“Jika kau tidak tahu siapa dia, dan kau tidak bermaksud membuntutinya, lalu kau akan melepaskan saja masalah ini?”
“Kita tidak bisa berhenti sekarang.”
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”
“Aku mungkin tidak dapat menemukannya, tapi dia tentu akan datang mencariku.”
“Kau yakin?”
“Paling tidak 70% yakin.”
“Oh?”
“Ia mengira aku telah tahu siapa dirinya, bagaimana mungkin ia membiarkanku hidup?”
“Jadi ucapanmu tadi bermaksud membuat dirinya mencarimu!”
“Aku mengatakan yang perlu aku katakan, juga untuk menyelamatkan nyawa Siangkoan Hui-yan.”
“Jika kau telah tahu siapa dia, maka dia tidak perlu membunuh gadis itu untuk merahasiakan identitasnya.”
Liok Siau-hong kembali tersenyum.
“Paling tidak orang pertama yang akan ia cari adalah aku, bukan Siangkoan Hui-yan.”
“Sayangnya ia tidak bisa mendengar apa yang barusan kau katakan.”
“Ya, ia bisa!”
Hoa Ban-lau mengerutkan keningnya.
“Menurutmu ia juga ada di sana?”
“Ia pun masih berada di sana sekarang.”
“Karena itu ia bisa muncul kapan saja, dan mencoba membunuhmu kapan saja.”
“Benar.”
“Tapi kau tampaknya sama sekali tidak merasa khawatir.”
Liok Siau-hong tersenyum.
“Yang terbaik pada diriku adalah bahwa……”
Ia tidak menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ia melihat ekspresi wajah Hoa Ban-lau berubah. Hoa Ban-lau bukanlah orang yang mudah bereaksi terhadap sesuatu.
“Apa yang terjadi?” Ia tak tahan untuk tidak bertanya.
“Darah!” Hoa Ban-lau menjawab dengan suara yang dalam.
“Darah apa? Darah siapa?”
“Aku hanya berharap itu bukan darah Siangkoan Hui-yan”.”
Darah itu ternyata memang darah Siangkoan Hui-yan. Tenggorokannya telah tergorok, darahnya tidak berhenti mengalir.
Ekspresi wajahnya memperlihatkan perasaan terkejut, marah, dan ngeri, persis seperti ekspresi wajah Tay-kim-peng-ong waktu dia mati.
Jelas ia tidak percaya kalau pembunuhnya tega membunuhnya! Sampai mati pun ia tidak percaya.
---Apakah itu kekasihnya? Atau orang yang tidak punya perasaan cinta? Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada kegelapan.
Bau anyir darah yang terbawa angin masih sangat tebal.
“Ia tetap membunuhnya!” Hoa Ban-lau berkata.
“Mm!”
“Jelas dia tidak mempercayai apa yang kau katakan.”
“Mm!”
“Sekarang ia telah membunuh Siangkoan Hui-yan, tidak ada lagi orang di dunia ini yang tahu siapa dia.”
“Mm!”
“Maka kau tak akan pernah menemukannya.”
“Aku hanya tahu bahwa jika seseorang, tak perduli siapa, berbuat salah, maka ia tentu akan mendapatkan ganjarannya.” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.
“Siangkoan Hui-yan telah mendapatkan ganjarannya,” Hoa Ban-lau berkata dengan nada berat. “Tapi bagaimana dengan pembunuhnya?”
Pembunuh itu telah menghilang dalam kegelapan, mungkin menghilang selamanya.
Liok Siau-hong tiba-tiba memegang tangan Hoa Ban-lau.
“Di mana Lopan?”
Lopan telah menghilang. Ruang penjara yang awalnya dimaksudkan untuk mengurung mereka telah terbuka. Sebuah meja tua tampak terbalik, kendi air dan cawan pun pecah berantakan.
“Mereka tentu telah bertarung.”
“Menurutmu orang itu datang ke mari dan menangkap Cu Ting bertiga?”
“Tampaknya ia masih khawatir padaku,” Liok Siau-hong mendengus. “Maka ia datang dan menangkap Cu Ting bertiga untuk digunakan sebagai sandera melawanku.”
“Dapat menangkap mereka bertiga secepat ini, ilmu kungfunya tentu tidak lebih rendah darimu.”
Cu Ting dan Lopannio bukanlah orang yang lemah, apalagi masih ada Siangkoan Soat-ji yang kecil tetapi pintar.
“Aku memang sudah menduga kalau ilmu kungfunya tidak lebih rendah dariku.”
“Tidak banyak orang yang berilmu setinggi itu di dunia persilatan.”
“Karena itu ia telah melakukan sebuah kesalahan.”
“Ia tentu belum pergi jauh.”
“Dengan melakukan hal ini, sama saja dia telah mengakui perbuatannya.”
Hoa Ban-lau menarik nafas. “Seperti yang kukatakan sebelumnya, setiap orang bisa berbuat salah.”
“Jika seseorang berbuat salah maka ia harus menanggung akibatnya, tidak ada kekecualian.”
______________________________
Ruangan itu sepi seperti sebuah kuburan. Sepuluh orang laki-laki duduk di sana, sambil memandang Liok Siau-hong: Hoan-taysiansing, Kan-jisiansing, Ji-ceh-jit-hiap, dan San Say-gan. Telah banyak arak yang dihabiskan, tapi sekarang semuanya berhenti.
Bila sahabat berkumpul untuk minum, seharusnya sulit untuk berhenti sebelum mabuk. Tapi saat itu mereka semua masih segar. Tidak ada tanda-tanda mabuk di wajah mereka; malah, masing-masing dari mereka menampilkan ekspresi yang aneh di wajahnya.
Ekspresi wajah San Say-gan adalah yang paling aneh ketika ia menatap Liok Siau-hong.
“Dan menurutmu dalang dari semua ini adalah dia?” Tiba-tiba ia bertanya.
Liok Siau-hong mengangguk.
“Apakah kau benar-benar yakin?”
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Kita bersahabat, dan aku tahu hubungan antara dia dengan kalian semua. Jika aku tidak benar-benar yakin, untuk apa aku datang ke sini?”
San Say-gan memukulkan tinjunya ke atas meja.
“Jika Ho Thian-jing benar-benar melakukan hal ini, maka apa pun hubungan di antara kami, semuanya akan berakhir! Aku tidak perduli hubunganku dengannya!” Ia berkata dengan tegas.
“Tapi aku masih tidak percaya kalau ia bisa berbuat begitu.” Hoan-taysiansing menantang dengan dingin.
“Aku pun tidak ingin percaya,” Liok Siau-hong menjawab. “Tapi selain dari dirinya, tidak terfikir lagi orang lain.”
“Oh?”
