“Terima kasih,” ia akhirnya mengumpulkan keberaniannya untuk bicara. “Boleh aku tahu siapa nama keluargamu?”
“Nama keluargaku adalah Hoa,” orang ini, Hoa Ban-lau, menjawab.
“Aku aku Ciok Siu-hun, yang paling jangkung di sana itu adalah Toa-suciku, Ma Siu-cin.”
“Apakah dia yang bicara barusan?”
“Ya.”
“Suaranya sangat mudah dikenali,” Hoa Ban-lau tersenyum. “Lain kali aku tentu akan mengenalinya.”
Ciok Siu-hun menganggap hal itu sedikit ganjil.
“Kau harus mendengarnya bicara baru dapat mengenalinya?” Ia terpaksa bertanya.
Hoa Ban-lau mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena aku buta.”
Ciok Siu-hun tak sanggup bicara lagi.
Orang ini, yang bisa menangkap pedangnya dengan jarinya, seakan-akan itu adalah hal termudah di dunia, ternyata seorang buta. Ia tak bisa mempercayainya.
Cahaya bulan menyinari wajah Hoa Ban-lau, senyumannya masih tenang, hangat, siapa pun bisa mengatakan bahwa dia adalah orang yang penuh kasih terhadap kehidupan dan tidak merasa tertekan atau marah karena dirinya buta, dan tak akan pernah iri pada orang lain.
Karena ia telah puas dengan segala hal dalam kehidupannya, karena ia menikmati kehidupan.
Ciok Siu-hun menatapnya, hatinya tiba-tiba terisi oleh sebuah perasaan yang tak mampu diuraikan dengan kata-kata. Ia tak tahu apakah itu simpati, iba, ataukah kagum.
Ia hanya tahu bahwa ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
“Saudara-saudaramu sedang menunggumu,” Hoa Ban-lau berkata, sambil tersenyum. “Kau tidak ikut pergi?”
Ciok Siu-hun menundukkan kepalanya dengan malu.
“Jika kita bertemu lagi, dapatkah kau mengenaliku?” Tiba-tiba ia bertanya.
“Tentu saja, aku bisa mengenali dari suaramu.”
“Tapi bagaimana jika aku jadi bisu?”
Sekarang giliran Hoa Ban-lau yang terdiam.
Tak ada orang yang pernah menanyakan itu sebelumnya, dan dia tak pernah membayangkan bahwa akan ada orang yang menanyakannya.
Ia sedang bingung bagaimana harus menjawab waktu tiba-tiba ia menyadari bahwa gadis itu berjalan menghampirinya dan menggenggam tangannya.
“Rabalah wajahku,” gadis itu berkata dengan lembut. “maka walaupun aku tak bisa bicara, kau akan mengenaliku, kan?”
Hoa Ban-lau mengangguk dalam kebisuan ketika ia merasa jari-jarinya menyentuh wajah gadis itu yang mulus dan tanpa cacat.
Hatinya tiba-tiba juga terisi oleh sebuah perasaan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.
Ma Siu-cin menatap mereka dari kejauhan dan tampaknya dia akan datang dan mengajak adik seperguruannya itu pergi tapi akhirnya membatalkan maksudnya.
Waktu ia berpaling, ia melihat bahwa Sun Siu-jing dan Yap Siu-cu juga sedang memandangi kedua orang itu, mata mereka penuh dengan sinar perasaan tertentu, seperti terpesona.
Tingkah laku Ciok Siu-hun ini tidak mengejutkan mereka, karena mereka semua tahu bahwa adik seperguruan mereka itu adalah tipe gadis yang berani mencinta dan berani membenci. Apakah dalam hatinya mereka juga berharap bisa berani seperti dia?
Jatuh cinta juga butuh keberanian.
______________________________
Ciok Siu-hun telah pergi, mereka semua telah pergi ------ empat gadis muda dan cantik itu datang seperti angin dan pergi juga seperti angin. Tidak ada yang bisa menduga kapan mereka akan datang dan kapan mereka akan pergi.
Tapi Hoa Ban-lau masih berdiri di sana, tanpa bergerak, seperti terpesona.
Angin bertiup perlahan, bulan bersinar lembut, senyumnya tampak damai dan bahagia.
Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa.
“Aku ingin bertaruh.”
“Taruhan apa?”
“Aku bertaruh kau tak akan mau mencuci tanganmu selama paling sedikit 3 hari!”
Hoa Ban-lau menarik nafas.
“Aku tak mengerti kenapa kau selalu mengira orang lain akan bersikap sama sepertimu.”
“Ada apa denganku?”
“Kau bukan seorang Kuncu (laki-laki sejati),” Hoa Ban-lau memasang muka serius, “sedikit pun tidak!”
Liok Siau-hong tertawa.
“Hal yang terbaik padaku adalah aku tak akan pernah memasang wajah serius dan pura-pura menjadi Kuncu.”
Hoa Ban-lau pun tak sanggup menahan tawanya lagi.
“Menurutku, sebaiknya kau berhati-hati,” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.
“Hati-hati? Kenapa?”
“Akhir-akhir ini tampaknya kau cukup beruntung dalam hal wanita. Bila seorang laki-laki tiba-tiba mendapatkan keberuntungan seperti ini, kesulitan biasanya tak lama lagi akan menyusul.”
“Ada satu hal yang tidak kufahami,” Hoa Ban-lau menarik nafas.
“Oh?”
“Bagaimana kau selalu bisa melihat kesulitan orang lain, tapi tak pernah melihat kesulitanmu sendiri?”
Liok Siau-hong menarik nafas.
“Karena aku seorang telur busuk,” Liok Siau-hong menjawab sambil tersenyum menyedihkan.
“Asal seseorang tahu bahwa dia adalah seorang telur busuk, tentu masih ada harapan untuknya,” Hoa Ban-lau tertawa.
“Jadi menurutmu siapa yang menyewa Sugong Ti-seng untuk mencuri Siangkoan Tan-hong?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya setelah membisu beberapa lama.
“Ho Siu,” Hoa Ban-lau menjawab tanpa bimbang sedikit pun.
“Benar, pasti dia.”
Tidak banyak orang yang mampu mengeluarkan uang 200.000 tael perak untuk membeli Sugong Ti-seng.
“Dilihat dari hal ini, tampaknya Tay-kim-peng-ong tidak berdusta, Ho Siu memang Siangkoan Bok.”
Hoa Ban-lau sependapat.
“Dan Tokko It-ho tentu Pengtok Ho, itulah sebabnya ia pergi ke Cu-kong-po-gi-kok, dan itulah sebabnya ia mengirimkan murid-muridnya untuk mencariku.”
“Waktu ia datang ke sini, mungkin ia tidak tahu bahwa sesuatu telah terjadi pada Giam Thi-san,” Hoa Ban-lau menambahkan.
“Mungkin dia telah bersepakat dengan Giam Thi-san untuk bertemu dan mendiskusikan sesuatu.”
“Mungkin sekali.”
“Dan masalah yang akan mereka diskusikan itu mungkinkah berkaitan dengan Tay-kim-peng-ong?”
“Juga sangat mungkin.”
