Pemilik warung arak itu telah meringkuk di sudut sana, tidak sedikit pun terlihat warna darah di wajahnya.
Hoa Ban-lau membungkuk dan dengan selembut mungkin memondong Ciok Siu-hun dalam pelukannya. Jantung gadis itu masih berdenyut, tapi denyutnya sangat lemah.
Sebuah warna kelabu muncul secara menakutkan di wajahnya yang cantik. Perlahan-lahan matanya terbuka dan menatap Hoa Ban-lau.
“Mengapa…. mengapa kau tidak pergi….?” Ia berkata dengan pelan.
“Aku tidak pergi,” Hoa Ban-lau menjawab dengan lembut. “Aku di sini bersamamu.”
Sebuah ekspresi aneh pun muncul di mata Ciok Siu-hun, seperti terhibur, juga seperti sedih.
“Tak kusangka kau masih mengenaliku.” dia berkata, sambil berusaha mengumpulkan tenaga untuk tersenyum.
“Aku akan selalu mengenalimu.”
Ciok Siu-hun tersenyum lagi, senyuman yang sedih dan sunyi.
“Walaupun aku tidak menjadi bisu, tapi aku akan mati. Orang mati tak bisa bicara, kan?”
“Kau….. kau tidak akan mati, aku yakin itu.”
“Kau tidak perlu menghiburku. Aku tahu, aku terkena jarum beracun.”
“Racun?” Ekspresi wajah Hoa Ban-lau berubah hebat.
“Karena aku merasa seolah-olah seluruh tubuhku menjadi kaku, mungkin racunnya sedang bereaksi, kenapa kau tidak….. meraba lukaku, rasanya sangat panas.”
Tiba-tiba ia memegang tangan Hoa Ban-lau dan meletakkannya di atas lukanya.
Lukanya itu tepat berada di dadanya, dada yang lembut, halus dan hangat. Ketika dia menekankan tangan Hoa Ban-lau yang sedingin es ke dadanya yang lunak, jantungnya tiba-tiba berdebar semakin kencang.
Jantung Hoa Ban-lau juga berdebaran. Saat itu juga dia mendengar suara Liok Siau-hong dari luar jendela.
“Dia terkena apa?”
“Jarum beracun.”
Hening lagi.
“Kau tetap di sini bersamanya, aku akan mencari seseorang.”
Saat Liok Siau-hong menyelesaikan kalimatnya, suaranya agaknya sudah sangat jauh.
“Kau benar-benar tidak pergi,” Ciok Siu-hun berkata, sambil berusaha bernafas. “Kau benar-benar di sini bersamaku!”
“Tutup matamu, biarkan aku…. menghisap jarum beracun itu keluar.”
Wajah Ciok Siu-hun yang pucat terlihat memerah sedikit dan matanya pun berkilauan dalam gelap.
“Kau benar-benar mau melakukan itu?”
“Asal kau tidak keberatan…..” Hoa Ban-lau menjawab dengan serius.
“Aku tidak keberatan melakukan apa pun, tapi aku tak ingin menutup mataku, karena aku ingin melihat wajahmu.”
Suaranya semakin lemah dan lemah, sampai akhirnya senyuman di wajahnya tiba-tiba membeku dan sinar di matanya tiba-tiba menghilang.
Kematian. Dengan tiba-tiba dan diam-diam dia merenggut gadis itu dari pelukan Hoa Ban-lau.
Tapi matanya seperti masih menatap Hoa Ban-lau, menatapnya selamanya…...
Kegelapan. Semua yang ada di depan mata Hoa Ban-lau adalah kegelapan.
Tiba-tiba dia jadi membenci dirinya sendiri karena buta, membenci dirinya sendiri karena tak mampu melihat gadis itu untuk terakhir kalinya.
Dia masih begitu muda, tapi tubuhnya yang muda dan bergairah tiba-tiba menjadi dingin dan kaku.
Dengan perlahan Hoa Ban-lau menggeser tangannya, air mata mulai mengalir dari kelopak matanya.
Ia tidak pergi, juga tidak bergerak. Untuk pertama kalinya ia merasakan betapa keras dan kejamnya kehidupan.
Angin bertiup masuk dari jendela, angin bertiup masuk dari pintu, angin bulan empat yang hangat baginya terasa seperti angin musim dingin.
Tiba-tiba dia menyadari bahwa angin itu membawa gelombang demi gelombang keharuman bunga. Tiba-tiba jendela belakang berbunyi gemeretak. Kepalanya segera diputar dan dia bersiap-siap untuk melompat bangkit.
Tapi sebuah suara yang manis dan hangat terdengar dari luar jendela.
“Jangan takut, ini aku!” suara itu berkata dengan lembut padanya.
Suara ini adalah suara orang yang dia kenal, orang yang selalu dia fikirkan sepanjang waktu.
“Hui-yan?” Ia tak tahan untuk tidak berseru dengan perlahan.
“Ya, ini aku. Tidak kukira kau masih mengenali suaraku.”
Seseorang melayang masuk dengan ringan dari jendela belakang, suaranya mengandung sedikit rasa cemburu dan iri.
“Kukira kau sudah melupakanku sama sekali.” Ia berkata dengan dingin.
Hoa Ban-lau berdiri di sana seperti patung. Setelah beberapa lama, barulah dia tersadar dari keterkejutannya.
“Bagaimana…. bagaimana kau tiba-tiba bisa muncul di sini?”
“Jadi menurutmu seharusnya aku tidak datang ke mari?”
“Bukan begitu, hanya saja aku tidak mengira,” Hoa Ban-lau menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik nafas. “Kukira kau telah…..”
“Kau kira aku telah mati?”
Hoa Ban-lau tak tahu harus berkata apa.
Siangkoan Hui-yan menarik nafas lagi dengan dingin.
“Jika aku ingin mati, maka aku tentu akan mati seperti dia, dalam pelukanmu.”
Perlahan-lahan ia berjalan menghampiri sampai di hadapan Hoa Ban-lau.
“Aku tadi melihat kalian berdua, aku….. aku merasa tidak enak, kalau bukan karena dia telah mati, aku tentu sudah membunuhnya.”
Hoa Ban-lau terdiam.
“Aku pernah mendengarmu bernyanyi.” Tiba-tiba ia berkata setelah beberapa lama.
“Apakah itu di luar Ban-bwe-san-ceng, di sebuah kuil terpencil?” Ia bertanya dengan suara yang berat.
“Mmm.”
Kali ini Siangkoan Hui-yan yang terdiam.
“Tapi saat kau menemukan tempat itu, aku telah pergi.” Ia berkata dengan perlahan.
