“Enam puluh tahun yang lalu, cikal-bakal perguruan kami menetapkan peraturan pertama untuk Thian-kim-bun, yaitu harus selalu hormat dan mematuhi orang yang lebih dituakan. Peraturan tentang senioritas itu tidak pernah diutak-atik atau diganggu-gugat.”
“Tentu saja tidak.”
“Pendiri kami mempersembahkan seluruh hidupnya untuk mempelajari ilmu kungfu. Barulah menjelang akhir hidupnya beliau mulai berkeluarga.”
“Ketua itu, Thian-kim Lojin, memiliki keluarga?”
“Sangat sedikit orang di dunia persilatan yang tahu tentang peristiwa ini. Ketua Pendiri sudah berusia 77 tahun waktu beliau akhirnya memiliki seorang putera.”
“Dan putera itu tidak lain adalah Ho Thian-jing?”
“Benar.”
“Aku akhirnya faham kenapa di dunia ini, walaupun usianya masih muda, dia malah begitu dituakan.” Liok Siau-hong menarik nafas.
“Itulah sebabnya kenapa beban di pundaknya juga begitu berat.”
“Oh.”
San Say-gan tiba-tiba mengubah sikapnya menjadi sangat bersungguh-sungguh: “Bukan hanya dia harus melanjutkan garis keturunan Ketua Pendiri, dia juga satu-satunya orang yang bisa menjamin Thian-kim-bun untuk bertahan hidup sampai generasi berikutnya. Kami semua berhutang jiwa pada Ketua Pendiri kami. Maka kami rela menyerahkan nyawa kami untuk meyakinkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada dirinya. Aku yakin kau memahami perasaan kami.”
“Ya, aku faham.”
San Say-gan menarik nafas dalam-dalam.
“Itulah sebabnya, jika dia kebetulan mati karena sesuatu hal besok pagi, beratus-ratus orang murid Thian-kim-bun tidak akan bisa hidup juga.”
“Kenapa dia bisa mati?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.
“Jika ia kalah darimu, walaupun engkau tidak membunuhnya pun, ia tak akan mau hidup lagi.”
“Aku juga tahu dia orang macam apa. Tapi dia mungkin tidak akan kalah.”
“Tentu saja dia tak akan kalah.”
“Jika kebetulan dia berhasil mengalahkanku,” Liok Siau-hong berkata, “bukankah beratus-ratus orang murid Thian-kim-bun kalian akan mendapat muka?”
“Kau temanku. Aku juga tak ingin kau kalah darinya dan merusak persahabatan kita.”
“Kau benar-benar orang yang baik.”
Wajah San Say-gan tampak sedikit memerah.
“Jika kalian bertarung, tidak perduli siapa yang menang, hasilnya akan terlalu mengerikan untuk dibayangkan,” Ia menarik nafas. “Setidaknya Ho-susiok adalah kenalanmu sebelum ini, lalu kenapa hal ini harus terjadi?”
“Sekarang aku faham,” Liok Siau-hong tersenyum. “Kau ingin aku, sebelum matahari terbit, meninggalkan tempat ini sehingga dia tak akan menemukanku.”
San Say-gan tidak menjawab. Tidak menjawab sama artinya dengan mengiyakan.
“Sekarang aku pun faham,” Tan-hong Kiongcu tiba-tiba memotong dengan dingin. “Kau mengundang semua orang ini ke sini untuk memaksanya pergi, dengan cara ini maka Ho Thian-jing akan meraih kemenangan tanpa harus berkelahi, atau kalianlah yang akan bertarung menggantikan dia. Sebentar lagi fajar tiba, maka biarpun dia mampu mengalahkan kalian semua, dia tidak akan berada dalam kondisi yang segar untuk bertarung dengan Ho Thian-jing saat fajar nanti.”
Ia menatap San Say-gan dan tertawa dingin. “Benar-benar bukan ide yang buruk. Mungkin hanya seorang pendekar seperti dirimu yang bisa memikirkan gagasan seperti ini.”
Wajah San Say-gan berubah menjadi hijau, lalu pucat sebelum dia tiba-tiba tertawa.
“Benar sekali! Benar sekali! Tapi biarpun aku, San Say-gan, sama sekali tidak mirip seorang ‘pendekar’, tentu saja aku tak akan melakukan sesuatu hal seperti itu!”
“Jadi hal seperti apa yang akan kau lakukan?” Tan-hong Kiongcu bertanya. “Jika dia tak mau pergi, lalu apa yang akan kau lakukan?”
San Say-gan tiba-tiba bangkit dan berjalan keluar. Seluruh halaman itu, walaupun penuh orang, benar-benar sunyi senyap. Satu demi satu, dia menatap mata setiap orang dengan matanya yang berkilat-kilat.
“Jika dia tak pergi, lalu apa yang akan kalian lakukan?” Tiba-tiba ia bertanya.
Si pedagang roti memutar-mutar bola matanya dan menjawab dengan dingin: “Bukankah itu sudah jelas? Jika dia tidak pergi, maka aku yang akan pergi.”
San Say-gan tersenyum lagi. Tapi dalam senyuman itu seperti ada suatu kesedihan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. “Jika kau pergi, aku pun pergi,” dia mengangguk perlahan. “Setiap orang akan pergi.”
“Jika demikian, tentu tidak masalah jika aku yang pergi lebih dulu kan?” si tukang roti menjawab.
Dia mengibaskan tangannya dan tiba-tiba, dengan pisau yang entah kapan dia keluarkan, menusuk ke tenggorokannya sendiri.
Bukan hanya gerakannya ini pasti dan mantap, gerakan itu juga cepat, sangat cepat. Tapi seseorang masih lebih cepat darinya.
“Tak!” Bunga api memercik di halaman itu ketika pisau di tangannya patah menjadi 2 bagian. Suatu benda, bersama dengan ujung pisau yang patah itu, jatuh ke atas tanah.
Benda itu adalah salah satu sumpit Liok Siau-hong.
Sumpit yang satunya lagi masih ada di tangannya. Pisau itu terbuat dari baja, tapi sumpit itu hanya terbuat dari gading!
Mungkin tidak banyak orang yang mampu menggunakan sumpit gading untuk mematahkan sebatang pisau baja.
Tan-hong Kiongcu tiba-tiba menyadari kenapa San Say-gan melakukan semua ini. Ho Thian-jing tak akan mampu mengalahkan Liok Siau-hong, orang lain mungkin tidak tahu, tapi San Say-gan lebih tahu tentang hal ini daripada semua orang.
Si pedagang roti menatap potongan pisau yang masih ada di tangannya dengan tercengang. Setelah beberapa lama, tiba-tiba dia menghentakkan kakinya ke tanah dan berseru pada Liok Siau-hong: “Mengapa kau melakukan itu?”
“Tak ada alasan apa-apa,” Liok Siau-hong tersenyum. “Aku hanya ingin bertanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kapan aku mengatakan tidak mau pergi?”
Si tukang roti tak mampu bicara.
