“Sayangnya kau tak akan pernah menjadi kaya!” Ho Siu tersenyum.
“Mengapa?”
“Karena kau terlalu cerdas, tak ada orang secerdas dirimu yang jadi kaya.”
“Tapi waktu terakhir kali kita bertemu, kau mengatakan bahwa aku akan bisa kaya cepat atau lambat.”
“Itu karena aku belum tahu betapa cerdas sebenarnya dirimu.”
“Jadi kapan kau mengetahuinya?”
“Sekarang.”
Liok Siau-hong kembali tertawa.
“Selain dari dirimu, mungkin tidak ada lagi orang yang bisa masuk ke sini tanpa perlu banyak usaha.”
“Apakah itu karena tidak ada lagi orang yang sepenurut diriku?” Liok Siau-hong bergurau.
Ho Siu mengangguk.
“Bila mereka melihat kata “DORONG” di pintu, paling sedikit 9 dari 10 orang tentu tidak mau mendorong pintu itu, dan jika kau tidak mendorong pintu tersebut maka tidak mungkin kau bisa masuk ke sini. Jika kau tidak berbelok waktu melihat kata “BELOK”, maka tidak mungkin kau mampu keluar dari jalan rahasiaku itu. Jika kau tidak berhenti waktu melihat kata “BERHENTI”, maka biarpun kau berhasil menghindari serangan panah, paling tidak selembar kulitmu akan hilang terkena minyak panas yang ditumpahkan padamu.”
“Tapi yang paling keji adalah gas beracun yang kau semburkan ke ruangan tempat kami berada, bahkan Hoa Ban-lau pun hampir semaput. Mungkin tidak terlalu banyak orang yang bisa menduga bahwa bukan hanya tidak ada racun di dalam arak itu, tapi di situlah obat penawarnya berada.”
“Tapi kau berhasil menebaknya.”
Liok Siau-hong tersenyum.
“Aku hanya tahu bahwa tidak perduli apakah kau adalah orang baik atau jahat, paling tidak kau bukanlah orang yang tega berdusta pada sahabatmu. Karena kau tidak memiliki banyak sahabat, kau tentu tidak mau kehilangan satu orang pun.”
Ho Siu menatapnya dengan matanya yang cerah, menatapnya selama beberapa lama.
“Apa lagi yang engkau ketahui?” Tiba-tiba dia bertanya.
Liok Siau-hong juga menatapnya, menatapnya untuk waktu yang lama.
“Aku juga tahu bahwa margamu bukan Ho, namamu yang sebenarnya adalah Siangkoan Bok.” Ia menjawab lambat-lambat.
“Benar.” Wajah Ho Siu sedikit pun tidak berubah ketika dia menjawab.
“Kau bersama Giam Thi-san dan Tokko It-ho dulunya adalah pejabat-pejabat penting di Kekaisaran Rajawali Emas.”
“Benar.”
“Waktu Kekaisaran Rajawali Emas jatuh, kalian bertiga yang memegang seluruh harta kekaisaran dan membawanya ke sini, ke Cina.”
“Benar.”
Wajahnya masih tetap tenang, tanpa sedikit pun rasa penyesalan atau haru.
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Tapi kalian bertiga lalu mengambil keuntungan dari keadaan itu dan menguasai harta tersebut. Setelah tiba di Cina, kalian pergi bersembunyi dan tidak mencari kaisar ke-13 seperti yang diperintahkan pada kalian…..”
“Kau keliru.” Ho Siu tiba-tiba memotong.
“Keliru?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.
“Keliru tentang sebuah hal kecil.”
“Apa itu?”
“Yang tidak menepati janjinya bukanlah kami, tapi pangeran kecil itu yang melarikan diri bersama Siangkoan Kin.”
Liok Siau-hong terdiam, dia tidak memperkirakan hal itu, dia bahkan tidak memikirkan kemungkinan itu.
“Dia bukan hanya tidak datang ke tempat yang disepakati, dia pun bersembunyi dari kami sampai saat ini. Kami telah mencari selama bertahun-tahun dan masih tidak berhasil menemukannya.”
“Jadi itu masalahnya, bukan kalian yang menghindar darinya, tapi dialah yang menghindar dari kalian.”
“Benar.”
“Kalian bertiga adalah pejabat-pejabat penting dan terpercaya dari kaisar sebelumnya, dan membawa harta yang demikian banyak bersama kalian. Kenapa dia bersembunyi dari kalian? Apakah ada yang salah dengannya?”
“Karena harta yang luar biasa besarnya itu bukanlah miliknya,” Ho Siu menjawab dengan dingin. “Harta itu adalah milik Kekaisaran Rajawali Emas.”
“Apakah ada bedanya?”
“Perbedaannya besar sekali.”
“Oh.”
“Jika dia menerima harta itu, maka dia berkewajiban untuk menggunakan uang tersebut buat mendirikan kembali Kekaisaran Rajawali Emas. Itu bukan hal yang mudah, bukan hanya rintangan menghadang di sepanjang jalan, dia pun bisa kehilangan nyawanya kapan saja.”
Liok Siau-hong setuju. Lahir sebagai anggota keluarga kerajaan bukanlah hal yang benar-benar menguntungkan. “Kuberharap tidak pernah dilahirkan kembali sebagai anggota keluarga kerajaan” adalah sebuah kalimat yang menggambarkan kepahitan dan kesulitan yang tidak semua orang bisa memahaminya.
Sinar mata Ho Siu tampak semakin putus asa dan sedih.
“Sayangnya kaisar kecil kami itu bukanlah seorang calon jenderal yang hebat.” Ia berkata lambat-lambat.
“Orang macam apakah dia?” Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak bertanya.
“Dia seperti Kaisar Li, seorang yang puitis, dan juga mirip Song Hui-cong, seorang pelukis; sejak kecil, dia telah disebut orang sebagai Jenius dari Tiga Macam Keahlian, ‘membaca puisi, menulis, dan melukis’.”
Ia menarik nafas dan melanjutkan. “Bagi orang seperti dia, siapakah sebenarnya dirinya bukanlah hal yang penting, kehilangan tahtanya pun mungkin tidak masalah baginya, selama dia bisa menulis puisi, menyanyikan lagu-lagu, dan hidup bebas dari perasaan khawatir dan cemas, itulah yang selalu dia inginkan, di samping itu…..”
“Ya?”
“Di samping itu, harta yang dibawa Siangkoan Kin bersamanya pun sudah lebih dari cukup untuk dipakai mereka seumur hidup.”
Liok Siau-hong tidak bicara lagi, tapi kebisuannya bukan berarti dia percaya.
“Kau tidak mempercayaiku?”
Liok Siau-hong masih tidak menjawab.
“Ransum dan senjata yang kami kumpulkan untuk persiapan pendirian kembali kekaisaran kami semuanya berada di luar, kau mungkin sudah melihatnya, kan?”