“Kenapa kau pergi?”
Suara gadis itu semakin pelan.
“Seharusnya kau tahu bahwa aku tidak ingin pergi.”
“Seseorang memaksamu pergi?”
“Aku juga dipaksa untuk menyanyikan lagu itu. Aku tidak faham waktu itu, tapi kemudian aku sadar bahwa mereka ingin menggiring kalian ke kuil itu.”
“Mereka? Siapa mereka?”
Siangkoan Hui-yan tidak menjawab pertanyaan ini, tapi suaranya tiba-tiba bergetar, seakan-akan dia sedang ketakutan.
“Apakah kau telah jatuh ke tangan mereka?”
“Sebaiknya kau tidak usah tahu terlalu banyak, atau …..” Suara gadis itu semakin bergetar.
“Atau apa?” Hoa Ban-lau tak tahan untuk tidak bertanya.
Siangkoan Hui-yan terdiam lagi beberapa lama.
“Mereka menggiring kalian ke sana untuk memberi peringatan agar tidak ikut campur dalam urusan ini. Mereka ingin memberitahu kalian bahwa aku telah jatuh ke tangan mereka.” Ia tidak membiarkan Hoa Ban-lau memotong ucapannya dan melanjutkan. “Sebabnya mereka ingin aku datang ke sini hari ini adalah juga untuk membujukmu agar tidak ikut campur dalam urusan ini lagi. Kalau tidak… mereka akan memaksaku untuk membunuhmu!”
“Mereka ingin kau membunuhku?” Hoa Ban-lau terkejut.
“Ya, karena mereka tahu bahwa kau tak akan pernah menduga kalau aku akan menyakitimu dan tak akan waspada terhadapku. Tapi mereka tidak menyadari bahwa aku tak akan tega menyakitimu sedikit pun.”
Tiba-tiba ia menghambur maju dan memeluk Hoa Ban-lau erat-erat.
“Sekarang kau mungkin telah tahu siapa mereka,” ia berkata dengan suara bergetar. “Tapi kau tak akan pernah membayangkan betapa menakutkan kekuasaan mereka sebenarnya…..”
Giam Thi-san dan Tokko It-ho telah mati, satu-satunya orang yang mungkin ingin menghentikan mereka adalah Ho Siu.
“Tidak perduli betapa menakutkan kekuasaan mereka, kau tidak perlu takut.” Hoa Ban-lau berkata dengan suara yang berat.
“Tapi aku benar-benar takut, bukan untuk diriku sendiri, tapi untukmu. Jika bukan karena aku, kalian tak akan terseret dalam masalah ini. Jika sesuatu terjadi padamu, bagaimana mungkin aku bisa hidup?”
Ia berpegangan seerat-eratnya pada Hoa Ban-lau, tapi tubuhnya masih gemetar. Nafasnya membawa keharuman yang manis dan lembut.
Hoa Ban-lau membuka lengannya dan ingin memeluknya erat-erat juga.
Tapi di sisinya terbaring jenazah Ciok Siu-hun, seorang gadis muda yang penuh kasih sayang dan cinta, yang baru saja mati dalam pelukannya, bagaimana mungkin ia menggunakan tangan yang sama untuk memeluk gadis lain?
Hatinya penuh dengan perasaan sakit. Ia ingin mengendalikan emosi dan perasaannya, tapi tak mampu.
Ketika pikirannya kembali ingin memeluk si dia, tiba-tiba gadis itu menjauh.
“Sekarang kau mungkin faham apa yang aku katakan.”
“Tidak, aku tidak faham.”
“Tidak perduli kau faham atau tidak, aku….. aku harus pergi sekarang.”
“Pergi?” Hoa Ban-lau terdengar putus asa. “Kenapa kau harus pergi?”
“Aku pun tak ingin pergi, tapi aku harus!” Suaranya penuh dengan perasaan sedih dan khawatir. “Jika kau punya perasaan terhadap diriku, tolong jangan tanya kenapa lagi, atau menarik tanganku, karena hal itu bukan hanya akan menyakiti dirimu sendiri, tapi aku juga!”
“Tapi aku….. aku…..”
“Biarkan aku pergi, asal kutahu kau hidup dan sehat, aku akan bahagia dan puas. Bahkan jika kau mengingkariku…..”
Suaranya makin menjauh dan menjauh, dan tiba-tiba hilang. Kegelapan. Hoa Ban-lau tiba-tiba menemukan dirinya terperangkap dalam kegelapan dan kesunyian yang tiada batas.
Dia tahu ada hal-hal di luar kendali gadis itu yang memaksanya pergi. Tapi yang bisa dia lakukan hanyalah berdiri di situ seperti orang tolol. Dia tak bisa menolongnya, tak mampu membebaskannya dari kesulitannya, dia bahkan tak bisa menghiburnya, persis seperti sebelumnya ketika yang bisa dia lakukan hanyalah membiarkan Ciok Siu-hun mati di dalam pelukannya.
“Laki-laki macam apa aku ini? Apa?” Seperti ada sebuah suara dari samping yang menertawakannya. “Kau bukan apa-apa selain orang buta, orang buta yang tidak berguna!”
Kehidupan seorang buta itu seperti penuh dengan kegelapan, kegelapan yang tiada harapan.
Tinjunya terkepal saat ia berdiri dalam hembusan angin malam di bulan empat. Tiba-tiba ia menyadari bahwa hidup tidak sesempurna yang ia bayangkan. Hidup ini penuh dengan kedukaan dan rasa sakit yang tak dapat dihindarkan.
Ia tak tahu bagaimana caranya melarikan diri dari semua itu.
Bulan empat adalah musim burung walet pulang ke sarangnya, tapi walet kecilnya telah terbang pergi, terbang menghilang seperti tahun-tahun terbaik dalam kehidupan kita, tak pernah kembali. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dari warung dan melangkah di atas rerumputan, rerumputan yang telah dibasahi oleh embun.
Bab 10: Jiwa-jiwa Yang Rusak dan Kemurkaan Tuhan
Rumput lembut itu telah dibasahi oleh embun, malam pun semakin larut.
Ho Thian-jing berjalan perlahan-lahan di halaman. Cahaya yang berasal dari sebuah bangunan kecil di kejauhan tampak menyinari wajahnya yang pucat dan layu. Ia tampak sangat letih, kesepian dan lelah.
Air jernih di kolam bunga teratai itu tampak tenang seperti cermin, memantulkan bulan dan langit yang penuh bintang. Dengan menggendong tangan di belakang punggungnya, ia berdiri dalam kebisuan di ujung jembatan kecil itu. Waktu angin berhembus, sehelai daun kecil pun terbawa angin dan jatuh ke tanah.