“Dan dia mengirimkan Empat Cantik dari Go-bi-pay untuk bertanya-tanya padaku, berarti dia mengakui hubungannya dengan Tay-kim-peng-ong.”
“Jadi menurutmu seharusnya dia tidak bersikap seperti ini?”
“Kita tidak punya bukti bahwa dia adalah Pengtok Ho, dan dia pun tak perlu mengakuinya, kecuali…..”
“Kecuali kalau dia sudah punya rencana untuk membuatmu berhenti ikut campur dalam urusan orang lain.”
Liok Siau-hong mengangguk dengan lambat. “Kecuali kalau dia telah punya sebuah rencana yang sangat bagus.”
“Rencana-rencana terbaik selalu bertujuan sama.”
“Tentu saja, bila seseorang sudah mati, dia tak bisa ikut campur dalam urusan orang lain lagi.”
“Jadi menurutmu dia telah memasang perangkap di sana dan menunggumu terjebak?”
“Dia tidak perlu memasang perangkap apa pun,” Liok Siau-hong memaksakan sebuah senyuman. “Empat puluh sembilan jurus Golok dan Pedang Bersatu-padu miliknya itu mungkin sudah cukup untuk membuatku berhenti ikut campur dalam urusan orang lain.”
“Menurut kabar angin, di antara 7 ketua perguruan pedang utama di dunia saat ini, kungfunya adalah yang terbaik, karena selain ia telah menguasai kungfu Go-bi-pay luar dan dalam, dia juga telah banyak mempelajari ilmu-ilmu aneh dan tangguh yang belum pernah dilihat orang dimainkan olehnya.”
Liok Siau-hong tiba-tiba melompat bangkit.
“Mari kita pergi!”
“Ke mana?”
“Cu-kong-po-gi-kok, memangnya ke mana lagi?”
“Pertemuan direncanakan besok siang, kenapa kita harus pergi sekarang?”
“Lebih baik datang cepat daripada datang terlambat.”
“Kau mengkhawatirkan Siangkoan Tan-hong?”
“Orang seperti Tokko It-ho tak akan berbuat apa-apa pada seorang gadis.”
“Lalu siapa yang engkau khawatirkan?”
“Sebun Jui-soat.”
Ekspresi wajah Hoa Ban-lau pun berubah.
“Benar. Jika dia tahu bahwa Tokko It-ho ada di Cu-kong-po-gi-kok, dia tentu pergi ke sana sekarang.”
“Aku khawatir kalau ia mungkin tak mampu menghadapi Golok dan Pedang Bersatu-padu milik Tokko It-ho,” Liok Siau-hong menjelaskan. “Dengan kemampuannya, seharusnya kita tak perlu mengkhawatirkan dia. Tapi dia terlalu angkuh, keangkuhan bisa menimbulkan kesalahan, kesalahan bisa menyebabkan kematian.”
“Aku tidak menyukainya,” Hoa Ban-lau menarik nafas. “Tapi aku harus mengakui bahwa dia memang pantas bersikap angkuh.”
“Dia hanya melihat So Siau-eng melakukan 21 jurus sebelum memutuskan bahwa dia tentu mampu mengalahkan Golok dan Pedang Bersatu-padu milik Tokko It-ho, tapi dia mungkin tidak terlalu memikirkan kenyataan bahwa So Siau-eng bukanlah Tokko It-ho.”
“Jadi orang macam apakah Tokko It-ho?”
Liok Siau-hong berfikir sebentar.
“Ada tipe orang yang walaupun aku tidak ingin berteman dengannya, aku pun benar-benar tidak ingin menjadi musuhnya,” ia berkata dengan lambat.
“Dan Tokko It-ho adalah tipe orang seperti ini?”
Liok Siau-hong mengangguk.
“Tidak perduli siapa pun, jika dia tahu bahwa dirinya mempunyai musuh seperti itu, dia tak akan dapat tidur, jadi sebaiknya kita segera berangkat.” Liok Siau-hong menarik nafas.
Hoa Ban-lau tiba-tiba tertawa.
“Kurasa dia pun tidak bisa tidur sekarang.”
“Kenapa?”
“Tak perduli siapa pun, jika dia tahu bahwa dirinya punya seorang musuh sepertimu, dia pun tak akan dapat tidur.”
______________________________
Tokko It-ho tidak tidur. Malam sudah larut, dan angin malam di bulan empat selalu membawa hawa dingin musim gugur ketika berhembus mengenai tirai putih di aula.
Peti mati itu terbuat dari kayu Nanmu ungu, sangat kuat dan sangat mahal.
Tapi orangnya telah mati, apakah ada bedanya apa pun jenis peti matinya?
Cahaya lilin berkerlap-kerlip ditiup angin dan aula berkabung itu seperti dipenuhi dengan hawa dingin dan sepi.
Tokko It-ho duduk dalam kebisuan di samping peti mati Giam Thi-san, dia telah lama tidak bergerak di situ.
Dia adalah orang yang bertubuh jangkung dan berwajah serius. Tubuhnya masih tegak seperti di waktu mudanya dulu, dan rambutnya yang kaku seperti jarum pun masih berwarna hitam legam. Hanya saja keriput di wajahnya telah banyak dan dalam, bila kau perhatikan wajahnya baru kau akan tahu bahwa dia memang seorang laki-laki tua.
Saat itu, di wajahnya yang serius dan tegas, tampak bayang-bayang kesedihan dan kesepian.
Apakah ini karena dia sudah seperti orang mati dan faham betapa sedih dan menakutkan kematian itu sebenarnya?
Di belakangnya tiba-tiba terdengar serangkaian langkah kaki yang sangat ringan. Ia tidak berpaling, tapi tangannya telah mencengkeram gagang pedangnya.
Pedangnya lebih tebal dan besar daripada pedang rata-rata dengan badan pedang yang sangat panjang dan lebar.
Pedang itu terbuat dari perunggu dan dipoles berkilauan, tapi sarungnya sangat tua dan kotor dengan sebuah simbol Pat-kwa kecil terukir di atasnya, melambangkan bahwa ini adalah pedang ketua Go-bi-pay.
Seseorang berjalan dengan perlahan menghampirinya dan berhenti di sampingnya. Walaupun ia tidak berpaling untuk melihat, ia tahu bahwa ini adalah Ho Thian-jing.
Ekspresi wajah Ho Thian-jing pun sangat sedih, sangat muram, selain dari baju hitam di sebelah dalam, ia pun mengenakan sebuah pakaian berkabung warna kuning, menunjukkan bahwa hubungannya dengan jenazah itu adalah sangat istimewa.
Tokko It-ho belum pernah melihat pemuda yang angkuh dan kekar ini sebelumnya, dia bahkan belum pernah datang ke tempat ini.
Ho Thian-jing berdiri di sana, di sisinya, selama beberapa saat sebelum tiba-tiba bicara.
“Masih belum tidur, Totiang?”
Tokko It-ho tidak menjawab. Karena ini adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Jika dia berdiri di sini, maka tentu saja dia masih belum tidur.
Kedudukan dan kemasyurannya membuatnya berhak untuk tidak menjawab pertanyaan seperti ini.
