“Kandang ini terbuat dari baja yang telah ditempa lebih dari 100 kali. Bobotnya 990 kg. Bahkan pedang yang bisa memotong baja seperti mentega pun tidak akan dapat memotongnya, apalagi pedang seperti itu hanya ada dalam dongeng.”
“Dan tidak ada orang yang sanggup mengangkat kandang seberat 990 kg.” Liok Siau-hong menambahkan.
“Tidak ada.”
“Karena itu, bukan hanya kau tidak bisa keluar, aku pun tidak bisa masuk.”
“Maka yang bisa kau lakukan hanyalah menonton aku pergi, lalu menunggu saat kematianmu.”
“Sebabnya kau mengurung dirimu sendiri di dalam kandang adalah karena kau takut kalau aku berusaha bertarung denganmu?”
“Aku sudah tua, aku bahkan tidak tertarik untuk tidur dengan perempuan lagi, apalagi bertarung.”
Liok Siau-hong menepuk-nepuk bahu Hoa Ban-lau. “Tampaknya yang bisa kita lakukan adalah menunggu kematian di tempat ini!” Ia menarik nafas.
“Tampaknya ini adalah gerakan terakhirnya!” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai. Tak bisa dipercaya, dia benar-benar tersenyum!
“Kau harus mengakui, gerakan ini benar-benar efektif.”
“Tapi kita masih punya sebuah gerakan yang belum dilakukan, itulah senjata yang belum kita gunakan.”
“Oh!”
“Kau lupa dengan Cu Ting?” Hoa Ban-lau bertanya.
Liok Siau-hong tersenyum.
“Tentu saja tidak.”
“Dan itulah sebabnya sekarang kau masih dapat tersenyum.” Hoa Ban-lau balas tersenyum.
“Dan itulah sebabnya kau tidak cemas sama sekali.”
“Ia seharusnya tidak membawa Cu Ting ke sini.”
“Benar sekali.”
Terlihat beberapa perubahan di wajah Ho Siu.
“Kenapa dengan dia?” Akhirnya ia tidak tahan terhadap godaan itu dan bertanya. “Kenapa dia seharusnya tidak berada di sini?”
“Tidak ada apa-apa sebenarnya.” Liok Siau-hong menjawab dengan acuh tak acuh. “Hanya saja, tidak ada tempat di dunia ini yang bisa mengurungnya.”
“Ia tidak punya sesuatu yang istimewa pada dirinya, selain dari kenyataan bahwa ia kebetulan adalah murid Liok-toaya.” Hoa Ban-lau menambahkan.
“Liok-toaya?” Ho Siu mengerutkan keningnya.
“Tentu saja, kau tentu tahu bahwa Liok-toaya adalah keturunan langsung dari Liok Ban, ahli perkakas terbaik di dunia.” Hoa Ban-lau menerangkan.
“Sesudah Liok-toaya mati, gelar itu tentu saja jatuh ke tangan Lopan, Cu Ting.” Liok Siau-hong menambahkan.
“Karena itu, selama dia ada di sini, maka kalian tentu bisa keluar.” Ho Siu menyimpulkan.
“Benar.” Liok Siau-hong mengiyakan.
“Ia memang ada di sini.”
“Aku tahu.”
“Posisinya agak lebih jauh, tempat di mana kau melihatku terakhir kalinya.”
“Aku tahu.”
“Jika tidak ada tempat di dunia ini yang mampu mengurungnya, lalu kenapa ia belum keluar juga?”
“Ia akan keluar.”
“Jika ia keluar sekarang pun, tetap saja terlambat.” Ho Siu mendengus.
“Oh!”
“Pusat kendali semua mesin dan perangkap di tempat ini tepat berada di bawah tempat aku duduk.”
“Oh!”
“Tentu saja, jika aku pergi, aku akan segera menghancurkannya.”
“Dan kemudian apa yang terjadi?”
“Dan kemudian setiap jalan keluar dari tempat ini tentu akan segera disegel oleh batu-batu besar, setiap batu berbobot lebih dari 4 ton, maka……”
“Maka kami ditakdirkan untuk mati di sini.”