“Berkelahi itu sangat melelahkan dan menyulitkan saja,” Liok Siau-hong menarik nafas dengan malas. “Siapa yang ingin berkelahi? Lebih baik aku pergi saja dan mencari tempat untuk tidur!”
Si pedagang roti menatapnya, dia seakan-akan ingin menangis, tapi di saat yang sama juga seperti ingin tertawa.
“Bagus, Liok Siau-hong benar-benar Liok Siau-hong!” Tiba-tiba dia berseru. “Sejak hari ini, bila kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu, jika aku mengedipkan mata sedikit saja, maka aku akan menjadi cucumu.”
“Aku tidak ingin seorang cucu sepertimu.” Liok Siau-hong tertawa. “Asal kau mau menurunkan harga rotimu itu sedikit saja untukku, aku akan merasa puas.”
Ia mengambil jubah merahnya yang tergantung di sisi ranjang dan menghabiskan araknya.
“Jadi siapa yang mau ikut denganku ke sebuah desa kecil di luar kota untuk makan daging anjing rebus di tempat Tio si Muka Burik?”
“Aku.” Hoa Ban-lau berkata sambil tersenyum.
Hoan-taysiansing tiba-tiba membanting bungkusan tembakaunya. “Aku juga.”
“Kalau dia ikut, maka aku juga,” Kan-jisiansing ikut-ikutan bicara.
“Aku juga ikut!” si tukang roti berteriak sekuat-kuatnya.
“Kau cuma menjual roti pemukul anjing, dan kau masih berani makan daging anjing?” Kan-jisiansing berkata sambil tertawa. “Apakah kau tidak takut kalau anjing-anjing itu akan balas dendam saat berada di dalam perutmu?”
Si tukang roti meliriknya dengan dingin. “Kematian tidak membuatku takut, apalagi cuma itu!”
“Haha, bagus!” San Say-gan tertawa. “Mari kita semua pergi dan makan daging anjing itu. Siapa yang tidak ikut, maka dia adalah anak haram cucu kura-kura!”
Hoa Ban-lau tersenyum.
“Tampaknya masih ada gunanya bila berbuat baik,” ia berkata dengan lambat.
“Sesekali memang tak apa-apa,” Liok Siau-hong menjawab, “tapi aku tak mau membiasakan diri berbuat baik.”
“Kenapa tidak?” Hoa Ban-lau tak tahan untuk tidak bertanya.
“Hanya orang baik yang mati muda, aku yakin kau pernah mendengar pepatah ini.” Liok Siau-hong berkata dengan muka yang dibuat kaku.
Walaupun dia memasang muka kaku, tapi matanya telah digenangi oleh air mata.
Tan-hong Kiongcu memandang mereka sebentar, sebelum dengan tiba-tiba, dan dengan sangat perlahan, menarik nafas dan berkata pada dirinya sendiri: “Siapa pun yang mengatakan tidak ada gunanya berbuat baik adalah anak haram cucu kura-kura.”
______________________________
Daging anjing telah terjual habis. Tapi mereka tidak perduli.
Mereka bukannya benar-benar ingin makan daging anjing. Yang mereka inginkan adalah emosi yang lebih mampu menghangatkan tubuh daripada sekedar daging anjing. Tidak ada pengiring arak yang lebih baik di dunia ini daripada emosi itu.
Apalagi, saat matahari terbit, seorang penunggang kuda datang dan menyampaikan sehelai surat dari Ho Thian-jing.
“Fajar akan selalu tiba, apa salahnya bila persoalan hari ini diselesaikan besok? Hari esok selalu tiba, apa salahnya bila persoalan besok diselesaikan hari esoknya lagi? Orang lain tidak menggangguku, kenapa aku harus mengganggu orang lain? Masalah Rajawali Emas, bisa diselesaikan kapan saja. Bila suatu hari nanti Puteri datang berkunjung, maka saat itu akan menjadi hari berakhirnya pengembaraan. Sekali harta yang indah kehilangan kilaunya, dia menjadi bunga-bunga kuning di hari esok dan bersinar berabad-abad. Kesetiaan pribadi hanyalah 2 kata. Thian-jing mengucapkan selamat jalan.”
Baru menerima sehelai surat ini saja seperti telah minum beratus-ratus cawan arak selama tiga hari berturut-turut, apalagi dengan adanya emosi yang menghangatkan hati yang tak akan mungkin bisa didinginkan oleh hujan badai sekali pun.
______________________________
Badai mulai mengamuk saat tengah hari, ketika setiap orang sudah mabuk. “Belum pergi sebelum kecanduan.” Seperti kata pepatah itu, setelah mabuk barulah mereka pergi.
Liok Siau-hong mabuk tapi tidak terlalu mabuk, hampir kecanduan tapi tidak benar-benar kecanduan, bahkan ia sendiri tak tahu apakah ia benar-benar mabuk atau tidak. Ia tidak berbuat apa-apa selain berdiri di dekat jendela sambil melihat badai yang mengamuk di luar sana.
Tan-hong Kiongcu memandangnya beberapa lama.
“Jika kau tidak pergi, apakah semua orang itu akan mati?” Tiba-tiba dia bertanya.
Liok Siau-hong diam. Diam untuk waktu yang lama.
“Apakah kau mengerti arti kata pepatah: ‘ada yang harus, ada yang tidak’?” Ia menjawab dengan lambat.
“Tentu saja aku faham. Artinya, jika kau yakin hal itu seharusnya tidak dilakukan, maka tidak perduli apa yang orang lain lakukan padamu, baik itu mengganggumu, mengancammu, bahkan jika mereka menodongkan pisau ke lehermu, kau tak akan pernah melakukannya; tapi jika kau yakin hal itu harus dilakukan, biar pun kau akan kehilangan nyawamu, kau pun tetap akan melakukannya.”
Liok Siau-hong mengangguk.
“Itulah sebabnya kenapa ada orang yang rela menelan arang yang membara untuk menolong sahabatnya dan kenapa ada pula orang yang menggunakan sebuah gada seberat 40 kilogram untuk membunuh seorang tiran.”
{Catatan: Liok Siau-hong mengambil 2 cuplikan sejarah di sini. Yang pertama adalah tentang usaha pembunuhan terhadap Chin Sih Huang-ti, kaisar pertama Cina, yang hampir saja mengenai kereta kudanya. Peristiwa itu didalangi oleh Siang Liang, paman Siang Yu yang termasyur, yang akhirnya mampu mengakhiri kekuasaan dinasti Chin. Yang kedua adalah dari kisah Feng Sheng Bang.}
“Itulah sebabnya Ho Thian-jing rela membalas budi Giam Thi-san dengan nyawanya,” Tan-hong Kiongcu segera menyambung, “dan karena itu pulalah San Say-gan dan orang-orangnya tidak mengedipkan mata sedikit pun juga untuk menggunakan nyawa mereka buat melindungi Ho Thian-jing.”
“Tidak perduli apa pun yang terjadi, asal mereka ingat 2 frasa kata pepatah tadi, mereka tak akan mengkhianati 2 kata ini: kesetiaan dan kepercayaan.”