Tapi Ho Thian-jing meneruskan.
“Totiang belum pernah ke sini sebelumnya?”
“Belum.”
“Itulah sebabnya saya bahkan tidak tahu kalau Totiang dan Giam-toalopan berteman baik!”
Wajah Tokko It-ho menjadi gelap.
“Ada banyak hal yang tidak kau ketahui,” dia menjawab dengan dingin.
“Totiang adalah salah seorang pemimpin dunia persilatan,” Ho Thian-jing menjawab dengan santai. “Maka tentu saja Totiang tahu lebih banyak daripada aku.”
“Hmmph!”
Ho Thian-jing tiba-tiba berpaling dan menatap wajahnya dengan pandangan setajam pisau.
“Maka Totiang tentu tahu kenapa beliau mati!” Ho Thian-jing berkata dengan lambat.
Wajah Tokko It-ho tampaknya telah berubah warna sedikit ketika tiba-tiba dia berputar dan mulai berjalan ke luar.
“Berhenti!” Ho Thian-jing berseru.
Langkah terakhir Tokko It-ho dihentakkan dengan keras, menghancurkan ubin lantai hingga berkeping-keping. Urat nadi di tangannya menonjol keluar sementara jubah yang dia kenakan berkepak-kepak tanpa ada angin yang bertiup. Setelah beberapa lama, dia pun berputar dengan lambat, kemarahan seperti menusuk keluar dari sorot matanya ke arah Ho Thian-jing dan dia berkata dengan lambat-lambat dan jelas.
“Apakah kau menyuruhku berhenti?”
Wajah Ho Thian-jing pun menjadi gelap.
“Benar, aku menyuruhmu untuk berhenti!” Ho Thian-jing menjawab dengan dingin.
“Kau tidak berhak!” Tokko It-ho berseru dengan murka.
“Tidak berhak? Dilihat dari usia, aku memang tidak sebanding denganmu,” Ho Thian-jing mendengus. “Tapi jika dilihat dari posisi dan tingkatan, maka Ho Thian-jing tidak lebih rendah daripada Tokko It-ho!”
“Posisi dan tingkatan apa yang engkau punya?” Tokko It-ho berseru dengan marah.
“Aku tahu kau tidak mengenalku, tapi kau tentu mengenali jurus ini.”
Dia berdiri berhadapan muka dengan Tokko It-ho, lalu tiba-tiba dia memutar pinggangnya ke kanan dan mengembangkan lengannya, Hong-hong-tian-ih (Burung Hong Mengepakkan Sayapnya), dua jari di tangan kirinya ditekuk seperti paruh burung hong ketika menusuk ke kepala Tokko It-ho.
Telapak tangan kanan Tokko It-ho terangkat miring, terarah ke pergelangan tangan lawannya.
Tiba-tiba langkah kaki Ho Thian-jing bergeser sedikit dan melesat ke samping kira-kira semeter, orangnya pun tiba di belakang pundak kanan Tokko It-ho. Jurusnya masih tetap Hong-hong-tian-ih, tapi arah gerakannya sudah berubah sama sekali dan dia menggunakan tangan kanannya untuk menirukan paruh burung dan menyerang urat darah besar di sebelah kanan leher Tokko It-ho.
Walaupun perubahan ini tampak sederhana, kelihaian yang terkandung di dalamnya sukar untuk diuraikan dengan kata-kata.
“Hong-siang-hui (Burung Hong Terbang Berpasangan)!” Tokko It-ho berteriak.
Sambil bicara, tiba-tiba dia memutar tubuhnya ke kiri dan menggunakan telapak tangan kirinya untuk menangkis paruh burung Ho Thian-jing.
Ho Thian-jing menghembuskan nafas, menggunakan kekuatan Bintang Kecil dari dalam telapak tangannya untuk didorong keluar.
“Pshhh!”
Kedua pasang telapak tangan itu bertemu dan segera, kedua orang itu berhenti bergerak.
Setelah menghembuskan nafas, Ho Thian-jing mulai bicara dengan lambat.
“Benar, itulah Hong-siang-hui. Suatu ketika waktu Thian-kim Lojin mengunjungi Go-bi-pay dan bertanding dengan gurumu, Oh-cinjin yang terhormat, di puncak Go-bi, beliau menggunakan jurus ini, kau mungkin melihatnya sebagai penonton kan?”
“Benar.”
Walaupun Tokko It-ho hanya mengucapkan 2 patah kata ini, wajahnya sudah berubah menjadi kehijau-hijauan.
Bila dua jagoan saling bertanding, sekali mereka menggunakan tenaga dalamnya untuk bertarung, mereka seharusnya tidak boleh dan tidak bisa bicara.
Tapi Thian-kim Lojin memang seorang jenius kungfu yang luar biasa, dia telah menciptakan semacam tenaga dalam yang tetap memungkinkan pemiliknya untuk bicara. Dan bukan hanya tidak ada kerusakan pada tenaga dalammu bila kau bicara, ilmu ini bahkan membuat energi yang tersimpan dalam sumber tenaga dalammu bisa mendesak keluar.
Tenaga dalam Ho Thian-jing dipelajari di bawah bimbingan Thian-kim Lojin sendiri, dan saat itu, dia bermak menggunakan keuntungan ini untuk mengalahkan Tokko It-ho.
“Jago kungfu biasa, bila menghadapi jurus ini, akan berputar ke kanan dan menggunakan telapak tangan kanan mereka untuk menangkis serangan ini,” Ho Thian-jing meneruskan. “Tapi Oh-cinjin memang hebat, dia malah menentang kebiasaan ini dan menangkisnya dengan telapak tangan kirinya, kau tahu mengapa?”
“Jika kau menangkis dengan telapak tangan kananmu, walaupun hal itu lebih cepat, pilihan untukmu hanya tersisa pada apa yang bisa engkau lakukan; tapi jika kau menangkis dengan tangan kirimu, maka masih ada energi dan kekuatan yang tersisa yang memungkinkan dirimu untuk berubah dan beradaptasi sesuai dengan keinginanmu.”
Tokko It-ho tidak ingin menjawab, tapi dia pun tidak ingin memperlihatkan kelemahannya. Baru saja dia bicara sampai di situ, tiba-tiba dia merasa seakan-akan dia tak sanggup mengatur pernafasannya lagi dan terpaksa berhenti.
“Benar, itu karena Thian-kim Lojin harus berhenti sebentar untuk menghadapi gerakan seperti itu dan mengumpulkan hawa untuk adu tenaga dalam, untuk meniadakan pilihan baginya secara efektif.”
“Bagaimana kau tahu tentang hal ini?” Tokko It-ho tiba-tiba berseru, seakan-akan dia tidak ingin mendengar pemuda itu bicara lagi.
“Karena Thian-kim Lojin adalah ayahku.”
Ekspresi wajah Tokko It-ho berubah hebat.
“Oh-cinjin dan ayahku berasal dari generasi yang sama, kau mungkin juga tahu, kan?” Ho Thian-jing berkata dengan santai.
Wajah Tokko It-ho berubah dari hijau ke putih dan kembali ke hijau lagi, bukan hanya dia tak mampu bicara, dia benar-benar tidak punya apa-apa yang harus dikatakan.
