“Jadi Giam-toalopan berasal dari Soasay?” Liok Siau-hong bertanya.
“Aku lahir dan dibesarkan dalam keluarga orang kebanyakan. Aku pernah pergi ke Thai-san suatu waktu, untuk melihat matahari neneknya. Tapi tak perduli bagaimana kupandang, dia hanya seperti sebuah kuning telur raksasa bagiku. Benar-benar membosankan.” Giam Thi-san tertawa.
Ia terus mengatakan 'neneknya' di sana sini, seakan-akan dia berusaha meyakinkan setiap orang bahwa dia adalah seorang lelaki sejati, lelaki yang jantan dan kasar.
Liok Siau-hong pun tertawa. Sambil tersenyum dia mengangkat cawan ke bibirnya dan tiba-tiba bertanya: “Boleh Cayhe tahu dari mana Giam-congkoan berasal?”
“Ho-congkoan,” Be Heng-kong segera mengkoreksi, “bukan Giam-congkoan.”
“Aku bukan sedang membicarakan Ho-congkoan dari Cu-kong-po-gi-kok,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai. “Aku sedang membicarakan Giam Lip-pun, Congkoan dari Kekaisaran Rajawali Emas yang telah jatuh.”
Tanpa berkedip dia memandang wajah Giam Thi-san dan, sepatah kata demi sepatah kata, dia pun berujar: “Aku yakin Giam-toalopan tentu kenal orang ini.”
Wajah Giam Thi-san yang putih, halus dan lembut itu tiba-tiba menegang seperti pita karet. Bahkan senyumannya pun menjadi kaku dan canggung.
Dia adalah orang yang tetap kelihatan sama, tak perduli bagaimana pun suasana hatinya. Tapi yang barusan dikatakan Liok Siau-hong itu seperti sebuah cambuk, cambuk yang merobek sebuah luka lama, luka fatal yang mulai berdarah lagi.
“Jika Giam-toalopan kenal orang ini,” Mata Liok Siau-hong terlihat berkilauan ketika ia meneruskan lambat-lambat, “maka tolong kau beritahukan padanya bahwa, karena hutang lamanya yang telah ditunggak puluhan tahun lamanya, seseorang datang untuk menagihnya.”
“Ho-congkoan!” Giam Thi-san tiba-tiba berseru, wajahnya masih sangat tegang.
“Ya, Toalopan?” Ho Thian-jing tidak bergerak sedikit pun juga.
“Hoa-siauya dan Liok-siauya tidak ingin tinggal di sini lagi. Tolong siapkan sebuah kereta kuda untuk mereka dan antarkan mereka, mereka ingin pergi sekarang juga!” Giam Thi-san berkata dengan dingin.
Tanpa menunggu jawaban, ia mengibaskan lengan bajunya ke arah mereka dan mulai berjalan ke luar.
Tapi sebelum dia mencapai pintu keluar, sudah ada seseorang yang menghalangi jalannya. “Mereka tidak ingin pergi, dan kau pun sebaiknya tetap di sini juga,” sebuah suara yang dingin terdengar berkata.
Orang ini bertubuh jangkung dan kokoh, semua yang dia kenakan berwarna putih seperti salju. Tapi pedang yang tergantung di ikat pinggangnya berwarna hitam; hitam pekat, tipis, dan antik.
“Berani-beraninya kau bersikap tidak sopan padaku!” Mata Giam Thi-san seperti melompat keluar ketika dia berseru. “Siapa kau?”
“Sebun Jui-soat.”
Sebun Jui-soat, nama itu sendiri seperti sebatang pedang, dingin, tak berperasaan, dan tajam.
Bahkan Giam Thi-san pun terpaksa mundur teratur dua langkah ke belakang. “Penjaga!” Tiba-tiba ia berteriak.
Selain dari 2 orang bocah kecil yang menuangkan arak dan pelayan berbaju hijau yang sesekali masuk untuk membawakan makanan, villa itu benar-benar sepi, bahkan tidak ada tanda-tanda seseorang pun.
Tapi segera setelah Giam-toalopan berteriak, 5 orang segera melesat masuk lewat jendela. Gerakan mereka benar-benar amat cepat dan senjata mereka tampak berkilauan, sebatang pedang bergelang, sebatang golok berbulu, lembing yang lentur seperti cambuk, sepasang cakar, dan dua nunchaku besi.
Lima jenis senjata itu adalah senjata-senjata yang luar biasa, siapa pun yang menggunakan senjata seperti ini tentulah seorang jagoan kungfu.
Tapi Sebun Jui-soat bahkan tidak melirik mereka. “Sekali pedangku dihunus, dia akan membunuh.” Ia berkata dengan dingin. “Apakah kalian benar-benar ingin memaksaku untuk mencabut pedang?”
Dari kelima orang itu, dua di antaranya sudah sangat hijau wajahnya. Tapi selalu ada orang-orang yang tak takut mati.
Tiba-tiba angin pun mengaung ketika golok berbulu itu menjadi dinding golok yang melesat ke arah Sebun Jui-soat.
Nunchaku itu pun berubah menjadi angin puting beliung yang ganas ketika menyapu ke arah lutut Sebun Jui-soat.
Senjata yang satu keras dan ganas, sementara yang satunya lagi cepat dan ringan, tapi keduanya dahsyat dan bekerja sama dalam keselarasan yang sempurna. Tampaknya mereka berdua sering berlatih bersama-sama.
Kelopak mata Sebun Jui-soat tiba-tiba menyipit, pada saat itu pula pedangnya telah terhunus.
Ho Thian-jing tidak bergerak, ia malah menatap Liok Siau-hong. Jika Liok Siau-hong tidak bergerak, maka ia pun tidak akan bergerak.
Tapi Be Heng-kong telah bangkit. “Ho-congkoan mengundang kalian ke sini sebagai tamu, bagaimana kalian berani membuat keributan di sini?” Dia berteriak dengan bengis.
Sambil berteriak, tangannya lalu turun ke pinggang dan menarik sebuah rotan naga bersisik ikan yang berwarna keemasan. Dengan mengibaskannya sekali, rotan itu pun menyambar ke arah tenggorokan Hoa Ban-lau.
Dia tahu Hoa Ban-lau buta dan menurut anggapannya akan lebih mudah dihadapi.
Senjata rotan naga miliknya itu sangat berbeda dengan senjata lainnya yang sejenis. Sesudah rotan itu dikibaskan, lilitan naga yang terukir di rotan itu tiba-tiba akan membuka mulutnya dan 'ting!', sebuah pedang yang tipis tapi tajam pun akan melesat keluar.
Hoa Ban-lau tetap duduk di sana, menunggu dengan tenang. Tiba-tiba dia mengangkat tangannya dan menangkap pedang itu di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. “Ting!” lagi, pedang dari besi murni yang ditempa seorang tukang besi selama 3 bulan itu pun patah menjadi 3 bagian.
Wajah Be Heng-kong tampak berubah warnanya dan dia segera menyentakkan pergelangan tangannya, membuat rotan naga itu berputar-putar dan berusaha menyerang kedua telinga Hoa Ban-lau.
Hoa Ban-lau menarik nafas dan ia memutar lengan bajunya seperti awan badai dan berhasil membungkus rotan naga itu. Lalu ia menarik dengan perlahan.
Be Heng-kong terpelanting ke atas meja, piring-piring pun beterbangan ke mana-mana. Hoa Ban-lau lalu mendorong sedikit dan mengirim tubuh orang itu terbang keluar melalui jendela dan jatuh ke kolam bunga teratai yang mengelilingi villa.