“Tapi di dunia ini ada berapa banyak orang yang benar-benar tidak mengkhianati kedua kata itu?”
Dengan cawan berada dalam genggaman tangannya, Hoa Ban-lau bergumam: “’Sekali harta yang indah kehilangan kilaunya, dia menjadi bunga-bunga kuning di hari esok dan bersinar berabad-abad. Kesetiaan pribadi hanyalah 2 kata’. Hebat, Ho Thian-jing memang hebat! Aku hampir saja memandang rendah dirinya.”
Ia mengangkat cawannya dan meneguk arak di dalamnya dengan gembira, sepertinya ia sendiri pun telah mabuk.
“Sayang sekali peristiwa yang menimpa So Siau-eng telah terjadi. Dia masih muda. Seharusnya dia tidak mati, seharusnya belum mati.”
Suaranya semakin lemah dan lemah. Sambil meletakkan kepalanya di atas meja, tampaknya dia telah tertidur lelap.
Tan-hong Kiongcu diam-diam berjalan ke jendela dan menggenggam tangan Liok Siau-hong dalam tangannya sendiri.
“Apakah kau masih marah padaku?” Ia bertanya dengan suara yang lembut.
“Kapan aku marah padamu?”
Tan-hong Kiongcu tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit secara menggoda.
“Apakah kau takut menemukan orang yang keliru hari ini?” Ia bertanya perlahan.
Nafasnya lembut, jari-jarinya terasa sedikit gemetar, dan rambutnya membawa aroma yang lebih harum daripada bunga-bunga segar.
Liok Siau-hong mungkin seorang kuncu (laki-laki sejati), dan mungkin juga tidak, tapi dia tetaplah seorang laki-laki.
Seorang laki-laki yang sedang terhuyung-huyung di tepian samudera kebahagiaan.
Di luar sana, hujan terus turun, seperti tirai air yang rapat.
Di dalam sini suasana sepi dan gelap, seolah-olah hari telah senja.
Jika kau melihat ke dalam ruangan itu lewat pintunya yang terbuka di bagian belakang, maka kau bisa melihat sebuah ranjang baru.
Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa jantungnya berdebar-debar tak keruan, tiba-tiba ia juga menyadari bahwa jantung Siangkoan Tan-hong pun berdebar-debar tak keruan.
“Jantungmu berdebar-debar.”
“Jantung siapa yang berdebar lebih kencang?”
“Siapa yang tahu?”
“Aku akan menyentuh jantungmu, dan kau menyentuh jantungku…..”
Tiba-tiba, di antara suara hujan badai yang seperti suara puluhan ribu ekor kuda yang berlarian ke sana ke mari, terdengar suara kaki kuda di luar sana. Kira-kira selusin penunggang kuda sedang mendekati tempat itu dengan kecepatan tinggi walaupun berada di tengah hujan badai.
Para penunggang kuda itu berbaju hijau, dan memakai topi bambu berwarna putih. Ketika mereka lewat di depan jendela, tiba-tiba mereka semua mengangkat tangan.
Terdengar suara “wus!”, “wus!” beberapa kali, suaranya lebih nyaring daripada suara tetesan hujan dan lebih cepat daripada suara derap kaki kuda. Beberapa larik sinar hitam pun terlihat, ada yang meluncur masuk ke ruangan itu lewat jendela, ada yang membentur dinding luar.
Liok Siau-hong memiringkan tubuhnya dan menarik Tan-hong Kiongcu ke samping jendela.
Tapi Hoa Ban-lau, yang sedang berbaring di atas meja, tiba-tiba bangkit dan berseru: “Siu-hong-pi-lik-tan (peluru belerang, semacam granat jaman sekarang)!”
Ia belum menyelesaikan kalimatnya ketika, dengan suara letusan yang memekakkan telinga, ke mana pun sinar hitam itu melayang, baik di dalam atau di luar kamar, meledak menjadi nyala api setinggi beberapa puluh meter. Nyala api berwarna merah darah yang disertai dengan sedikit warna hijau.
“Kalian berdua keluar dari sini, aku akan menyelamatkan si Burik Tio!” Liok Siau-hong berseru.
Si Muka Burik Tio sudah pergi tidur, tadi mereka mendengar suara dengkurnya.
Tapi api seolah-olah menghalangi jalan mereka ke pintu, bahkan dinding luar pun terbakar walaupun terus-menerus disiram oleh air hujan.
Hoa Ban-lau memegang tangan Tan-hong Kiongcu dan menariknya ke luar. Para penunggang kuda itu telah berlari menjauh. Suara tawa mereka yang menggila bisa terdengar di tengah derasnya air hujan beserta sebuah pesan dari salah seorang dari mereka.
“Liok Siau-hong! Ini hanya peringatan kecil! Jika kau tidak mau menerima kenyataan dan segera berhenti, maka kami menjamin bahwa tidak ada orang yang akan bisa menguburkan mayat kalian!”
Saat kata-kata terakhir terdengar, para penunggang kuda beserta kudanya itu telah menghilang di balik tirai tetesan air hujan.
Berpaling ke belakang, warung kecil milik si Muka Burik Tio telah ditelan api seluruhnya. Liok Siau-hong tidak terlihat di mana-mana.
Siangkoan Tan-hong mengkertakkan giginya dan menoleh ke arah Hoa Ban-lau: “Kau tunggu di sini, aku akan masuk untuk mencarinya.”
“Jika kau masuk ke sana sekarang, kau tak akan bisa keluar.” Hoa Ban-lau menjawab.
“Tapi dia?…..”
“Jangan khawatir,” Hoa Ban-lau tersenyum. “Dia akan keluar. Bahkan api yang lebih besar dari ini pun tidak mampu membunuhnya.”
Saat itu juga, dari kejauhan, tiba-tiba terdengar serentetan suara tangisan dan jeritan yang mengerikan, seperti suara segerombolan hewan yang terkurung dalam perangkap. Tapi suara-suara jeritan itu segera berhenti dengan cepat.
Setelah suara jeritan itu berhenti, suara ringkik kuda yang ketakutan yang tadinya tertutupi oleh suara jeritan itu sekarang bisa terdengar.
Raut wajah Siangkoan Tan-hong berubah secara dramatis: “Mungkinkah orang-orang itu telah menemui kematian di tangan orang lain?”
“Bum!” Tiba-tiba sebuah lubang muncul di atap rumah yang ditelan api itu, seperti sebuah peluru meriam, seseorang terbang keluar dari lubang itu dan, saat melayang di udara, di tengah hujan yang deras, bersalto sekali dan mendarat di atas tanah. Sambil bergulingan di tanah, orang itu memadamkan api di tubuhnya, tapi pada pakaian dan rambutnya ada beberapa bagian yang telah hangus dimakan api.
Tapi dia tidak perduli sama sekali dan melompat bangkit. Orang itu tak lain tak bukan adalah Liok Siau-hong.