Kedudukan Thian-kim Lojin di masa itu adalah di atas semua orang, mengatakan kalau dia dan Oh-cinjin berasal dari generasi yang sama saja sudah memberikan Oh-cinjin kehormatan yang luar biasa.
Walaupun Tokko It-ho adalah orang yang angkuh, dia tak bisa mengingkari tradisi dunia persilatan.
“Jadi sekarang seharusnya kau tahu siapa aku dan bagaimana posisiku,” Ho Thian-jing meneruskan dengan santai. “Tapi aku masih punya beberapa pertanyaan untukmu!”
Tokko It-ho mengkertakkan giginya, sementara keringat mulai bermunculan di keningnya.
“Mengapa kau membuat So Siau-eng menukar namanya dan pura-pura menjadi seorang murid? Kau dan Giam-toalopan tidak pernah berhubungan sebelumnya, kenapa kau tiba-tiba muncul tepat setelah dia mati?”
“Hal ini tidak ada hubungannya denganmu.”
“Aku tak boleh menanyakan ini?”
“Kau tak berhak menanyakan hal ini.”
“Jangan lupa kalau aku adalah congkoan (pengurus umum) tempat ini,” Ho Thian-jing mengingatkan Tokko It-ho dengan dingin. “Jika aku tak boleh menanyakan persoalan di sekitar tempat ini, lalu siapa yang boleh?”
Keringat di kening Tokko It-ho bertetesan seperti air hujan dan ubin di bawah kakinya pun hancur berkeping-keping. Tiba-tiba ia menendang dengan kaki kanannya dan mengambil pedangnya dengan tangan kanannya.
Tapi tepat pada saat itu pula tenaga yang muncul dari telapak tangan Ho Thian-jing menghilang, dan dia, dengan meminjam energi Tokko It-ho, melayang keluar dengan perlahan.
Tokko It-ho segera kehilangan keseimbangannya dan hampir roboh terjungkal. Tiba-tiba tampak sebuah kilatan pedang diikuti dengan suara pedang memukul ubin lantai dengan bunga api yang memercik ke mana-mana ketika pedang di tangannya dihunjamkan ke ubin.
Tapi Ho Thian-jing telah menghilang.
Tirai putih berkibar-kibar ditiup angin, lilin di atas meja altar tiba-tiba padam.
Tokko It-ho, sambil bersandar pada pedangnya, memandang kegelapan, tiba-tiba ia merasa sangat lelah. Ia sudah semakin tua.
Menarik pedangnya dan memasukkannya kembali ke dalam sarungnya, dia berjalan keluar dengan perlahan; dalam kegelapan, seperti ada sepasang mata berkilat-kilat yang sedang menatapnya.
Ia memandang ke depan, dan melihat seseorang berdiri tak bergerak di bawah pohon pek di halaman, seseorang yang mengenakan pakaian serba putih seperti salju.
Tangan Tokko It-ho pun kembali turun ke pedangnya.
“Siapa itu?” Ia bertanya dengan suara yang bengis.
Orang itu tidak menjawab, tapi malah balik bertanya.
“Pengtok Ho?”
Wajah Tokko It-ho tiba-tiba menjadi kaku.
Orang berpakaian putih itu pelan-pelan berjalan keluar dari kegelapan dan sekarang berada di tengah sinar bulan. Pada pakaiannya yang seputih salju ada setitik debu, wajahnya tanpa ekspresi, dan melintang di punggungnya ada sebatang pedang berbentuk ganjil dengan sarung berwarna gelap.
Ekspresi wajah Tokko It-ho pun berubah hebat.
“Sebun Jui-soat?”
“Ya.”
“Apakah kau yang membunuh So Siau-eng?” Tokko It-ho bertanya dengan marah.
“Aku memang membunuhnya, tapi ia seharusnya tidak mati. Yang pantas mati adalah Pengtok Ho!”
Bola mata Tokko It-ho tampak terbelalak.
“Maka jika kau adalah Pengtok Ho, aku akan membunuhmu!” Sebun Jui-soat berkata dengan dingin.
Tokko It-ho tiba-tiba tertawa seperti orang gila.
“Kau tidak bisa membunuh Pengtok Ho, kau hanya bisa membunuh Tokko It-ho.”
“Oh?”
“Jika kau membunuh Tokko It-ho, maka namamu akan terkenal ke seluruh dunia!”
“Bagus,” Sebun Jui-soat mendengus.
“Bagus?”
“Tak perduli apakah engkau adalah bangau yang kesepian atau hanya seekor bangau, aku akan membunuhmu!”
{Catatan: ini adalah sebuah permainan kata-kata lagi. Tok Ho secara harfiah berarti bangau yang kesepian, sementara It-ho berarti seekor bangau.}
“Bagus.” Tokko It-ho tiba-tiba mendengus juga.
“Bagus?”
“Tak perduli apakah engkau ingin membunuh bangau yang kesepian atau hanya seekor bangau, kenapa kau tidak menghunus pedangmu?”
“Bagus, hebat!”
Tokko It-ho mencengkeram gagang pedangnya, dia merasa seolah-olah tangannya lebih dingin daripada pedang itu sendiri. Bukan hanya tangannya yang terasa dingin, jantungnya juga.
Reputasi yang termasyur, posisi yang berkuasa, bahkan jika dia bisa memberikannya semua sekarang, dia masih tak akan mampu mendapatkan kembali semua energi yang baru saja dia keluarkan.
Ia memandang pada Sebun Jui-soat, tapi ia pun memikirkan tentang Ho Thian-jing, tiba-tiba ia merasa menyesal.
Ini adalah pertama kalinya dia benar-benar merasa menyesal dalam hidupnya, dan ini mungkin yang terakhir kalinya.
Dia tiba-tiba sangat ingin bertemu dengan Liok Siau-hong, tapi dia tahu bahwa Liok Siau-hong tak mungkin muncul di saat seperti ini.
Dia hanya bisa menghunus pedangnya.
Karena dia tak punya pilihan lain di saat ini.
Tiba-tiba, terlihat kilatan-kilatan pedang penuh energi.
Angin yang bertiup semakin dingin, maka bila Sebun Jui-soat sendiri yang berdarah, darahnya pun akan mongering juga.
Bab 9: Kematian Yang Begitu Aneh
Kereta itu tidak terlalu besar, hanya cukup untuk menampung 4 orang penumpang. Kuda-kuda yang menarik kereta itu sangat terlatih, walaupun kereta sedang berjalan di atas jalan berlumpur, kedudukannya tetap sangat stabil. Ma Siu-cin dan Ciok Siu-hun duduk di satu jok, sedangkan Sun Siu-jing dan Yap Siu-cu duduk di hadapan mereka.
Kereta itu telah menempuh perjalanan yang panjang, Ciok Siu-hun tiba-tiba melihat semua orang sedang menatapnya. Ia pura-pura tidak tahu, tapi akhirnya tak tahan untuk tidak mencibirkan bibirnya dan menantang semua orang.
“Mengapa kalian semua menatapku? Apakah sekuntum bunga tiba-tiba tumbuh di wajahku?”
