“Aku tidak perlu melakukan hal itu.” Ia berkata dengan santai.
“Kenapa tidak?”
“Karena aku sudah tahu siapa dia!”
Ekspresi wajah Siangkoan Hui-yan berubah secara dramatis.
“Kau tahu siapa dia?” Ia berteriak sekuat-kuatnya. “Siapa dia?”
Liok Siau-hong tidak menjawab, juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengejar Hoa Ban-lau, dan mereka berdua berjalan berdampingan melalui lorong yang gelap itu dan menghilang dalam gelapnya malam. Ruangan itu pun telah gelap sama sekali.
Siangkoan Hui-yan berdiri sendirian dalam gelap, tiba-tiba ia bergidik, apakah itu karena angin malam yang dingin? Atau karena ngeri?
Kebun itu gelap tetapi tenang, aroma bunga yang terbawa angin tampak lebih tebal daripada sebelum matahari terbenam. Beberapa buah bintang yang berkerlap-kerlip mulai bermunculan, hanya untuk ditutupi kembali oleh segumpal awan yang pekat.
***
Hoa Ban-lau berjalan dengan amat lambat, barulah waktu tiba di depan sebuah semak bunga dia akhirnya menarik nafas perlahan.
“Gadis yang malang.”
Liok Siau-hong mengangguk, seperti sudah lupa bahwa Hoa Ban-lau tidak bisa melihat anggukannya.
“Setiap orang bisa berbuat kesalahan. Walaupun ia berbuat salah, ia……”
Liok Siau-hong memotong. “Berbuat salah selalu ada ganjarannya. Tidak perduli siapa pun, bila mereka berbuat salah, mereka harus menanggung akibatnya.”
“Tapi kau membiarkannya pergi.”
“Mungkin karena aku tahu ada seseorang yang tidak akan membiarkan dia pergi.”
“Siapa? Kekasihnya?”
“Bukan, bukan kekasihnya. Orang itu tidak mencintainya.”
“Apakah kau benar-benar tahu siapa dia?”
“Tidak.”
“Jadi dia benar? Kau benar-benar bermaksud membuntutinya?”
“Aku mungkin bukan seorang laki-laki sejati, tapi paling tidak aku selalu berpegang pada kata-kataku.” Liok Siau-hong tersenyum.