Liok Siau-hong mengangguk.
“Kami memang telah menggunakan sedikit harta kekaisaran itu, tapi tujuannya adalah menggunakan uang itu untuk membangun sebuah bala tentara yang akan bertempur buat pendirian kembali kekaisaran, karena, seperti yang kau katakan, kami adalah pejabat-pejabat penting dinasti sekarang. Tapi jika kaisar kami tidak muncul, lalu untuk apa kami bertempur?”
Kata-katanya itu hampir memaksa Liok Siau-hong mempercayainya, walaupun ia tidak ingin.
“Tapi jika dia benar-benar bersembunyi dari kalian selama bertahun-tahun ini, kenapa dia tiba-tiba berusaha mencari kalian sekarang?” Ia terpaksa mengajukan pertanyaan terakhir.
“Hal itu mungkin ada kaitannya dengan orang-orang yang mendatangi kami sebelumnya.” Ho Siu menjawab dengan dingin.
“Oh?”
“Empat orang tua yang ada di luar sana, aku yakin kau telah bertemu dengan mereka.”
Liok Siau-hong tiba-tiba mendapat sebuah firasat.
“Maksudmu mereka semua adalah penipu-penipu yang berusaha mendapatkan harta itu?”
Ho Siu mengangguk.
“Mereka ingin kaya, maka kubiarkan mereka duduk menghadapi harta itu sepanjang hari setiap harinya. Mereka ingin berpura-pura menjadi raja, maka kubiarkan mereka duduk di singgasana dan mengenakan Jubah Naga itu sepanjang hari setiap harinya.” Ho Siu menjawab dengan santai. “Walaupun mereka berusaha mendapatkan uang itu dengan cara menipu, kau tak bisa mengatakan kalau perlakuanku terhadap mereka ini keterlaluan.”
Liok Siau-hong menarik nafas dan menampilkan sebuah senyuman yang agak canggung.
“Ternyata kau bukan orang baik-baik, orang baik tak akan memperlakukan orang lain seperti itu.”
Tapi kenyataannya ia harus mengakui bahwa tidak ada cara yang lebih tepat untuk menangani orang-orang seperti itu.
“Urusan ini seharusnya merupakan sebuah rahasia besar, selain dari kami berempat dan pangeran kecil kami yang menjadi kaisar, seharusnya tidak ada lagi orang yang mengetahuinya.”
“Jika demikian, kenapa mereka bisa tahu?”
“Mereka pun tidak tahu.”
Liok Siau-hong terdiam, dia tidak memahami maksud ucapan Ho Siu.
“Yang mengetahui tentang rahasia ini adalah orang lain, mereka hanyalah pion-pion yang digunakan oleh orang itu.”
“Siapakah orang lain ini?”
“Tak tahu.”
“Mereka pun tidak tahu?”
“Jika kau adalah dia, maukah kau muncul tanpa samaran?” Ho Siu mendengus.
“Tidak,” Liok Siau-hong menyahut sambil tersenyum pilu.
“Secara keseluruhan, mereka telah bertemu orang itu sebanyak tiga kali. Setiap kali bertemu dengan mereka, penampilan orang itu selalu berbeda. Jika bukan karena suaranya yang tidak berubah, mereka tentu tidak percaya kalau dia adalah orang yang sama.”
“Jadi tampaknya, bukan hanya rencana-rencana orang ini tidak ada cacatnya, dia juga seorang ahli menyamar.”
Sejak tadi Hoa Ban-lau hanya mendengarkan dari samping.
“Ahli samaran yang sesungguhnya tentu bisa merubah suara mereka juga.” Tiba-tiba dia memotong.
“Oh?” Liok Siau-hong menjawab.
“Seni menyamarkan diri adalah bagian dari Ninjutsu yang berasal dari tiga pulau Jepang yang terletak di pantai timur. Dalam seni ini, ada sebuah keahlian khusus yang, bila telah dikuasai, memungkinkan pemiliknya untuk mengendalikan otot-otot di dalam tenggorokannya, sehingga dia bisa merubah suaranya.”
{Saat itu wilayah Jepang tidak termasuk Hokkaido.}
“Apakah kau pun bisa tertipu oleh ilmu ini?” Liok Siau-hong bertanya.
“Jika seseorang benar-benar menguasai ilmu ini, bahkan aku pun tak mampu mengetahui perbedaannya.”
“Jadi mungkin saja Tay-kim-peng-ong yang meminta pertolongan kita itu juga palsu?” Liok Siau-hong bertanya pada dirinya sendiri.
“Sebabnya aku meminta Sugong Ti-seng menculik Siangkoan Tan-hong dari kalian adalah untuk memeriksa apakah dia tulen atau tidak, sayangnya Sugong kebetulan adalah teman kalian sendiri!”
“Untunglah kau akhirnya berhasil juga dan Siangkoan Tan-hong tetap jatuh ke tanganmu.”
“Siapa bilang dia ada di tanganku?”
“Memangnya tidak?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.
“Tidak.”
Liok Siau-hong kembali terkejut, karena dia tahu bahwa Ho Siu bukanlah tipe pendusta.
Tetapi jika Ho Siu tidak berdusta, kenapa Siangkoan Tan-hong tiba-tiba menghilang? Ia tak bisa menebak penyebabnya, tak seorang pun bisa menebaknya.
“Aku belum pernah bertemu dengannya!” Ho Siu menambahkan.
“Lalu, pernahkah kau bertemu dengan Siangkoan Hui-yan?” Liok Siau-hong terus menyelidik.
“Aku bahkan belum pernah mendengar nama itu sebelumnya!”
Liok Siau-hong makin bingung. Sedikit pun ia tak menduga perkembangan masalah ini akan semakin berliku-liku.
Yang bisa dia lakukan hanyalah memaksakan sebuah senyum penyesalan di wajahnya.
“Tak heran kalau Giam Thi-san berusaha mengusirku pergi saat dia mendengar aku mengungkit-ungkit masalah ini. Mungkin dia mengira aku juga berusaha mendapatkan harta itu.”
“Tapi saat itu kau mengira bahwa dia marah dan frustrasi karena rahasia lama ini diungkapkan.” Ho Siu berkomentar.
Liok Siau-hong terpaksa mengakui bahwa Ho Siu benar. Baru sekarang dia akhirnya mengerti kenapa wajah Giam Thi-san menampilkan ekspresi yang begitu aneh waktu dia melihat Siangkoan Tan-hong tepat sebelum dia mati. Tapi mungkinkah Siangkoan Tan-hong adalah dalang dari semua ini?