“Bahkan jika sekuntum bunga tumbuh di wajahmu,” Sun Siu-jing tertawa dan menjawab, “tentu bunga itu telah dipetik orang.”
Matanya besar dan bibirnya tipis, jelas dia adalah seorang gadis yang tak pernah menahan diri bila mengejek seseorang.
Ia tidak membiarkan Ciok Siu-hun menjawab sebelum melanjutkan. “Hal yang aneh adalah, gadis ini selalu mengatakan bahwa bunga apa pun tidak sebaik sayur-sayuran, jadi kenapa tiba-tiba dia mengatakan bunga ini dan bunga itu setiap kali buka mulut?”
Herannya, Ciok Siu-hun tidak memerah wajahnya, malah ia menjawab dengan santai: “Tidak ada yang aneh, itu karena nama keluarganya Hoa, bunga, tentu saja aku akan mengatakan bunga ini dan bunga itu.”
“Dia?” Sun Siu-jing tertawa kecil. “Siapa dia?”
“Marganya Hoa, Hoa Ban-lau.”
“Bagaimana kau tahu namanya?”
“Dia yang memberitahuku.”
“Kenapa aku tak mendengarnya?”
“Kami sedang membicarakan urusan kami, kenapa harus membiarkanmu mendengarnya? Di samping itu, mungkin kau sedang memikirkan Liok Siau-hong saat itu.”
“Aku sedang memikirkan Liok Siau-hong?” Sun Siu-jing hampir menjerit. “Siapa bilang aku sedang memikirkan dia?”
“Aku,” Ciok Siu-hun menjawab. “Saat dia sedang duduk di bak mandi itu, kau tak pernah melepaskan pandanganmu darinya. Aku melihatnya, kau tak bisa membantahnya sekarang.”
Sun Siu-jing tertawa dan melepaskan perasaannya di saat yang bersamaan.
“Percayakah kalian betapa gilanya gadis ini? Semua yang keluar dari mulutnya adalah dusta.” Ia mencaci, dengan sebuah senyuman di wajahnya.
“Gadis ini memang agak gila,” Ma Siu-cin menjawab dengan santai. “Tapi matamu memang selalu memandangi Liok Siau-hong.”
“Terima kasih, Toa-suci, karena bersikap adil,” Ciok Siu-hun tertawa, sambil melambai-lambaikan tangannya.
Mata Sun Siu-jing berputar-putar sebelum tiba-tiba dia menarik nafas.
“Dia memang adil, tapi seperti ada rasa masam di dalam ucapannya itu.”
“Masam?” Sekarang Ma Siu-cin yang tampak heran. “Masam apa?”
“Masam seperti cuka.”
“Jadi menurutmu aku sedang minum cuka, aku cemburu padamu?” Sekarang Ma Siu-cin pun mulai berteriak.
{Catatan: dalam istilah Cina, “chi cu”, atau “minum cuka”, sering digunakan untuk menjelaskan perasaan cemburu yang dirasakan oleh seseorang.}
“Aku tidak mengatakannya,” Sun Siu-jing menjawab. “Kau sendiri yang barusan mengatakannya.”
Dia berusaha menahan tawanya dan meneruskan, tanpa membiarkan yang lain sempat membalas. “Semua orang mengatakan bahwa Liok Siau-hong begitu halus dan sopan dan begitu memikat dan begitu ini dan begitu itu. Tapi waktu aku melihatnya hari ini, duduk di bak mandi seperti itu, dia seperti orang tolol atau begitulah, tidak sebanding dengan Sebun Jui-soat.”
“Apa yang kau katakan?” Ciok Siu-hun berteriak dengan terkejut.
“Yang kukatakan adalah bahwa jika aku harus memilih seorang pria, maka aku tentu akan memilih Sebun Jui-soat. Dia seorang laki-laki sejati, lebih baik 10 kali lipat daripada Liok Siau-hong.”
Ciok Siu-hun menarik nafas.
“Dilihat dari sini, tampaknya kaulah yang gila. Bahkan jika seluruh laki-laki di dunia ini mati, aku tak akan memilih mayat hidup yang angkuh dan sombong itu.”
“Kau tidak menyukainya, tapi aku suka. Ini yang disebut ‘kubis dan wortel berkumpul dengan sesamanya’.”
Ma Siu-cin tak mampu menghentikan dirinya untuk tertawa lagi.
“Dari tampang kalian berdua, tampaknya kalian sedang memilah-milah kubis dan wortel.”
“Dan yang kami tinggalkan untukmu adalah si wortel besar, Liok Siau-hong!” Sun Siu-jing berkata, sambil berusaha menahan tawanya.
Ciok Siu-hun mengedip-ngedipkan matanya.
“Jadi Yap-samsuci tidak mendapat apa-apa?”
Wajah Yap Siu-cu sudah merah padam karena marah.
“Maukah kalian lihat diri kalian dulu?” Yap Siu-cu berkata, wajahnya masih merah. “Kalian baru bertemu mereka sekali dan tampaknya kalian telah jadi gila memikirkan mereka, tak mungkin kalian tidak pernah bertemu laki-laki lain dalam hidup kalian sebelumnya, kan?”
“Kita memang tidak pernah bertemu laki-laki seperti mereka sebelumnya,” Sun Siu-jing menarik nafas.
Ia melirik Yap Siu-cu dari sudut matanya dan meneruskan.
“Sejujurnya, tiga orang laki-laki yang kita temui hari ini hebat-hebat semua, bahkan walaupun kau tidak mengakuinya, kau mungkin menyukai mereka bertiga kan?”
“Kau tentu sudah gila.” Yap Siu-cu begitu kesal sehingga wajahnya semakin merah.
“Sun ji-ci yang di sana itu memang selalu punya masalah seperti ini, dan itulah sebabnya dia suka mengganggu orang yang polos,” Ciok Siu-hun membantunya.
“Dia? Polos?” Sun Siu-jing mencibirkan bibirnya. “Dia tampak polos di permukaannya saja, tapi dari kita berempat, kujamin dia yang pertama menikah nantinya.”
“Apa? Apa yang membuatmu berkata demikian?” Yap Siu-cu bertanya.
“Karena dia tahu bahwa dia tak akan menjadi orang pertama yang menikah,” Ciok Siu-hun memotong sebelum Sun Siu-jing bisa menjawab. “Jangankan laki-laki beralis empat, bahkan laki-laki dengan keberanian empat kali lipat pun tak akan berani menikahinya.”
“Sepertinya itu benar,” Ma Siu-cin setuju. “Siapa saja yang menikahi seorang perempuan seperti dirinya tentu akan mati akibat tumor otak karena mendengar ucapannya.”
“Mungkin jika dia menemukan orang tuli maka…...” Ciok Siu-hun menambahkan, berusaha menahan tawanya, dan gagal.
Sun Siu-jing sekarang sudah bangkit dan berteriak: “Oh, aku faham. Kalian bertiga sedang berkomplot melawanku. Baik, kubiarkan kalian bertiga memiliki tiga laki-laki itu, puas?”