“Pertunjukan yang luar biasa!” So Siau-eng tak terasa memuji.
“Bukannya aku yang hebat, tapi dia sendiri yang tidak becus.” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai. “Sepertinya ilmu dan tenaganya hanya tersisa 50 %. Apakah dia menderita luka dalam?”
“Analisa yang hebat. Tiga tahun yang lalu dia telah menerima pukulan pembelah udara dari Ho-congkoan.” So Siau-eng menjawab.
“Tak heran kalau begitu,” Hoa Ban-lau menarik nafas.
Dia akhirnya mengerti mengapa Be Heng-kong bersikap seperti seorang penjilat yang tak tahu malu. Jika orang seperti dia, yang mencari nafkah dari berkelahi, kehilangan sebagian besar kungfunya, maka dia harus mencari seseorang untuk minta perlindungan. Dan tidak ada yang lebih baik daripada meminta Cu-kong-po-gi-kok sebagai pelindungnya.
So Siau-eng tiba-tiba berujar: “Maafkan aku, tapi aku ingin mencoba ilmu Hoa-siauya yang luar biasa. Awas!”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ia melesat maju dengan sumpit di tangannya.
Pemuda yang sopan dan halus ini benar-benar mampu menggunakan sumpit itu sebagai pedang dan memainkan jurus-jurus ilmu pedang dari golongan putih. Dalam sekejap mata, ia telah menggunakan 7 macam gerakan untuk menyerang Hoa Ban-lau.
Liok Siau-hong tidak bergerak, dia hanya memandang Ho Thian-jing dalam kebisuan. Jika Ho Thian-jing tidak bergerak, maka dia pun tak akan bergerak.
Sudah ada 3 orang yang tergeletak di lantai dan tak akan pernah bergerak lagi. Golok berbulu itu telah menancap di ambang jendela, nunchaku telah terbang keluar jendela, dan lembing lemas pun telah patah menjadi empat bagian.
Waktu pedang itu ditarik kembali, masih terlihat noda darah di ujungnya.
Sebun Jui-soat meniup darah di pedangnya itu dengan perlahan, membuat darah merah itu menetes jatuh ke lantai.
Walaupun wajahnya masih tanpa ekspresi, matanya yang dingin seperti batu tampak berkilauan saat menatap Giam Thi-san dengan dingin.
“Seharusnya kau sendiri yang berkelahi,” ia berkata dengan dingin. “Mengapa kau mengirimkan orang lain pada kematiannya?”
“Karena sudah lama aku telah membeli nyawa mereka!” Giam Thi-san menjawab sambil mendengus rendah.
Ia memberi isyarat dengan tangannya dan kembali enam orang muncul di villa tersebut. Matanya berputar-putar, seolah-olah ia sedang mencari jalan untuk meloloskan diri.
Dia tidak bicara dalam logat Soasay lagi, juga tidak mencaci-maki nenek orang lagi. Tapi suaranya menjadi tajam dan melengking, setiap kata yang keluar dari mulutnya pun terdengar seperti jarum, jarum yang menusuk gendang telinga orang lain.
Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa: “Ternyata Toalopan adalah seorang jagoan yang memiliki tenaga dalam yang luar biasa.”
“Kungfunya mungkin lebih baik daripada semua orang di sini.” Ho Thian-jing menyahut dengan santai.
“Sayang sekali kalau begitu.”
“Sayang kenapa?”
“Karena dia memiliki kelemahan yang fatal.”
“Apa itu?”
“Dia takut mati!”
So Siau-eng telah memulai rentetan 7 jurus ilmu pedang berikutnya. Jurus-jurus itu cepat, dinamis, dan cekatan, tak pernah jauh dari wajah Hoa Ban-lau.
Hoa Ban-lau masih duduk di situ, dengan sebatang sumpit di tangannya. Dengan sebuah sentilan atau putaran sederhana, seolah-olah itu adalah hal yang paling alami di dunia, gerakannya mampu mengatasi setiap serangan So Siau-eng.
Sesudah 7 jurus yang kedua berlalu, So Siau-eng tiba-tiba berhenti. Dia tiba-tiba menyadari bahwa orang buta yang selalu tersenyum ini seolah-olah lebih tahu tentang ilmu pedangnya daripada dirinya sendiri.
Setiap kali ia membuat sebuah gerakan, seketika itu juga musuhnya ini tahu bahwa serangannya akan tiba. “Apakah Tuan juga murid Go-bi-pay?” Ia terpaksa bertanya.
Hoa Ban-lau menggelengkan kepalanya dengan perlahan dan tersenyum. “Bagi kalian, setiap ilmu pedang dari semua partai di dunia ini menggunakan gerakan dan strategi yang berbeda-beda. Tapi bagi orang buta, semua gerakan di dunia ini adalah sama.”
Ini adalah prinsip yang paling mendasar dalam ilmu kungfu. So Siau-eng seperti faham, tapi seperti juga tidak. Ia ingin menyelidiki lebih jauh, tapi tak tahu bagaimana atau apa yang harus ditanyakan.
“Apakah Tuan ini salah satu dari Go-bi-jit-kiam?” Malah Hoa Ban-lau yang mengajukan pertanyaan berikutnya.
So Siau-eng bimbang sejenak sebelum akhirnya menjawab: “Aku adalah So kedua di antara Go-bi-jit-kiam.”
“Jadi dia murid perguruan pedang juga?” Sebun Jui-soat tiba-tiba memotong dengan dingin. “Mengapa kau tidak menantangku?”
Wajah So Siau-eng menjadi pucat. “Tak!”, sumpit di tangannya pun patah menjadi 2 bagian.
“Menurut kabar, Go-bi-kiam-hoat adalah yang terbaik di seluruh daratan,” Sebun Jui-soat mendengus. “mungkinkah ilmu mereka sebenarnya tidak pantas menyandang status yang demikian mulia?”
Sambil mengkertakkan giginya, So Siau-eng tiba-tiba berputar, tepat pada saat itu pula ia melihat tetesan darah terakhir yang menetes dari ujung pedang Sebun Jui-soat.
Liok Siau-hong dan Ho Thian-jing masih duduk di sana dalam kebisuan, sambil saling berpandangan, seakan-akan mereka sedang menunggu musuhnya bergerak lebih dulu.
Tapi sudah ada 7 mayat yang bergelimpangan di lantai. Dari ke-7 orang itu, masing-masing merupakan jagoan kelas satu. Tapi dalam sekejap saja mereka semua segera tertusuk tenggorokannya oleh pedang Sebun Jui-soat.
Mata Giam Thi-san mulai menyipit. Baru sekarang orang bisa melihat bahwa usia tua telah mempengaruhi dirinya.
Tapi ia tidak merasakan kesedihan atau simpati bagi orang-orang yang telah mati untuk dirinya itu.
Ia masih berada di sini hanya karena kesempatan terbaik belum muncul dan ia masih belum terpaksa untuk lari dari tempat itu.
Keempat orang yang masih bisa bergerak itu telah kehilangan keberanian mereka untuk bergebrak lagi. Melihat So Siau-eng mulai maju, mereka pun segera menyingkir.
Langkah So Siau-eng kelihatan mantap, tapi wajahnya pucat tak berwarna.
“Pedang apa yang engkau gunakan?” Sebun Jui-soat bertanya, sambil menatapnya dengan dingin.