Tapi dia masih tidak percaya kalau semua ini adalah dusta. Jika semua ini telah direncanakan, lalu kenapa ada begitu banyak orang yang berusaha mencegahnya ikut campur dalam urusan ini? Dan lebih jauh lagi, kenapa Jing-ih-lau terlibat dalam masalah ini dan berusaha mencegahnya bertemu dengan Tay-kim-peng-ong?
“Kapan terakhir kalinya kau bertemu kaisar kecil itu?” Hoa Ban-lau tiba-tiba bertanya.
“Lebih dari 40 tahun yang lalu.”
“Dan berapa usianya saat itu?”
“Tiga belas tahun.”
“Empat puluh tahun, bahkan seorang anak berusia 13 tahun pun sudah menjadi laki-laki tua.” Hoa Ban-lau merenung.
Ho Siu menarik nafas dalam-dalam.
“Waktu tidak memberi ampun, setiap orang tentu akan menjadi tua.”
“Lalu bagaimana kau tahu apakah seorang laki-laki tua berusia 60 tahun adalah kaisar yang dulu berusia 13 tahun itu?” Hoa Ban-lau bertanya.
“Ada rahasianya, sebuah rahasia yang tersimpan rapat-rapat.” Ho Siu menjawab dengan suara yang berat dan tenang.
Hoa Ban-lau tidak bertanya lagi, ia percaya bahwa setiap orang berhak mempunyai rahasia.
Tapi Ho Siu meneruskan. “Tapi aku percaya pada kalian berdua, aku mau memberitahukan rahasia ini pada kalian.”
Hoa Ban-lau menggunakan kebisuannya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya, mendapat kepercayaan dari orang seperti Ho Siu bukanlah urusan gampang.
“Setiap Tay-kim-peng-ong selalu memiliki cacat lahir, mereka mempunyai 6 jari kaki pada masing-masing kaki mereka.”
“Jadi itulah yang kau gunakan untuk mengetahui bahwa orang-orang tua itu adalah penipu!” Liok Siau-hong tersadar.
Ho Siu mengangguk.
“Jika orang lain mengetahui rahasia ini pun tetap sangat sukar baginya untuk memalsukannya. Aku belum pernah melihat orang dengan 6 jari kaki di kedua kakinya.”
“Aku pun belum pernah melihatnya.” Liok Siau-hong menjawab.
Ho Siu tersenyum.
“Hehe, orang yang mempunyai empat alis pun tidaklah banyak.”
Liok Siau-hong juga tersenyum.
“Jadi yang harus kalian lakukan sekarang adalah mengusahakan agar Tay-kim-peng-ong kalian itu melepaskan sepatunya dan menghitung jumlah jari kakinya,” Ho Siu berkata. “Maka kalian akan tahu apakah ia asli atau tidak.”
“Itu tidak terlalu sukar.”
“Mengusahakan agar seorang laki-laki melepaskan sepatunya tentu jauh lebih mudah daripada mengusahakan agar seorang gadis membuka celananya.” Ho Siu tersenyum.
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Tampaknya kau benar-benar bukan seorang laki-laki sejati.”
Ho Siu pun menarik nafas.
“Menjadi orang baik tidaklah sulit, tapi merendah seperti diriku barulah sukar.”
Liok Siau-hong memahami maksud ucapannya. Bila seseorang harus menjaga sebuah harta yang besar, ia tentu harus merendah serendah-rendahnya untuk berjaga-jaga terhadap orang lain.
“Jika Tay-kim-peng-ong kalian itu adalah kaisar yang sebenarnya, maka aku akhirnya akan bisa melepaskan beban yang berat ini dari pundakku,” Ho meneruskan. “Jika tidak, maka…..”
“Jika tidak, maka aku akan mengundangnya ke sini untuk menemani empat orang di luar sana.” Liok Siau-hong menyelesaikan ucapannya.
______________________________
Saat mereka berjalan keluar dari gua misterius itu, fajar telah tiba. Angin musim semi terasa dingin tapi bersih menyegarkan. Lereng bukit itu tampak menghijau, dan tetesan embun di dedaunan tampak seperti batu permata di bawah sinar fajar. Betapa cantik dan indahnya dunia ini.
Hal pertama yang dilakukan Liok Siau-hong adalah mengambil nafas dalam-dalam.
“Firasatku benar,” ia berkata sambil tersenyum lelah. “Aku kembali bertemu sesuatu yang ganjil.”
Perkembangan masalah ini memang tak bisa diperkirakan oleh siapa pun.
“Fikirkanlah,” Hoa Ban-lau tiba-tiba berkata. “Apakah menurutmu di dunia ini memang ada orang yang berjari 6 di setiap kakinya?”
“Aku tak tahu, belum pernah melihatnya.”
“Jika tidak ada orang seperti itu di dunia ini, maka kita tak akan pernah bisa menemukan Tay-kim-peng-ong ‘yang sebenarnya’, kan? Lalu bukankah kata-kata Ho Siu akan menjadi kebenaran padahal sebenarnya tidak?”
Liok Siau-hong berfikir sebentar.
Tiba-tiba ia tersenyum.
“Aku hanya tahu bahwa dunia ini aneh, di mana segala macam orang-orang aneh pun ada.”
Hoa Ban-lau juga tersenyum.
“Benar, jika ada orang yang beralis 4, lalu kenapa tidak mungkin ada orang yang berjari-kaki 6? Sayangnya sekarang alismu hanya tersisa 2.”
Liok Siau-hong meraba-raba bagian atas bibirnya tempat kumisnya dulu berada.
“Kau keliru lagi.” Ia tersenyum.
“Tentang apa?”
“Tak perduli berapa sering seseorang mencukur kumisnya, kumis itu akan selalu tumbuh kembali.”
Setelah ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba ia melihat seseorang berjalan keluar dari kabut pagi yang tebal seperti sesosok hantu.
Wajahnya pucat, jelas ia kelelahan dan rapuh, tapi masih kelihatan sangat cantik.
Liok Siau-hong mengenalinya.
“Nona Yap Siu-cu?”
Yap Siu-cu mengangguk.
“Apakah Nona Yap menunggu seseorang di sini?”
Yap Siu-cu menggelengkan kepalanya.
“Aku telah berada di sini sejak tadi malam.”
“Mengapa?”
“Kami menguburkan guru dan adik seperguruan kami di sini,” ia menjawab dengan murung. “Kakak seperguruan merasa lelah, tapi aku….. aku tak bisa tidur.”
Ternyata ia adalah gadis yang paling jujur dan pemalu di antara Go-bi-su-siu, ia tampak canggung bila berbicara dengan seorang laki-laki.
Liok Siau-hong menarik nafas. Besar sekali rasa simpati dan haru yang ada di hatinya terhadap gadis ini, tapi ia tak tahu harus mengatakan apa.
“Kami tak berhasil menyusul Sebun Jui-soat,” Tiba-tiba ia bicara lagi. “Maka….. kami bahkan tidak tahu apakah adik seperguruan ke-3 kami masih hidup atau sudah mati.”