“Bukan hanya kau, bahkan jika Liok Ban hidup kembali, dia pun hanya bisa menunggu kematiannya.” Ho Siu menambahkan dengan santai.
“Dan karena itu kau akan pergi sekarang juga!”
“Sebenarnya aku ingin menunggu dan berbincang-bincang dengan kalian lebih lama lagi, karena aku tahu bahwa menanti kematian itu sama sekali tidak menyenangkan.”
“Tapi sekarang kau merubah fikiranmu?”
“Benar!”
“Tampaknya aku bukan hanya tidak bisa memaksamu tetap berada di sini, aku pun tidak bisa mengantarkanmu pergi.” Liok Siau-hong bergurau dengan cara yang agak menyedihkan untuk bisa dibilang lucu.
“Tapi kalian tentu akan segera merindukanku, aku tahu itu,” Ho Siu berkata sambil tersenyum dan ia pun mengulurkan tangannya. “Aku cuma perlu menekan, dan aku akan menghilang. Kalian tidak akan pernah melihatku lagi.”
Ia lalu menekan sebuah tombol dengan tangannya.
Tetapi, ia tidak menghilang, malah senyuman di wajahnya yang hilang.
Altar batu itu masih tetap berupa altar batu persegi. Ia dari tadi duduk di atasnya, sekarang pun ia masih duduk di atasnya. Ekspresi wajahnya telah berubah sedemikian rupa, seolah-olah ia telah ditinju oleh seseorang di hidungnya.
Tetesan-tetesan keringat yang besar tiba-tiba muncul di keningnya.
Liok Siau-hong pun menganggap hal itu sangat aneh. Ia sangat mengetahui sifat Ho Siu, rubah tua ini tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak benar-benar ia yakini. Jika Ho Siu mengatakan ada sebuah jalan keluar di bawah altar batu itu, tentu memang ada jalan keluar di bawahnya. Tapi sekarang, tampaknya jalan keluar itu tiba-tiba menghilang.
“Kenapa kau masih ada di sini?” Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya.
Tinju Ho Siu terkepal erat-erat.
“Kau…… kau?” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.
Liok Siau-hong menarik nafas, lalu tiba-tiba ia menyadari bahwa bukan hanya ia satu-satunya orang yang menarik nafas. Selain dari dirinya, yang menarik nafas bukanlah Hoa Ban-lau, tapi Siangkoan Soat-ji dan Lopannio. Mereka pun menarik nafas ketika berjalan menghampirinya, dengan senyuman berbunga-bunga di wajah mereka.
“Ternyata kau benar, orang ini benar-benar orang yang mujur.” Siangkoan Soat-ji yang pertama bicara.
“Itulah dia Liok Siau-hong satu-satunya!”
Tapi senyuman Liok Siau-hong tampak menyedihkan.
“Sebabnya kalian tidak keluar dari tadi adalah untuk melihat apakah aku masih punya kemujuran?”
“Kami kira kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap rubah tua ini, tapi siapa yang tahu bahwa kau masih punya satu gerakan terakhir ini?” Siangkoan Soat-ji menjawab dengan manis.
“Gerakanmu yang terakhir ini benar-benar istimewa.” Lopannio tertawa cekikikan.
“Ia yang membuat kandang itu, tapi mungkin ia tidak pernah membayangkan kalau ia sendiri yang akan terperangkap di dalamnya.” Siangkoan Soat-ji berkata.
Liok Siau-hong tersenyum. “Itulah yang disebut ‘Masuk Sendiri ke Dalam Kuali’.”