“Asal bisa dipakai untuk membunuh, aku bisa menggunakannya,” So Siau-eng balas mendengus dan menjawab.
“Bagus, di lantai ada pedang, silakan.”
Memang ada 2 bilah pedang di lantai, tergeletak dalam genangan darah.
Satu pedang tipis dan panjang, sementara yang lainnya tebal dan berat. So Siau-eng bimbang sebentar sebelum ujung kakinya mengait salah satu pedang dan melemparkannya ke udara. Pedang itu mendarat dengan sempurna di tangannya.
Ilmu pedang Go-bi-pay terkenal dengan kecepatan dan keluwesannya, tapi ia malah mengambil pedang yang berat. Pemuda ini jelas bermaksud menggunakan kekuatan fisiknya yang masih muda digabung dengan gerakan-gerakan yang agresif dan keji untuk menghadapi cara bertarung Sebun Jui-soat yang secepat kilat dan mematikan.
Ini adalah pilihan yang tepat. Murid-murid Tokko It-ho semuanya memang memiliki kemampuan menilai musuh yang luar biasa.
Tapi kali ini dia keliru, seharusnya dia tidak mengambil sebatang pedang pun.
Sebun Jui-soat menatapnya. “Duapuluh tahun dari sekarang, ilmu pedangmu akan mencapai puncaknya,” Sebun Jui-soat berkata.
“Oh?” So Siau-eng menjawab.
“Maka aku tidak ingin membunuhmu sekarang. Dua puluh tahun lagi, datang dan carilah aku.”
“Dua puluh tahun adalah penantian yang terlalu lama!” So Siau-eng tiba-tiba berseru. “Aku tak bisa menunggu selama itu!”
Ia adalah seorang pemuda yang masih berdarah panas. Merasakan darah naik ke kepalanya, dia lalu menyerang dengan pedang di tangan. Gerakan pedang itu samar-samar membawa pula gerakan-gerakan ilmu golok.
Ini adalah ilmu ciptaan Tokko It-ho, Golok dan Pedang Bersatu-padu, terdiri dari 49 jurus dan perubahan. Waktu ia bergabung dengan Go-bi-pay, ia telah memiliki ilmu golok yang luar biasa setelah 30 tahun berlatih dengan keras. Ia mampu menggabungkan keganasan dan intensitas ilmu golok ke dalam ilmu pedang Go-bi-pay yang terkenal tangkas dan dinamis.
Ke-49 jurus yang ia ciptakan ini bisa digunakan dengan golok ataupun pedang. Tak ada ilmu lain seperti ini di dunia.
Bahkan Liok Siau-hong pun belum pernah melihat ilmu kungfu seperti ini.
Mata Sebun Jui-soat semakin terang nyalanya. Baginya, melihat sebuah ilmu baru dan asing untuk pertama kalinya adalah seperti seorang anak kecil yang menemukan mainan baru dan asing, ada kesenangan dan keingin-tahuan yang tidak dapat diuraikan dengan kata-kata. Ia menunggu sampai So Siau-eng telah melakukan 21 macam jurus sebelum akhirnya ia membuat sebuah gerakan.
Karena ia telah menemukan titik lemah dari ilmu ini, walaupun itu mungkin hanya sebuah kelemahan kecil, tapi kelemahan yang sedikit saja sudah cukup baginya.
Pedangnya tampak berkilauan. Dengan hanya satu gerakan saja, pedangnya telah menembus tenggorokan So Siau-eng.
Ujung pedang itu masih meneteskan darah. Sebun Jui-soat meniup darah di ujung pedangnya dengan perlahan.
Ia menatap pedangnya, di matanya mendadak muncul perasaan sepi dan sunyi. Tiba-tiba ia menarik nafas: “Mengapa semua orang-orang muda terbaik seperti dirimu selalu mencari kematian seperti ini? Dalam duapuluh tahun, di mana lagi aku akan menemukan lawan yang berharga?”
Jika kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, tentu terasa agak memuakkan. Tapi bila muncul dari dirinya, kata-kata itu seperti membawa kesedihan dan kesepian yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.
“Jika itu masalahnya, lalu kenapa kau membunuhnya?” Hoa Ban-lau tiba-tiba bertanya.
“Karena satu-satunya gerakan pedang yang kukenal adalah membunuh,” Sebun Jui-soat menjawab dengan wajah yang kaku.
Hoa Ban-lau menarik nafas, karena dia tahu orang ini mengatakan hal yang sebenarnya. Setiap gerakan yang dibuat orang ini adalah final dan untuk membunuh, tanpa kompromi, tak ada ruang untuk mundur.
“Kau mati, atau aku yang mati!” Setiap kali pedangnya ditusukkan, tak pernah ada pilihan lain yang tersisa untuk musuhnya, bahkan juga tidak ada pilihan lain untuk dirinya sendiri.
Angin bertiup dari luar villa, membawa keharuman bunga teratai yang menyegarkan, tapi tetap tak mampu menghilangkan bau amis darah yang menyengat.
Sebun Jui-soat tiba-tiba berpaling ke arah Giam Thi-san. “Jika kau tidak pergi, aku tak akan menyerang. Jika kau bergerak, maka kau mati!” dia berkata dengan dingin.
“Mengapa aku harus pergi?” Giam Thi-san tersenyum. “Aku tak tahu kenapa kalian melakukan hal ini.”
“Seharusnya kau tahu,” Liok Siau-hong menarik nafas.
“Tapi kenyataannya tidak.”
“Tapi bagaimana dengan Giam Lip-pun? Apakah dia tahu?”
Mata Giam Thi-san mulai menyipit lagi. Pada wajahnya yang putih dan gemuk tiba-tiba muncul perasaan takut yang aneh. Tiba-tiba dia tampak seperti jauh lebih tua. Setelah beberapa lama, akhirnya dia menarik nafas dan bergumam: “Giam Lip-pun sudah lama mati, kenapa kalian masih mencarinya?”
“Bukan kami yang menginginkan dia,” Liok Siau-hong menjawab.
“Lalu siapa?”
“Tay-kim-peng-ong.”
Mendengar nama itu, wajah Giam Thi-san yang sudah tampak aneh tiba-tiba jadi semakin menakutkan. Tubuhnya tiba-tiba mulai berputar seperti gasing dan villa itu tiba-tiba menjadi terang-benderang seperti disambar kilat.
Bersamaan dengan kilat itu, puluhan batang jarum benang sutera tiba-tiba meluncur seperti tetesan air dalam badai, melesat ke arah Sebun Jui-soat, Hoa Ban-lau, dan Liok Siau-hong.
Pada saat itulah sebuah hawa pedang pun melesat menembus kilatan cahaya tadi.
Hawa itu dingin membeku dan suaranya seperti angin yang bertiup di hutan bambu. Hawa dan kilat itu tiba-tiba menghilang, sebagai gantinya adalah puluhan butir mutiara yang seperti jatuh dari langit, setiap mutiara sudah terbelah dua.
Pedang yang begitu cepat. Tapi Giam Thi-san telah menghilang.
Liok Siau-hong pun telah menghilang.
Di permukaan kolam bunga teratai di luar sana, seperti ada sosok tubuh yang ujung kakinya mendarat perlahan di atas daun bunga teratai sebelum kemudian melayang lagi.
Sebenarnya sosok tubuh itu terdiri dari 2 orang, tapi mereka berdua seperti berhimpit, di mana orang yang mengejar praktis menjadi bayang-bayang orang yang berada di depan.