“Aku akan menemukannya untukmu.” Liok Siau-hong berjanji padanya.
Kepala Yap Siu-cu semakin ditundukkan.
“Ada sesuatu lagi yang harus kuberitahukan padamu.” Ia berkata setelah terdiam beberapa lama, dengan suara yang nyaris berupa sebuah bisikan.
Liok Siau-hong menunggu ucapannya selanjutnya.
“Seharusnya adik ketiga yang memberitahukan ini pada kalian, tapi sebelum ia melakukannya, ia telah….. telah…..” Tiba-tiba ia tak mampu mengontrol suaranya lagi dan terpaksa berhenti untuk mengendalikan dirinya sendiri. Dengan lembut dan perlahan ia menghapus air matanya dengan lengan bajunya dan meneruskan. “Sebabnya guru kami melakukan perjalanan ke sini adalah karena dia menerima informasi bahwa Loteng Pertama dari Jing-ih-lau berada di atas bukit di belakang Cu-kong-po-gi-kok.”
“Tidak ada informasi yang mutlak kebenarannya, tak perduli berasal dari mana pun.” Liok Siau-hong berujar.
Kepala Yap Siu-cu tiba-tiba menengadah.
“Tapi adik ketiga kami diserang orang karena informasi ini. Jelas seseorang tidak menginginkan dia mengatakannya. Itulah sebabnya aku merasa hal ini sangat penting dan kau harus mengetahuinya.” Terlihat tanda kegusaran di wajahnya, bahkan suaranya pun sedikit meninggi.
Liok Siau-hong merasa iba padanya.
“Aku tahu kau bermaksud baik,” ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Tak perduli apa pun yang terjadi, setelah aku berhasil menyingkap masalah ini, kaulah yang pertama akan kuberitahukan.”
Kepala Yap Siu-cu kembali menunduk dan ia terdiam beberapa lama.
“Jadi ke mana kalian akan pergi sekarang?” Ia berbisik lirih.
“Kami akan menemui seorang laki-laki berjari-kaki 6…..”
Kepala Yap Siu-cu segera terangkat lagi dan ia tampak terkejut mendengar komentar itu. Tiba-tiba ia membalikkan badan dan pergi.
Hoa Ban-lau menarik nafas.
“Sekarang ia mungkin mengira kau sudah gila.”
Liok Siau-hong juga menarik nafas.
“Sekarang aku pun semakin dan semakin meragukan kewarasanku.”
______________________________
Lorong yang panjang itu tampak gelap dan sepi. Mereka menunggu di ujung lorong, seseorang telah masuk untuk memberitahu Tay-kim-peng-ong tentang kedatangan mereka.
“Jadi kau yakin bisa membuatnya melepaskan sepatunya?” Hoa Ban-lau bertanya dengan perlahan, ia benar-benar ingin tahu.
“Tidak.”
“Kau sudah memikirkan caranya?”
“Aku sudah memikirkan beberapa cara, tapi aku tak bisa memutuskan akan menggunakan cara yang mana.”
“Coba berikan aku dua buah contoh.”
“Aku bisa secara sengaja menjatuhkan sebaskom air ke kakinya; atau aku bisa mengatakan bahwa aku benar-benar menyukai sepatunya dan bertanya padanya apakah dia mau melepaskannya untuk kulihat lebih seksama.”
“Apakah kau tahu betapa tololnya ide-idemu itu?” Hoa Ban-lau mengerutkan keningnya.
“Tentu saja aku tahu,” Liok Siau-hong tersenyum mengibakan. “Tapi seluruh masalah ini memang tolol, jadi bagaimana kau bisa mengharapkan aku tidak memikirkan ide-ide yang tolol?”
Ia berhenti bicara, karena pintu itu telah dibuka.
Tay-kim-peng-ong masih duduk di kursi yang besar tapi nyaman itu, wajahnya menampilkan perasaan gelisah yang meluap-luap.
“Jadi kalian telah menemukan 3 orang pengkhianat itu?” Ia bahkan tidak menunggu mereka berjalan memasuki ruangan itu sebelum bertanya.
“Hanya 2 orang.” Liok Siau-hong menjawab.
“Di mana mereka?” Wajah Tay-kim-peng-ong tampak bersinar.
“Mereka sudah mati.”
Ekspresi wajah Tay-kim-peng-ong berubah hebat.
“Mati? Kenapa?”
“Setiap orang tentu mati.”
Liok Siau-hong tidak terlalu memperhatikan jawaban-jawaban yang ia ucapkan karena ia tidak bisa melihat kaki Tay-kim-peng-ong --- sang kaisar tertutup dari paha ke bawah oleh sehelai selimut sutera yang berhiaskan naga-naga emas, seolah-olah dia takut pada hawa dingin.
Tapi Hoa Ban-lau segera menggantikan dirinya bercerita pada sang kaisar.
“Kami belum menemukan Ho Siu, karena dia sukar ditemukan,” ia akhirnya menambahkan. Ini adalah pertama kalinya ia berdusta, tiba-tiba ia menyadari bahwa berdusta bukanlah hal yang sulit dilakukan.
Karena saat ia mengucapkan perkataan dusta itu, di dalam hatinya ia tidak merasa berbuat salah pada orang lain dengan dusta tersebut.
Tay-kim-peng-ong menarik nafas panjang.
“Aku ingin bertemu dengan mereka untuk melihat apakah mereka masih punya muka untuk bertemu denganku.” Ia berkata dengan nada yang pahit.
“Tapi kami ingin bertemu dengan seseorang sekarang juga!” Hoa Ban-lau tiba-tiba berkata.
“Siapa?”
“Cu Ting.”
“Sebenarnya aku pun ingin bertanya pada kalian,” Tay-kim-peng-ong mengerutkan keningnya. “Aku telah dua kali mengirimkan orang untuk menjemputnya, dan dia masih belum datang juga.”
Hoa Ban-lau berfikir sebentar sebelum tersenyum.
“Mungkin karena dia adalah orang yang pemalas.”
“Hiasan naga di selimut tuan tampak indah sekali,” Liok Siau-hong tiba-tiba bicara, “seperti naga sungguhan.”
Ini adalah sebuah kalimat yang bodoh, setelah itu ia melakukan suatu hal yang bodoh lagi. Ia berjalan menghampiri dan menyingkap selimut itu. Tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku seperti orang tolol, tanpa bergerak sedikit pun, setelah ia mengangkat selimut itu. Tidak ada sesuatu apa pun yang keluar dari kaki celana panjang Tay-kim-peng-ong, kedua kakinya ternyata telah buntung dari lutut ke bawah.
“Kau mungkin bingung kenapa kakiku tiba-tiba menghilang, kan?”