“Hanya dia yang bisa mengalahkan Cu Ting bertiga dalam sekejap.”
“Jika cuma itu buktimu, maka itu tidak cukup.” Hoan Gok mendengus.
“Hanya dia yang mungkin tahu rahasia Tay-kim-peng-ong, karena dia adalah orang yang paling dipercaya oleh Giam Thi-san.”
“Itu masih tidak cukup.”
“Dan hanya dia yang mungkin mendapatkan untung dari semua ini. Bila Giam Thi-san mati, maka Cu-kong-po-gi-kok akan menjadi miliknya.”
Giam Thi-san itu seperti Ho Siu, dia juga seorang perjaka tua. Kecurigaan orang-orang bahwa dia dulunya adalah seorang kasim bukanlah tanpa alasan.
“Di samping itu,” Liok Siau-hong meneruskan. “Kenapa orang yang memiliki ilmu dan kedudukan seperti dirinya mau menjadi Congkoan untuk orang seperti Giam Thi-san?”
Bahkan Hoan Gok pun tidak bisa menyangkal kenyataan ini.
“Tidak ada orang yang akan curiga bahwa Loteng Pertama dari Jing-ih-lau tidak lain adalah Cu-kong-po-gi-kok.” Liok Siau-hong menambahkan.
“Tunggu, menurutmu Jing-ih-lau yang pertama adalah Cu-kong-po-gi-kok?” Ekspresi wajah San Say-gan tampak berubah hebat ketika mendengar pernyataan itu.
Liok Siau-hong mengangguk.
“Jelas, alasan Tokko It-ho datang ke sini adalah karena dia tahu tentang hal ini. Ini juga alasan kenapa Ho Thian-jing memaksanya untuk menghabiskan energinya supaya dia mati di bawah pedang Sebun Jui-soat.”
“Sun Siu-jing dan Ciok Siu-hun juga dibunuh oleh Siangkoan Hui-yan karena mereka ingin mengungkapkan rahasia ini.” Hoa Ban-lau dari tadi duduk diam di pinggir, tapi ia tak tahan lagi untuk tetap berdiam diri.
“Jika mereka tahu tentang rahasia ini, lalu kenapa Ma Siu-cin dan Yap Siu-cu tidak mengetahuinya?” San Say-gan bertanya.
“Mereka juga tahu!” Liok Siau-hong menjawab.
“Tapi mereka masih hidup.”
“Yap Siu-cu memang masih hidup, tapi hanya karena dia, seperti juga Siangkoan Hui-yan, jatuh cinta pada pendekar muda Ho Thian-jing yang tampan.”
“Tapi bagaimana dengan Ma Siu-cin?”
“Jika dugaanku benar, maka dia tentu telah mati di tangan Ho Thian-jing, malah bisa jadi Yap Siu-cu yang membunuhnya.”
“Dan dia berusaha mengalihkan perhatianmu dengan menceritakan tentang villa kecil di belakang gunung untuk membuatmu pergi mencari Ho Siu.” San Say-gan menduga-duga.
Liok Siau-hong mengangguk tanda setuju.
“Tidak perduli apakah aku akan mati di dalam bangunan itu atau jika aku berhasil membunuh Ho Siu, seluruh persoalan ini akan beres dan dia tentu akan bisa tenang!”
“Tapi ia tidak menduga kalau kau dan pertapa tua itu adalah teman lama.” San Say-gan merenung.
“Ia ingin tahu bagaimana persoalan ini berakhir, itulah sebabnya ia menyuruh Yap Siu-cu menanti di luar.”
“Dan ia adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa kalian berdua pergi mencari Ho Siu.”
Liok Siau-hong mengangguk lagi tanda setuju.
“Tapi Yap Siu-cu membuat satu kesalahan.” Liok Siau-hong berkata.
“Apa itu?”
“Ia mengatakan bahwa ia berada di sana karena ia baru saja menguburkan Tokko It-ho dan Ciok Siu-hun.”
“Tokko It-ho adalah ketua sebuah partai, kenapa dikuburkan di sembarang tempat?” San Say-gan mengerutkan keningnya.
“Yap Siu-cu memang seorang gadis yang baik.” Liok Siau-hong menarik nafas lagi. “Dia masih tidak tahu bagaimana caranya berdusta.”
San Say-gan pun menarik nafas.
“Berbohong di hadapan orang sepertimu memang tidaklah mudah.” Ia tersenyum jengkel.
“Tapi aku memberitahukan tentang rahasia 6 jari kaki itu padanya, maka dia segera pergi dan memberitahu Ho Thian-jing. Cu-kong-po-gi-kok letaknya kan sangat dekat dengan tempat Ho Siu.”
“Dengan demikian hanya Ho Thian-jing yang bisa tahu rahasia ini darinya dengan begitu cepat.”
“Benar.”
“Kau sengaja membocorkan rahasia ini padanya, atau hal itu hanya kebetulan?” San Say-gan ingin tahu.
Liok Siau-hong tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung. Ia hanya tersenyum dan berkata: “Saat itu aku hanya berfikir bahwa dia tidak seharusnya muncul di sana. Aku merasa hal itu agak ganjil.”
San Say-gan menatapnya, lalu menarik nafas lagi.
“Kau tahu, namamu seharusnya bukan Siau-hong, si burung hong kecil,” ia tertawa. “Namamu seharusnya si rubah kecil!”
Liok Siau-hong pun menarik nafas.
“Tapi aku sangat kagum pada Ho Thian-jing.” Ia tersenyum cemas. “Ia benar-benar seorang ahli siasat yang ulung dan sangat cerdas. Jika seluruh kejadian ini adalah pertandingan catur, maka ia tentu telah meramalkan setiap gerakan yang akan dibuat musuhnya.”
“Sayangnya, akhirnya ia tetap saja membuat sebuah gerakan yang salah.” San Say-gan memberi komentar.
“Setiap manusia bisa berbuat salah, dan dia adalah manusia.”
“Sebenarnya, walaupun dia tidak membuat gerakan terakhir itu, kau masih bisa menyudutkannya.” Hoan Gok tiba-tiba tertawa dingin dan berkata.
“Paling tidak saat itu aku masih belum begitu yakin!”
“Bagaimana dengan sekarang?” Hoan Gok bertanya.
“Sekarang aku pun masih belum yakin 100 %, baru kira-kira 90 %.”
“Kenapa kau datang kepada kami?” Hoan Gok bertanya.
“Kalian adalah sahabat-sahabatku, dan aku pernah berjanji pada kalian bahwa aku tidak akan bertarung dengannya.”
“Dan sekarang kita tidak bersahabat lagi?” Hoan Gok bertanya lebih jauh.
“Kita tetap bersahabat, itulah sebabnya aku datang ke mari.”