“Membiarkan kami memiliki mereka?” Ciok Siu-hun menjawab. “Apakah ketiga orang itu milikmu atau apa?”
“Gadis ini memang tahu banyak hal,” Ma Siu-cin menarik nafas, “tapi dia tentu tak tahu malu.”
Sun Siu-jing menatap mereka sebelum tiba-tiba dia berteriak sekuat-kuatnya: “Aku lapar!”
Ma Siu-cin memandangnya dengan heran, seolah-olah dia memang sedang memandang orang gila.
Sun Siu-jing tak tahan untuk tidak tertawa sendirian.
“Bila aku kesal, aku jadi lapar. Sekarang aku sedang kesal, aku harus menemukan sebuah tempat untuk makan.”
*** Bila empat orang gadis berkumpul bersama, hampir mustahil bagi mereka untuk tidak membicarakan laki-laki. Persis seperti bila empat orang laki-laki berkumpul, membuat mereka tidak membicarakan perempuan tentu sama saja dengan mustahil.
Tapi Liok Siau-hong dan Hoa Ban-lau tidak sedang membicarakan perempuan. Mereka sedang membicarakan Sebun Jui-soat.
“Aku hanya berharap dia belum menemukan Tokko It-ho.” Liok Siau-hong berkata.
“Menurutmu dia bukan tandingan Tokko It-ho?” Hoa Ban-lau bertanya.
“Ilmu pedangnya memang cepat dan mematikan, tidak sedikit pun mengandung rasa iba, persis seperti orangnya sendiri, dia tak akan pernah menyisakan pilihan untuk lawan-lawannya.”
Hoa Ban-lau mengangguk dengan lambat.
“Jika seseorang tidak menyisakan pilihan untuk lawannya, itu sama saja dengan tidak menyisakan pilihan untuk dirinya sendiri.” Ia pun berkata.
“Itulah sebabnya, sekali pedangnya terhunus, jika tak berhasil melukai musuh, maka dia telah menyerahkan dirinya sendiri kepada kematian!”
“Tapi dia tidak mati.”
“Itu hanya karena dia belum pernah bertemu musuh seperti Tokko It-ho sampai sekarang.”
Liok Siau-hong berhenti sebentar sebelum meneruskan.
“Ilmu pedang Tokko sangat menakutkan, dengan tenaga dalam yang besar, serangan yang membinasakan dan pertahanan yang bahkan lebih menghancurkan lagi, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa pengalaman bertarungnya tidak mungkin bisa ditandingi oleh Sebun Jui-soat. Itulah sebabnya jika Sebun tidak berhasil dalam 30 jurus, tentu dia akan mati oleh pedang Tokko.”
“Dan menurutmu tak ada kesempatan baginya untuk berhasil dalam 30 jurus?”
“Tak seorang pun mampu mencabut nyawa Tokko dalam 30 jurus, hal itu juga berlaku bagi Sebun!” Liok Siau-hong menarik nafas.
Hoa Ban-lau terdiam beberapa lama sebelum menarik nafas juga.
“Kaulah yang meminta dia untuk terlibat dalam masalah ini.”
“Dan itulah sebabnya aku berharap dia belum menemukan Tokko.”
Mereka telah melewati jalan yang tenang dan sepi itu dan berbelok ke sebuah sungai kecil tepat di luar Cu-kong-po-gi-kok.
Di bawah sinar bulan yang terang dan jelas, air berkilauan seperti potongan perak yang bertebaran. Seseorang tampak berdiri di tepi sungai, berpakaian putih seperti salju.
Waktu Liok Siau-hong melihatnya, dia juga melihat Liok Siau-hong.
“Aku belum mati.” Tiba-tiba dia berkata.
Liok Siau-hong tertawa.
“Kau memang tidak mirip orang mati.”
“Yang mati adalah Tokko It-ho.” Sebun Jui-soat menjawab.
Liok Siau-hong berhenti tertawa.
“Kau tak bisa membayangkan kenapa?”
Liok Siau-hong mengakuinya, dia memang tidak bisa.
Tapi sekarang Sebun Jui-soat tertawa kecil, tawa yang sangat aneh dan ganjil. “Aku pun tak bisa membayangkan kenapa.” Ia berkata.
“Oh?”
“Waktu So Siau-eng menampilkan 21 jurusnya, aku sudah melihat 3 lubang kelemahan.”
“Jadi kau kira paling tidak kau punya 3 kesempatan untuk membunuh Tokko It-ho?”
Sebun Jui-soat mengangguk.
“Biasanya aku hanya butuh satu kesempatan, tapi waktu aku bertarung dengannya, aku tak berhasil mendapatkan satu kesempatan pun.”
“Mengapa?”
“Walaupun ilmunya punya kelemahan, setelah aku mulai menggerakkan pedangku, dia tentu segera menutupi lubang itu. Belum pernah aku bertemu dengan orang yang tahu di mana letak kelemahan ilmunya sendiri, tapi dia tahu.”
“Semua ilmu pedang di dunia ini memang punya kelemahan, tapi memang tidak banyak orang yang tahu di mana letak kelemahan ilmu pedang mereka sendiri.” Liok Siau-hong setuju.
“Aku membuat gerakan sebanyak 3 kali, semuanya berhasil ditangkis, maka aku tahu bahwa aku tak akan mampu membunuhnya. Jika kau tak bisa membunuh dengan ilmu pedang yang khusus diciptakan untuk membunuh, maka kaulah yang akan mati.”
“Walaupun kau angkuh, paling tidak kau tahu kelemahanmu sendiri.” Liok Siau-hong menarik nafas. “Itulah sebabnya kau masih hidup!”
“Aku masih hidup karena setelah 30 jurus, jurus-jurusnya tiba-tiba menjadi kacau.”
“Seorang jagoan seperti dia, jika jurus-jurusnya tiba-tiba menjadi kacau, maka hanya ada 2 sebab.”
Sebun Jui-soat menunggu penjelasannya lebih lanjut.
“Jika hati dan pikirannya sedang kacau, tentu jurus-jurus pedangnya juga kacau.”
“Hati dan pikirannya tidak sedang kacau.”
“Mungkinkah tenaga dalamnya habis?”
Tanpa tenaga, jurus-jurus pedang pun tentu menjadi kacau.
“Dengan tenaga dalam dan kemampuannya, bagaimana mungkin dia telah kehabisan tenaga dalam setelah bergebrak 30 jurus saja?” Liok Siau-hong merenung.
“Sudah kubilang, aku pun tak bisa membayangkannya.”
Liok Siau-hong berfikir dalam kebisuan.
“Mungkinkah sebelum bertarung denganmu, orang lain telah memaksanya untuk menggunakan sebagian besar tenaga dalamnya? Mungkinkah seseorang telah bertarung dengannya sebelum kamu?”
“Dia tidak mengatakannya, maka aku tak akan tahu,” Sebun Jui-soat menjawab dengan dingin. “Seandainya aku tahu, tentu aku tak akan memaksanya bertarung.”
“Bila kau memaksa orang lain bertarung, kapan terakhir kalinya kau memberi kesempatan musuhmu untuk bicara?” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum sedih.