Ia membungkuk dan memungut daun jatuh itu.
“Kau di sini.” Tiba-tiba ia berkata.
“Aku di sini.”
Waktu Ho Thian-jing menengadah, dia melihat Liok Siau-hong.
Seperti daun yang jatuh tadi, Liok Siau-hong melayang masuk dari luar tembok dan mendarat di seberang kolam bunga teratai. Ia juga sedang menatap Ho Thian-jing.
Di antara mereka berdua, ada kolam bunga teratai selebar kira-kira 20 meter, tapi saat itu mereka merasa seolah-olah jarak di antara mereka masih terlalu dekat.
Liok Siau-hong tersenyum.
“Tampaknya kau sedang menungguku!” Ia berkata.
“Aku memang sedang menunggumu.”
“Kau tahu aku akan datang?”
Ho Thian-jing mengangguk.
“Aku tahu kau pasti datang.”
“Mengapa?”
“Sejak kau pergi, banyak peristiwa yang terjadi di sini.”
“Banyak peristiwa?”
“Kau tidak tahu?”
“Aku hanya tahu satu hal.”
“Kau tahu bahwa Tokko It-ho mati di sini?”
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Tapi aku tidak tahu apakah dia memang harus mati.”
Ho Thian-jing terdiam.
“Tentu kau tak tahu bahwa aku sebenarnya ada hubungannya dengan kematiannya.” Tiba-tiba ia pun menarik nafas.
“Oh!”
“Jika bukan karena aku, mungkin ia tidak akan mati oleh pedang Sebun Jui-soat.”
“Oh?”
“Aku tidak pernah menyukai orang-orang sombong yang menganggap dirinya begitu tinggi, tapi Tokko kebetulan adalah salah satu dari orang-orang angkuh itu. Maka sebelum Sebun Jui-soat tiba, aku telah bertukar pukulan dengan dia.”
“Aku tahu.”
“Kau tahu?” Hal ini mengejutkan Ho Thian-jing. “Bagaimana kau bisa tahu?”
Liok Siau-hong tertawa kecil.
“Waktu Tokko bertarung dengan Sebun, paling tidak ia telah kehilangan setengah tenaga dalamnya. Di antara orang-orang yang mampu memaksanya menggunakan setengah tenaga dalamnya, tidak banyak dari mereka yang berada di sekitar sini.”
Ho Thian-jing mengangguk.
“Benar. Ini adalah sesuatu yang tentu bisa kau perkirakan.”
“Jadi ada sesuatu yang tak akan bisa kuperkirakan?”
Ho Thian-jing mengangguk.
Liok Siau-hong tersenyum.
“Tak apa, sekarang aku hanya ingin tahu di mana Siangkoan Tan-hong berada.”
“Inilah hal yang tak kumengerti.”
“Apa itu?”
“Dia tidak datang ke mari, dan mungkin tak akan datang ke sini lagi!”
Liok Siau-hong tak mampu bicara, dia benar-benar tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan Siangkoan Tan-hong tidak berada di tempat itu.
“Mungkin kau sedang berfikir, kenapa aku bisa tahu kalau dia tak akan datang.”
“Aku memang ingin tahu itu.” Liok Siau-hong mengakui.
“Setelah kau baca surat ini, maka kau tak akan bingung lagi.”
Tiba-tiba dia mengeluarkan sepucuk surat dari dalam lengan bajunya dan mengibaskan tangannya. Surat itu seperti segumpal awan, melayang perlahan kepada Liok Siau-hong.
“Tan-hong dalam bahaya, “Siau-hong tolong berhenti, “Jika tidak berhenti, “Hidup akan berakhir.”
Hanya 12 kata itu yang tertulis di surat, kata-kata itu tertulis dengan sangat rapi, dan kertasnya pun amat bagus.
Di amplopnya tertulis: “Kepada: Liok Siau-hong.”
“Surat ini untukmu, sekarang aku menyerahkannya padamu.” Ho Thian-jing berkata.
“Tapi aku tidak mengerti apa maksudnya.”
“Itu berarti sangat sukar bagimu untuk menemukan Siangkoan Tan-hong saat ini, maka sebaiknya kau berhenti sekarang dan tidak ikut campur dalam urusan ini lagi, kalau tidak seseorang tentu menginginkanmu mati.” Ho Thian-jing menjawab dengan santai, tentu saja ia menyadari bahwa Liok Siau-hong memahami semua itu.
“Siapa yang menginginkanmu memberikan surat ini padaku?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau tidak tahu?”
“Jika kau menulis surat seperti itu untuk kuserahkan pada orang lain, apakah kau akan memberikannya langsung padaku?”
“Tidak.”
“Itulah sebabnya orang yang menulis surat ini tidak langsung memberikan surat ini padaku. Aku hanya menemukan surat ini di peti mati Giam-toalopan, selain itu aku tidak tahu apa-apa.”
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Tentu saja tidak.”
“Tapi kau tentu tahu.”
“Apa yang kuketahui?”
“Kau tentu tahu siapa yang menulis surat ini.”
“Aku hanya tahu bahwa Giam-toalopan tidak menulis surat ini di dalam peti matinya.” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum murung.
“Kau seharusnya juga tahu, selain Giam-toalopan, siapa lagi yang menginginkanmu tidak ikut campur dalam urusan ini.” Mata Ho Thian-jing tampak berkilauan.
“Sayangnya aku pun tidak tahu itu.” Liok Siau-hong kembali menarik nafas.
“Paling tidak kau tahu satu orang.”
“Siapa?”
“Aku.”
Liok Siau-hong tertawa.
Tapi Ho Thian-jing tidak.
“Jika Siangkoan Tan-hong tidak datang, dan kau menghentikan penyelidikanmu, maka Cu-kong-po-gi-kok beserta seluruh hartanya tentu akan menjadi milikku!” Ho Thian-jing berkata dengan wajah yang gelap.
“Tapi aku tahu bahwa ketua Thian-kim-bun tak akan melakukan sesuatu seperti itu.” Liok Siau-hong tersenyum.
Ho Thian-jing menatapnya, sudut mulutnya tiba-tiba menampilkan secercah senyuman.
“Ada yang bisa diminum?” Tiba-tiba ia berteriak ke dalam.
“Tentu saja!”
Arak itu tersimpan dalam sebuah porselen berwarna biru dan putih. Waktu dituangkan keluar, ternyata arak itu tidak berwarna dan tidak berbau, seperti air, tapi setelah dicampur dengan arak lain, wangi arak segera memenuhi ruangan yang kecil tapi indah itu.