“Untuk membatalkan janjimu dulu?”
“Jika seseorang berbuat salah, maka ia harus menanggung akibatnya, meski pun ia adalah Ho Thian-jing!”
“Kau benar-benar berharap kami mau membantumu membunuhnya!”
“Aku hanya ingin kalian memberitahu dia bahwa, pada waktu terbitnya matahari besok, aku akan menunggunya di Jing-hong-koan!”
“Bagus sekali.” Hoan Gok menjawab. Tiba-tiba dia bangkit dan, dengan tatapan setajam pisau, memandang pada Liok Siau-hong. “Silakan.”
“Silakan? Silakan apa?”
“Silakan, bersiap-siaplah!”
“Kalian tidak percaya pada apa yang aku katakan?”
“Aku hanya tahu bahwa Ho Thian-jing adalah pemimpin Thian-kim-bun, dan aku kebetulan adalah murid Thian-kim-bun……”
“Jadi kau……”
“Selama aku, Hoan Gok, masih hidup, tak seorang pun boleh mengganggu Ho Thian-jing.”
San Say-gan mengerutkan keningnya.
“Tidak pernahkah kau dengar kata pepatah: “’Kebenaran dulu baru keluarga?’”
“Ya, aku pernah mendengarnya,” Hoan Gok menjawab dengan dingin. “Tapi aku sudah lupa.”
“Kita adalah bajingan-bajingan yang tidak tahu perbedaan antara yang benar dan yang salah!” Kan-jisiansing pun bangkit berdiri dengan lambat.
“Orang seperti ini pantas mati!” Si tukang roti tiba-tiba berteriak.
“Benar, benar sekali.” Kan-jisiansing menjawab.
“Sayangnya aku, Pau Ngo-ya, kebetulan juga jenis orang seperti ini.” Si pedagang roti berkata.
“Maka kau pun pantas mati.” Kan-jisiansing menjawab.
“Bukan hanya pantas mati, tapi pantas mati sekarang juga!”
Tiba-tiba dia melompat bangkit dan, seperti sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, melesat dengan kepala ke arah tembok. Tapi kepalanya ternyata tidak membentur tembok, tapi dada Liok Siau-hong. Liok Siau-hong tiba-tiba telah berada di depannya.
Saat masih di udara, si tukang roti pun berjumpalitan ke belakang, menendang salah satu balok di langit-langit rumah, dan meluncur turun dengan kepala di bawah ke arah lantai batu. Kepalanya masih juga tidak berhasil membentur lantai. Malah ia merasakan sebuah tangan mendorong pinggangnya sedikit, dan, sebelum ia sadar, ia telah berdiri di lantai, menghadapi orang itu. Orang bertubuh jangkung itu berdiri tegak dengan wajah pucat. Ho Thian-jing!
Semua orang merasa terkejut, termasuk Liok Siau-hong. Tak seorang pun bermimpi bahwa Ho Thian-jing akan muncul di saat dan di tempat ini, tak seorang pun membayangkan kalau ia berani datang ke sini. Walaupun wajah Ho Thian-jing tampak pucat, ekspresinya masih sangat tenang.
“Kenapa…… kenapa kau tidak membiarkan aku mati?” Kedua tinju Pau Ngo-ya terkepal erat-erat.
“Kau pantas mati?” Ho Thian-jing bertanya.
Pau Ngo-ya mengkertakkan giginya.
“Aku pantas mati……”
“Apakah kalian semua pantas mati? Apakah kalian ingin menghancurkan Thian-kim-bun?” Ho Thian-jing bertanya dengan dingin.
Pau Ngo-ya terlalu kaget dengan pertanyaan ini sehingga tidak mampu menjawab.
“Sebabnya Thian-kim-bun mengajari kalian kungfu bukanlah supaya kalian semua bunuh diri!”
“Tapi kau?” hanya itu yang bisa dikatakan oleh Pau Ngo-ya.
“Tapi aku ini apa? Apa hubunganku dengan kalian?” Ho Thian-jing mendengus. “Biar pun kalian semua mati, aku tidak akan memejamkan sebelah mata pun.”
“Tapi baru saja kau……”
“Aku hanya tidak mau kalian semua mati karena aku, itu saja.” Ho Thian-jing kembali memotong ucapan Pau Ngo-ya. “Jika seorang tukang roti mati karena aku, harus ditaruh di mana nanti mukaku?”
Tiba-tiba ia merogoh ke dalam bajunya, mengeluarkan sebuah lencana bambu, dan mematahkannya jadi dua bagian.
“Aku, Ho Thian-jing, punya uang dan kemasyhuran, dan telah lama bosan pada tugas ketua partai yang bodoh dan miskin ini.” Ia berkata dengan dingin. “Sejak saat ini, Thian-kim-bun dan aku tidak punya hubungan apa-apa lagi. Jika ada yang berani mengatakan bahwa aku masih anggota Thian-kim-bun, maka aku tentu akan memotong lidahnya dan mematahkan kakinya.”
Pau Ngo-ya memandangnya, matanya menjadi merah. Tiba-tiba ia bergulingan di lantai sambil menangis.
Bahkan mata San Say-gan pun tampak sedikit memerah. Tetapi, tiba-tiba dia menegakkan kepalanya dan mengeluarkan suara tawa yang keras.
“Pertunjukan yang bagus, Ho Thian-jing, ternyata margamu masih ‘Ho’ ya? Paling tidak kau masih belum malu memakai nama itu.”
Mereka saling berhadapan, dan saling bertatapan. Tak seorang pun yang tahu berapa lama hal itu berlangsung. Akhirnya, Liok Siau-hong menarik nafas panjang: “Kenapa kau? Kenapa harus kau?”
“Seseorang seperti dirimu tak akan pernah memahami apa yang kami lakukan.” Ho Thian-jing menjawab dengan dingin.
“Aku mengerti bahwa kau benar-benar ingin melakukan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang mengagumkan. Aku faham bahwa kau tidak ingin seluruh hidupmu berada di bawah bayang-bayang ayahmu yang mulia. Tapi ini……”
“Inilah sesuatu yang luar biasa itu,” Ho Thian-jing memotong dengan sengit. “Selain dari diriku, Ho Thian-jing, siapa lagi yang bisa melakukan sesuatu seperti ini?”
Liok Siau-hong tersenyum geram: “Tidak ada lagi.”
“Dan selain dirimu, tidak ada lagi yang bisa menghancurkan rencanaku!” Tiba-tiba ia menegakkan kepalanya dan menarik nafas. “Jika ada seorang Ho Thian-jing di dunia ini, lalu kenapa harus ada seorang Liok Siau-hong!”
“Karena itu……”
“Karena itu, di antara kita berdua, salah satu harus ada yang mati. Tapi apakah itu kau? Atau aku?”