Sosok tubuh itu tiba-tiba seperti pecah dan menghilang. Tapi suara pakaian yang berkibar-kibar di udara bisa terdengar dari dalam villa.
Lalu Giam Thi-san tiba-tiba muncul kembali.
Liok Siau-hong pun muncul kembali, masih duduk di kursinya semula, seolah-olah dia belum pernah pergi.
Giam Thi-san juga berdiri di tempatnya semula, tapi dia bersandar ke dinding, sambil berusaha mengambil nafas. Dalam beberapa saat terakhir ini, tampaknya dia sudah bertambah tua lagi.
Waktu pertama kalinya dia memasuki vila itu, dia adalah seorang laki-laki setengah baya yang bersemangat. Wajahnya bersih dan halus, tanpa jenggot sedikit pun juga. Tapi sekarang, orang akan mengatakan bahwa dia adalah seorang laki-laki tua berusia 80 tahun.
Wajahnya murung dan sinar matanya memudar. Sambil mengambil nafas, ia mengakui: “Aku semakin….. semakin tua.”
Liok Siau-hong menatapnya dan tak tahan untuk tidak menarik nafas juga.
“Kau memang sudah semakin tua.”
“Kenapa kau melakukan ini pada seorang laki-laki tua?”
“Karena orang tua ini berhutang sesuatu pada orang lain. Tak perduli berapa tuanya dia, dia harus membayarnya lunas.”
“Aku selalu membayar hutang-hutangku, tapi sejak kapan aku berhutang sesuatu pada orang lain?”
“Mungkin kau tidak, tapi bagaimana dengan Giam Lip-pun?”
Wajah Giam Thi-san berkerut-kerut lagi dan dia berteriak dengan bengis: “Benar! Aku Giam Lip-pun! Giam-congkoan, pemakan manusia itu. Tapi sejak aku berada di sini, aku…...”
Tiba-tiba dia berhenti, wajahnya yang berkerut-kerut itu tiba-tiba dan secara ajaib menjadi tenang.
Lalu setiap orang melihat darah menyembur dari dadanya, seperti sekuntum bunga yang tiba-tiba mekar.
Setelah semburan darah itu, alirannya pun mulai menyusut, barulah pedang yang menancap di dadanya itu jadi kelihatan.
Giam Thi-san menunduk dan melihat ujung pedang yang berkilauan itu, dia tampak terkejut dan bingung.
Tapi ia masih belum mati, dadanya masih kembang kempis.
Wajah Ho Thian-jing menjadi kaku seperti batu. Ia bangkit dan berseru: “Siapa yang melakukannya? Siapa?”
“Aku!” Sebuah suara yang bening dan nyaring seperti lonceng terdengar menjawab. Seperti seekor walet, seseorang melayang masuk lewat jendela. Pakaiannya melekat ke tubuhnya seperti kulit ikan hiu hitam karena basah kuyup.
Tubuh yang demikian ramping, air pun masih bertetesan dari tubuhnya. Jelas dia baru saja keluar dari kolam bunga teratai di luar sana.
Giam Thi-san memaksakan matanya terbuka dan tercengang melihatnya, mengumpulkan seluruh kekuatan di tubuhnya untuk mengucapkan 2 patah kata.
“Siapa kau?”
Ia melepaskan kain yang menutupi kepalanya, membiarkan rambutnya yang hitam legam terurai di pundaknya.
Hal itu membuat wajahnya tampak lebih putih, lebih cantik.
Tapi matanya, yang sedang menatap Giam Thi-san, penuh dengan sinar kebencian.
“Aku Tan-hong Kiongcu dari Kekaisaran Rajawali Emas. Aku adalah orang yang ingin mencarimu untuk menagih hutang lamamu,” ia menjawab dengan dendam.
Giam Thi-san balas memandangnya dengan terkejut. Tiba-tiba matanya melotot dan tubuhnya mengejang, dan tidak pernah bergerak lagi. Pada sepasang mata yang melotot itu ada ekspresi yang aneh tapi tak dapat difahami. Apakah itu kaget? Apakah itu gusar? Atau perasaan ngeri?
Dia tidak roboh, karena pedang itu masih menancap di dadanya.
Pedang itu dingin, darahnya pun dingin.
Tan-hong Kiongcu akhirnya berpaling dengan perlahan. Kemarahan dan kebencian di wajahnya pun berubah menjadi kesedihan.
Ia hendak menyapa Liok Siau-hong waktu Sebun Jui-soat tiba-tiba berkata: “Kau menggunakan pedang juga?”
Tan-hong Kiongcu tercengang sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
“Sejak hari ini, jika kau menggunakan pedang lagi, aku akan membunuhmu!”
Benar-benar terkejut, Tan-hong Kiongcu bertanya secara naluriah: “Mengapa?”
“Pedang tidak digunakan untuk membunuh dari belakang. Jika kau membunuh dari belakang, maka kau tidak berharga untuk menggunakan pedang.”
Ia tiba-tiba mengibaskan tangannya. “Tak!” Ujung pedangnya telah memukul ujung pedang di dada Giam Thi-san.
Tubuh Giam Thi-san lalu roboh ke lantai, dan pedang di dadanya pun terpukul jatuh ke dalam kolam bunga teratai.
Sebun Jui-soat sudah berada di luar villa. Mengangkat pedang yang masih bernoda darah itu ke dekat wajahnya, dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Pedang itu tiba-tiba patah menjadi 6 bagian dan jatuh ke tanah.
Angin berhembus, kabut malam pun mulai muncul di kolam bunga teratai itu, dan Sebun Jui-soat tiba-tiba menghilang dalam kabut.
Ho Thian-jing terduduk, tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya seperti topeng batu.
Tapi Liok Siau-hong tahu bahwa tanpa ekspresi itu malah merupakan ekspresi yang paling sedih.
“Giam Thi-san adalah pengkhianat Kekaisaran Rajawali Emas, maka urusan ini bukanlah persoalan pribadi. Juga bukan sesuatu yang boleh dicampuri oleh orang luar,” Liok Siau-hong menarik nafas.
“Aku tahu,” Ho Thian-jing mengangguk.
“Jadi kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri.”
Ho Thian-jing membisu beberapa lama. Tiba-tiba ia menengadah: “Tapi akulah yang mengundang kalian ke mari.”
“Ya.”
“Jika kau tak datang, paling tidak Giam Thi-san masih belum mati saat ini.”
“Apa yang ingin kau katakan?”
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” Ho Thian-jing menjawab dengan dingin. “Hanya saja aku ingin melihat kungfu meringankan tubuh Burung Hong Bersayap Kembar dari Liok Siau-hong dan ilmu “Ide Dalam Hati” milikmu yang legendaris itu.”
“Haruskah kau bertarung denganku?” Liok Siau-hong memaksakan sebuah senyuman.
“Ya.”
Liok Siau-hong menarik nafas. Tan-hong Kiongcu tiba-tiba maju ke hadapan Ho Thian-jing dan berseru: “Mengapa kau harus berkelahi dengannya? Kau seharusnya berkelahi denganku!”
“Kau?”
“Aku orang yang membunuh Giam Thi-san, membunuhnya dari belakang. Mengapa kau tidak mencoba dan menguji apakah membunuh orang dari belakang adalah satu-satunya hal yang aku ketahui!” Ia mendengus pada laki-laki itu.
Ia baru saja dihina oleh Sebun Jui-soat, dan perasaan frustrasi yang terpendam itu harus segera dilampiaskan pada sesuatu, dan sesuatu itu adalah Ho Thian-jing.