{Catatan: ‘Masuk Sendiri ke Dalam Kuali’ adalah ungkapan bahasa Cina yang terkenal. Ungkapan ini berasal dari sebuah cerita tentang percakapan antara 2 orang pejabat di masa pemerintahan kaisar wanita satu-satunya dalam sejarah Cina, Bu Cek Thian. Kedua pejabat ini terkenal karena kekejamannya di saat menginterogasi tawanan. Ketika pejabat pertama dicurigai berkhianat, pejabat kedua diperintahkan untuk menginterogasinya. Pejabat kedua, yang berteman dengan pejabat pertama, lalu mengundang temannya itu untuk makan malam. Selama makan malam itu, pejabat kedua bercerita bahwa ia punya seorang tawanan yang tidak mau bekerja-sama, tak perduli apa pun nasehat yang diberikan olehnya pada tawanan itu. Pejabat pertama lalu mengusulkan agar ia menggunakan sebuah kuali besar yang diisi minyak, memanaskannya hingga mendidih di hadapan tawanan itu, dan kemudian mengancam akan mencampakkannya ke dalam kuali jika ia tidak mengaku. Pejabat kedua kemudian segera memerintahkan pelayan-pelayannya untuk membawa sebuah kuali besar yang diisi minyak ke dalam ruangan itu dan memanaskannya hingga mendidih. Setelah selesai, tuan rumah pun berdiri, lalu mendakwa tamunya atas semua kejahatannya, dan memintanya ‘masuk sendiri ke dalam kuali’ jika ia tidak mau mengaku. Tamunya, si pejabat pertama, segera mengaku karena ketakutan. Jadi ungkapan ini ditujukan pada orang yang ide-ide atau rencana-jahatnya malah berbalik pada dirinya sendiri.}
Lopannio menatapnya, matanya berkedip-kedip. “Bagaimana kau bisa memikirkan dan melakukan hal ini?”
“Aku kan orang yang jenius.” Liok Siau-hong menjawab seenaknya.
“Apakah kau telah menduga bahwa ia akan berusaha melarikan diri lewat jalan itu dan karena itu menyegelnya sebelum ia masuk ke sini?” Siangkoan Soat-ji bertanya.
Liok Siau-hong terdiam.
“Hayo, kenapa kau tidak bicara?” Lopannio mendesak. “Bagaimana kau melakukannya?”
Liok Siau-hong tiba-tiba menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak bisa memberitahu kalian.”
“Kenapa tidak?” Siangkoan Soat-ji bertanya.
“Setiap orang perlu menyimpan beberapa rahasia untuk dirinya sendiri, terutama bila wanita-wanita seperti kalian berdua terlibat.” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum, senyuman yang mirip seperti senyum seekor rubah tua yang licik. “Jika kalian berdua tahu semua rahasiaku, lalu bagaimana mungkin aku bisa tenang selama sisa hidupku?”
______________________________
“Jadi bagaimana kau melakukannya?” Setelah semua orang pergi, Hoa Ban-lau tidak bisa lagi menahan godaan untuk bertanya kembali. “Mengapa tidak kau beritahukan pada mereka?”
Jawaban Liok Siau-hong benar-benar cerdik.
“Karena aku pun tidak tahu.”
“Kau juga tidak tahu kenapa jalan keluar itu tiba-tiba tersegel?” Hoa Ban-lau terkejut.
“Tidak tahu.”
Hoa Ban-lau terdiam.
“Mungkin itu karena alat kontrolnya tiba-tiba tidak berfungsi, atau mungkin karena seekor tikus kebetulan masuk dan merusak sebuah pegas di sana atau di sini”.” Liok Siau-hong menduga-duga, tampak sebuah renungan yang dalam di matanya. Ia menarik nafas. “Apa sebenarnya penyebabnya? Tidak ada yang tahu, mungkin hanya Thian yang tahu.”
“Hanya Thian yang tahu?”
Liok Siau-hong mengangguk.
“Kau tahu kenapa pelaku kejahatan selalu gagal di saat-saat terakhir?” Ia bertanya.
“Tak tahu.”
“Karena Thian telah menyiapkan sebuah pukulan terakhir yang ampuh untuk mereka, maka tidak perduli betapa cerdiknya rencana mereka, mereka akan selalu gagal.”
“Jadi gerakan terakhir ini bukan darimu, tapi keinginan Thian?”
“Benar.”
Hoa Ban-lau tertawa.
“Mengapa kau tertawa? Kau tidak percaya padaku?”
“Kau kira aku akan mempercayaimu?” Hoa Ban-lau bertanya, masih sambil tertawa.