“Kita mungkin akan tahu saat matahari terbit besok.” Liok Siau-hong pun menarik nafas.
“Fajar akan selalu datang besok, kenapa persoalan esok hari tidak diselesaikan hari ini?” Ho Thian-jing mendengus. Tiba-tiba ia mengibaskan lengan bajunya dan ia telah berada di luar pintu, orang bisa mendengar suaranya yang dingin dan lembut mengalun dari sebuah tempat yang sangat jauh. “Pada saat senja hari ini, aku akan menunggumu di luar Jing-hong-koan!”
______________________________
Senja. Jing-hong-koan. Kuil Angin Hijau itu terletak di puncak sebuah gunung yang hjau, lereng gunung itu sekarang sudah berada di sisi yang berbeda dengan matahari terbenam.
Sikap Hoa Ban-lau tampak amat serius.
“Ho Thian-jing masih belum datang!” Ia berkata sambil menarik nafas.
“Dia akan datang.”
“Tidak kusangka kalau dia adalah orang seperti itu, seharusnya dia tidak melakukan semua perbuatan itu.”
“Tapi tetap dia lakukan.” Liok Siau-hong menjawab dengan murung.
“Mungkin karena dia terlalu angkuh, dia bukan hanya ingin lebih baik daripada semua orang, dia pun ingin lebih baik daripada ayahnya sendiri!”
“Keangkuhan adalah hal yang sangat bodoh.”
Jika seseorang terlalu angkuh, dia tentu akan melakukan sesuatu yang bodoh.
“Dan karena keangkuhan itu pula, maka dia mau bertanggung-jawab untuk semua perbuatannya.”
Liok Siau-hong terdiam beberapa lama.
“Jika kau menjadi aku, maukah kau melepaskannya?” Tiba-tiba ia bertanya.
“Aku bukan kau.”
Liok Siau-hong menarik nafas yang panjang dan lelah. “Untunglah kau bukan aku, dan untunglah aku bukan kau……”
Hoa Ban-lau tidak menjawab, karena saat itu ia mendengar bunyi pintu dibuka. Pintu depan Jing-hong-koan yang berat dan antik itu dibuka dengan perlahan. Seorang bocah pelayan berjalan keluar, sambil menenteng sebuah lentera. Seorang laki-laki ikut di belakangnya. Bukan Ho Thian-jing, tapi seorang tosu (pendeta Tao) berjubah kuning. Jubah dan lengan bajunya kelihatan amat besar, seperti semua jubah lainnya. Keningnya menekuk ke dalam. Pada wajahnya yang tirus tetapi bersih terlihat ekspresi yang sangat murung. Walaupun langkah kakinya ringan dan gesit, tampaknya dia tidak pernah berlatih kungfu.
Dia memandang ke sekeliling tempat itu sebentar sebelum berjalan dengan langkah tetap ke arah Liok Siau-hong dan memberi hormat kepadanya.
“Apakah ini Liok Siau-hong, Liok-toasiauya, yang dermawan?”
{Catatan: Sapaan ini bukan berarti pendeta itu mengira kalau Liok Siau-hong datang ke sana untuk memberi derma. Pendeta Tao dan Budha secara tradisional selalu menyapa orang yang bukan pendeta sebagai sicu=“dermawan”.}
Liok Siau-hong mengangguk. “Dan totiang adalah……”
“Tosu yang sederhana ini bergelar Jing-hong, pinto adalah ketua kuil ini.”
“Apakah totiang adalah teman Ho Thian-jing?”
“Ho-kongcu yang dermawan dan pinto adalah teman bermain catur, setiap bulan tentu dia akan datang ke kuil ini untuk bertanding catur beberapa babak.”
“Di mana dia sekarang?”
Sebuah ekspresi yang sangat aneh kembali muncul di wajah Jing-hong Tojin.
“Sebabnya pinto keluar adalah untuk membawa tuan yang dermawan menemuinya.”
“Di mana dia berada?”
“Ia berada di ruang tamu kuil,” Jing-hong Tojin menjawab dengan lambat. “Ia sudah lama berada di sana.”
Halaman sebelah dalam kuil itu sangat sepi. Bau dupa yang dibakar tercium di udara lewat jendela-jendela yang setengah terbuka. Pintu kuil itu juga tampak terbuka setengahnya.
Liok Siau-hong berjalan melintasi halaman. Setelah Jing-hong Tojin membuka pintu, dia pun melihat Ho Thian-jing. Tapi Ho Thian-jing tidak akan pernah melihatnya lagi.
Ho Thian-jing telah mati di atas kasur tamu Jing-hong Tojin. Di atas lantai di dekat kasur itu terdapat sebuah cawan arak yang berhias naga, di dalamnya masih ada arak. Arak beracun.
Wajah Ho Thian-jing tampak berwarna kelabu. Di sudut matanya dan tepat di bawah hidungnya terlihat noda darah yang belum terhapus. Liok Siau-hong menatapnya, hatinya seperti karam.
Wajah Jing-hong Tojin pun tampak sedih.
“Waktu dia muncul, pinto menduga bahwa dia datang untuk menyelesaikan pertandingan yang belum kami selesaikan kemarin,” Ia menerangkan dengan murung. “Aku ingin melihat ide baru apa saja yang ia bawa untuk menyelamatkan posisinya. Tapi ia malah mengatakan bahwa hari ini ia tidak ingin bermain.”
“Ia hanya ingin minum.” Liok Siau-hong menebak.
Jing-hong Tojin mengangguk. “Aku melihat sikapnya tampak aneh, seakan-akan ada sesuatu yang menjadi beban fikirannya. Ia juga menarik nafas terus-menerus dan bergumam pada dirinya sendiri.”
“Apa yang dia katakan?”
“Tampaknya dia mengatakan sesuatu seperti seratus tahun hidup manusia berlalu dalam sekejap mata, dan juga bahwa jika ada seorang Ho Thian-jing di dunia ini, kenapa juga harus ada seorang Liok Siau-hong.”
Liok Siau-hong tersenyum murung sambil mengerutkan keningnya.
“Apakah ini arakmu?” Ia bertanya.
“Arak itu memang berasal dari tempat ini, tapi cawan itu dia bawa sendiri. Dia selalu terobsesi pada kebersihan dan tidak mau menggunakan barang-barang yang pernah digunakan orang lain.”
Liok Siau-hong memungut cawan itu dan mengendusnya.
“Racunnya memang berada di cawan ini.” Ia mengerutkan keningnya.
“Dia mengangkat cawan tapi kemudian meletakkannya kembali beberapa kali, persis seperti waktu menghadapi sebuah gerakan catur yang sulit, seakan-akan dia tidak bisa mengambil sebuah keputusan. Saya hendak bertanya padanya waktu tiba-tiba dia menegakkan kepalanya, tertawa tiga kali, dan meminum arak itu.”