Ho Thian-jing memandang padanya dan menjawab dengan lembut: “Apa pun hutang Giam Thi-san padamu, aku akan membayarnya. Kau boleh pergi sekarang.”
“Kau tidak berani bertarung denganku?”
“Bukannya aku tidak berani, tapi tidak mau.”
“Kenapa?”
“Karena kau tidak punya kesempatan bila melawanku,” Ho Thian-jing menjawab dengan santai.
Wajah Tan-hong Kiongcu menjadi merah padam karena marah, tiba-tiba dia mengulurkan 2 jarinya yang lembut dan halus dan berusaha menusuk mata Ho Thian-jing.
Walaupun jari-jarinya lembut seperti tunas yang baru tumbuh, gerakannya benar-benar penuh dendam dan keji, belum lagi kalau memperhitungkan kecepatannya.
Pundak Ho Thian-jing tidak bergerak, begitu juga dengan tangannya, tapi tubuhnya tiba-tiba melesat mundur sejauh 20 m. Sambil mengambil jenasah Giam Thi-san, ia pun berkata: “Liok Siau-hong, aku akan menunggumu pada saat matahari terbit di Jing-hong-koan.”
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia telah berada di luar vila.
Tan-hong Kiongcu menggigit bibirnya dan menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah. Ia begitu marah dan ingin menangis.
Tapi Liok Siau-hong tiba-tiba tersenyum: “Jika kau gunakan Hui-hong-ciam, mungkin dia tak akan mampu lari.”
“Hui-hong-ciam? Apa yang kau bicarakan?” Tan-hong Kiongcu tampak bingung.
“Senjata rahasia milikmu, Hui-hong-ciam (Jarum Burung Hong Terbang).”
Tan-hong Kiongcu menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mendengus: “Kelihatannya aku bukan hanya bisa membunuh orang dari belakang, aku pun bisa membunuh dengan senjata rahasia.”
“Senjata rahasia tetaplah senjata. Banyak orang baik-baik di dunia persilatan yang menggunakan senjata seperti itu.”
“Tapi aku tak pernah menggunakannya, aku tak pernah mendengar Hui-hong-ciam itu sebelumnya.”
Jawaban ini tidak membuat Liok Siau-hong terkejut, satu-satunya alasan ia menanyakan itu adalah untuk meyakinkan bahwa setan kecil itu memang berdusta lagi pada dirinya.
Tapi Tan-hong Kiongcu begitu sedih sehingga matanya tampak merah. “Aku tahu kau marah padaku, itulah sebabnya kau menanyakan hal yang mengada-ada padaku,” ia berkata, sambil menggigit bibirnya.
“Mengapa aku harus marah padamu?”
“Karena menurutmu seharusnya aku tidak datang ke mari, dan seharusnya juga tidak membunuh Giam Thi-san.” Sepertinya ia merasa telah dipersalahkan dan matanya pun telah penuh digenangi air mata. Ia meneruskan dengan suara yang keras. “Karena kau tak akan pernah faham betapa menderitanya keluarga kami karena dia. Jika dia tidak mengkhianati kami, kami tentu punya kesempatan untuk membangun kembali kekaisaran kami dan membalaskan dendam kakek. Tapi sekarang…. sekarang…..”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya karena tak mampu menahan air matanya lagi. Wajahnya telah bersimbah dengan air mata.
Tidak ada yang bisa diucapkan oleh Liok Siau-hong.
Siapa bilang air mata perempuan bukan senjata yang paling efektif? Khususnya seorang perempuan cantik, karena air matanya benar-benar lebih berharga dari mutiara yang paling berharga sekalipun.
Bab 7: Ketua dan Sektenya
28 Agustus 2004 jam 1:06pm
Sinar bulan terang benderang. Waktu fajar masih 6 jam lagi.
Liok Siau-hong telah kembali ke losmen di mana ia menginap dan memesan semeja penuh arak dan makanan.
“Tak perduli apa,” dia tertawa, “paling tidak aku masih bisa makan dan minum semua yang aku inginkan sekali lagi.”
“Seharusnya kau tidur dulu.” Hoa Ban-lau memberi nasehat. “Jika kau akan berduel dengan seseorang seperti Ho Thian-jing saat matahari terbit nanti, bisakah kau tidur?”
“Tidak, aku tak bisa.”
“Kau tahu apa hal terbaik yang ada padamu?” Liok Siau-hong tertawa. “Kau tak pernah berdusta. Sayangnya, kadang-kadang kau seperti seorang pembohong waktu kau mengatakan hal yang sebenarnya.”
“Aku tak akan dapat tidur, tapi hanya karena aku tak memahami dirinya sama sekali!”
“Dia benar-benar seorang yang penuh teka-teki.”
“Sudah berapa lama kau mengenalnya?”
“Kira-kira 4 tahun. Empat tahun yang lalu waktu Giam Thi-san pergi ke Thai-san untuk melihat matahari terbit, dia juga ikut. Seorang pencuri dan aku kebetulan telah menetapkan tanggal dan tempat pertemuan di puncak Thaysan untuk melihat siapa yang bisa bersalto lebih banyak.”
“Berapa baik kau mengenal dirinya?”
“Tidak tahu banyak.”
“Kau bilang, walaupun usianya masih muda, dia adalah orang yang dituakan!”
“Pernahkah kau mendengar tentang Thian-siong-in-ho (Menara Langit dan Bangau Awan), dua orang Siang-san-ji-lo (dua tetua dari Siang-san)?”
“Kedua tetua dari Siang-san itu telah lama dianggap sebagai Bintang Utara di dunia persilatan. Bahkan jika aku tuli, aku pasti mendengar nama mereka.”
“Nah, kudengar dia adalah adik seperguruan mereka.”
Ekspresi wajah Hoa Ban-lau pun berubah hebat.
“Jika mereka berdua masih hidup sekarang, mungkin usia mereka sekitar 70 atau 80 tahun. Ho Thian-jing belum berumur 30 tahun. Bagaimana mungkin ada selisih umur yang begitu besar di antara saudara-saudara seperguruan?”
“Ada banyak pasangan suami-isteri yang berselisih usia 40 atau 50 tahun, apalagi cuma saudara seperguruan…...”
“Jadi itulah sebabnya maka seorang yang sudah terkenal selama 40 tahun seperti San Say-gan hanya menjadi murid keponakannya.”
“Benar.”
“Dulu waktu Thian-kim Lojin merajai seluruh dunia, dia hanya mengambil Siang-san-ji-lo sebagai muridnya. Bagaimana tiba-tiba sekarang muncul Ho Thian-jing?”
“Keluarga Hoa dulu juga hanya punya 6 orang anak,” Liok Siau-hong tersenyum dan membalas, “jadi bagaimana kau sekarang tiba-tiba muncul?”
Orang tua punya anak, guru punya murid, hal seperti ini bukanlah urusan orang lain.
Tapi ekspresi serius telah muncul di wajah Hoa Ban-lau.
“Aku belum pernah bertemu San Say-gan sebelumnya. Tapi aku tahu bahwa ilmu meringankan tubuh dan ilmu tangan kosongnya terkenal sebagai 2 keajaiban dunia persilatan. Tak tahu bagaimana bila Ho Thian-jing dibandingkan dengan dirinya.”