Liok Siau-hong menarik nafas dan menjawab dengan sebuah senyuman pedih.
“Kenapa bila aku mengatakan hal yang sebenarnya, tidak ada orang yang percaya padaku?”
Epilog
Pintu yang menuju tangga batu itu telah dibuka, Cu Ting yang membukanya. Jika seseorang bisa membuat sebuah pintu seperti itu, tentu akan ada orang yang bisa membukanya.
Banyak kejadian seperti itu di dunia. Itulah sebabnya jika kau bisa membuat sebuah tameng yang tak dapat ditembus oleh tombak mana pun, lalu orang lain tentu akan membuat sebuah tombak yang bisa menembus tamengmu. Tak ada sesuatu yang “mutlak” di dunia ini.
Liok Siau-hong duduk di tangga, sambil memandang Ho Siu yang berada di dalam kandang. Tiba-tiba ia mendapat perasaan bahwa kandang itu sedikit mirip dengan sebuah sel penjara.
--- Bila seseorang berbuat salah, ia harus menanggung akibatnya. Liok Siau-hong menarik nafas. Ia merasa cukup puas dengan akhir semua ini. Maka bagaimanakah akhir dari semua kejadian ini?
Lopan sedang sibuk menggunakan sebuah segitiga kayu untuk mengukur ketinggian gua itu. Lopannio berada di sampingnya, sedang memandanginya. Ia tahu bahwa suaminya sedang mendapat sebuah ide baru yang brilian, tapi ia tidak bertanya. Ia tahu bahwa tidak seorang pun laki-laki di dunia ini suka direcoki oleh seorang perempuan yang cerewet saat ia sedang berfikir.
“Apakah orang itu hendak pergi?” Tiba-tiba Cu Ting bertanya padanya.
“Mmhmm!”
“Dan kau tidak mengantarnya?”
“Jika kau mau mengantarnya, maka aku akan ikut.”
“Tampaknya dia tidak ingin aku yang mengantarnya pergi.” Cu Ting berkata dengan dingin.
“Dan kau pun tidak ingin mengantarnya, kan?”
Cu Ting mengakuinya.
“Tapi jika dia membutuhkan bantuanmu, dengan mengirimkan utusan yang membawa sebuah pesan ke sini, kau pun akan segera membantu.”
“Itu hanya karena aku tahu jika aku membutuhkan bantuannya, dia pun akan datang juga.”
“Tapi walaupun demikian, tidak ada saling tegur-sapa atau bicara satu sama lain di antara kalian.”
“Datang atau tidak adalah satu persoalan, bicara atau tidak adalah persoalan lain yang sangat berbeda.”
“Mungkin tidak ada lagi pasangan sahabat seperti kalian berdua di dunia ini.” Lopannio menarik nafas.
Cu Ting meletakkan segitiga kayu yang ia pegang dan menatap isterinya.
“Aku memutuskan untuk tinggal di sini.”
“Aku tahu.”
“Bisakah kau tinggal di sebuah tempat seperti ini?”
“Asal kau bisa, aku pun bisa.”
“Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau tidak mau tinggal di sini.”
“Kau ingin mengusirku pergi supaya setan kecil itu bisa menemanimu?” Lopannio menatapnya dengan sengit.
“Sejak kapan kau jadi pencemburu?” Cu Ting bergurau.
“Sekarang.”
“Sekarang?”
“Apa yang dikatakan setan kecil itu padamu?”
“Sebuah rahasia, tentunya.” Cu Ting tersenyum.
“Rahasia apa?” Lopannio kembali menatapnya dengan sengit.
“Akan kuceritakan padamu nanti, tapi sekarang……” Cu Ting menjawab dengan santai. “Sekarang kau boleh pergi dan mengucapkan selamat jalan padanya.”
“Aku tidak mau.”
“Kenapa tidak?”
Lopannio menggigit bibirnya. “Sejak hari ini, aku tidak akan melepaskan pandanganku darimu, tak perduli apa. Karena……”
“Karena apa?”
Lopannio menatapnya, matanya yang indah penuh dengan perasaan cinta.