Tosu itu merangkapkan tangannya di depan dada sebagai tanda berdoa.
“Tidak bisa kubayangkan orang seusia dia sudah putus asa menghadapi hidup ini, semoga dia segera mendapatkan jalannya.” Suaranya makin lama semakin lemah, di matanya pun tampak mengembang air mata.
Liok Siau-hong membisu, hatinya semakin berat. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas. “Apakah dia membawa orang lain?”
“Tidak.”
“Dan dia sama sekali tidak menyebut-nyebut nama Cu Ting?”
“Tidak.”
Hati Liok Siau-hong tenggelam semakin dalam.
Di sisi tempat tidur itu ada sebuah papan catur yang belum selesai dimainkan. “Hidup selalu berubah, persis seperti awan di langit,” Jing-hong Tojin bergumam pada dirinya sendiri, “tapi siapa sangka, walaupun permainan yang belum selesai ada di sini, orangnya sudah tidak ada lagi.”
“Dia memainkan biji hitam?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya.
“Pinto selalu membiarkan dia yang main lebih dulu.”
Liok Siau-hong memungut sebuah biji catur, berfikir dalam-dalam, dan melakukan sebuah gerakan catur dengan lambat.
“Aku akan menyelesaikan permainan ini untuk dia.”
Jing-hong Tojin tersenyum pedih. “Jika kau melakukan gerakan seperti itu, bukankah biji hitam akan kalah?”
“Tapi selain gerakan ini, dia tidak punya gerakan lain.”
“Dia memang sudah kalah dalam permainan ini, dia juga tahu itu, tapi dia masih tidak mau mengakuinya.”
Liok Siau-hong menatap ke arah cakrawala. “Tapi dia tetap saja kalah,” ia bergumam. “Permainan ini seperti jalan kehidupan, satu gerakan salah dan kau pun kalah.”
Jing-hong Tojin tiba-tiba mengibaskan lengan bajunya ke atas papan catur dan menjatuhkan semua bijinya.
“Bukankah kehidupan ini juga seperti sebuah permainan? Mengapa kalah dan menang terlalu ditanggapi dengan serius?” Ia bertanya dengan lambat.
“Jika dia tidak menanggapinya dengan serius, lalu kenapa dia mau melakukan permainan ini?”
Jing-hong Tojin meliriknya sekilas sebelum menutup matanya dengan lambat dan merangkapkan tangannya untuk berdoa kembali. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Angin tiba-tiba meniup sebuah daun jendela hingga terbuka, malam yang gelap telah menyelimuti seluruh dunia.
______________________________
Liok Siau-hong berbaring di tempat tidurnya, menatap cawan arak yang berada di atas dadanya. cawan ini telah lama berada di atas dadanya, tapi dia masih belum meminum isinya. Tampaknya dia sedang tidak berhasrat untuk minum.
“Masih memikirkan Cu Ting bertiga?” Hoa Ban-lau bertanya. Liok Siau-hong diam-diam mengakuinya.
“Bila seorang manusia akan mati, hatinya akan berubah menjadi baik. Karena Ho Thian-jing telah memutuskan untuk mati, mungkin ia tidak ingin berbuat salah dan membunuh orang lagi. Mungkin mereka telah tiba di rumah dengan selamat sekarang.”
Dia mengatakan hal ini bukan hanya untuk menghibur Liok Siau-hong, tapi juga untuk menghibur dirinya sendiri. Tapi Liok Siau-hong seolah-olah sama sekali tidak mendengarnya.
Hoa Ban-lau memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Tidak perduli apa, kau telah memenangkan permainan ini.”
Liok Siau-hong menjawab dengan sebuah tarikan nafas yang panjang.
“Tapi gerakan terakhir bukan dibuat olehku.”
“Dan permainan ini tidak dimainkan dengan cara yang engkau inginkan ya?”
“Tidak.” Ia memaksakan sebuah senyuman pedih di wajahnya. “Itulah sebabnya, walaupun aku telah menang, rasanya lebih buruk daripada jika aku yang kalah.”
Hoa Ban-lau tak tahan untuk tidak menarik nafas juga.
“Mengapa dia tidak ingin menyelesaikan permainan ini?”
“Karena dia tahu bahwa dia telah kalah,” Liok Siau-hong menjawab, “persis seperti bagaimana dia tidak ingin menyelesaikan permainan catur yang kemarin itu---”
Baru saja ia menyelesaikan kalimat ini, tiba-tiba ia melompat bangkit dari tempat tidur, cawan arak yang berada di atas dadanya pun jatuh ke lantai dan segera hancur berkeping-keping.
Hoa Ban-lau tahu bahwa ia tidak pernah membiarkan cawan araknya hancur seperti itu. Tapi sekarang ia seperti lupa akan hal tersebut. Ia berdiri di sana dengan ekspresi tidak percaya. Seluruh tubuhnya, mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, terasa dingin seperti es.
Hoa Ban-lau tidak bertanya apa-apa, ia tahu kalau Liok Siau-hong akan segera mengatakannya sendiri.
“Dia pun tidak menyelesaikan permainan catur itu kemarin.” Liok Siau-hong tiba-tiba mengulangi kalimat itu.
“Ya.”
“Ia masih bermain catur di Jing-hong-koan kemarin.” Sekarang warna wajah Hoa Ban-lau pun ikut berubah.
“Jika Siangkoan Hui-yan mati di tangannya, bagaimana dia bisa bermain catur di sini kemarin?”
Kemarin Siangkoan Hui-yan berada di tempat yang jauhnya beratus-ratus mil dari tempat itu, tidak mungkin Ho Thian-jing bisa bolak-balik dalam satu hari itu. Siangkoan Hui-yan baru kemarin tewas.
Hoa Ban-lau pun merasa kaki dan tangannya dingin seperti es.
“Apakah kita salah menuduhnya?” Hoa Ban-lau menarik nafas.
“Paling tidak, dia bukanlah pembunuh Siangkoan Hui-yan.” Tinju Liok Siau-hong terkepal erat.
Hoa Ban-lau mengangguk.
“Paling tidak, kita telah salah menuduhnya dalam hal itu.”
“Mengapa dia tidak membantah tuduhan itu?”
“Sebabnya dia mengatur pertemuan denganku di Jing-hong-koan itu mungkin untuk meminta tosu itu membuktikan alibinya bahwa kemarin dia bermain catur di sana.”
“Karena dia tahu bahwa ucapannya saja tidak bisa menjadi bukti, kau tak akan mempercayainya.”
“Tapi dia bahkan belum sempat membantah.”