“Tampaknya kau benar-benar tak bisa membakar orang ini sampai mati!” Siangkoan Tan-hong menarik nafas dan bergumam sendiri.
“Yah, benar-benar bukan tugas yang mudah bila ingin membakarku sampai mati.” Liok Siau-hong sepakat.
Ia mungkin sedang tersenyum, tapi wajahnya benar-benar hitam karena asap.
Sambil memandang wajahnya, Siangkoan Tan-hong tertawa. “Tapi kau dulu memiliki 4 alis mata, sekarang kau hampir tidak punya satu pun!”
“Bukan masalah jika semua alis mataku hilang,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai. “Sayangnya kendi-kendi arak itu…..”
“Di mana si Muka Burik Tio?” Hoa Ban-lau tiba-tiba memotong.
“Tak tahu.”
“Dia tidak ada di dalam?”
“Tidak.”
Wajah Siangkoan Tan-hong kembali berubah.
“Mungkinkah dia juga anggota Jing-ih-lau? Mungkinkah dia berkomplot dengan orang-orang itu sejak awal? Kalau tidak, bagaimana mereka bisa tahu kau ada di sini?”
Ia meneruskan dengan nada yang pahit: “Kau mengambil resiko untuk menyelamatkan dirinya, dan karena itu alis matamu hangus terbakar. Tapi ternyata dia hanya orang seperti itu.”
“Aku hanya tahu kalau dia bisa membuat daging anjing yang rasanya paling enak.”
“Dan kau tidak tahu apa-apa lagi tentang dirinya?”
“Dan aku tak tahu apa-apa lagi tentang dirinya.”
Siangkoan Tan-hong hanya bisa melotot padanya dan menarik nafas.
“Kenapa orang lain mengatakan bahwa kau punya 2 otak?” Ia bergumam pada dirinya sendiri. “Menurutku, dia bahkan…..”
Tiba-tiba dia berhenti, karena dia tiba-tiba melihat seseorang berjalan menghampiri mereka dalam derasnya air hujan.
Seorang yang bertubuh sangat besar dan jangkung, mengenakan sebuah topi bambu dan membawa sebatang tongkat bambu di pundaknya. Di tongkat itu tergantung beberapa macam benda, dia tak bisa menebak benda apa saja itu.
Tapi dia tahu bahwa orang ini tak lain tak bukan adalah si Muka Burik Tio.
Liok Siau-hong tersenyum.
“Kau tak boleh semarah itu pada semua orang,” dia menegur. “mungkin orang jahat di dunia ini tidak sebanyak yang kau kira, masih ada…..”
Tiba-tiba dia juga berhenti, karena dia telah melihat bahwa benda-benda yang tergantung di tongkat bambu si Burik Tio adalah potongan tangan.
Tangan manusia. Walaupun darahnya sudah tersapu oleh air hujan, tapi jelas tangan-tangan itu baru saja dipotong. Tiga belas atau empat belas potong tangan, terikat oleh sehelai sabuk, tergantung di tongkat bambu tersebut.
Di ikat pinggang si Muka Burik Tio ada sebilah pisau, pisau tukang jagal, yang biasa digunakan untuk membunuh anjing.
“Ternyata kau bukan hanya bisa membunuh anjing, tapi juga manusia!” Liok Siau-hong berkata sambil memandangnya dengan heran.
Si Muka Burik Tio tersenyum mendengar komentar itu.
“Aku tidak tahu cara membunuh anjing, aku hanya membunuh manusia.”
Liok Siau-hong memandangnya lagi selama beberapa saat.
“Kau bukan si Muka Burik Tio.” Akhirnya ia menarik nafas.
“Siapa yang mengatakan aku adalah si Muka Burik Tio?” Orang itu tertawa.
Bila tertawa, selain mulutnya yang besar itu terbuka sedikit, tidak ada lagi yang berubah di mukanya.
“Siapa kau?” Liok Siau-hong bertanya.
Mata orang itu berkilat-kilat mendengar pertanyaan tersebut.
“Kau juga tidak tahu siapa aku? Wah, kurasa keahlian menyamarku sudah jadi yang terbaik di dunia sekarang.”
Liok Siau-hong memperhatikannya lagi, tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.
“Sayangnya keahlianmu bersalto masih tidak sebanding…..”
“Orang ini adalah pencuri kecil yang barusan kau ceritakan itu?” Siangkoan Tan-hong bahkan tidak menunggu ucapannya selesai sebelum berseru.
“Benar.” Orang itu menarik nafas. “Aku orang yang bertanding salto dengan dia, Sugong Ti-seng. Tapi aku bukan pencuri kecil, aku pencuri besar!”
“Aku tahu,” Siangkoan Tan-hong menjawab dengan manis. “Kau bukan hanya seorang pencuri besar, kau adalah si Raja Pencuri! Kau tidak punya tandingan di dunia!”
“Aku bukannya mau menyombongkan diri tentang hal ini,” Sugong Ti-seng berkata, sambil membusungkan dadanya. “Bila kau bicara tentang mencuri, bahkan Liok Siau-hong yang di sana itu pun takut melawanku. Sekarang katakan, siapa yang mau bertanding denganku?”
“Kau bisa menyamar jadi siapa saja, kenapa harus jadi si muka burik tukang jagal anjing?” Siangkoan Tan-hong bertanya.
“Wah, itu ada alasannya,” Sugong Ti-seng tertawa dan menjawab. “Kau tahu, jika kau menyamar jadi orang bopeng, maka sangat sukar bagi orang lain untuk melihat samaranmu.”
“Kenapa?”
“Kapan terakhir kalinya kau melihat ada orang yang memperhatikan muka bopeng orang lain dengan teliti?”
Siangkoan Tan-hong tertawa.
“Jadi ada alasannya kenapa menyamarkan diri seperti itu ya?”
“Tentu saja.”
“Kapan kau tiba di sini?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.
“Dua hari yang lalu.”
“Untuk apa?”
“Menunggumu!”
“Menungguku?”
“Karena jika kau ingin mencari si tua Giam, ini tentu tempat yang harus kau lewati. Di samping itu, sekarang kau berada di daerah TaiYuan, tak mungkin kau tak akan datang dan mencicipi sedikit daging anjing si Muka Burik Tio.”
Ia menarik nafas dengan pasrah.
“Bahkan aku pun harus mengakui bahwa daging anjing rebus ini tak ada tandingannya di dunia,” ia meneruskan.
“Itulah sebabnya kau mengatakan bahwa daging anjing telah habis terjual, karena kau khawatir hal itu akan menyingkap identitasmu yang sebenarnya.”
“Tak perduli apa,” Sugong Ti-seng menjawab, sambil tertawa, “paling tidak aku akhirnya bisa menipumu, setan.”
“Jadi untuk apa kau menungguku?”
“Apa yang biasa aku lakukan?”
“Kau ingin mencuri dariku?”
“Asal kau bisa menyebutkannya, aku bisa mencurinya!” Sugong Ti-seng menyombongkan diri.
“Apa yang akan kau curi dariku?”
“Kau benar-benar ingin tahu?”