Liok Siau-hong menghirup sedikit dengan perlahan-lahan, lalu menarik nafas panjang.
“Ini baru arak Li-ji-hong yang asli.”
“Kau mengenal arak ini?”
“Itulah sebabnya, bila lain kali kau punya arak sebagus ini, kau harus mengundangku, paling tidak aku tak akan menyia-nyiakan arakmu yang enak ini.”
“Aku biasanya tidak punya arak bagus seperti ini, kau tahu.” Ho Thian-jing tertawa dan menjawab.
“Oh.”
“Aku mendapatkan arak ini waktu terakhir kalinya aku pergi dan mengunjungi tetangga kami, dia memberikannya padaku.”
“Aku iri padamu,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Mendapatkan tetangga sebaik itu jauh lebih sukar daripada mendapatkan sekendi arak bagus sekarang ini.”
“Tapi dia adalah orang yang aneh, mungkin kau pernah mendengar tentang dia sebelumnya.”
“Aku memang tahu beberapa orang aneh, yang manakah dia?”
“Namanya Ho Siu.”
“Ho Siu?” Liok Siau-hong hampir berteriak. “Bagaimana dia bisa menjadi tetangga kalian?”
“Ia tidak terlalu sering datang ke sini, tapi ia membangun sebuah vila kecil di atas gunung sana dan selalu tinggal di sana selama beberapa bulan setiap tahunnya.”
Mata Liok Siau-hong tiba-tiba mulai berkilauan.
“Apakah kau tahu kenapa dia datang ke sini?”
“Selain dari minum….. Tampaknya dia tidak berbuat apa-apa.”
Liok Siau-hong tidak bertanya lagi, tampaknya ia telah tenggelam dalam lamunan. Ia pernah membuat peraturan tidak berfikir terlalu banyak bila sedang minum, tapi kali ini dia membuat pengecualian.
Ho Thian-jing tidak begitu memperhatikan Liok Siau-hong dan meneruskan. “Segala macam arak bagus yang bisa kau sebutkan, mungkin ia memilikinya di tempat itu. Bahkan aku, yang tak begitu suka minum, tidak ingin meninggalkan tempat kecil itu sekali aku memasukinya.”
“Kau tahu arak macam apa yang rasanya sangat enak?” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.
“Tidak, apa?”
“Arak curian.”
Ho Thian-jing tertawa.
“Kau ingin aku ikut pergi dan mencuri arak bersamamu?”
“Tepat!” Liok Siau-hong tertawa.
“Hanya ada satu macam orang di dunia ini yang tak bisa minum arak setetes pun, kau tahu orang macam apa itu?”
“Tidak, apa?”
“Orang yang kehilangan kepalanya, jadi jika kau ingin menjaga kepalamu agar tetap bisa minum arak, maka sebaiknya kau melupakan ide ini.”
“Mencuri arak itu seperti mencuri buku,” Liok Siau-hong bergurau, “perbuatan itu dilakukan oleh pencuri-pencuri yang berbudaya dan bercita-rasa tinggi. Bahkan jika kau tertangkap oleh seseorang, kepalamu mungkin tidak akan dipancung.”
“Itu tergantung orang macam apa yang menangkapmu!”
“Ayolah, jika kau mundur 500 tahun ke belakang, kau dan Ho Siu adalah satu keluarga,” Liok Siau-hong terus bergurau. “Apa yang kau takutkan?”
“Dia sendiri yang memberitahuku, di tempatnya yang kecil itu, ada 108 macam perangkap berbeda yang menunggu mangsanya. Jika kau adalah tamu tak diundang dan terperangkap di sana, maka tidak perduli siapa pun kamu, akan sangat sulit untuk keluar hidup-hidup.” Dia berhenti untuk menarik nafas sebelum meneruskan. “Perangkap-perangkap ini tidak kenal siapa dirimu, mereka tidak perduli apakah margamu Ho atau Liok, tidak ada bedanya bagi mereka.”
Liok Siau-hong akhirnya menarik nafas juga.
“Aku dulu punya empat alis, tidak masalah jika aku kehilangan dua di antaranya. Tapi aku hanya punya satu kepala, aku tak mau biarpun hanya kehilangan setengahnya.” Ia berkata sambil tersenyum putus asa. “Untuk beberapa kendi arak, dia menggunakan 108 macam perangkap buat berjaga-jaga terhadap pencuri, tak heran kalau dia menjadi kaya raya.”
“Mungkin dia bukan hanya melindungi araknya.”
“Jadi menurutmu ada rahasia lain di bangunan kecil miliknya itu?” Mata Liok Siau-hong kembali berkilauan.
Ho Thian-jing tersenyum.
“Setiap orang, besar atau kecil, tentu punya rahasia…..” Ia menjawab dengan santai.
“Tapi hanya ada satu macam orang yang benar-benar bisa menyimpan rahasia.”
“Orang macam apa?”
“Orang mati.”
“Tapi Ho Siu tidak mati.” Mata Ho Thian-jing pun berkilauan.
“Tidak, dia memang belum mati.”
______________________________
Yang paling menakutkan adalah orang mati juga. Tak perduli betapa hangat, lembut atau cantik orangnya semasa hidup, kematian selalu membuat orang itu jadi menakutkan.
Itulah sebabnya mengapa jenazah Ciok Siu-hun ditutupi oleh sehelai kain putih.
Sebuah lampu berada di atas meja, Hoa Ban-lau duduk dalam diam di dekat lampu itu, tak bergerak. Ia tadi telah pergi, tapi kemudian datang kembali.
Tak perduli apakah Ciok Siu-hun mati atau hidup, dia tidak bisa meninggalkannya di sini sendirian.
Pemilik warung kecil itu telah lama melarikan diri, hanya meninggalkan sebuah lampu di sini, tampaknya dia lupa bahwa orang buta tidak membutuhkan lampu.
Malam itu sunyi, tanpa suara sedikit pun. Waktu Liok Siau-hong masuk, juga tidak ada suara.
Tapi Hoa Ban-lau tetap memalingkan kepalanya ke arahnya.
“Kau baru minum?” Tiba-tiba dia bertanya.
“Sedikit,” Liok Siau-hong mengakui.
“Setelah semua kejadian ini, kau masih bisa minum?” Ia berkata dengan dingin. “Itu sangat langka.”
Dia membuat kaku wajahnya, sangat jarang dia berbuat seperti itu.
Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya.
“Kau iri padaku, ya?”