Walaupun tidak ada ekspresi di wajah Sebun Jui-soat, bayang-bayang suram tampak muncul di matanya.
“Dia mengatakan sesuatu yang aneh sebelum dia mati.” Ia berkata pelan-pelan, setelah terdiam beberapa lama.
“Apa yang dia katakan?”
“Dia bilang dia…...”
Waktu pedang itu ditarik, masih ada darah di badan pedang.
Waktu Tokko It-ho melihat pedang orang lain bernodakan darahnya sendiri, melihat darahnya jatuh setetes demi setetes, tidak ada rasa sakit atau murka atau takut di wajahnya. Sebaliknya, tiba-tiba dia berseru: “Aku faham sekarang, aku faham sekarang…..”
“Dia mengatakan dia faham sekarang!”
“Apa yang dia fahami?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.
Bayang-bayang suram di mata Sebun Jui-soat tampak bertambah gelap dan dia pun menarik nafas panjang.
“Mungkin dia faham bahwa hidup ini singkat, seperti embun pagi. Mungkin dia faham bahwa kemasyuran dan kekuasaan yang dia peroleh, pada akhirnya tiada artinya……”
Liok Siau-hong berfikir dalam-dalam.
“Persisnya karena hidup ini singkat, maka kau tak bisa hidup tanpa mendapat apa-apa,” ia berkata lambat-lambat. “Apa yang sebenarnya dia fahami? Atau apa yang tidak dia fahami? Apa sebenarnya yang ingin dia katakan?”
Sebun Jui-soat menatap cakrawala selama beberapa saat sebelum tiba-tiba mengucapkan sebuah kalimat yang sangat tak terduga.
“Aku lapar.”
“Kau lapar?” Liok Siau-hong memandangnya dengan heran.
“Aku selalu merasa lapar setelah membunuh orang,” Sebun Jui-soat menjawab dengan dingin.
______________________________
Kedai arak kecil ini seharusnya sudah tutup sekarang, apalagi letaknya berada di pinggir sebuah hutan buah murbei yang rimbun dan lebat.
Ada beberapa rumah di dalam hutan itu, juga ada beberapa buah rumah di luar hutan, sebagian besar merupakan keluarga-keluarga kecil yang hidup dari memelihara ulat sutera.
Rumah kecil ini letaknya agak dekat ke jalan, maka di depannya mereka membangun sebuah gubuk kecil dengan jendela di keempat sisinya dan menjual arak sederhana dan makanan untuk orang lewat. Waktu Su-siu dari Go-bi-pay menemukan tempat itu, pemiliknya baru saja hendak pergi tidur, tapi bagaimana mungkin orang menolak kedatangan empat orang gadis cantik seperti mereka?
Di dalam kedai arak yang kecil itu hanya ada tiga buah meja, tapi meja-meja itu sangat bersih dan rapi. Makanan-makanan kecil yang tersedia untuk dinikmati bersama arak juga sederhana tapi menyegarkan dan arak yang rasanya ringan adalah jenis yang disukai oleh gadis-gadis itu, maka mereka pun merasa senang berada di tempat itu.
Bila gadis-gadis sedang bersuka cita, mereka selalu makin banyak bicara.
Mereka sedang menggosip ke kiri dan ke kanan, tertawa riang, persis seperti segerombolan ayam betina yang sedang bahagia.
“Orang yang bermarga Hoa itu,” Sun Siu-jing tiba-tiba berkata, “tampaknya dia mempunyai sedikit aksen daerah selatan sungai besar, mungkinkah dia berasal dari keluarga Hoa?”
“Keluarga Hoa yang mana?” Ciok Siu-hun bertanya.
“Keluarga Hoa dari selatan sungai besar itu. Menurut kabar angin, kau bisa berkuda dengan kecepatan penuh selama seharian dan masih tetap berada di atas tanah milik mereka.”
“Aku juga tahu keluarga itu,” Ma Siu-cin memotong. “Tapi kurasa Hoa Ban-lau bukan berasal dari keluarga itu.”
“Kenapa tidak?” Sun Siu-jing bertanya.
“Kudengar keluarga itu hidupnya sangat bermewah-mewahan, dan sangat teliti dengan apa yang mereka minum, makan, dan pakai, bahkan pegawai mereka kelihatan seperti jutawan yang sedang berjalan-jalan keliling kota. Tapi Hoa Ban-lau tampaknya orang yang sangat sederhana. Bukan hanya itu, aku pun belum pernah mendengar salah seorang anggota keluarga itu ada yang buta.”
Ciok Siu-hun segera mendengus.
“Memangnya kenapa kalau buta? Walaupun buta, tapi dia bisa melihat jauh lebih banyak daripada kita berempat disatukan.”
Ma Siu-cin tak tahu kalau dia akan menyahut demikian, maka ia merubah nada bicaranya sedikit dan tersenyum.
“Ilmu kungfunya memang sangat baik, aku pun tidak mengira kalau dia mampu menangkap pedangmu di antara jari-jarinya seperti itu.”
“Itu mungkin karena gadis kecil ini sudah terpikat olehnya.” Sun Siu-jing bergurau.
Ciok Siu-hun meliriknya dengan marah.
“Jika kau ingin merasakannya, kau bisa mencobanya lain kali jika kau mau. Aku bukan membangga-banggakan dirinya, tapi tidak banyak orang di dunia ini yang bisa menandingi jurusnya itu.”
“Bagaimana dengan Sebun Jui-soat? Apakah jurusnya jelek?”
Ciok Siu-hun tidak menjawab, karena dia mau tak mau harus mengakui bahwa jurus Sebun Jui-soat memang menakutkan.
“Kudengar, bukan saja ilmu pedang Sebun Jui-soat tiada bandingnya, keluarganya juga kaya, kemewahan dan kekayaan Ban-bwe-san-ceng tidaklah di bawah keluarga Hoa.” Ma Siu-cin memotong.
Mata Sun Siu-jing bersinar-sinar.
“Aku menyukainya, bukan karena kekayaan atau keluarganya, bahkan jika dia adalah seorang fakir miskin yang tidak punya uang, aku tetap akan menyukainya.”
“Dari kepala hingga ke ujung kaki, aku benar-benar tak bisa melihat ada yang menarik pada dirinya.” Ciok Siu-hun berkata.
“Kenapa harus dapat melihat daya tariknya? Asal aku…..”
Tiba-tiba dia berhenti bicara, wajahnya memerah seperti darah, merah hingga ke telinganya.
Karena pada saat itu juga seorang laki-laki berjalan masuk, berpakaian putih seperti salju, siapa lagi kalau bukan Sebun Jui-soat.
Ciok Siu-hun juga tak bisa mengatakan apa-apa lagi, keempat gadis penggosip itu tiba-tiba berhenti semuanya.
Bukan hanya melihat Sebun Jui-soat, tapi mereka juga melihat Hoa Ban-lau dan Liok Siau-hong.
Dengan sepasang mata yang menusuk seperti pisau belati, Sebun Jui-soat menatap mereka. Tiba-tiba dia berjalan menghampiri mereka.
“Aku bukan hanya membunuh So Siau-eng,” dia berkata dengan dingin, “tapi aku juga telah membunuh Tokko It-ho.”