“Aku juga belum pernah melihat Ho Thian-jing bertarung. Tapi melihat bagaimana dia mampu menggunakan ilmu seperti Burung Walet Tiga Kali Mengaduk Air sewaktu memondong tubuh Giam Thi-san yang berat tadi, aku bisa mengatakan bahwa tidak banyak orang di dunia ini yang lebih hebat darinya.”
“Bagaimana denganmu?”
Liok Siau-hong tidak menjawab. Ia tak pernah suka menjawab pertanyaan seperti ini. Sebenarnya, selain dari dirinya sendiri, mungkin tidak ada orang lain di dunia ini yang tahu seberapa hebat sebenarnya ilmu kungfunya.
Tapi kali ini Hoa Ban-lau tampaknya terus berusaha menemukan jawabannya dan bertanya lagi.
“Kau yakin bisa mengalahkannya?”
Liok Siau-hong masih tidak menjawab. Ia hanya menuangkan secawan arak lagi dan meminumnya dengan lamban.
Hoa Ban-lau tiba-tiba menarik nafas. “Kau tidak yakin. Itulah sebabnya kau bersikap hati-hati dan tidak terlalu banyak minum arak.”
Liok Siau-hong biasanya tidak minum arak dengan cara seperti ini.
Sejak tiba di situ, Tan-hong Kiongcu menjadi sangat pendiam. Ia hanya duduk di sana dan mendengarkan sepanjang waktu. Sekarang ia tiba-tiba bicara: “Kau baru saja mengatakan bahwa kau dan seorang pencuri bertanding salto di puncak Thai-san, siapakah pencuri itu?”
“Si Raja Maling!” Liok Siau-hong tertawa kecil. “Mencuri di mana-mana dan tak pernah bertemu tandingannya. Tapi korbannya bukan cuma tidak menjadi marah, mereka malah merasa terhormat.”
“Mengapa?”
“Karena tidak banyak orang yang cukup sesuai baginya untuk dicuri barangnya. Di samping itu, ia tak pernah mencuri sembarang benda. Ia hanya mencuri karena ia bertaruh dengan seseorang bahwa ia mampu.”
Liok Siau-hong tertawa kecil dan meneruskan.
“Suatu saat, ia bertaruh dengan seseorang bahwa ia mampu mencuri pakaian milik isteri orang paling kikir sedunia, Thia Hok-ciu [Cheng Fu Zhou].”
Tan-hong Kiongcu tak tahan untuk tidak tertawa mendengar cerita itu.
“Lalu apa yang terjadi?”
“Ia memenangkan taruhan itu.”
“Lalu mengapa kau berlomba salto dengannya?”
“Karena aku tahu bahwa aku tak bisa mencuri dari dia. Dan aku benar-benar ingin mendapatkan 50 kendi arak yang baru saja dia menangkan itu.”
“Itu benar. Gunakan kekuatanmu untuk menyerang kelemahan musuh. Mengapa kau tidak melakukan itu terhadap Ho Thian-jing nanti?”
Tan-hong Kiongcu merenung. “Kau tidak perlu bertarung mati-matian dengan dia.”
Liok Siau-hong menarik nafas. “Ada beberapa orang di dunia ini yang, tak perduli apa pun tipuan yang kau lakukan padanya, maka tipuan itu tak akan berhasil. Sebun Jui-soat adalah salah seorang dari mereka, Ho Thian-jing juga.”
“Kau fikir dia benar-benar ingin bertarung mati-matian denganmu?”
“Karena perlakuan Giam Thi-san selama ini padanya, maka ia harus membalas budi. Ia telah lama memutuskan bahwa ia akan rela memberikan nyawanya untuk membalas budi itu.” Ekspresi Liok Siau-hong tampak sangat serius.
“Tapi kau kan tidak perlu bersikap seperti dia!”
Liok Siau-hong tersenyum sekilas, seakan-akan ia tidak ingin membicarakan masalah ini lagi. Ia bangkit dan berjalan menghampiri jendela dengan perlahan-lahan.
Jendela itu telah terbuka sejak awal. Tiba-tiba ia menyadari bahwa beberapa saat yang lalu seorang laki-laki tua yang mengenakan jubah panjang telah datang membawa sebuah bangku dan duduk di tengah halaman sana sambil menghisap pipa.
Malam telah larut, tapi laki-laki tua itu tidak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Ia duduk diam-diam di sana, seakan-akan ia bermaksud untuk duduk di sana sampai matahari terbit.
“Cuaca semakin dingin,” Liok Siau-hong tiba-tiba tersenyum dan bicara, “jika Tuan tidak keberatan, mengapa tidak masuk dan menikmati beberapa cawan minuman bersama kami agar malam panjang ini berlalu lebih cepat?”
Tapi laki-laki tua itu tidak menjawab sedikit pun. Seakan-akan ia seorang yang tuli dan tidak mendengar kata-kata Liok Siau-hong. Liok Siau-hong hanya tersenyum saja.
“Tidak sopan menolak maksud baik orang lain!” Tan-hong Kiongcu merasa kesal dan mendengus.
Tiba-tiba dia berlari ke jendela dan, dengan sebuah kibasan tangan, melemparkan cawan arak yang ada di tangannya ke arah laki-laki tua itu. Cawan itu meluncur dengan cepat tapi mantap, tak ada setetes pun arak di dalamnya yang tumpah.
Laki-laki tua itu tiba-tiba mendengus dingin, mengulurkan tangannya, dan menangkap cawan itu. Lalu ia menuangkan seluruh isi cawan itu ke tanah dan mulai memakan cawan itu. Sepotong demi sepotong, ia melahap cawan tersebut, dan menimbulkan suara gemeretak di dalam mulutnya.
Tan-hong Kiongcu terpana melihat kejadian itu.
“Adakah yang salah dengan orang tua ini?” ia bertanya. “Dia tidak meminum araknya, tapi malah memakan cawannya.”
Mata Liok Siau-hong berkerlap-kerlip dalam sinar bulan.
“Mungkin karena arak itu adalah sesuatu yang kita tawarkan,” ia berkata sambil tersenyum. “Dan cawan arak itu tidak.”
Pada saat itu, seorang pedagang roti isi daging pun berjalan memasuki halaman.
Malam sudah begitu larut, apakah dia benar-benar berharap bisa berdagang di sini?
“Hei, kamu!” Tan-hong Kiongcu mengedip-ngedipkan matanya. “Apakah kau menjual roti isi daging?”
“Asal kalian punya uang, tentu saja ya!”
“Berapa harganya?”
“Sangat murah! Sepuluh ribu tael perak sepotongnya, dan tidak boleh kurang setael pun.”
Wajah Tan-hong Kiongcu berubah warna sedikit. “Ok, berikan aku 2 potong roti yang berharga 10.000 tael itu.” Ia berkata. “Bawakan ke sini.”
“Baik!”
Ia baru saja mengambil 2 potong roti isi daging waktu seekor anjing berbulu kuning melompat keluar dari sebuah sudut dan berlari menghampirinya, lalu menggonggong dengan keras.
“Apa? Mungkinkah kau ingin membeli roti isi dagingku seperti gadis yang di sana itu?” Pedagang itu memandang si anjing. “Apakah kau tidak tahu bahwa rotiku ini asalnya memang dibuat untuk memukul anjing?”
Ia benar-benar mulai memukuli anjing itu dengan roti tersebut. Anjing itu segera berhenti menggonggong dan menggigit roti itu beberapa kali. Tiba-tiba anjing itu menyalak dan bergulingan di tanah, lalu berubah dari anjing hidup menjadi anjing mati.