Yang bisa dilakukan Liok Siau-hong hanyalah mengangguk seperti orang tolol.
“Kalian ingat masalah lama dengan kakiku?” Tay-kim-peng-ong menarik nafas. “Jika aku menyentuh arak, maka kakiku akan sakit. Bila seseorang sudah tua, dia semakin banyak mendapatkan masalah.”
Ini benar, dia pernah memberitahukan hal ini pada Liok Siau-hong saat terakhir kalinya mereka datang ke tempat itu.
“Tapi bila kalian sudah seusiaku, hiburan apa lagi yang kalian miliki selain minum sedikit arak?” Tay-kim-peng-ong tersenyum sedih.
“Jadi….. tuan telah minum arak?” Liok Siau-hong kembali memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.
“Kukira kalau minum sedikit saja tak akan bermasalah, tapi aku baru menghabiskan 3 cawan ketika kakiku mulai membengkak, maka….. maka aku memutuskan untuk menyingkirkannya saja dan menyuruh Liu Ih-hin untuk membuntunginya.”
Tiba-tiba ia berhenti dan tertawa terbahak-bahak. “Aku mungkin tidak punya kaki lagi, tapi paling tidak sekarang aku bisa minum tanpa harus merasa cemas. Malam ini aku akan menantang kalian berdua untuk bertanding minum, mari kita lihat apakah orang tua ini bisa minum arak sebaik kalian orang-orang muda ini.”
Liok Siau-hong hanya bisa menatapnya dengan senyuman dungu di wajahnya.
“Seandainya kalian datang beberapa hari lebih cepat, aku tentu akan mengeluarkan potongan kaki itu dan memperlihatkannya pada kalian untuk membuktikan bahwa biar pun aku sudah tua, aku masih punya semangat prajurit dalam diriku.”
“Di mana kaki tuan itu sekarang?” Liok Siau-hong terpaksa bertanya.
“Aku telah membakarnya.”
“Dibakar? Kenapa tuan membakarnya?” Liok Siau-hong terkejut.
“Kedua kaki itu telah mencegahku minum arak selama 10 tahun ini, kenapa aku tidak boleh membakarnya? Apakah kalian berharap aku akan menggunakannya sebagai makanan ringan yang dinikmati bersama arak?”
Liok Siau-hong tak bisa berkata apa-apa lagi. Sambil memandang ekspresi angkuh dan percaya diri pada wajah laki-laki tua ini, ia tiba-tiba merasa seperti orang tolol, orang yang benar-benar tolol.
Lorong itu masih gelap dan muram ketika mereka perlahan-lahan berjalan keluar melaluinya.
“Yah, paling tidak kita telah menyelesaikan masalah ini.” Hoa Ban-lau tiba-tiba tersenyum.
“Oh?”
“Kau tidak perlu memikirkan cara untuk melepaskan sepatunya lagi, karena dia memang tak punya sepatu!”
“Sejak kapan kau punya rasa humor?” Liok Siau-hong menjawab dengan dingin.
Tapi urusan ini sama sekali tidak lucu. Bahkan Ho Siu pun sekarang tak akan dapat mengetahui apakah Tay-kim-peng-ong ini asli atau tidak.
Jika kau mengatakan hal ini hanyalah kebetulan, dia tetap tak bisa percaya betapa sempurnanya kebetulan ini.
Jika kau mengatakan hal ini bukan sebuah kebetulan, lalu kenapa Tay-kim-peng-ong tahu tentang rencana mereka? Mereka langsung datang ke tempat ini segera setelah meninggalkan tempat Ho Siu. Jika Tay-kim-peng-ong tidak memiliki mata dan telinga yang bisa mengetahui kejadian-kejadian di tempat yang jauhnya beribu-ribu kilometer, tak mungkin ia bisa tahu bahwa mereka datang untuk melihat kakinya.
“Jika kakiku bengkak setiap kali aku minum, aku pun mungkin telah membuntunginya.” Liok Siau-hong menarik nafas.
“Tampaknya tidak sedikit orang di dunia ini yang lebih suka mati daripada berhenti minum.” Hoa Ban-lau balas menarik nafas.
“Ruangan itu mungkin masih dibiarkan kosong untukmu, kenapa kau tidak pergi tidur, jangan lupa kalau seseorang ingin menantangmu dalam adu minum nanti malam.” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.
“Bagaimana denganmu?”
“Aku akan mencari seseorang.”
“Siapa?”
“Seorang wanita, tentu saja. Seorang wanita yang mempunyai kaki.”
Wajah Hoa Ban-lau segera bersinar-sinar.
“Benar, kau harus menemukan seorang perempuan berjari-kaki 6 secepat mungkin.”
“Oh!”
“Jangan lupa bahwa setiap generasi Tay-kim-peng-ong selalu memiliki 6 jari kaki, ini adalah cacat turunan. Jadi jika Siangkoan Tan-hong adalah puteri Tay-kim-peng-ong, dia tentu punya 6 jari kaki juga, kau…...”
Ia berhenti bicara, karena tiba-tiba ia menyadari bahwa Liok Siau-hong telah menghilang.
______________________________
Hari sudah dekat senja. Bunga-bunga di kebun itu sedang mekar, angin pun membawa keharumannya, tapi tak ada seorang pun di sana.
Siangkoan Soat-ji tidak berada di kebun itu. Liok Siau-hong bukan mencari Siangkoan Tan-hong, karena ia tahu Siangkoan Tan-hong tidak mungkin berada di situ.
Tay-kim-peng-ong tidak mengucapkan sepatah kata pun yang menanyakan keberadaan puterinya. Ini sebuah masalah yang aneh lagi.
Liok Siau-hong tidak punya waktu untuk memikirkan masalah-masalah ini, sekarang ia hanya ingin menemukan Siangkoan Soat-ji secepat mungkin dan mengajukan sebuah pertanyaan padanya, sebuah pertanyaan yang sangat penting.
Bila ia tidak ingin melihat gadis kecil itu, dia selalu mondar-mandir di depannya, tapi sekarang, saat ia ingin bertemu dengannya, tak terlihat sedikit pun jejaknya di mana-mana. Liok Siau-hong menarik nafas, berjalan di tengah-tengah kebun bunga itu, dan tiba-tiba menemukan sebuah pintu kecil.
Pintu itu agak tersembunyi, di baliknya ada sebuah halaman kecil, di tengah halaman itu ada sebuah sumur.
Ia mendorong pintu itu hingga terbuka, berjalan masuk, dan akhirnya menemukan Siangkoan Soat-ji. Setan kecil ini tampaknya selalu berbuat yang aneh-aneh.
Saat itu dia sedang berjongkok di tengah halaman, sendirian, memandang tanpa berkedip pada sepetak tanah kosong dengan matanya yang besar, seperti sedang terhipnotis.