“Jika kau tak berani mengatakannya, aku tak akan memaksamu,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai.
“Kenapa aku harus takut mengatakannya?” Sugong Ti-seng gusar dan menatapnya dengan marah.
“Jadi apa yang ingin kau curi?” Siangkoan Tan-hong akhirnya mendesak dan bertanya.
“Kau.”
Mata Siangkoan Tan-hong terbelalak heran.
“Seseorang menawarkan hadiah 20.000 tael perak bila aku mencurimu.”
“Tak mungkin aku bernilai 20.000 tael perak…..” Siangkoan Tan-hong belum menyelesaikan ucapannya, karena mukanya sudah merah hingga ke telinga.
“Tapi alasan orang itu menginginkan aku mencurimu bukanlah alasan seperti yang engkau pikirkan,” Sugong Ti-seng tertawa.
Dengan wajah yang masih merah padam, Siangkoan Tan-hong tak tahan untuk tidak berseru: “Bagaimana kau tahu alasan yang aku pikirkan?”
Sugong Ti-seng mengedip-ngedipkan matanya, tapi tidak menjawab.
“Apa yang diinginkan orang itu?” Siangkoan Tan-hong bertanya. “Siapa orang itu?”
Sugong Ti-seng masih tidak menjawab.
“Ia tak akan memberitahunya,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Dalam profesinya, jika dia memberitahukan rahasia majikannya, lalu siapa lagi yang mau datang untuk memberinya pekerjaan?”
“Pencuri juga punya majikan yang memberikan mereka pekerjaan?” Siangkoan Tan-hong bertanya.
“Sudah kubilang, dia berbeda. Dia tak pernah mencuri barang sembarangan.”
“Tapi aku tetap harus makan!” Sugong Ti-seng menambahkan. “Itulah sebabnya aku hanya mencuri bila orang datang kepadaku dan meminta bantuanku dengan imbalan uang yang amat besar.”
“Hanya saja tidak banyak orang yang mampu menawarkan uang yang cukup untukmu.”
“Benar, sangat sedikit.”
“Maka, biarpun tidak kau beritahukan, aku tahu siapa yang menyewamu kali ini.”
“Apakah kau tahu atau tidak, itu adalah urusanmu. Apakah kuberitahukan atau tidak, itu adalah urusanku.”
“Tak perduli apakah aku tahu atau tidak, kau tak akan memberitahu, kan?”
“Benar.”
“Lalu kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran dan memberitahuku tentang rahasia ini?”
“Kau mengambil resiko untuk menyelamatkanku dalam kebakaran tadi, dan hampir kehilangan alis matamu karenanya,” Sugong Ti-seng menarik nafas. “Bagaimana aku tega mencuri temanmu ini?”
“Kelihatannya kau bukannya tak bisa diperbaiki.”
“Benar lagi.”
“Jika kau tega, apakah kau benar-benar bisa mencuriku?” Siangkoan Tan-hong tak mampu menahan perasaannya lagi, memotong dengan suara yang keras.
“Jangan lupa,” Sugong Ti-seng menyombongkan dirinya. “aku adalah si Raja Maling! Tak ada di dunia ini yang tak bisa kucuri.”
“Aku ingin mendengar bagaimana kau merencanakannya.” Siangkoan Tan-hong mendengus.
“Pernahkah kau mendengar ada tukang obat yang memberitahukan orang lain tentang rahasia pekerjaannya?”
“Tidak.”
“Nah, ini juga rahasia pekerjaanku,” Sugong Ti-seng berkata. “maka tidak akan kuberitahukan padamu.”
Siangkoan Tan-hong melotot padanya dengan marah.
“’Di antara sepuluh muka bopeng, 9 di antaranya tentu orang aneh’, kau memang si muka bopeng!” Tiba-tiba ia berkata.
“Siapa yang mengatakan itu?” Sugong Ti-seng meliriknya dan bertanya.
“Aku! Jika tidak, robeklah topeng muka bopengmu itu dan biarkan aku melihat seperti apa tampangmu itu!” Siangkoan Tan-hong menjawab.
“Itu tidak mungkin!”
“Kenapa tidak?”
“Bagaimana jika kau jatuh cinta padaku? Lalu Liok Siau-hong akan mengajak bertanding salto lagi! Terakhir kali kami bertanding salto, aku jadi sakit dan mual-mual, aku tak mau mengalaminya lagi.”
Wajah Siangkoan Tan-hong memerah dan, walaupun berusaha ditahan, dia pun tertawa.
“Tangan-tangan siapa itu?” Liok Siau-hong bertanya.
“Orang-orang yang membakar rumah.”
“Kau mengejar mereka?”
“Aku kan pura-pura jadi si Muka Bopeng Tio. Jika seseorang membakar rumahnya, paling tidak aku harus membantunya mendapatkan sedikit keadilan.”
“Jadi kau potong tangan mereka supaya mereka tidak bisa membakar rumah orang lagi.” Siangkoan Tan-hong menarik kesimpulan.
“Aku juga berencana menjual kuda-kuda mereka untuk diberikan kepada si Muka Bopeng Tio.”
“Di mana orang-orang itu sekarang?” Liok Siau-hong bertanya.
“Di hutan sana, aku meninggalkan mereka di sana khusus untukmu.”
“Untuk apa?”
“Mereka berusaha membakarmu sampai mati,” Sugong Ti-seng menjawab, “apakah kau tidak ingin memeriksa mereka dan menanyakan alasannya?”
Bab 8: Pembalasan Dendam dan Musuh Yang Tangguh
Hujan badai seperti anak badung yang berlari masuk ke kamar rias wanita kaya di tengah malam, dia datang dengan tiba-tiba dan pergi dengan lebih cepat lagi.
Tapi semua yang dia tinggalkan telah berubah karenanya.
Semua pohon dan daun di hutan telah berubah warnanya seperti giok, dan darah pada mayat-mayat itu pun telah tersapu air hujan. Membuat hampir mustahil untuk menemukan luka fatal di tubuh mereka.
Tapi dari selusin atau lebih jumlah orang-orang itu, tidak satu pun yang masih hidup.
Waktu mereka menemukan mayat-mayat itu, Sugong Ti-seng pun telah menghilang.
“Meninggalkan mayat-mayat ini untuk kita, apakah dia ingin kita yang membereskan kekacauan ini?” Siangkoan Tan-hong berkomentar dengan nada pahit.
“Dia tidak membunuh orang-orang ini,” Liok Siau-hong menjawab. “Dia sangat jarang membunuh orang.”
“Jika bukan dia, lalu siapa?” Siangkoan Tan-hong bertanya.
“Orang yang memerintahkan mereka untuk membakar tempat itu.”
“Jadi menurutmu, dia takut kalau kita mungkin berhasil mengetahui siapa dirinya dari mereka, maka dia membunuh mereka untuk melindungi diri?”
Liok Siau-hong mengangguk. Wajahnya kaku dan keras. Dari tiga hal yang paling dia benci, pembunuhan adalah yang nomor satu.