Rona wajah keempat gadis itu pun berubah, terutama wajah Sun Siu-jing, yang menjadi pucat seperti kertas, tanpa sedikit pun kelihatan darahnya.
Di dalam hati seorang gadis, kebencian sangat mudah digantikan dengan perasaan cinta. Di samping itu, So Siau-eng juga agak terlalu angkuh, maka biarpun seharusnya keempat saudara wanita seperguruannya ini bertarung untuknya, tetapi mereka tidak terlalu menyukai dirinya, sehingga selama ini selalu ogah-ogahan untuk membalaskan dendamnya. Tapi pembunuhan guru mereka tentulah persoalan yang sangat berbeda.
“Apa? Apa yang kau katakan?” Sun Siu-jing terpaksa bertanya lagi.
“Aku membunuh Tokko It-ho.”
Ciok Siu-hun tiba-tiba melompat bangkit dari kursinya dan mulai berteriak.
“Kakakku yang kedua sangat menyukaimu, bagaimana…. bagaimana… bagaimana mungkin kau melakukan sesuatu seperti itu!”
Tak seorang pun menduga kalau dia akan bicara seperti itu, bahkan Sebun Jui-soat pun tampak tercengang.
Wajah Sun Siu-jing berganti-ganti warna dari merah ke hijau dan sebaliknya. Tiba-tiba, sambil mengkertakkan giginya, kedua pedang di dalam lengan bajunya lalu melesat keluar, kilauan pedang tampak berkilat-kilat saat meluncur pesat ke arah dada Sebun Jui-soat.
Tapi Sebun Jui-soat tidak merespon, dia malah mengibaskan lengan bajunya dan tubuhnya pun melesat mundur sejauh 2 atau 3 meter.
“Aku akan membunuhmu!” Sun Siu-jing memekik, matanya sudah merah dipenuhi air mata.
Sambil memutar-mutar pedangnya, rahang dikertakkan, dia pun melesat ke arah Sebun Jui-soat. Gerakan senjatanya berdasarkan pada kecepatan dan perubahan yang tiba-tiba, kilauan pedangnya membutakan mata lawan seperti tetesan air yang berasal dari sebuah percikan besar ketika dia, dalam sekejap mata, sudah menyerang sebanyak 7 kali.
Pedang saudara-saudaranya pun telah dihunus.
“Ini adalah persoalan di antara kami dan Sebun Jui-soat, orang lain lebih baik tidak ikut campur.” Ciok Siu-hun berseru dengan keras.
Ucapannya itu jelas ditujukan pada Hoa Ban-lau. Kenyataannya, Hoa Ban-lau memang tidak bisa ikut campur walaupun dia ingin.
Tapi bagaimana mungkin dia hanya berdiri di sana dan membiarkan empat orang gadis yang tak bersalah ini mati di bawah pedang Sebun Jui-soat?
Tepat pada saat itu, sebuah suara “bang!” yang keras terdengar saat Sebun Jui-soat tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menangkap pergelangan tangan kiri Sun Siu-jing, lalu memukulkan pedang di tangan kiri gadis itu ke pedang yang berada di tangan kanannya.
Waktu kedua pedang itu berbenturan, gadis itu merasakan pergelangan tangannya menjadi linu sebentar. Sebelum dia sadar, kedua pedangnya tiba-tiba telah berada di tangan Sebun Jui-soat.
“Mundur, atau aku pun akan menghunus pedangku!” Sebun Jui-soat berkata dengan dingin.
Suaranya dingin, tapi matanya tidak, itulah sebabnya Sun Siu-jing masih hidup.
Dia tetaplah manusia, tetap seorang laki-laki, bagaimana mungkin dia tega membunuh seorang gadis cantik yang menyukainya?
Wajah Sun Siu-jing semakin pucat dan matanya bersimbah air mata.
“Sudah kukatakan aku akan membunuhmu. Jika aku tak mampu membunuhmu, maka…. maka aku akan mati di hadapanmu!” Ia berkata, masih mengkertakkan rahangnya.
“Mati itu tidak ada artinya. Jika kau ingin balas dendam, pulanglah dan bawa semua anggota 108 loteng Jing-ih-lau.” Sebun Jui-soat mendengus dengan dingin.
Sun Siu-jing tampak terkejut dan bingung.
“Apa yang kau katakan?” Ia berujar.
“Karena Tokko It-ho adalah ketua Jing-ih-lau, maka…..”
Sun Siu-jing tidak membiarkannya selesai bicara.
“Kau mengatakan guruku adalah anggota Jing-ih-lau? Apa kau gila?” Ia berseru, dengan kemarahan terdengar dalam suaranya dan terlihat di matanya. “Seluruh perjalanan ini kami lakukan karena guru kami menerima informasi bahwa loteng pertama dari Jing-ih-lau berada di …..”
Tiba-tiba, terdengar suara “twang!” dari luar jendela belakang dan selarik sinar hitam pun melesat masuk lewat jendela dan mengenai punggung Sun Siu-jing.
Tubuh Sun Siu-jing langsung tersentak dan roboh ke arah Sebun Jui-soat.
Ciok Siu-hun adalah orang yang terdekat dengan jendela belakang. Sambil berteriak murka, dia berbalik dan melesat ke arah jendela. Tapi saat itu juga selarik sinar hitam kembali melesat dari jendela ke arahnya dengan keganasan dan kecepatan yang tak mampu dihindarkannya.
Dia menjerit, pedang di tangannya terlempar ke udara, tapi tubuhnya roboh.
Sun Siu-jing jatuh ke dalam pelukan Sebun Jui-soat. Tiba-tiba Sebun Jui-soat melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu dan menghunus pedangnya dengan tangannya yang lain; dengan sebuah kilatan pedang, tubuhnya seperti menjadi satu dengan kilatan pedang dan melesat keluar dari jendela.
Di pihak lain, Liok Siau-hong sudah lebih dulu melompat keluar lewat jendela yang lain. Ma Siu-cin dan Yap Siu-cu berseru dengan marah dan mengejar keluar juga.
Di tengah malam, angin malam bertiup di kebun kecil di luar jendela, sedikit pun tidak terlihat bayangan manusia di sana.
Di luar hutan murbei, terdengar suara serigala melolong. Kilauan pedang Sebun Jui-soat telah memasuki hutan itu.
Tanpa memperdulikan keselamatan mereka sendiri, Ma Siu-cin dan Yap Siu-cu ikut masuk ke sana.
Keluarga-keluarga yang tinggal di dalam hutan itu sudah pergi tidur, tak terlihat cahaya sedikit pun, bahkan kilauan pedang Sebun Jui-soat pun tidak tampak.
“Ayo!” Ma Siu-cin berkata. “Tak perduli apa pun, kita harus mendapatkan kembali adik Sun!”
Sebelum selesai bicara, mereka berdua pun telah menghilang.
Seekor anjing kuning melolong ke arah sebuah jalan kecil di belakang hutan.
Liok Siau-hong sudah berhenti mengejar, tiba-tiba ia berhenti di bawah sebatang pohon, membungkuk, dan memungut sesuatu…..