Tapi tidak ada apa-apa di atas tanah itu, bahkan sebatang rumput pun tidak.
Liok Siau-hong tak bisa membayangkan ada hal apa yang begitu menarik dengan sepetak tanah.
“Hei, Piauci,” ia akhirnya bertanya. “Apa yang sedang kau pandangi?”
Soat-ji tidak menjawab, bahkan dia pun tidak berpaling. Para pelajar yang akan mengambil ujian mereka pasti berharap bisa menandingi konsentrasinya pada saat ini.
Jadi apa yang sedang dipandang oleh setan kecil ini? Keingin-tahuan Liok Siau-hong pun bangkit.
Ia pun segera berjongkok di samping Soat-ji. Ke mana mata Soat-ji tertuju, ke situ juga matanya memandang. Ia masih tidak bisa melihat apa-apa.
Jelas tempat itu sudah lama tidak tersentuh air, tanahnya sangat kering, bunga dan rumput di kebun sebelah luar tumbuh dengan suburnya, tapi di dalam sini hanya ada tanah yang gundul.
Bahkan tempat ini sepertinya sudah lama tidak digunakan, rak kecil di atas sumur pun tertutup debu, di sisi lain halaman itu ada dua buah ruangan tua, gembok di pintu ruangan itu pun tertutup karat.
Liok Siau-hong memandang ke kanan dan ke kiri, dan masih tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh Soat-ji di sini.
“Waktu kakekku masih hidup,” Soat-ji tiba-tiba berkata, “ini adalah tempat dia bermeditasi.”
Liok Siau-hong tahu bahwa kakek gadis ini adalah Siangkoan Kin, orang yang bersama Ho Siu dan teman-temannya telah menerima perintah untuk membantu kaisar kecil, dia juga merupakan paman Tay-kim-peng-ong.
“Sejak kakekku wafat, tak seorang pun yang datang ke sini lagi.”
“Jadi apa yang kau lakukan di sini?” Liok Siau-hong akhirnya menyerah dan bertanya lagi.
Soat-ji tiba-tiba memutar kepala dan menatapnya.
“Itu juga yang ingin kutanyakan padamu, apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku…… aku ke sini mencarimu.”
“Untuk apa?”
“Untuk bertemu denganmu, dan berbincang-bincang denganmu.”
Soat-ji memasang wajah cemberut.
“Kau tidak percaya sepatah kata pun yang aku katakan, untuk apa aku berbincang-bincang denganmu!” Ia mendengus.
Liok Siau-hong tersenyum.
“Bagaimana kau tahu bahwa aku tidak mempercayai sepatah kata pun ucapanmu?”
“Kau sendiri yang mengatakannya.”
Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya.
“Jadi kau menganggap setiap kata yang aku ucapkan adalah benar?”
Soat-ji menatapnya dengan matanya yang besar, menatapnya untuk waktu yang lama. Lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.
Liok Siau-hong pun tertawa. Ia tiba-tiba menyadari bahwa bila Soat-ji tertawa, dia benar-benar kelihatan seperti seorang gadis yang penurut dan jujur.
Tapi mendadak Soat-ji membuat kaku wajahnya lagi.
“Apa pun yang ingin kau bicarakan denganku, ayo, katakanlah.”
“Aku ingin bertanya padamu, kapan terakhir kalinya kau melihat kakakmu?”
“Hari saat ia membawa pulang Hoa Ban-lau, yang juga merupakan hari keberangkatan kami untuk mencarimu.”
“Dan kau belum melihatnya lagi sejak kau pulang?”
“Tidak.” Tanda-tanda kesedihan kembali muncul di wajahnya. “Ia selalu baik padaku, bahkan jika ia akan pergi keluar, ia akan menitipkan pesan atau sesuatu untukku. Tapi kali ini….. kali ini ia tentu telah dibunuh oleh seseorang.”
Terlihat tanda-tanda di mata Liok Siau-hong yang menunjukkan bahwa fikirannya tidak terfokus ke masalah itu.
“Apakah ia sering pergi keluar?”
“Dulu dia tidak berani pergi ke luar, tapi setelah kakek wafat, dia semakin berani. Dia bukan hanya semakin sering pergi, dia bahkan sering pergi keluar selama setengah bulan atau lebih. Aku selalu curiga bahwa dia bertemu dengan seseorang di luar sana, tapi dia tak mau mengakuinya. Orang tua kami sudah lama meninggal, maka kami selalu bersama kakek kami. Kakakku tidak takut pada apa pun, tapi dia takut pada kakek.”
“Dan pamanmu tak pernah berusaha mengontrolnya?”
Soat-ji menggelengkan kepalanya.
“Walaupun ia ingin, tapi ia tak bisa. Suatu kali ia memutuskan untuk mengurung kakakku di kamarnya, dan kakak masih menemukan cara untuk melarikan diri dan pergi ke luar.”
“Apakah dia biasanya bersikap baik pada kakakmu?”
“Tidak, dia selalu memarahi kakakku, mengatakan bahwa ia merusak nama keluarga Siangkoan, tapi kakakku tak pernah mau mendengarkannya.”
Ia menggigit bibirnya sebelum meneruskan dengan perlahan. “Itulah sebabnya aku curiga kalau dia telah membunuh kakakku.”
“Tapi kakakmu belum mati.”
“Siapa bilang?”
“Belum lama ini Hoa Ban-lau melihatnya.”
“Dia melihat kakakku? Dia buta seperti kelelawar, bagaimana mungkin dia melihat kakakku?” Soat-ji tertawa dingin.
“Dia bisa tahu dari suara kakakmu.”
Ekpresi wajah Soat-ji tiba-tiba berubah.
“Itu tentu Siangkoan Tan-hong yang pura-pura menjadi dirinya. Mereka berdua memang mirip sejak kecil, bahkan mereka sering saling menirukan suara yang lain. Suatu hari dia pernah menutup mataku dan menggunakan suara kakakku untuk bicara denganku, bahkan aku pun terperdaya.”
Sebuah ekspresi aneh pun muncul di wajah Liok Siau-hong, walaupun masalah ini semakin memusingkan tetapi ternyata juga semakin menarik.
Tinju Soat-ji terkepal erat-erat.
“Sekarang setelah kau mengatakannya, aku jadi faham semuanya.” Tiba-tiba ia berkata. “Orang yang membunuh kakakku pasti dia dan bukan orang lain.”
“Maksudmu Siangkoan Tan-hong?”
Soat-ji mengangguk.
“Di luarnya dia mungkin selalu bersikap baik pada kakakku, tapi kakakku selalu mengatakan bahwa sikapnya itu palsu, hanya pura-pura. Karena dia selalu iri pada kakakku yang lebih cantik dan lebih cerdas daripada dirinya.” Ia tidak membiarkan Liok Siau-hong memotong dan meneruskan. “Setelah dia membunuh kakakku, dia sengaja muncul sebagai kakakku di depan Hoa Ban-lau untuk menipu kalian supaya menganggap kakakku belum mati.”