Ia punya senjata rahasia untuk melawan siapa saja yang marah padanya --- karena kau sudah marah, lalu kenapa tidak membuatmu semakin marah? Mari lihat seberapa hebatnya kau bisa marah, mari lihat apakah kau bisa mati karena marah.
Hoa Ban-lau tidak menjawab, dia kenal Liok Siau-hong luar dalam, dia belum mau mati karena marah.
Sekarang giliran Liok Siau-hong yang tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Kau juga seharusnya minum,” Liok Siau-hong berkata dengan canggung. “Hal yang terbaik pada alkohol adalah dia bisa membuatmu berhenti memikirkan banyak hal yang tidak mampu kau tangani.”
Hoa Ban-lau tidak memperdulikannya selama beberapa saat.
“Aku baru bertemu seseorang.” Tiba-tiba ia memecahkan kesunyian.
“Kau memang bertemu banyak orang akhir-akhir ini.”
“Tapi aku tidak menduga akan bertemu orang ini di sini!”
“Siapa?”
“Siangkoan Hui-yan.”
Liok Siau-hong tampak sama terkejutnya dengan Hoa Ban-lau tadi.
“Dia belum mati?”
“Walaupun dia belum mati, hidupnya sangat dekat dengan kematian sekarang.” Hoa Ban-lau berkata dengan sedih.
“Mengapa?”
“Tampaknya dia telah jatuh ke tangan seseorang, tingkah lakunya berada di bawah kendali mereka.”
“Kau tahu siapa yang mengendalikannya?” Liok Siau-hong bertanya dengan wajah terkejut.
“Dia tidak mengatakannya, dan aku pun tidak tahu. Tapi dugaanku orang ini pasti…..”
“Pasti siapa?”
“Ho Siu!”
Liok Siau-hong baru saja duduk, tapi sekarang dia pun melompat bangkit.
“Ho Siu?”
“Siangkoan Hui-yan datang ke sini karena ia dipaksa untuk datang ke sini, untuk berusaha membujukku agar tidak ikut campur dalam urusan ini lagi. Sekarang hanya ada satu orang yang tidak menginginkan kita meneruskan penyelidikan, dan itu adalah Ho Siu.”
Liok Siau-hong duduk kembali.
Hening lagi.
“Aku barusan tidak bertemu seseorang.” Tiba-tiba dia berkata.
Kalimat itu sangat aneh dan cerdik, sukar ditafsir apa maksudnya.
“Kau juga tidak bertemu banyak orang akhir-akhir ini!”
“Tapi ini adalah orang yang aku yakin akan kutemui di sana, aku pergi ke Cu-kong-po-gi-kok khusus untuk mencari orang ini.”
“Siangkoan Tan-hong?”
“Benar!”
“Di mana dia sekarang?”
“Pertama, dia tidak pergi ke sana, tapi seseorang menitipkan sepucuk surat pada Ho Thian-jing untuk diberikan padaku!”
“Apa isi surat itu?”
“Empat anak kalimat yang tampaknya masuk di akal tapi sepertinya juga tidak. Keempatnya berisi kentut!”
“Apa katanya?”
“Tan-hong dalam bahaya, Siau-hong tolong berhenti. Jika tidak berhenti, hidup akan berakhir!”
“Sepertinya isi surat itu menyuruhmu berhenti ikut campur dalam urusan ini.” Hoa Ban-lau berkomentar dengan serius.
“Sekarang hanya tinggal satu orang yang tidak menginginkan kita melanjutkan penyelidikan.”
“Jadi menurutmu orang yang menulis surat itu adalah Ho Siu?”
“Aku hanya tahu bahwa siapa pun yang menulis surat itu pasti bukanlah orang yang hanya mau berbuat setengah-setengah.”
Seorang yang sukses tak pernah melakukan sesuatu setengah-setengah.
“Sugong Ti-seng tidak menculik Siangkoan Tan-hong, mungkin hal itu tidak mengejutkan dia. Karena itu dia menyuruh orang lain menunggu gadis itu di jalan dan akhirnya berhasil meringkusnya.”
“Tapi aku baru saja minum setengah kendi araknya.”
Hal ini mengejutkan Hoa Ban-lau.
“Kau telah bertemu dengannya?”
“Tidak, arak itu adalah hadiahnya pada Ho Thian-jing. Dia memiliki sebuah vila mungil di atas gunung di belakang Cu-kong-po-gi-kok.”
“Sebuah vila mungil?” Ekspresi wajah Hoa Ban-lau pun berubah hebat.
Sepatah demi sepatah kata, Liok Siau-hong menjawab. “Ya, sebuah vila kecil.”
Hoa Ban-lau bangkit berdiri, tapi dia lalu duduk kembali.
Hening lagi.
“Kau ingat apa yang dikatakan Sun Siu-jing tadi?” Ia berkata dengan perlahan.
Tentu saja Liok Siau-hong ingat --- Tokko It-ho datang ke mari karena dia menerima informasi bahwa Loteng Pertama dari Jing-ih-lau berada di …..
Wajah Hoa Ban-lau tampak bersinar-sinar.
“Menurutmu, vila kecil milik Ho Siu itu adalah Loteng Pertama Jing-ih-lau?”
Liok Siau-hong tidak menjawab pertanyaan itu. Ini adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab lagi.
“Tapi, menurut Tay-kim-peng-ong, pemimpin Jing-ih-lau adalah Tokko It-ho.” Hoa Ban-lau merenung.
“Informasinya mungkin tidak seluruhnya benar.”
“Tak seorang pun bisa terhindar mendapat tuduhan dari orang lain, begitu juga tak seorang pun bisa terhindar dari menuduh orang lain secara tak beralasan.” Hoa Ban-lau sependapat.
“Sayang sekali Cu Ting tidak ada di sini.” Liok Siau-hong menarik nafas.
“Kenapa?”
“Kudengar di dalam vila kecil itu terdapat 108 macam perangkap yang berbahaya.”
“Kau ingin pergi dan memeriksa tempat itu?”
“Sangat ingin.”
“Apakah perangkap-perangkap itu bisa mencegahmu melakukannya?”
“Tidak.”
Sekali Liok Siau-hong mulai melakukan sesuatu, dia tak akan berhenti di tengah jalan. Tak ada yang bisa menghentikannya!
_____________________________
Bukit itu tidak begitu tinggi, tapi pemandangannya sangat indah. Sesudah berjalan mendaki bukit sebentar, orang bisa melihat sebuah cahaya kecil, cahaya kecil yang tampak sangat terang dalam kegelapan malam.