“Tapi dia bisa saja melepaskan orang-orang ini, kenapa dia harus membunuh mereka?” Siangkoan Tan-hong bertanya.
“Karena selusin lebih orang yang tangan kanannya buntung akan sangat mudah ditelusuri jejaknya.”
Tan-hong Kiongcu menarik nafas. “Sebenarnya, membunuh semua orang ini juga sama sekali tidak berguna, kita tetap saja tahu dari mana mereka berasal.”
“Kau tahu?”
“Kau tak tahu kalau mereka berasal dari Jing-ih-lau?”
Liok Siau-hong tidak menjawab. Sesudah terdiam beberapa lama, ia menjawab dengan lambat: “Aku hanya bisa memperkirakan satu hal.”
“Dan apakah itu?”
“Aku memperkirakan kau akan segera lari ke Cu-kong-po-gi-kok dan menyuruh orang-orang di sana untuk datang ke sini dan membereskan mayat-mayat ini.”
Siangkoan Tan-hong meliriknya sebelum akhirnya menundukkan kepalanya.
“Apa lagi yang engkau perkirakan?” Gadis itu bertanya, sambil menggigit bibirnya.
“Sesudah itu, kau tentu akan menyuruh orang-orang itu untuk menyiapkan air mandi untukmu, lalu kau akan mengambil sebuah kamar yang nyaman dan bersih dan tidur nyenyak.”
Ia tersenyum kecil dan meneruskan.
“Jangan lupa, tempat itu sekarang sudah menjadi milikmu.”
______________________________
Liok Siau-hong bersandar dalam bak air panas dan menutup matanya. Sesudah basah kuyup oleh air hujan, benar-benar nyaman rasanya mendapatkan sebuah tempat untuk menikmati mandi air panas.
Ia merasa bahwa peruntungannya cukup baik. Di atas perapian yang ada di sisinya terdapat sebuah ketel perunggu yang besar dan air di dalamnya sudah hampir mendidih. Ruangan itu hampir penuh dengan uap, menimbulkan perasaan aman dan nyaman.
Hoa Ban-lau sudah mandi dan mungkin sedang tidur sekarang. Siangkoan Tan-hong mungkin berada di Cu-kong-po-gi-kok.
Walaupun gadis itu dalam hatinya tidak ingin pergi, dia masih tetap pergi, tampaknya dia sangat penurut terhadap Liok Siau-hong.
Ini juga membuat Liok Siau-hong merasa sangat puas, dia menyukai gadis yang mau mendengarkan.
Tapi tetap saja dia merasa tidak terlalu puas dengan keseluruhan persoalan ini, seakan-akan ada sesuatu dalam semua ini yang tidak cocok. Tapi dia tak bisa membayangkan di mana adanya ketidak-sesuaian itu.
Sebelum mati, Giam Thi-san telah mengakui kejahatannya di masa lalu, dan Ho Thian-jing telah setuju untuk mengesampingkan seluruh persoalan ini.
Janjinya kepada Tay-kim-peng-ong paling tidak, secara teknis, telah selesai sepertiganya, dan penyelesaiannya pun berlangsung mulus.
Jadi apa yang salah?
Hujan telah lama berhenti, sesekali suara tetesan air hujan masih bisa terdengar, angin malam pun terasa segar dan bersih.
Liok Siau-hong menarik nafas dan memutuskan bahwa ia harus menghentikan pikiran-pikiran gila ini dan belajar menjadi orang yang tahu kapan harus merasa puas.
Saat itulah dia mendengar suara pintu dibuka.
Pendengarannya masih baik, pintu itu memang dibuka oleh seseorang.
Tapi dia tak yakin apakah penglihatannya baik atau tidak, apa yang dia lihat berjalan masuk adalah empat orang gadis.
Empat orang gadis muda dan cantik. Bukan hanya cantik, tapi juga anggun, mengenakan pakaian yang membuat tubuh mereka yang ramping semampai tampak semakin menggoda.
Liok Siau-hong menyukai wanita-wanita yang memiliki pinggang yang ramping dan kaki yang jenjang, dan keempat wanita itu kebetulan memiliki pinggang yang sangat ramping dan kaki yang sangat jenjang.
Sambil tersenyum, mereka berjalan masuk dengan perlahan, seakan-akan sama sekali tidak ada seorang laki-laki telanjang di dalam bak mandi di tengah ruangan itu.
Tapi keempat pasang mata yang indah dan cemerlang itu semuanya menatap wajah Liok Siau-hong.
Liok Siau-hong bukan orang yang pemalu, tapi saat itu wajahnya seperti terbakar, ia tidak butuh cermin untuk mengetahui bahwa wajahnya telah memerah.
“Kudengar Liok Siau-hong punya 4 alis mata, tapi kenapa aku hanya melihat 2?” Seseorang tiba-tiba tertawa.
“Kau bisa melihat 2? Aku bahkan tidak melihat satu pun.” Yang satunya lagi menjawab sambil tertawa.
Yang pertama bicara adalah gadis yang paling jangkung dengan sepasang mata yang panjang dan sempit seperti mata burung hong. Bahkan bila dia sedang tertawa, tawanya seperti mengandung nafsu membunuh yang keji.
Orang bisa mengatakan bahwa dia bukanlah jenis perempuan yang mau membantu laki-laki mandi.
Tapi dia berjalan menghampiri dan mengambil ketel di atas perapian itu.
“Airnya agaknya sudah sedikit dingin,” ia tersenyum. “Biar kutambahkan sedikit air panas untukmu.”
Liok Siau-hong menatap uap yang dikeluarkan oleh air di dalam ketel itu dan sedikit bergidik. Tapi dalam kondisinya sekarang, telanjang seperti bayi yang baru dilahirkan, bangkit dan berdiri di hadapan empat orang wanita tetaplah keterlaluan.
Tapi jika ketel besar berisi air mendidih itu dituangkan kepadanya, rasanya tentu sangat tidak enak.
Saat Liok Siau-hong sedang bingung untuk memutuskan apakah ia akan bangkit atau tetap duduk di dalam bak, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia tidak bisa bergerak lagi walaupun ia ingin.
Gadis yang belum bicara sepatah kata pun, gadis yang tampaknya paling pendiam dan lembut, tiba-tiba telah mengeluarkan, dari dalam lengan bajunya, sebuah pisau belati sepanjang hampir setengah meter yang tampak berkilauan dan melintangkannya di lehernya.
Perasaan yang dingin dan gelap dari belati itu membuat daerah belakang telinga hingga pundaknya terasa penuh dengan keringat dingin.
Gadis yang jangkung dan bermata seperti burung hong itu mulai menuangkan air mendidih ke dalam baknya.
“Jaga sikapmu, kami kakak-beradik mungkin hangat, lembut, sopan dan pendiam, tapi kami tak pernah berkedip saat membunuh.” Ia berkata dengan santai. “Ketel air ini, jika dituangkan ke tubuh seseorang, walaupun dia tidak mati, dia tentu akan kehilangan selembar kulitnya.”