Liok Siau-hong menarik nafas. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Walaupun kata-kata Soat-ji agak gila, tapi memang masuk di akal.
Soat-ji tiba-tiba memegang tangannya.
“Itulah sebabnya aku membutuhkan bantuanmu.”
“Bantuan apa?”
“Aku mohon kau mau membantuku menggali mayat kakakku!”
“Kau tahu di mana mayat kakakmu dikuburkan?”
“Aku tahu, tentu saja aku tahu.”
Liok Siau-hong ingin tertawa, tapi tak bisa.
Tetapi ekspresi wajah Soat-ji tetap serius.
“Aku sudah mencari-cari di dalam kebun dan tak menemukannya. Tapi sekarang aku sadar bahwa di sinilah tempat dia membunuh kakakku, di tempat inilah tentu dia kuburkan mayatnya.”
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Bagaimana kau tahu?”
“Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, kakekku telah menjadi seorang hwesio. Dia bukan hanya tak mau membunuh seekor semut pun, dia malah sering membawakan beberapa butir beras untuk diberikan pada mereka. Di halaman inilah dia memberikan beras itu pada semut.” Perasaannya begitu meluap-luap sehingga wajahnya pun menjadi merah. “Tapi aku telah tinggal beberapa lama di sini dan mencari-cari selama 4 jam, tapi tak melihat seekor semut pun.”
“Dan karena itu kau berfikir…...”
“Aku fikir tentu ada racun di bawah permukaan tanah ini,” Soat-ji menyelesaikan ucapannya itu. “Sehingga semut pun jadi takut dan kabur.”
“Racun?”
“Ia tentu telah menggunakan racun untuk membunuh kakakku. Sekarang racun itu sudah merembes keluar dari mayat kakakku dan masuk ke tanah, maka tanahnya pun telah mati karena racun itu.”
“Tanah pun bisa mati oleh racun?”
“Tentu saja, tanah pun ada yang hidup dan ada yang mati. Cuma di atas tanah yang hidup, rumput dan bunga-bunga bisa tumbuh, dan kumbang-kumbang kecil serta semut bisa hidup.”
Liok Siau-hong kembali menarik nafas.
“Kau berfikir terlalu banyak, tahu? Jika seseorang berfikir terlalu banyak di masa kecilnya, maka waktu orang itu tumbuh dewasa dia pun akan cepat tua.”
“Jadi kau tak mau membantuku?” Soat-ji menatapnya.
“Aku telah mengalami cukup banyak peristiwa bodoh seharian ini.” Liok Siau-hong tersenyum mengingat nasibnya yang malang.
Soat-ji sekali lagi menatapnya selama beberapa saat.
“Tolong! Tolong!” Tiba-tiba dia mulai berteriak. “Tolong! Liok Siau-hong berusaha memperkosaku!”
Liok Siau-hong menjadi panik.
“Aku bahkan belum menyentuhmu, kenapa kau berteriak-teriak?”
“Aku bukan hanya akan berteriak sekarang juga. Mulai saat ini, setiap kali aku bertemu seseorang yang mengenalmu, aku akan memberitahu mereka bahwa kau sering memperkosaku!”
“Aku sering memperkosamu?” Kali ini Liok Siau-hong yang berteriak.
“Mmhmm, sering, berarti kau telah memperkosaku berkali-kali.”
“Dan kau kira ada orang yang mau mempercayai ucapan gadis kecil sepertimu?”
“Jika tidak ada yang percaya, maka aku akan melepaskan bajuku, maka mereka bisa melihat sendiri apakah benar aku masih kecil atau tidak!”
Liok Siau-hong menatapnya dengan terkejut.
“Gadis kecil ini gila, benar-benar tidak waras!” Ia bergumam pada dirinya sendiri, tak dapat menghentikan gelengan kepalanya saking tak percayanya.
“Baik, bagus, karena aku gila, maka aku akan mulai berteriak lagi.” Dan dia pun benar-benar berteriak-teriak lagi.
Tapi kali ini Liok Siau-hong menutup mulutnya dengan amat cepat.
“Kau ingin aku mulai menggali sekarang, kan?”
Soat-ji mengangguk.
“Jadi kau akan membantuku?” Ia segera bertanya setelah Liok Siau-hong melepaskan dekapan mulutnya.
“Aku hanya ingin tahu dari mana kau belajar tingkah laku seperti ini?” Liok Siau-hong sekali lagi tersenyum mengingat kemalangan nasibnya.
Soat-ji juga tersenyum.
“Ini adalah salah satu dari 3 tipuan tertua yang bisa digunakan wanita pada laki-laki, baru sekarang aku tahu betapa efektifnya tipuan ini.” “Jadi apa lagi 2 tipuan lainnya?”
“Kenapa aku harus memberitahumu,” Soat-ji menjawab dengan tersipu-sipu. “Aku masih harus menyimpannya untuk digunakan padamu!”
Ia melompat-lompat dengan penuh semangat.
“Aku akan mencari sebuah cangkul untukmu. Kau sebaiknya tinggal di sini dan menunggu seperti anak yang baik. Malam ini aku akan pergi dan mencuri beberapa ekor merpati supaya aku bisa menggorengnya untuk kau nikmati bersama arakmu.”
“Merpati?”
“Kakakku memelihara beberapa ekor merpati, biasanya dia tidak mengijinkan siapa pun mendekatinya, tapi sekarang…… sekarang kurasa dia tidak perduli lagi.”
Tanda-tanda kesedihan kembali muncul di wajahnya, tiba-tiba ia berpaling dan berlari pergi dengan cepat.
Memandang rambut kepang gadis itu yang melambai-lambai di belakangnya ketika ia berlari, sebuah ekspresi yang sangat aneh pun tiba-tiba muncul di wajah Liok Siau-hong. Tiba-tiba ia melompat bangkit dan mengejar Soat-ji.
“Aku akan ikut mencari cangkul bersamamu.”
“Mengapa?”
Liok Siau-hong tertawa.
“Aku takut kau dibawa pergi oleh merpati-merpati itu.”
Senyumannya tampak sedikit aneh.
Soat-ji balas menatapnya.
“Kau takut kalau aku tiba-tiba menghilang seperti kakakku, bukan?”
Angin dingin berhembus lewat, beberapa ekor burung walet berhamburan dari balik semak bunga dan terbang melintasi tembok. Warna langit semakin gelap.
Liok Siau-hong memandang bayang-bayang burung walet yang menghilang dalam sinar senja, tiba-tiba ia menarik nafas.
“Burung walet saja tidak mau tinggal di tempat ini, apalagi manusia…...”