Tapi di hadapan Hoa Ban-lau tetap tidak ada apa-apa selain kegelapan.
“Aku melihat bangunan itu sekarang.” Liok Siau-hong berkata padanya.
“Di mana?”
“Di depan sana tepat di seberang hutan, di dalam vila itu juga ada cahaya.”
“Menurutmu Ho Siu ada di sini juga?”
“Tidak tahu.”
“Tadi baru kukatakan, tak seorang pun bisa terhindar dari menuduh seseorang secara tak beralasan.”
“Aku dengar kok. Aku bukan orang tuli, kau tahu.”
“Aku hanya mengingatkanmu. Ho Siu adalah sahabatmu, dan selalu bersikap baik padamu.”
“Kau kira aku mencurigainya secara tak beralasan?” Liok Siau-hong menjawab dengan dingin. “Walaupun aku sering mendapat tuduhan tak beralasan dari orang lain, aku belum pernah sembarangan menuduh orang.”
Tiba-tiba dia jadi seperti seorang pemarah, karena memang ada konflik di dalam hatinya.
Berhasil menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan menyingkap seluruh tabir rahasianya adalah keinginannya yang utama, tapi dia sebenarnya tidak ingin mendapatkan kenyataan bahwa pemimpin Jing-ih-lau yang jahat dan keji itu adalah sahabatnya Ho Siu.
Di dalam hutan itu tercium aroma tumbuhan di awal musim semi yang menyegarkan dan bersih. Walaupun angin terasa lebih dingin, dunia tampak damai.
Tak ada manusia, tak ada suara, seolah-olah kebisingan dan masalah kehidupan telah diturunkan ke bawah bukit sana.
Tetapi, hal-hal yang paling berbahaya dan menakutkan sering tersembunyi di balik ketenangan seperti ini.
“Aku tidak menyukai keadaan ini.” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.
“Keadaan apa?”
“Di sini terlalu tenang. Aku merasa gelisah bila suasana terlalu tenang atau terlalu berisik.”
“Kenapa?”
“Karena setiap kali aku mengalami sesuatu yang aneh, itu terjadi dalam kedua suasana tersebut!”
“Jika kau benar-benar merasa gelisah, maka sebaiknya kau lebih banyak bicara. Berbicara biasanya membuat orang melupakan kegelisahannya.”
“Kau ingin aku membicarakan apa?”
“Bicaralah tentang Ho Siu.”
“Bukankah kau sudah mengetahui sedikit tentang dia?”
“Aku hanya tahu bahwa dia adalah orang yang sangat aneh dan kaya. Ia tidak suka bersosialisasi atau berhubungan dengan orang lain, maka pembantu-pembantunya yang paling terpercaya pun tidak tahu di mana dia berada.”
“Dia bukan hanya tidak suka berhubungan dengan orang lain, dia pun sangat tidak menyukai wanita. Karena itu dia tetap hidup membujang hingga sekarang.”
“Tapi setiap orang tentu punya hobi atau kelemahan.”
“Satu-satunya hobinya adalah minum arak enak. Dia bukan hanya suka minum, dia pun suka mengumpulkan segala jenis arak bagus dari berbagai daerah.”
“Kudengar ilmu kungfunya pun hebat.”
“Aku tidak pernah melihatnya menggunakan kungfunya, tapi aku bisa menjamin bahwa ilmu meringankan tubuhnya, tenaga dalam dan ilmu menotoknya tidak berada di bawah siapa pun di dunia ini.”
“Oh?”
“Dan dia melatih sejenis tenaga dalam perjaka. Sepengetahuanku, di dunia ini paling banyak hanya ada 10 orang yang benar-benar mampu melatih ilmu itu.”
“Untuk melatih ilmu seperti itu, kau benar-benar harus berkorban banyak.” Hoa Ban-lau tertawa. “Jika bukan karena dia tidak menyukai wanita, tentu sangat sukar memiliki ilmu itu.”
Liok Siau-hong juga tertawa.
“Aku tidak tahu bagaimana dengan orang lain, tapi aku tak akan pernah melatih ilmu seperti itu. Aku lebih suka kepalaku dipotong daripada melatihnya.”
“Jika bagian lain dari tubuhmu yang dipotong, maka kau tentu akan melatihnya.” Hoa Ban-lau bergurau sambil tersenyum.
“Ternyata kau sama sekali bukan seorang Kuncu (laki-laki sejati).” Liok Siau-hong tertawa terbahak-bahak.
“Lama-lama bergaul dengan orang sepertimu, Kuncu mana pun pasti akan berubah sifatnya.”
Mereka tertawa terbahak-bahak, seolah-olah tidak perduli apakah mereka akan ketahuan atau tidak --- karena cepat atau lambat mereka akan ketahuan, lalu kenapa tidak terang-terangan saja sekalian?
“Menurut legenda, asal kau tekun melatih ilmu itu, kungfumu akan berada di level teratas di dunia persilatan.” Liok Siau-hong meneruskan.
“Itu bukan legenda, tapi kenyataan. Jika kau berhasil menguasainya, maka bila belajar ilmu kungfu lain kau hanya memerlukan setengah dari usaha yang harus dilakukan orang lain dan mendapatkan hasil beberapa kali lipat daripada hasil yang didapatkan orang lain.”
“Tapi sejak dahulu sampai sekarang, di antara semua dedengkot dunia persilatan, tak seorang pun dari mereka yang melatih kungfu ini. Kau tahu mengapa?”
“Tak tahu.”
“Itu karena orang-orang yang melatih ilmu ini semuanya adalah perjaka tua, dan semua perjaka tua tentu punya masalah kecil di sana-sini di dalam hatinya. Orang-orang yang punya masalah di dalam hatinya tak akan pernah menjadi orang yang hebat dalam ilmu kungfu.”
“Dan itulah sebabnya kau tidak melatih ilmu itu.” Hoa Ban-lau tersenyum.
“Tentu saja tidak. Tak perduli apa pun yang kau potong dariku, aku tak akan melatihnya.”
“Sayangnya, seandainya pun kau melatihnya, kau masih tidak bisa menjadi seorang dedengkot persilatan.”
“Kenapa?”
“Karena kau sangat menyukai hal-hal yang merusak dalam berlatih kungfu, malah melebihi cintamu pada kehidupan itu sendiri. Hal-hal seperti…..”
“Judi, minum, ikut campur dalam urusan orang lain.”
“Dan yang terpenting, kau sangat menyukai wanita.”
Liok Siau-hong kembali tertawa terbahak-bahak. Setelah berhenti, baru dia menyadari bahwa mereka telah melewati hutan dan sedang menuju ke vila.