“Karena baru sekarang aku sadar betapa hebatnya dirimu, aku takut kalau orang lain mencurimu dariku.” Ia berkata dengan lembut.
***
Liok Siau-hong memandang mereka dari kejauhan, dan tiba-tiba menarik nafas.
“Tampaknya masalah mereka telah berakhir.”
“Memangnya apa masalah mereka?” Hoa Ban-lau bertanya.
“Selama beberapa tahun terakhir ini Lopannio tampaknya agak kecewa dengan Lopan, dulu aku khawatir hubungan mereka akan merenggang.”
“Apakah Lopannio merasa Lopan terlalu pemalas?”
“Tapi sekarang dia tentu telah tahu betapa jenius suaminya.” Liok Siau-hong tersenyum.
“Jika bukan karena dia, kita semua mungkin telah mati di sini.” Hoa Ban-lau setuju.
Setiap wanita tentu berharap bahwa ia bisa membanggakan suaminya.
Liok Siau-hong kembali menarik nafas.
“Aku tidak terlalu merisaukan hal itu, tapi kelaparan adalah soal lain.”
Ia memandang ke kandang Ho Siu. Tapi mata Ho Siu tampak melotot saat menatap Siangkoan Soat-ji yang berada di luar kandang.
Soat-ji memegang sebotol saus dan dua biskuit, mengucapkan sesuatu pada Ho Siu yang terdengar seperti suara ocehan dari kejauhan bagi Liok Siau-hong.
Ho Siu begitu marahnya sekarang sehingga urat-urat di lehernya tampak menonjol keluar. Tiba-tiba ia melompat bangkit dan menyerbu ke pinggir kandang, berusaha memukul patah jeruji besi itu. Tentu saja ia gagal. Ia membuat kandang itu secara khusus sehingga tidak ada orang yang bisa merusaknya.
Soat-ji berdiri di luar kandang, menatapnya dengan dingin. Ia seperti hendak berjalan pergi ketika Ho Siu tiba-tiba memanggilnya kembali. Mereka berdua lalu berbincang-bincang lagi. Ho Siu mengeluarkan suara nafas lelah, menuliskan sesuatu di selembar kertas, dan menyerahkannya pada Soat-ji untuk ditukarkan dengan saus dan biskuit itu. Lalu ia segera duduk di lantai dan makan dengan lahap.
“Ia masih lebih suka mati daripada memberitahu kita di mana uang itu berada?” Hoa Ban-lau tiba-tiba bertanya.
“Ia tidak takut mati.”
“Karena dia benar-benar yakin bahwa kemiskinan itu lebih buruk daripada kematian?” Hoa Ban-lau tertawa dengan geram.
“Tapi mungkin dia baru saja menemukan sesuatu yang lebih menakutkan daripada kemiskinan.” Liok Siau-hong balas tertawa.
“Kelaparan?”
Liok Siau-hong belum menjawab ketika Soat-ji kelihatan datang mendekat sambil melompat-lompat kegirangan, matanya tampak bersinar-sinar.
“Aku baru saja menjual sebotol saus dan dua biskuit padanya,” ia tertawa. “Bisakah kalian tebak dengan harga berapa aku menjualnya?”
Mereka tak bisa.
“Lima puluh ribu tael, tak kurang sedikit pun!” Soat-ji dengan bangga melambai-lambaikan lembaran ginbio yang ada di tangannya. “Aku bisa membawa cek ini, yang ditulis olehnya, ke bank mana pun yang aku inginkan, kapan pun aku mau, dan menukarnya dengan uang tunai.”
Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak tertawa.
“Hatimu memang hitam, tahu?”
“Aku ragu kau bisa menemukan saus yang lebih mahal lagi di dunia ini.” Hoa Ban-lau bergurau.
“Itulah sebabnya rubah tua itu hampir jadi gila karena marah, tapi dia terpaksa setuju.” Soat-ji menerangkan.
“Kelaparan adalah sesuatu yang menakutkan.”
“Kau berencana untuk mendapatkan semua uangnya dengan cara seperti ini?” Liok Siau-hong bertanya.