Wajah Tan-hong Kiongcu kembali berubah warna. “Ada racun di dalam roti itu?”
“Bukan hanya racun,” si pedagang tersenyum santai. “dagingnya sendiri adalah daging manusia.”
“Beraninya kau menjual roti seperti itu?” Tan-hong Kiongcu membentak dengan marah.
“Aku hanya melakukan pekerjaanku,” si pedagang memutar-mutar biji matanya sambil memandang Tan-hong Kiongcu, “apakah kau membelinya atau tidak, itu adalah urusanmu. Aku tidak memaksamu untuk membelinya.”
Wajah Tan-hong Kiongcu hampir berubah menjadi kuning karena marahnya. Ia hampir tak mampu untuk menahan diri agar tidak berlari maju dan menampar orang itu beberapa kali.
Tapi Liok Siau-hong diam-diam telah memegang tangannya. Saat itulah mereka mendengar seseorang menarik nafas dengan perlahan: “Sinar bintang di malam hari, untuk siapakah angin berhembus melalui jendela?”
Seorang Siucay (sasterawan) yang jorok dan kotor, dengan tangan terlipat di balik punggungnya, berjalan lambat-lambat memasuki halaman itu.
Tiba-tiba dia berbelok ke arah si pedagang dan tersenyum.
“Berapa banyak yang telah kau bunuh hari ini?”
“Roti isi dagingku hanya membunuh anjing, bukan manusia,” si pedagang memutar-mutar bola matanya lagi. “Cobalah dan kau akan lihat.”
Ia melemparkan sepotong roti kepada si sasterawan, yang segera menangkap dan memakannya.
“Agaknya kau mengatakan hal yang sebenarnya,” ia berkata sambil menepuk-nepuk perutnya. “Bukan hanya itu, roti ini juga bisa menyembuhkan penyakit.”
“Penyakit macam apa?” Sebuah suara terdengar bertanya dari luar tembok.
“Penyakit lapar!” si siucay menjawab.
“Oh, aku faham. Aku pun sangat lapar nih.” Orang di luar menyahut. “Cepat, berikan aku roti dan sembuhkan penyakitku ini.”
“Baik!”
Si pedagang mengeluarkan sepotong roti lagi dan melemparkannya ke atas tembok. Seorang pengemis, yang tiba-tiba telah muncul di atas tembok itu, membuka mulutnya dan menangkap roti itu dengan mulutnya dan menelannya. Lemparan-lemparan si pedagang sangat cepat, si pengemis pun menelan roti itu dengan sama cepatnya. Dalam sekejap mata, 7 atau 8 potong roti telah menghilang ke dalam perut si pengemis.
“Tampaknya roti itu akhirnya bisa menyembuhkan penyakit laparmu!” si siucay berkata.
Si pengemis mengerutkan keningnya.
“Kalian menipuku, tak mungkin mati gara-gara racun dalam roti ini, tapi orang memang bisa mati karena terlalu kenyang makan roti!”
“Bukan masalah besar!” Seorang lagi telah muncul di luar tembok. “Mati karena kekenyangan? Karena kelaparan? Karena dimarahi isteri? Jangan cemas, aku punya obatnya.”
Seorang pedagang ramuan obat-obatan, sambil membawa sebuah kotak obat dan lonceng kecil tampak berjalan memasuki halaman itu dengan tersandung-sandung. Jelas dia adalah seorang cacat.
Halaman kecil yang sepi itu, seakan orang-orang itu telah berencana untuk berkumpul di situ, tiba-tiba berubah menjadi tempat yang ramai dan berisik. Segera saja seorang pedagang alat rias wanita, pedagang barang bekas, dan seorang penjual sayur pun ikut bergabung.
Mata Tan-hong Kiongcu semakin sakit melihat semua itu. Walaupun dia tidak memiliki pengalaman dunia persilatan yang banyak, dia sekarang menyadari bahwa orang-orang ini datang untuk mereka.
Yang paling aneh adalah semua orang ini tetap berada di luar, berjejalan di halaman, dan tampaknya sedikit pun tidak tertarik untuk masuk dan mencari gara-gara dengan mereka.
“Menurutmu orang-orang ini datang untuk membalaskan dendam Giam Thi-san?” Tan-hong Kiongcu tak tahan untuk tidak bertanya pada Liok Siau-hong.
“Bagaimana mungkin Giam-toalopan punya teman-teman seperti ini?” Liok Siau-hong tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Mereka semua tampaknya bisa kungfu.”
“Sebuah kota selalu merupakan tempat harimau mendekam dan naga bersembunyi.” Liok Siau-hong menyahut. “Asal mereka tidak mengganggu kita, kenapa kita harus mengganggu mereka dan terlibat dalam urusan mereka?”
“Sejak kapan kau menjadi orang yang tidak ingin ikut campur dalam urusan orang lain?” Hoa Ban-lau tiba-tiba memotong sambil tertawa.
Liok Siau-hong balas bergurau. “Baru sekarang.”
Suara genta penjaga malam bisa terdengar dari tempat itu. Tiga kali dentangan, berarti hari sudah tengah malam.
{Catatan: Di kota-kota Cina kuno, ada penjaga-penjaga malam yang berlalu-lalang di jalan sambil memukul genta kecil sebagai petunjuk waktu. Malam hari dibagi menjadi 5 bagian yang sama, dan penjaga malam pun memukul gentanya sesuai dengan jumlah hitungannya. Jadi, 3 dentangan berarti tengah malam.}
Laki-laki tua yang menghisap pipa itu tiba-tiba berdiri dan menguap: “Kenapa orang yang mengundang kita ke sini malah belum datang?”
Ternyata dia bukan orang tuli ataupun bisu.
Tan-hong Kiongcu jadi semakin pusing. Siapa yang mengundang orang-orang ini ke sini? Dan untuk apa?
“Dia tentu akan segera tiba,” si siucay menjawab.
“Aku akan pergi melihat-lihat,” si pedagang roti menawarkan diri.
Tangannya segera beraksi kembali, melempar-lemparkan roti isi daging dari dalam keranjangnya. Puluhan potong roti yang ia lemparkan, satu demi satu, membentuk sebuah tumpukan yang tingginya lebih dari 10 meter.
Dengan sedikit mengeluarkan tenaga, si pedagang roti pun melompat ke puncak tumpukan roti itu seperti seekor ayam jago yang hinggap di atas pagar. Kedudukannya mantap, tidak bergeming sedikit pun dalam terpaan angin.
Bukan hanya kemampuan tangannya yang cepat dan akurat, ilmu meringankan tubuhnya juga termasuk kelas satu.
“Kelihatannya berkelana di dunia persilatan bukanlah hal yang mudah,” Tan-hong Kiongcu menarik nafas dan bergumam. “Baru sekarang aku memahami itu.”
“Paling tidak kau mengerti sekarang, itu hal yang bagus,” Hoa Ban-lau menjawab sambil tersenyum.
“Dia datang!” si pedagang roti tiba-tiba berseru.
Seruannya itu seperti membangkitkan energi semua orang. Bahkan jantung Tan-hong Kiongcu pun seperti hendak melompat keluar dari tenggorokannya. Ia ingin tahu, seperti apakah orang yang ditunggu-tunggu itu.
Tapi dia menjadi kecewa melihat kejadian selanjutnya.
Dalam fikiran dan khayalan seorang gadis muda, jika orang ini bukan seorang jago pedang muda yang lembut dan tampan, paling tidak dia tentulah seorang pendekar dunia persilatan yang berwibawa dan penuh kekuatan.