Jika orang lain yang berjalan di situ, mereka tentu akan ketakutan dan tidak yakin pada dirinya sendiri di setiap langkahnya, tapi kedua orang ini terus saja melangkah dengan santai.
Jalannya sama, yang penting adalah bagaimana caramu melewatinya. Jalan kehidupan juga seperti itu.
Pintu berlapis logam dan bercat merah itu tertutup rapat, tapi di atasnya tertulis huruf-huruf yang berukuran sangat besar.
“DORONG”!
Maka Liok Siau-hong mendorong, dan pintu itu pun terbuka hanya dengan sebuah dorongan.
Tak perduli pintu apa pun, tentu bisa dibuka dengan cara didorong. Yang menjadi persoalan adalah apakah kau mau mendorong atau tidak, apakah kau berani mendorong atau tidak.
Di balik pintu itu ada sebuah lorong yang lebar tapi berkelok-kelok. Setelah berjalan di lorong itu sebentar, di atas dinding di sebuah persimpangan tertulis huruf-huruf lainnya.
“BELOK”.
Maka Liok Siau-hong pun berbelok. Setelah beberapa tikungan, mereka tiba di sebuah altar batu besar, di hadapan mereka ada huruf-huruf berukuran besar.
“BERHENTI”.
Maka Liok Siau-hong pun berhenti. Hoa Ban-lau tentu saja berhenti juga.
“Kenapa kau tiba-tiba berhenti?” Dia tak tahan untuk tidak bertanya.
“Karena ada tulisan yang menyuruh kita berhenti di sini.”
“Ia menyuruhmu berhenti, maka kau melakukannya?”
“Memangnya kenapa jika aku tidak melakukannya? Di sekitar tempat ini ada 108 buah perangkap, apakah kau tahu di mana saja letaknya?”
“Tidak tahu, satu pun tidak tahu.”
Liok Siau-hong tertawa.
“Jadi, karena kita tidak tahu, apa salahnya kalau menurut saja?”
“Karena jika kita terus maju, maka kita mungkin akan mengaktifkan sebuah perangkap, jadi kita berhenti saja.”
“Benar. Jadi jika mereka menyuruhku berhenti, maka aku akan berhenti. Jika mereka menginginkan aku berjalan, maka aku akan berjalan.”
“Sangat jarang menemukan orang yang penurut sepertimu.” Hoa Ban-lau menarik nafas.
“Karena aku begitu penurut, kenapa mereka mau mempersulitku?”
Hoa Ban-lau tak tahan untuk tidak tertawa.
“Tak perduli apa pun yang engkau lakukan, tampaknya kau selalu punya cara yang sedikit aneh dan tak masuk di akal, tapi aku tak tahu apakah caramu itu benar atau salah.”
Sebelum Liok Siau-hong bisa menjawab, tiba-tiba dia menyadari bahwa altar batu di mana mereka berdiri perlahan-lahan mulai turun ke bawah.
Lalu dia menemukan bahwa mereka berada di sebuah ruangan batu berbentuk segi-enam, sebuah meja batu berada di tengah dengan dua buah cawan berisi arak di atasnya. Di atas meja juga tertulis beberapa huruf.
“MINUM”.
Liok Siau-hong tertawa.
“Lihatlah keuntungannya menuruti perintah orang lain.”
“Keuntungan apa? Dia mengundangmu minum?”
“Benar, kali ini mereka mengundang kita minum, berikutnya mereka mungkin menawarkan kita makanan.”
“Itu adalah arak Musik dari Daerah Liok, tampaknya Ho Siu telah mengeluarkan arak yang bagus.”
“Tapi kau tidak menggunakan hidungmu untuk minum,” Liok Siau-hong bergurau. “Ayo, secawan untukmu, secawan untukku.”
“Arak ini terlalu keras, semangkuk saja dan aku mungkin akan mabuk.”
“Baiklah, kau tidak minum. Aku saja.”
Ia mendekatkan cawan itu ke wajahnya dan meminum hampir seluruh isinya dalam satu tegukan. Tiba-tiba ia melihat wajah Hoa Ban-lau berubah warna. Maka ia pun terpaksa berhenti.
“Kau baik-baik saja?”
“Ruangan ini seperti punya aroma tertentu, kau menciumnya?” Bibir Hoa Ban-lau pun telah berubah menjadi pucat.
“Aku hanya mencium bau arak.”
Hoa Ban-lau tampak berusaha tetap berdiri, tiba-tiba dia mengulurkan tangan, mengambil cawan arak, dan meminumnya dalam satu tegukan. Warna kehidupan segera muncul di wajahnya yang tadi kelabu.
Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali.
“Ternyata arak ini pun bisa mengobati penyakit.” Ia tertawa.
Ia menghabiskan arak di cawannya sebelum menyadari bahwa, di dasar cawan itu tertulis beberapa huruf lagi.
“PECAHKAN”!
Maka ia melemparkan cawan itu dan cawan tersebut pun pecah berkeping-keping di dinding batu.
Lalu tiba-tiba ia melihat bahwa dinding batu itu bergerak, dan muncullah sebuah pintu rahasia. Di balik pintu itu ada anak tangga yang menurun ke bawah.
Di bawah sana adalah perut gunung. Liok Siau-hong bahkan tidak perlu turun ke bawah sebelum melihat kilauan emas permata.
Perut gunung itu ternyata kosong. Di dalamnya, dengan panjang dan lebar lebih dari 100 meter, bertumpuk tinggi tombak dan golok dengan jumlah yang tak terhitung, serta peti-peti berisi emas dan batu-batu berharga.
Seumur hidupnya Liok Siau-hong belum pernah melihat senjata atau emas sebanyak ini.
Tapi yang paling mengejutkan dirinya bukanlah senjata atau harta itu, tapi empat orang manusia. Empat orang laki-laki tua.
Wajah mereka pucat dan sudah penuh dengan kerutan, jelas tidak pernah terkena sinar matahari selama bertahun-tahun. Mereka semua mengenakan jubah berwarna emas yang berhiaskan naga dan terbuat dari sutera terbaik, semuanya memakai ikat pinggang yang penuh dengan permata, pakaian para kaisar.
Di sana juga terdapat empat buah kursi emas yang berhiaskan naga, kursi singgasana. Salah satu dari empat orang laki-laki tua itu duduk di atas kursi, seperti sedang berkhayal. Yang seorang lagi berjongkok di lantai sambil memegang sebuah sempoa, bergumam sendirian, seolah-olah sedang menghitung harta. Seorang lagi berdiri di depan sebuah cermin perunggu, sambil menghitung rambut putih yang ada di kepalanya.