“Uang itu memang milik keluarga kami, jangan lupa kalau margaku juga Siangkoan.”
“Walaupun kau berhasil mencuri 50 ribu tael perak darinya setiap hari, kau tidak akan bisa membuatnya bangkrut selama paling sedikit setahun atau dua tahun.” Liok Siau-hong tertawa.
“Maka aku akan tinggal di sini dan mencuri selama 3 tahun, atau berapa pun lamanya. Di samping itu, aku pun punya teman.”
“Lopan telah memutuskan untuk tinggal di sini?”
Soat-ji mengangguk, sebuah senyum yang misterius pun muncul di wajahnya. “Ia memberitahu isterinya bahwa ia ingin tinggal di sini untuk menciptakan beberapa buah benda yang benar-benar luar biasa. Tapi hanya aku yang benar-benar tahu kenapa ia memutuskan untuk tinggal di sini.”
“Dan apakah penyebabnya?”
“Itu rahasia.” Soat-ji mengedip-ngedipkan matanya, senyuman di wajahnya tampak makin misterius.
“Apa rahasianya?”
“Jika ini adalah rahasia, lalu kenapa harus kuberitahukan padamu?”
Liok Siau-hong menatap wajahnya beberapa lama sebelum akhirnya tersenyum. “Aku tidak tertarik pada rahasiamu itu, tapi aku agak khawatir.”
“Mengkhawatirkan apa?”
“Bila kau menukar ginbio ini dengan uang tunai, tidakkah orang-orang akan bertanya dari mana kau mendapatkannya?”
“Tentu saja tidak ada yang bertanya.”
“Oh?”
“Jangan lupakan betapa aneh dan misteriusnya rubah tua ini, bahkan bawahannya yang paling dipercaya pun tidak tahu di mana dia berada, dia selalu melakukan sesuatu dengan cara yang misterius.”
“Tampaknya akal liciknya sendiri telah menggigitnya kembali.” Liok Siau-hong menarik nafas.
“Tentu saja,” Soat-ji tertawa. “Jika bukan karena dia sendiri, tidak mungkin aku bisa menguras uang itu darinya dengan cara semudah ini.”
Nasib manusia tidak lebih daripada hasil ciptaannya sendiri, itulah sebabnya orang yang paling tulus dan jujur selalu mendapatkan keberuntungan.
Masih sambil tersenyum, Liok Siau-hong bangkit berdiri dengan lambat. “Kau boleh tinggal di sini dan mendapatkan semua uang yang bisa kau dapatkan darinya. Sementara itu, bisakah kau dapatkan beberapa kendi arak darinya untukku?”
“Kau…… kau akan pergi sekarang juga?” Soat-ji menatapnya.
“Jika aku tinggal di tempat seperti ini, aku akan terkejut jika aku tidak mati karena bosan sebelum tiga hari berlalu.” Liok Siau-hong tertawa.
“Kau tidak ingin bertanya padaku tentang rahasiaku?”
“Tidak.”
Biji mata Soat-ji tampak berputar-putar. Tiba-tiba dia tersenyum. “Sebenarnya, memberitahumu juga tidak apa-apa, kau akan mengetahuinya cepat atau lambat.”
Liok Siau-hong tampaknya tidak keberatan.
“Sebabnya dia mau tinggal di sini adalah karena dia jatuh cinta padaku dan aku juga jatuh cinta padanya.”
Liok Siau-hong tertawa.
“Aku tahu kau tidak akan percaya,” Soat-ji meneruskan dengan santai. “Tapi bila aku nanti menikah dengannya, maka kau terpaksa harus mempercayainya.”
“Kau akan menikah dengannya?” Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak bertanya. “Lalu bagaimana dengan Lopannio?”
“Kenapa seorang Lopan hanya boleh punya seorang Lopannio?” Soat-ji bertanya. “Jika kau bisa memiliki empat alis, kenapa Lopan tidak bisa mempunyai 2 orang Lopannio?”
***
Lereng gunung itu telah berada di bawah sinar matahari terbenam, Liok Siau-hong berjalan menelusuri lereng itu. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah berjalan beberapa lama, tiba-tiba ia memecahkan kesunyian itu.