Tapi orang yang datang ini hanyalah seorang laki-laki tua berkepala botak dengan raut wajah yang tirus dan muka kekuning-kuningan. Ia mengenakan pakaian berwarna abu-abu yang terbuat dari kain kasar dan panjangnya hanya sampai ke lutut. Di kakinya ia mengenakan kaus kaki putih dan sepatu abu-abu yang biasa digunakan oleh seorang petani tua yang datang ke kota untuk berjualan di pasar.
Tapi matanya berkilat-kilat. Bersinar terang dan kuat, mata itu berkerlap-kerlip dalam sinar bulan.
Hal yang aneh adalah setiap orang di halaman itu jelas sedang menunggu dirinya, tapi sekarang setelah dia muncul, tidak ada yang menghampiri dan menyapanya. Mereka hanya diam-diam minggir dan memberikan jalan untuknya.
Mata laki-laki tua berkepala botak itu memandang sekelilingnya sebentar sebelum dia tiba-tiba mulai berjalan ke arah Liok Siau-hong.
Sepertinya ia tidak berjalan dengan cepat, tapi dalam 2 atau 3 langkah saja ia telah tiba di depan pintu.
Pintu itu selama ini terbuka. Ia tidak mengetuk pintu, juga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya, dan dengan sangat santai, duduk di hadapan Liok Siau-hong, mengambil kendi arak yang berada di lantai, dan mengendus-endus arak itu.
“Arak yang bagus.”
“Memang ini arak yang sangat bagus,” Liok Siau-hong mengangguk.
“Dibagi setengah-setengah?”
“Boleh.”
Laki-laki tua itu tidak mengucapkan apa-apa lagi. Ia hanya mengangkat kendi dan meneguk arak itu dengan suara decak yang berisik.
Dalam sekejap saja setengah isi kendi itu telah habis dan wajahnya yang kuning pun berubah jadi merah, seolah-olah seluruh raganya telah kembali menjadi muda.
“Benar-benar enak,” ia berkata sambil mengusap mulutnya dengan lengan baju.
Liok Siau-hong tidak menjawab. Ia hanya menerima kendi itu dan meneguk isinya, tidak lebih lambat dari laki-laki tua itu, tidak lebih lambat dari siapa pun juga.
Setelah seluruh isi kendi habis, laki-laki tua berkepala botak itu tiba-tiba tertawa. “Barang bagus! Arak bagus, teman minum di sini juga tidak jelek!”
“Hanya bila teman minum itu tidak jelek barulah araknya bagus!” Liok Siau-hong menjawab sambil mengusap mulutnya.
“Tidak melihatmu selama 3 tahun ini,” laki-laki tua itu memandangnya, “dan kau masih belum mati karena mabuk?”
“Hanya orang baik yang mati muda, orang jahat hidup selamanya. Aku sendiri yang agak mencemaskanmu. Kau orang yang baik.”
“Siapa bilang aku orang baik?” Laki-laki tua itu melirik Liok Siau-hong.
“Setiap orang di dunia persilatan mengatakan, San Say-gan bukan hanya baik, dia juga setia, dia adalah orang terbaik di dunia.”
“Kau benih kejahatan, dan aku orang baik? Itu hal yang benar-benar menarik,” laki-laki tua itu tertawa sepenuh hatinya.
Tan-hong Kiongcu memandang orang itu, hampir dia tidak mempercayai matanya sendiri. Ia tak pernah membayangkan bahwa laki-laki tua yang botak, jorok dan suka mencaci-maki ini adalah pendekar terkenal yang telapak besi kembarnya telah mengguncangkan dunia, San Say-gan.
Tak perduli apa, bukanlah hal yang mudah untuk disebut sebagai seorang “pendekar”.
Tapi laki-laki tua ini benar-benar tidak mirip seorang “pendekar”. Mungkinkah itu rahasia kesuksesannya? Tan-hong Kiongcu tak bisa membayangkannya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa hal-hal yang tak mampu ia bayangkan tampaknya semakin dan semakin banyak.
Suara tawa San Say-gan telah berhenti terdengar. Dengan matanya yang berkilat-kilat, ia menatap Liok Siau-hong: “Kau mungkin tidak menyangka kalau aku akan datang mencarimu.”
“Tidak, aku memang tidak menyangka,” Liok Siau-hong mengaku.
“Sebenarnya aku telah tahu kedatanganmu sejak di TaiYuan.”
“Bukan hal yang luar biasa,” Liok Siau-hong tersenyum. “Bahkan jika kau tak tahu kedatanganku, itu baru luar biasa.”
“Tapi baru sekarang aku menemuimu.”
“Kau orang yang sibuk.”
“Aku sama sekali tidak sibuk. Aku tidak datang, karena kau adalah tamu susiok-ku. Karena aku tidak mungkin bersaing dengannya untuk menjadi tuan rumah bagimu, maka aku pura-pura tidak tahu saja.”
“Kukira karena aku telah mencukur kumisku, sehingga teman-teman lamaku tidak mengenaliku lagi!” Liok Siau-hong tertawa.
San Say-gan tertawa mendengar lelucon itu. “Aku selalu menganggap kumismu itu sangat menjengkelkan untuk dilihat!”
“Aku tak perduli kalau kau menganggapnya menjengkelkan, tapi orang lain tidak menganggapnya demikian.” Liok Siau-hong membalas dengan santai.
Tawa San Say-gan berhenti lagi: “Ho Thian-jing adalah paman guruku, banyak orang di luar sana yang tidak mempercayai hal ini. Tapi kau seharusnya tahu.”
“Aku tahu.”
“Orang tua aneh yang menghisap pipa itu adalah she Hoan. Kau kenal dia?”
“Mungkinkah dia adalah Tuan Hoan Gok yang terkenal itu? Hoan-taysiansing yang pipanya bisa digunakan untuk menyerang 36 urat darah besar dan 72 urat darah kecil lawannya itu?”
“Itulah dia.”
“Say-pak-siang-siau terdiri dari Hoan dan Kan. Mungkinkah siucay kotor dan jorok di sana itu adalah jagoan ilmu Tan-ci-sin-thong, Kan-jisiansing yang terkenal itu?”
{Catatan: “Sentilan Jari Dewa”, atau “Tan-ci-sin-thong” adalah salah satu ilmu kungfu paling terkenal dalam karya-karya Jin Yong.}
San Say-gan mengangguk: “Pengemis miskin, si pedagang barang bekas, pedagang roti serta si penjual sayur, pedagang alat rias wanita, serta penjaga tempat ini dan orang gemuk yang menyambut tamu di pintu depan sana; mereka bertujuh adalah saudara-saudara angkat. Ada orang yang menyebut mereka Ji-ceh-jit-hiap (Tujuh Pendekar dari Masyarakat Bawah), sementara yang lainnya memanggil mereka San-say-jit-gi (Tujuh Saudara Angkat dari Soasay).”
“Semua pendekar dan sahabat terkenal tentu sangat bersemangat malam ini sehingga datang berkumpul di halaman yang kecil ini,” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum.
“Kau benar-benar tidak tahu apa yang mereka lakukan di sini?”
“Tidak.”
“Mereka semua berasal dari perguruanku. Dilihat dari tingkat senioritas, beberapa dari mereka adalah 2 generasi di bawah Ho Thian-jing.”
“Orang itu cukup beruntung,” Liok Siau-hong kembali tersenyum.