Apakah Siangkoan Hui-yan, seperti burung-burung walet itu, terbang pergi melampaui tembok? Ataukah dia telah terkubur di bawah tanah?
Mengapa Siangkoan Tan-hong tiba-tiba juga menghilang? Mungkinkah Tay-kim-peng-ong mengetahui keberadaannya dan karena itu tidak menanyakannya lagi dari mereka?
Pada kakinya yang dibuntungi itu apakah ada 6 jari kaki? Adakah orang di dunia ini yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?
______________________________
Senja. Angin semakin dingin dan bersih. Angin yang dingin dan bersih itu bertiup masuk melalui jendela dan mengusap kulitnya, karena itulah Hoa Ban-lau tahu bahwa hari telah menjelang malam.
Kulitnya pun seperti hidung dan telinganya, memiliki sensitifitas yang jauh di luar kemampuan manusia rata-rata.
Tapi sekarang ia sedang tidak ingin menikmati angin bulan empat yang segar ini. Hati dan fikirannya sedang kacau.
Sejak dia bertemu dengan Siangkoan Hui-yan di kedai arak kecil itu, hatinya sering terasa kacau, terutama bila dia sedang sendirian.
Ia tak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak benar, tapi apa tepatnya ia sendiri pun tak tahu.
Saat itu sudah dekat waktunya makan malam, dan Liok Siau-hong masih belum kembali, Tay-kim-peng-ong pun belum mengutus orang untuk memberitahunya agar bersiap-siap buat makan malam.
Situasi akan berubah lagi, ia bisa merasakannya, tapi apa tepatnya perubahan itu, ia pun tak tahu.
Pada saat itu, tiba-tiba ia menyadari adanya sebuah aroma yang sangat istimewa terbawa bersama angin, aroma itu pulalah yang selama ini menyebabkan hatinya begitu kacau dan gundah.
Mungkinkah Siangkoan Hui-yan telah kembali? Perlahan-lahan ia menyentuh ambang jendela dan melesat ke luar jendela, ia yakin inderanya tidak berbohong padanya.
Tapi ia tak melihat apa-apa. Di dunianya, tak akan pernah ada cahaya atau pun warna, hanya ada kegelapan. Kegelapan yang tiada harapan!
Aroma itu sekarang telah bercampur dengan wangi bunga, membuat dirinya jadi kehilangan arah. Tapi dari sebuah arah di mana aroma itu tercium paling kuat, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara.
“Aku telah kembali.” Itu adalah suara Siangkoan Hui-yan.
Hoa Ban-lau berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol emosi yang meluap-luap di dalam hatinya. Setelah beberapa lama, akhirnya ia pun bisa tenang dan menarik nafas.
“Jadi kau benar-benar telah kembali.” Ia menjawab.
“Kau tahu bahwa aku akan kembali?”
“Aku tak tahu, tapi aku berharap.”
“Kau sedang memikirkan diriku?”
Hoa Ban-lau tersenyum. Senyumannya mengandung sebuah perasaan yang tak teruraikan dengan kata-kata. Apakah itu kebahagiaan? Ataukah kegetiran yang memilukan?
Tapi Siangkoan Hui-yan telah berjalan menghampirinya dan memegang tangannya.
“Ada apa, apakah kau tak senang kalau aku kembali?”
“Ada satu hal yang tak bisa kuperkirakan.”
“Apa itu?”
“Kenapa saat 2 kali yang terakhir ini aku bertemu denganmu, orang lain selalu muncul di dalam fikiranku?”
“Siapa?”
“Siangkoan Tan-hong.”
Ketika ia mengucapkan nama itu, ia merasa seolah-olah tangan Siangkoan Hui-yan berguncang perlahan.
Tapi tangan gadis itu segera memegang kembali tangannya dengan erat.
“Kau bertemu denganku, tapi memikirkan dia?” Ia berkata, dengan nada cemburu dalam suaranya.
“Mm!”
“Mengapa?”
“Karena…… karena aku sering keliru menyangka bahwa kau dan dia adalah orang yang sama.”
Siangkoan Hui-yan tertawa.
“Kenapa kau berfikir begitu?”
“Aku pun tak tahu, itulah sebabnya…… aku merasa hal itu sangat aneh.”
“Apakah kau mempercayai ucapan adikku? Bahwa Siangkoan Hui-yan telah mati? Dan bahwa Siangkoan Hui-yan yang ini hanyalah Siangkoan Tan-hong yang sedang menyamar?”
Hoa Ban-lau tidak menjawab, karena sebenarnya kecurigaan itu memang ada di hatinya, tapi ia tidak ingin berdusta pada orang yang ia cintai.
“Kau masih ingat pada Cui It-tong? Kau masih ingat saat kau bertanya padaku apakah aku mendengar suara salju yang jatuh di atap atau tidak? Bisakah aku merasakan kekuatan hidup yang aneh tapi ajaib waktu kuncup bunga mengembang perlahan-lahan di musim semi? Apakah aku tahu bahwa angin musim gugur sering membawa aroma pepohonan dan tumbuh-tumbuhan dari lereng bukit di kejauhan?”
Tentu saja Hoa Ban-lau ingat. Pertanyaan-pertanyaan itu berasal dari dirinya, tapi sekarang Siangkoan Hui-yan telah mengulanginya kata demi kata.
“Jika aku adalah Siangkoan Tan-hong, lalu bagaimana aku bisa tahu tentang kata-kata yang kau ucapkan padaku? Bagaimana aku bisa mengingatnya dengan begitu jelas?”
Hoa Ban-lau tersenyum, tiba-tiba ia menyadari bahwa kecurigaannya benar-benar berlebihan.
Hatinya kembali terisi dengan perasaan simpati pada gadis ini, ia pun mengulurkan tangan dan mengelus-elus rambut si dia.
Siangkoan Hui-yan telah berada di dalam pelukannya dan balas memeluk dirinya erat-erat. Hatinya penuh dengan perasaan puas dan senang yang tak teruraikan dengan kata-kata, ia seperti sedang berada di dunia lain. Pada saat itulah, tiba-tiba ia merasa jari tangan Siangkoan Hui-yan menyentuh jalan darah di bagian belakang kepalanya. Ia pun langsung tak sadarkan diri setelah itu.
______________________________
Sekarang telah ada sebuah lubang selebar kira-kira setengah meter dan sedalam satu meter di tanah, dan tubuh Liok Siau-hong pun sudah penuh dengan keringat.
Siangkoan Soat-ji sedang berjongkok di pinggir, sambil bertopang dagu. Ia menyuruh Liok Siau-hong untuk terus bekerja tanpa berhenti.
“Kenapa kau berhenti? Terus gali, ayo. Kelihatannya saja kau begitu kuat, siapa tahu ternyata begitu tak berguna?”
Liok Siau-hong menghapus keringat dengan lengan bajunya.