“Setan kecil itu tentu sedang berdusta lagi.”
“Mmhmm!” Hoa Ban-lau setuju.
“Lopan tidak gila, kenapa ia mau mengambil setan kecil seperti dia menjadi Lopannio?”
“Tentu saja ia tidak akan mau.”
Liok Siau-hong berjalan dalam diam untuk beberapa lama.
“Tapi Lopan adalah seorang telur busuk, kadang-kadang ia bisa berbuat gila.” Tiba-tiba dia bicara lagi.
“Dan isteri kecil Lopan itu juga seorang setan kecil.”
“Maka sebaiknya kau segera kembali dan berusaha membujuk telur busuk itu untuk mengenyahkan ide gila itu dari fikirannya.”
“Mengapa bukan kau yang pergi sendiri?”
“Kau kan tahu kalau dia dan aku sudah lama tidak bicara satu sama lain.”
“Jika urusan ini tidak benar, lalu bukankah Lopan akan menganggap kita berdua sebagai ‘kulit kacang’?”
{Catatan: kulit kacang adalah idiom untuk menyebut orang yang bodoh.}
“Memangnya kenapa kalau menjadi ‘kulit kacang’ sekali-sekali?”
“Kelihatannya siapa pun yang menjadi temanmu tak bisa tidak harus mengobati penyakitmu dan akhirnya menjadi sedikit gila juga.” Hoa Ban-lau menarik nafas.
Dan ia terpaksa pergi juga.
Liok Siau-hong, seperti orang tolol, duduk di pinggir jalan dan menunggu. Untunglah jalan ini sangat terpencil, selain dari seorang nenek tua yang sedang memetik buah liar, tidak ada lagi orang yang lewat. Ia tidak menunggu terlalu lama ketika Hoa Ban-lau akhirnya kembali.
“Bagaimana?” Liok Siau-hong segera bertanya.
“Kau tolol, dan aku juga.” Hoa Ban-lau memasang mimik muka serius.
“Jadi semua itu tidak benar?”
“Mereka punya sebuah rahasia, Cu Ting mengangkat Soat-ji sebagai puterinya.”
Liok Siau-hong tertegun mendengar berita itu.
“Kau tahu kalau setan kecil itu sedang berdusta, dan kau masih mau percaya, kenapa?” Hoa Ban-lau menarik nafas dan tertawa pedih.
Liok Siau-hong menarik nafas dan ikut tertawa pedih. “Karena aku bukan hanya seorang telur busuk, aku pun seorang keledai dungu.”
Saat ia mengangkat kepalanya, kebetulan terlihat Soat-ji sedang mengejar mereka dari belakang.
“Apakah kalian melihat ada orang yang lewat beberapa saat yang lalu?” Ia bertanya sambil berusaha mengambil nafas.
“Hanya seorang nenek pemetik buah.” Liok Siau-hong menjawab.
Soat-ji hampir melompat saat mendengar ucapan itu.
“Nenek itu tentu kakakku.”
“Kakakmu? Siangkoan Hui-yan?”
Soat-ji mengangguk, matanya tampak bersinar-sinar. “Baru sekarang aku tahu kalau dia belum mati, dia sangat pintar memalsukan kematiannya. Sesudah kalian pergi tadi, aku turun ke……”
Liok Siau-hong tidak menunggu ucapannya selesai sebelum membalikkan tubuhnya dan pergi. Bukan hanya pergi, tapi dia juga menarik tangan Hoa Ban-lau.
“Aku tidak perduli apa yang kau katakan kali ini, aku tidak mau terperdaya lagi! Aku bahkan tidak mau mendengarkan ucapanmu lagi.” Tampaknya dia telah mengambil keputusan kali ini, dia pergi dengan tergesa-gesa.
Soat-ji memandangi kepergian mereka, ia seolah-olah terhipnotis, baru kemudian ia akhirnya menarik nafas dengan lembut.
“Kenapa bila aku mengatakan hal yang sebenarnya, tidak ada orang yang percaya padaku……” Ia bergumam pada dirinya sendiri.
TAMAT