“Maka, tidak mungkin dia bunuh diri.”
“Memang tidak.”
“Lalu siapa yang membunuhnya?”
“Orang yang juga membunuh Siangkoan Hui-yan.”
“Dalang sebenarnya dari semua ini?”
“Benar.”
“Apakah Jing-hong Tojin disuap oleh orang ini untuk berbohong?”
“Pendeta tetap manusia.”
“Jika demikian, Jing-hong Tojin tentu tahu siapa dia!”
Liok Siau-hong menarik nafas mendengar ucapan itu. “Maka sekarang ini aku berharap Jing-hong Tojin masih hidup.”
Ia kecewa. Saat mereka kembali ke Jing-hong-koan, kuil itu telah berubah menjadi lautan api. Tidak seorang pun yang selamat, satu pun tidak. Api tidak punya belas kasihan, lebih-lebih orang yang melakukan pembakaran. Siapakah orang ini?
______________________________
Jing-hong-koan berada di salah satu sisi gunung itu, villa kecil milik Ho Siu berada di sisi lainnya. Walaupun salah satu sisi gunung itu telah berubah menjadi lautan api, sisi lainnya masih tetap tenang dan damai.
“DORONG”. Tulisan itu masih ada di pintu depan. Liok Siau-hong mendorong pintu itu hingga terbuka dan berjalan masuk. Ini adalah kedua kalinya dia mendorong pintu ini terbuka, dan bisa jadi yang terakhir kalinya.
Perut gunung itu sekarang kosong melompong, tidak ada apa-apa di dalamnya. Semua harta dan senjata yang tak terhitung jumlahnya itu telah menghilang secara ajaib.
Di tengah ruangan itu ada sebuah altar batu kecil, di atasnya terdapat sehelai tikar jerami yang lusuh dan kotor. Ho Siu, dengan bertelanjang kaki, dan mengenakan baju hijau kebiru-biruan yang terlalu sering dicuci sehingga hampir putih, duduk bersilang kaki di atas tikar itu, sambil menghangatkan araknya. Arak yang aromanya sangat harum.
Liok Siau-hong menghirup dalam-dalam aroma tersebut dan berjalan menuruni tangga batu.
“Tampaknya aku kembali tiba di saat yang tepat.” Ia tersenyum.
Ho Siu balas tersenyum. “Kali ini aku tidak terkejut lagi. Setiap kali aku punya arak bagus, kau tentu akan muncul secara tiba-tiba!”
“Tapi sekarang aku agak curiga.”
“Curiga tentang apa?”
“Curiga bahwa kau mungkin sengaja memancingku datang ke mari dengan arak enak sebagai umpannya.”
Ho Siu tertawa. “Dalam peristiwa apa pun, arak enak tetaplah arak enak. Jika kau tidak takut membuat bajumu kotor, maka kau pun boleh duduk dan mencicipi secawan.”
“Aku takut.”
“Kau takut?” Ho Siu mengerutkan keningnya.
“Tapi aku bukannya takut membuat bajuku kotor.”
“Lalu apa yang kau takutkan?”
“Aku takut kalau-kalau nasibku akan berakhir seperti Ho Thian-jing dan harus menunggu orang lain datang dan menyelesaikan permainanku yang belum selesai untukku.”
Ho Siu menatapnya, matanya tiba-tiba seperti berubah menjadi sepasang pisau tajam yang baru dihunus. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia malah menuangkan secawan arak dan meminumnya dengan lambat. Liok Siau-hong pun tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia tahu bahwa satu kalimat saja sudah cukup. Ia sedang berbicara dengan orang yang cerdas. Dengan orang yang cerdas, satu kalimat saja sudah cukup.
Setelah beberapa lama, tiba-tiba Ho Siu tertawa lagi.
“Tampaknya aku tetap tidak bisa memperdayaimu.”
“Maka kau mungkin sebaiknya menghentikannya saja.”
“Bagaimana kau tahu orang itu aku?”
“Aku tidak tahu,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Tidak sedikit pun aku menyadari bahwa aku telah keliru sejak awal.”
“Oh!”
“Aku selalu mengira bahwa kau berada di perahu yang sama dengan Giam Thi-san dan Tokko, bahwa kau juga seorang korban, dan aku selalu mengira bahwa Ho Thian-jing saja yang bisa mengambil keuntungan dari seluruh peristiwa ini.”
“Sekarang bagaimana?”
“Sekarang aku telah bisa menebak seluruhnya. Hanya ada satu orang yang benar-benar beruntung karena semua kejadian ini.”
“Dan orang itu adalah aku.”
“Benar, orang itu adalah kau!”
Ho Siu mengisi cawan araknya lagi.
“Bila Tay-kim-peng-ong mati, tidak ada lagi orang di dunia ini yang akan mengungkit-ungkit kewajibanmu pada Kekaisaran Rajawali Emas.” Liok Siau-hong meneruskan.
“Ia pun tidak akan mengungkit-ungkit hal itu,” Ho Siu mengangguk dengan lambat. “Tapi akhir-akhir ini dia benar-benar sedang kekurangan. Dia pintar menghabiskan uang, tapi dia tidak pernah tahu tentang sukarnya memperoleh uang.”
“Maka kau membunuhnya?”
“Orang seperti itu memang pantas mati!” Ho Siu berkata dengan dingin.
“Tapi kematiannya tetap tidak cukup, bukan? Karena Tokko dan Giam Thi-san akan datang dan menuntut uang itu untuk dibagi-bagikan, bukan?”
“Uang ini memang milikku, dan hanya aku yang menghabiskan seluruh energi dan usaha untuk melindunginya, membuatnya bertambah hari demi hari, aku tak akan membiarkan orang lain mendapatkannya sepeser pun!”
“Maka mereka juga pantas mati?”
“Mereka harus mati!”
“Sebenarnya uang itu cukup untuk digunakan oleh 30 orang seumur hidupnya,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Dengan usiamu sekarang, apakah kau benar-benar hendak membawanya semua ke liang kuburmu?”
Ho Siu menatapnya.
“Jika kau punya seorang isteri, maukah kau membaginya dengan orang lain? Walaupun kau tidak terus-menerus memakainya?” Ia mencela dengan dingin.
“Itu persoalan yang benar-benar berbeda.”
“Bagiku, kedua hal ini adalah sama. Harta ini seperti isteri bagiku, tidak perduli apakah aku hidup atau mati, aku tidak mau membaginya dengan orang lain.”
“Maka, pertama kau gunakan Ho Thian-jing dan Siangkoan Hui-yan untuk membunuh Tay-kim-peng-ong, dan kemudian menggunakan aku untuk menyingkirkan Tokko It-ho dan Giam Thi-san.”