Ia terus menuangkan air ke dalam bak sambil bicara.
Air di dalam bak itu awalnya memang sudah cukup hangat, tapi sekarang pasti sudah cukup untuk membuat orang menjerit.
Keringat mulai mengucur di kepala Liok Siau-hong, tapi baru seperempat bagian air di dalam ketel yang telah dituangkan.
Jika seluruh isi ketel telah dituangkan, mungkin orang di dalam bak juga akan kehilangan selembar kulitnya.
Liok Siau-hong tertawa ------ ia benar-benar tertawa.
Mata gadis yang menuangkan air itu menatapnya dengan tajam.
“Tampaknya kau merasa nyaman.” Ia berkata dengan dingin.
Liok Siau-hong memang kelihatan nyaman.
“Aku hanya menganggap ini lucu,” ia menjawab sambil tersenyum.
“Lucu? Apanya yang lucu?” Gadis itu menuangkan air lebih cepat.
Tapi Liok Siau-hong tetap tersenyum.
“Bila lain ketika aku bercerita pada orang bahwa, waktu aku sedang mandi, Su-siu (Empat Cantik) dari Go-bi-pay berada di sisiku dan menuangkan air untukku; aku akan terkejut jika ada yang mau mempercayaiku.”
Ternyata dia sudah bisa menebak siapa mereka.
“Ternyata penglihatanmu tidak buruk,” gadis yang jangkung dan bermata burung hong itu mendengus. “Kau benar, aku Ma Siu-cin.”
“Dan yang tidak berkedip waktu membunuh ini, mungkinkah kau Ciok Siu-hun?” Liok Siau-hong bertanya.
Senyuman Ciok Siu-hun semakin hangat dan lembut.
“Tapi bila aku membunuhmu, paling tidak aku akan berkedip sedikit,” ia menjawab dengan suara yang lembut.
“Itulah sebabnya kami sebenarnya tidak ingin membunuhmu, tapi hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan,” Ma Siu-cin berkata. “Jika kau menjawab dengan cepat, maka air dalam ketel ini tidak akan dituangkan. Tapi jika tidak, maka semua air akan dituangkan.”
Ciok Siu-hun menarik nafas dan meneruskan. “Lalu kau akan menjadi daging matang.”
“Seekor babi matang paling tidak bisa kau jual dagingnya, tapi orang matang mungkin hanya cocok diberikan ke anjing,” Sun Siu-jing menarik nafas.
Liok Siau-hong juga menarik nafas.
“Aku sudah hampir matang, kenapa kalian tidak buruan bertanya?”
“Baiklah. Aku tanya padamu, apakah saudara seperguruan kami So Siau-eng mati di tangan Sebun Jui-soat?” Ma Siu-cin bicara mewakili kelompoknya.
“Jika kau sudah tahu, lalu kenapa masih bertanya padaku?” Liok Siau-hong menjawab dengan senyum yang agak mengibakan.
“Di mana Sebun Jui-soat sekarang?”
“Aku juga sedang mencarinya. Jika kalian melihatnya, bisa tolong beritahukan padaku?”
“Kau benar-benar tidak tahu di mana dia berada?”
“Aku hanya berdusta pada wanita bila aku sedang mabuk, tapi sekarang aku sangat sangat sehat fikirannya.”
Ma Siu-cin mengkertakkan giginya sedikit dan tiba-tiba menuangkan sedikit air panas lagi ke dalam bak.
“Lebih baik kau jujur bila bicara denganku,” ia mengancam dengan nada dingin.
“Bagaimana mungkin aku tidak jujur di saat seperti ini?” Senyum Liok Siau-hong yang mengibakan tampak semakin menyedihkan.
“Wanita yang bersamamu itu, apakah dia benar-benar puteri Dinasti Rajawali Emas?”
“Benar.”
“Tay-kim-peng-ong masih hidup?”
“Masih hidup.”
“Dan dialah orang yang menginginkanmu berurusan dengan Giam Thi-san?”
“Ya.”
“Dengan siapa lagi kau akan berurusan?”
“Siangkoan Bok dan Pengtok Ho.”
“Siapa dua orang itu?” Ma Siu-cin mengerutkan keningnya. “Aku belum pernah mendengar nama mereka.”
“Jumlah nama yang belum pernah kau dengar mungkin ada puluhan juta.” Liok Siau-hong menarik nafas.
Ma Siu-cin menatapnya.
“Aku sedang telanjang,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Jika kau terus menatapku seperti ini, wajahku akan memerah.”
Mukanya tidak memerah, tapi wajah Ma Siu-cin yang jadi memerah.
Tiba-tiba ia berpaling, meletakkan ketel itu kembali di atas perapian, merapikan pakaiannya, dan membungkuk pada Liok Siau-hong. Pedang Ciok Siu-hun pun telah disingkirkan.
Empat orang wanita cantik berpakaian indah tiba-tiba semuanya membungkuk pada seorang laki-laki telanjang yang duduk di dalam bak mandi; jika kau pernah melihat peristiwa seperti ini, kau tentu tak akan mampu memimpikannya.
Liok Siau-hong pun tampak sedikit terkejut. Dia tak bisa membayangkan kenapa 4 orang gadis yang kasar dan seenaknya ini tiba-tiba menjadi begitu sopan.
“Murid Go-bi-pay Ma Siu-cin, Yap Siu-cu, Sun Siu-jing, dan Ciok Siu-hun, atas perintah ketua kami, datang untuk mengundang Liok-siauya makan siang besok. Tak tahu apakah Liok-siauya bersedia datang atau tidak.” Ma Siu-cin berkata, sambil tetap membungkuk.
Liok Siau-hong tak mampu bicara beberapa lama sebelum akhirnya memaksakan sebuah senyuman yang mengibakan.
“Aku ingin datang, tapi sayangnya, biar pun aku punya sayap, tak mungkin aku bisa tiba di Hian-cin-koan di Go-bi-san besok siang.”
Ma Siu-cin tersenyum.
“Ketua tidak berada di Go-bi, saat ini beliau sedang menunggu kedatangan Liok-siauya di Cu-kong-po-gi-kok.”
Liok Siau-hong kembali terkejut.
“Dia di sini juga? Kapan dia tiba?”
“Baru hari ini.”
“Jika kami tidak kebetulan singgah di Cu-kong-po-gi-kok, bagaimana mungkin kami tahu apa yang telah terjadi tadi malam?” Ciok Siu-hun menambahkan dengan manis.
Liok Siau-hong kembali tersenyum, tentu saja, senyuman yang mengibakan.
“Jika Liok-siauya bersedia datang, maka kami tak berani mengganggumu lagi, selamat tinggal.” Ma Siu-cin bicara lagi.
“Kau tidak ingin bertanya apa-apa lagi?”
Ma Siu-cin tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sikapnya sopan dan lembut, senyumnya pun hangat, tampaknya benar-benar telah lupa tentang peristiwa yang barusan terjadi.