Orang terakhir berjalan mondar-mandir sambil menggendong tangan di belakang punggungnya. Waktu dia melihat Liok Siau-hong, segera dia berjalan menghampiri dengan wajah yang kaku.
“Siapa kalian?” Ia bertanya dengan suara yang keras. “Berani-beraninya kalian memasuki kamar tidur Kaisar tanpa diperintah. Apakah kalian tidak tahu bahwa ini adalah pelanggaran yang bisa diganjar dengan hukuman cincang?”
Sikap dan tingkah lakunya benar-benar mirip dengan seorang kaisar, tak sedikit pun kelihatan kalau dia sedang bergurau.
Liok Siau-hong sedikit tercengang.
“Kau bilang ini adalah Istana Kerajaan? Lalu siapa kau?” Ia terpaksa bertanya.
“Tay-kim-peng-ong, Kaisar ke-13 dari Kekaisaran Rajawali Emas.”
Liok Siau-hong kembali tercengang. Tak pernah ia menduga bahwa ada seorang Tay-kim-peng-ong lagi di sini. Tapi di tempat ini jelas ada lebih dari satu orang.
Orang tua ini baru saja selesai bicara ketika 3 orang lainnya pun berdatangan.
“Jangan percayai kata-kata orang tua gila ini, akulah Tay-kim-peng-ong yang sebenarnya, dia palsu.” Mereka semua berkata demikian.
“Dia palsu….. mereka bertiga semuanya palsu!”
Empat orang laki-laki tua itu semuanya mengatakan hal yang sama, semuanya berdebat hingga wajah mereka merah hingga ke telinga. Sikap dan aura yang agung tadi telah hilang seluruhnya.
Liok Siau-hong tiba-tiba merasa bahwa keempat orang ini adalah orang gila, paling tidak agak kurang waras otaknya.
Menurut jalan fikirannya, bila bertemu orang-orang seperti ini, yang sebaiknya dilakukan adalah mengangkat ekormu tinggi-tinggi dan lari keluar dari sana. Bahkan jika kau berjanji akan memberikan padanya seluruh harta yang ada di dunia ini, dia tak akan mau tinggal di sana lebih lama lagi.
Tapi baru saja dia memutuskan untuk mundur, tiba-tiba dia menyadari bahwa daun pintu di sebelah atas deretan anak tangga itu telah tertutup. Empat orang laki-laki tua itu pun sudah mengelilinginya.
“Siapa di antara kami yang menurutmu Tay-kim-peng-ong yang sesungguhnya? Jujurlah sekarang, katakan yang sebenarnya.” Mereka semua bertanya padanya.
Pada wajah mereka yang tua dan layu itu tiba-tiba muncul ekspresi gila dan mirip binatang. Liok Siau-hong tahu, tak perduli siapa pun yang dia tunjuk sebagai kaisar yang sebenarnya, tiga orang lainnya tentu akan segera berusaha membunuhnya.
Ia tak pernah mengalami peristiwa yang begini aneh dan menakutkan sebelumnya. Ia bahkan tak berani memimpikannya. Saat itu juga, tiba-tiba dia mendengar suara dering yang jernih dan nyaring sebanyak tiga kali dan sebuah pintu lain tiba-tiba muncul di dinding di belakangnya.
Empat orang pemuda tampan yang tampangnya seperti Thaykam (kasim), mengenakan jubah berwarna kuning, berjalan keluar. Masing-masing membawa sebuah meja kecil dengan makanan di atasnya.
Empat orang laki-laki tua itu segera berlarian mundur dan naik ke “singgasana” mereka, merubah ekspresi wajah mereka menjadi sangat serius dan angkuh. Empat orang pemuda itu pun masing-masing berlutut di hadapan salah seorang dari mereka, mempersembahkan meja yang mereka bawa dan berkata: “Untuk digunakan oleh Yang Mulia.”
Liok Siau-hong tiba-tiba merasa sangat pusing, karena dia tak bisa menebak apa yang sedang terjadi.
Mungkinkah keempat laki-laki tua itu adalah Tay-kim-peng-ong yang sebenarnya? Kalau tidak, bagaimana mungkin ada kasim yang melayani mereka?
Tapi tempat ini adalah pondok musim panas Ho Siu, kenapa ada empat orang seperti ini di sini?
Pintu di dinding itu masih terbuka, maka, secara diam-diam dan perlahan, dia menarik tangan Hoa Ban-lau dan berjalan memasuki pintu itu.
Di balik pintu ada sebuah lorong, di ujung lorong ada sebuah pintu lagi. Waktu mereka membuka pintu itu, mereka melihat Ho Siu.
Ho Siu mengenakan pakaian berwarna biru kehijau-hijauan yang sudah hampir berubah warna menjadi putih karena terlalu sering dicuci. Dia juga memakai sepasang sepatu yang tua dan usang, dan duduk di atas tanah, menggunakan sebatang sendok patah dan mengaduk-aduk arak yang sedang dihangatkan di sebuah tungku tanah liat berwarna merah.
Arak yang sangat harum aromanya.
Bab 11 : Orang Yang Paling Cerdas
Udara dipenuhi oleh aroma arak yang harum dan memabukkan, api di dalam tungku tanah liat kecil itu tidak besar, tapi cukup untuk menghangatkan gua yang dingin itu.
“Yah, paling tidak aku datang ke tempat yang tepat,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Dan pada waktu yang tepat pula.”
Ho Siu juga menarik nafas.
“Aku tidak mengerti kenapa orang ini selalu muncul waktu aku hendak menikmati arak bagus.” Dia tersenyum dan berpaling ke arah mereka. Matanya yang berkilauan dan bersemangat mampu membuat pakaiannya yang butut itu jadi tidak diperhatikan orang lagi.
“Jika kalian tidak takut pakaian kalian terkena noda, kenapa kalian tidak duduk dan minum bersamaku?” Ia bertanya sambil tersenyum.
Liok Siau-hong memandang jubah merah menyala yang ia kenakan dan pakaian Ho Siu yang mulai pudar warnanya itu, dan tertawa.
“Bila aku punya pelayan sebanyak jumlah pelayanmu sekarang, aku juga akan memakai pakaian seperti itu.”
“Oh?”
“Pakaianmu adalah pakaian yang hanya dikenakan oleh orang-orang terkaya, jadi aku belum pantas.”
“Kenapa?”
“Karena bila seseorang benar-benar telah memiliki uang yang banyak, maka orang tak perduli lagi dia mengenakan apa.”