“Aku tidak ingin kau terlibat, tapi selain dari dirimu, aku benar-benar tidak bisa memikirkan orang lain yang sanggup melakukannya.”
“Ini bukan pertama kalinya aku mendengar kalimat itu.” Liok Siau-hong tersenyum malu.
“Itulah yang sebenarnya.”
“Aku mengambil umpanmu karena aku memang mau. Tapi bagaimana dengan Ho Thian-jing? Bagaimana kau bisa mendapatkan orang seperti dia?”
“Bukan aku yang mendapatkan dia.”
“Siangkoan Hui-yan?”
Ho Siu tersenyum. “Tidakkah menurutmu dia seorang gadis yang mampu menggerakkan hati setiap laki-laki?”
Sebuah senyuman masam pun muncul di wajah Hoa Ban-lau.
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Dan bagaimana kau mendapatkan gadis itu?”
“Aku mungkin sudah tua, tapi aku masih bisa merayu gadis mana pun.” Ho Siu menjawab dengan santai. “Karena aku punya sesuatu yang tak bisa ditolak oleh wanita mana pun.”
“Apa itu?”
“Hartaku.” Ia tersenyum dan meneruskan. “Tidak ada seorang pun wanita di dunia ini yang tidak suka pada harta, persis seperti tidak ada seorang pun laki-laki di dunia ini yang tidak menyukai wanita cantik.”
“Kau berjanji untuk membagi sebagian hartamu padanya agar dia merayu Ho Thian-jing?”
“Kalian semua mengira bahwa kekasihnya adalah Ho Thian-jing, tapi kalian tidak menduga bahwa orang yang benar-benar dia cintai adalah laki-laki tua ini kan?” Ho Siu tertawa keras.
“Ia tidak mencintaimu, ia cinta pada uangmu.” Liok Siau-hong mendebatnya.
“Tidak ada bedanya bagiku,” Ho Siu masih tertawa. “Lagipula, bagiku dia adalah orang mati.”
“Sejak awal kau memang berencana untuk menyingkirkan dia?”
“Sudah kubilang padamu, aku tidak akan membiarkan orang lain berbagi harta ini denganku.”
“Maka kau sengaja memberitahuku rahasia tentang 6 jari kaki untuk membuatku bentrok dengannya.”
“Tapi Ho Thian-jing masih tidak tahu apa yang terjadi, dan mengirimkan pesan padanya tentang rahasia ini melalui burung merpatinya.”
“Bahkan dia tidak tahu kalau kau adalah dalang dari semua ini?”
“Tentu saja tidak. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau melakukan semua ini untuk Siangkoan Hui-yan?”
“Tapi kau telah mengira bahwa aku akan melepaskan Siangkoan Hui-yan.”
“Karena itu aku harus pergi dan melakukannya sendiri.”
“Ho Thian-jing bukan orang yang bodoh. Waktu dia mendengar berita bahwa Siangkoan Hui-yan telah mati, dia tentu tahu bahwa ada orang lain di balik semua ini. Karena itu, setelah mengatur sebuah pertemuan denganku di Jing-hong-koan, dia datang ke sini untuk menemuimu.”
“Ia memang tidak sebodoh itu, sayangnya orang-orang yang cerdas pun terkadang jadi bodoh.”
“Ia seharusnya tidak datang sendirian menemuimu.” Liok Siau-hong menarik nafas.
“Itulah sebabnya dia pun pantas mati.”
“Kau memindahkan mayatnya ke Jing-hong-koan setelah membunuhnya?”
“Jing-hong-koan adalah milikku juga, aku bisa mengambilnya kembali kapan saja aku suka.”
“Itulah sebabnya kau meminta Jing-hong Tojin berdusta untukmu. Ia tidak bisa menolak, kan?”
“Seorang pendeta mau berdusta? Jelas dia pun pantas mati!” Ho Siu berkata dengan santai.
“Kau ingin aku percaya bahwa Ho Thian-jing melakukan bunuh diri karena merasa bersalah dan tidak ikut campur lagi dalam urusan ini, kan?”
“Aku benar-benar tidak ingin kau terlibat lagi,” Ho Siu menarik nafas. “Tapi sayangnya tosu yang banyak omong itu membuatmu ikut campur lagi dalam urusan ini.”
“Ia yang membuatku ikut campur lagi?”
“Waktu aku mendengar dia menyebut-nyebut tentang permainan catur yang kemarin tidak selesai, aku tahu kalau kau akan menyadari hal itu cepat atau lambat.”
“Maka kau memutuskan bahwa kau harus membakar Jing-hong-koan.”
“Kebetulan aku memang punya rencana lain untuk petak tanah itu.”
“Di matamu, apakah orang-orang itu sama seperti sepetak tanah? Tidak lebih dari alat yang bisa kau gunakan dan kau buang sesukamu.”
“Bila aku ingin mereka hidup, mereka akan hidup; bila aku ingin mereka mati, maka mereka harus mati!”
“Bagaimana kau tahu cara memanfaatkan diriku?” Liok Siau-hong bertanya sambil tersenyum lelah.
“Setiap orang punya kelemahan. Bila kau bisa menebak titik lemah mereka, kau bisa menggunakan siapa saja.”
“Apa kelemahanku?”
“Kelemahanmu adalah kau terlalu suka ikut campur dalam urusan orang lain!” Ho Siu menjawab dengan dingin.
“Karena itulah aku seperti menjadi kaki tanganmu, membujuk Sebun Jui-soat untuk ikut terlibat, membantumu menyingkirkan Giam Thi-san dan Tokko It-ho”.” Liok Siau-hong menarik nafas.
“Dan kau melakukan semuanya dengan sangat baik. Seandainya kau mau berhenti setelah Ho Thian-jing mati, kau akan disambut dengan baik bila datang ke sini dan minum bersamaku kapan pun kau suka. Jika kau menemui kesulitan, aku mungkin mau meminjamkan sepuluh ribu tael perak untuk melepaskan dirimu dari kesulitan itu.”
“Sayangnya aku tidak berhenti.”
Ho Siu pun menarik nafas.
“Apakah kau tahu kenapa aku memindahkan semua barang yang ada di sini?”
Liok Siau-hong tidak tahu.
“Karena aku bermaksud meninggalkan tempat ini untuk kau gunakan sebagai kuburanmu.”
“Paling tidak ini bukanlah sebuah kuburan yang kecil.” Liok Siau-hong mencoba bergurau.
“Bagi Liok Siau-hong, dikuburkan di bawah Loteng Pertama dari Jing-ih-lau tentu sangat sesuai, bukan?” Ho Siu berkata dengan lugas.
“Paling tidak Siangkoan Hui-yan berkata benar tentang suatu hal,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Loteng Pertama dari Jing-ih-lau benar-benar terletak di sini.”