Tapi Yap Siu-cu, sebagai seorang gadis yang polos, tak tahan untuk tidak tertawa kecil. “Kami telah lama mendengar nama Liok-siauya yang termasyur. Maka kami telah lancang datang menemuimu di saat kau sedang mandi.”
“Sebenarnya kalian bisa datang kapan saja dan bertanya padaku dan aku tak akan menolak menjawabnya,” Liok Siau-hong berkata dengan senyum yang dipaksakan.
Ciok Siu-hun mengedip-ngedipkan matanya. “Kau tidak marah, Liok-siauya?”
“Bagaimana aku bisa marah? Malah aku sangat senang.”
Sekarang giliran Ciok Siu-hun yang tercengang.
“Kami memperlakukanmu seperti ini, dan kau masih tetap senang?”
Liok Siau-hong tertawa ------ tawa yang sebenarnya kali ini.
“Aku bukan hanya merasa senang,” dia menjawab sambil tersenyum. “Aku pun harus berterima-kasih pada kalian atas kesempatan besar ini.”
“Kesempatan apa?” Ciok Siu-hun terpaksa bertanya.
“Waktu aku sedang mandi, kalian memaksa masuk ke sini,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai. “maka kalian tentu tidak marah bila lain kali aku masuk saat kalian sedang mandi. Tidak setiap laki-laki di dunia ini mendapat kesempatan seperti itu, bagaimana aku tidak senang?”
Empat Cantik dari Go-bi-pay itu memerah wajahnya. Tiba-tiba mereka semua berbalik dan berlari keluar melalui pintu.
Baru sekarang Liok Siau-hong bisa menarik nafas dalam-dalam.
“Tampaknya, mulai sekarang aku harus memakai celana bila sedang mandi,” dia bergumam pada dirinya sendiri.
______________________________
Tempat Liok Siau-hong mandi itu adalah sebuah dapur, di luarnya ada sebuah halaman kecil, di halaman itu berdiri sebuah pohon gingko.
Malam dingin dan sepi, bulan yang semakin besar tampak seolah-olah tergantung di dahan pohon dengan embun di dedaunan menghalangi dan menggantikan bayang-bayang bulan. Dalam bayangan pohon, ada seseorang yang berdiri di sana, tegak tak bergerak, jangkung, berpakaian putih seperti salju, dengan pedang berbentuk aneh tersandang di punggungnya dalam sarung berwarna hitam pekat.
Saat Empat Cantik dari Go-bi-pay keluar dari pintu, mereka segera melihatnya. Sekali seseorang memandang orang ini sekilas, maka dia tentu akan bergidik dan perasaan dingin akan mengalir dari jantung hingga ke kuku jarinya.
“Sebun Jui-soat!” Ma Siu-cin menjerit.
Sebun Jui-soat menatap mereka dengan dingin, dan mengangguk perlahan.
“Kau yang membunuh So Siau-eng?” Ma Siu-cin bertanya dengan marah.
“Kalian ingin balas dendam?”
“Kami memang sedang mencarimu,” Ma Siu-cin mendengus. “Tak kukira kau malah berani datang ke mari!”
Mata Sebun Jui-soat tiba-tiba mulai berkilauan, berkilat-kilat menakutkan.
“Aku biasanya tidak membunuh wanita, tapi wanita seharusnya tidak berlatih pedang,” Sebun Jui-soat menjawab dengan dingin. “Yang berlatih ilmu pedang bukanlah wanita.”
“Kentut!” Ciok Siu-hun balas berteriak dengan marah.
“Kenapa kalian semua tidak menghunus pedang dan segera ke mari,” Wajah Sebun Jui-soat menjadi gelap.
“Tidak perlu kami semua menghadapimu, cukup aku saja yang membunuhmu!” Ciok Siu-hun berseru.
Tampaknya dia adalah gadis yang paling tenang dan baik, tapi kenyataannya perangainya malah yang paling tidak sabaran.
Sepasang pedang pendek yang dia gunakan adalah senjata warisan jago pedang wanita di jaman Dinasti Tang, Kongsun-toanio.
Saat dia berteriak, pedang pun telah berada di tangannya. Kilauan pedang naik-turun seperti naga di langit dan menyambar seperti kilat ketika ia dan pedangnya menyerbu ke arah Sebun Jui-soat.
“Tahan,” tiba-tiba seseorang berkata dengan lembut.
Saat kata-kata itu diucapkan, orangnya pun telah muncul.
Saat Ciok Siu-hun menyerang dengan pedangnya, tiba-tiba dia menyadari bahwa tak satu pun pedangnya yang bisa digerakkan ------ kedua pedangnya telah terjepit di antara jari-jari orang yang baru muncul itu.
Dia tidak melihat gerakan orang ini tadi, dia berusaha menarik pedangnya, tapi pedang itu seakan-akan telah berakar di jari-jari tangan orang tersebut.
Tapi ekspresi wajah orang ini tetap damai, bahkan dia sedang tersenyum.
Tapi wajah Ciok Siu-hun telah memerah karena marah. “Tidak kusangka Sebun Jui-soat membawa kaki tangan,” ia tertawa dingin.
“Kau kira dia kaki tanganku?” Sebun Jui-soat membalas dengan dingin.
“Memangnya bukan?”
Sebun Jui-soat tertawa dingin dan tiba-tiba bergerak. Sekilas cahaya terang seperti kilat berwarna pelangi terlihat sebentar, lalu menghilang.
Sebun Jui-soat telah berputar dan pedang pun kembali ke sarungnya.
“Jika dia tidak bergerak, kau akan seperti pohon ini sekarang,” ia berkata dengan dingin.
Ciok Siu-hun baru saja hendak bertanya tentang pohon itu, tapi, sebelum dia membuka mulutnya, tiba-tiba dia menyadari bahwa pohon itu sedang tumbang.
Ternyata setelah kilatan pedang sekilas itu, pohon tersebut, yang diameternya begitu besarnya hingga sebesar pelukan orang dewasa, sudah terbelah dua.
Pohon itu tumbang, dan Sebun Jui-soat pun menghilang.
Ekspresi wajah Ciok Siu-hun pun membeku. Di dunia ini, bagaimana mungkin ada jurus pedang seperti itu? Demikian cepatnya! Ia hampir tidak mempercayai matanya sendiri.
Pohon itu hampir roboh menimpa orang di hadapannya waktu orang itu berputar, mengangkat tangannya, dan mendorong dengan perlahan. Pohon itu pelan-pelan roboh ke atas tanah di hadapannya. Ekspresi wajah orang ini masih sangat tenang dan menampilkan senyuman hangat yang sama.
“Aku bukan kaki tangannya,” ia berkata dengan lambat. “Aku tak pernah membantu orang membunuh.”
Wajah Ciok Siu-hun yang pucat sudah berubah merah lagi. Sekarang dia faham apa yang dilakukan orang ini, dan juga faham bahwa kata-kata Sebun Jui-soat memang benar. Walaupun dia memiliki perangai yang buruk, dia masih bisa membedakan mana yang benar dan salah, dan dia pun menundukkan kepalanya dengan malu.