“Sayangnya, semakin banyak orang yang memberitahumu bahwa Loteng Pertama ada di sini, semakin kau tidak mempercayai mereka.”
“Dan kau tentunya Ketua dari 108 Jing-ih-lau, bukan?”
“Ketua, sebutan itu sungguh bagus,” Ho Siu tersenyum. “Aku suka mendengarnya.”
“Terdengar lebih merdu daripada suara hitungan uangmu?”
“Aku tidak menghitung uang,” Ho Siu menjawab dengan santai. “Kau tak bisa menghitung berapa banyak uang yang aku miliki.”
Liok Siau-hong kembali menarik nafas. “Baru sekarang aku benar-benar mengerti kenapa kau bisa begitu kaya.”
“Kau mungkin faham sekarang, tapi sayangnya kau tak akan pernah menguasainya.”
“Hanya karena aku tidak mengerti kenapa harus membawa harta itu ke lubang kubur bersamaku.”
Ho Siu kembali tertawa. “Bagus, sangat bagus!”
“Apanya yang bagus?”
“Menurut kabar angin, kau selalu membawa setumpuk lembaran cek di kantongmu, dan setiap kali bertaruh kau tidak pernah meletakkan cek yang bernilai kurang dari 5000 tael di atas meja.” Ho Siu berkata sambil tersenyum.
“Cek yang bernilai 5000 tael itu pun mungkin telah jatuh ke tanganmu.” Liok Siau-hong tersenyum jengkel.
“Karena kau tidak bermaksud membawa uang itu ke lubang kubur bersamamu, aku akan mengambil uang itu setelah kau mati.”
“Kau pun menginginkan uang orang yang sudah mati?”
“Aku menginginkan semua jenis uang, itulah rahasia terbesar untuk menjadi kaya.”
“Sayangnya aku masih hidup.”
“Tapi kau telah berada di kuburanmu.”
“Kau yakin bisa membunuhku?”
“Tidak, tapi aku yakin bahwa kau akan mati di sini.”
“Oh!”
“Bila seseorang telah masuk ke liang kuburnya, tidak ada harapan baginya untuk keluar.”
Liok Siau-hong menatap Ho Siu, matanya tiba-tiba berkilauan seperti sepasang pisau cukur yang tajam.
“Tanganmu sudah gatal-gatal ingin beraksi?” Ho Siu tersenyum.
“Ya.” Liok Siau-hong mengakui.
“Sayangnya aku tidak tertarik untuk bertarung denganmu, aku tidak ingin tanganku kotor.” Ia menekan altar batu itu dengan lembut. “Bum!” Sebuah kandang baja yang sangat besar tiba-tiba jatuh dari atas, mengurung seluruh altar batu itu di dalamnya.
Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.
“Sejak kapan kau memutuskan menjadi seekor burung dan mengurung dirimu sendiri di dalam kandang?”
“Kau kira ini lucu?”
“Memang lucu.”
“Kau tidak akan menganggapnya begitu lucu bila aku berjalan keluar dari sini, orang yang akan mati kelaparan barulah lucu.”
“Apakah aku akan mati kelaparan?”
“Setelah aku pergi, satu-satunya yang bisa kau makan di sini adalah daging yang ada di tubuhmu dan tubuh teman-temanmu, yang bisa kau minum di sini adalah darahmu sendiri.” Ho Siu menjawab dengan dingin.
“Tapi bagaimana kau bisa pergi?”
“Satu-satunya jalan keluar dari tempat ini terletak persis di bawah altar batu yang aku duduki ini. Dan bisa kujamin, aku akan menyegel jalan keluar ini setelah aku keluar.”
Wajah Liok Siau-hong berubah warna sedikit.
“Rasanya aku tidak masuk lewat jalan itu tadi.” Ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.
“Pintu masukmu tadi hanya bisa dibuka dari luar, dan tidak ada orang di luar yang akan membukakannya untukmu, aku bisa menjamin hal itu.”
“Apa lagi yang bisa kau jamin?”
“Aku bisa menjamin bahwa kau akan mati kehausan dalam 10 hari. Aku adalah orang yang bijaksana, maka aku akan menunggu paling sedikit 10 hari lagi sebelum kembali ke sini.”
“Kau akan kembali?”
“Tentu saja aku akan datang kembali,” Ho Siu tertawa. “datang kembali untuk mengambil semua uang yang ada padamu.”
Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa, tawa yang keras dan sepenuh hati.
“Jika aku adalah kau, aku tidak akan tertawa sekarang.” Ho Siu berkata.
“Kau bukanlah aku.”
“Untungnya bukan.”
“Dan karena kau bukanlah aku, tentu kau tidak tahu bahwa satu-satunya yang aku tinggalkan di kantungku adalah sebuah lubang yang besar.” Liok Siau-hong berkata, sambil berusaha menahan tawanya.
“Tampaknya kau telah memutuskan untuk tidak membiarkan diriku mendapatkan sesuatu pun darimu setelah kematianmu.” Ho Siu menarik nafas.
“Kau akhirnya faham.”
“Untungnya, masih ada sesuatu yang bisa kudapatkan.”
“Oh!”
“Paling tidak aku masih bisa mengambil pakaian di tubuhmu dan menjualnya untuk beberapa picis!”
“Kau mau melakukan semua itu untuk beberapa picis?”
“Satu picis pun tetaplah uang.”
“Asal ada uangnya, kau tetap mau!”
“Uang selalu berguna, satu picis tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali.”
“Baiklah, biar kuberikan untukmu!” Liok Siau-hong tiba-tiba mengibaskan tangannya dan selusin uang logam yang terbuat dari perunggu meluncur dengan deras dalam bentuk barisan ke arah Ho Siu.
Ho Siu tidak bergerak atau pun menghindar. Barulah saat barisan uang logam itu menerobos terali sangkarnya ia mengayunkan tangannya sebanyak dua kali dan ke-12 keping uang logam itu tiba-tiba telah berada di dalam genggamannya.
Kehebatan tangan orang tua ini membuat Liok Siau-hong terkejut.
“Gerakan yang sangat bagus!” Ia berseru tak tertahan.
Ho Siu telah menyimpan 12 keping uang logam itu dengan seksama.
“Bila berurusan dengan uang, kungfu-ku biasanya akan sangat bagus.”
“Sayangnya ilmu-mu itu masih sedikit di bawahku.”
Ho Siu tertawa. “Kau mencoba memancingku untuk keluar dan bertarung denganmu?”
“Ya, aku memang punya fikiran seperti itu.”
“Maka kunasehatkan padamu untuk menghilangkannya dari fikiranmu.”
“Kau tidak akan keluar?”
“Walaupun aku ingin, aku tetap tidak bisa.”
“Kenapa tidak?”