Bagian 1
Majapahit, abad ke empat belas.
Setelah Sang Prabu Kertarajasa mangkat pada tahun 1309, putera mahkota, Raden Kalagement naik tahta Kerajaan Majapahit menggantikan kedudukan ayahnya, dan bergelar Sang Parbu Jayanagara.
Akan tetapi, raja muda ini banyak menimbulkan perasaan kecewa dan tidak senang di kalangan para panglima tua, yaitu panglima-panglima mendiang Prabu Kertarajasa. Banyak hal yan tidak mereka setujui berhubung dengan penobatan itu. Pertama menurut faham mereka, Raden Kalagement masih terlampau muda untuk memikul tugas menjadi raja di Kerajaan Majapahit yang demikian besar dan jaya dan mereka menyangsikan apakah pemuda yang baru berusia lima belas tahun ini akan dapat memberi pimpinan yang bijaksana seperti mendiang ayahnya. Kedua, mereka berpendapat bahwa sungguhpun Raden Kalagemet merupakan putera tunggal karena keturunan yang lain adalah putri-puteri belaka, namun ibu dari putera mahkota ini adalah seorang puteri dari Malayu yang bernama Dara Petak atau Sri Indreswari. Hal ini amat mengecewakan hati para panglima karena menurut pendapat mereka, yang berhak menjadi raja di Majapahit harus seorang keturunan Majapahit aseli. Adapun hal ketiga yang amat mendatangkan rasa tidak puas dan tidak senang kepada mereka adalah bahwa di dalam pemerintahan Jayanagara ini terdapat seorang Kepala Agama Syiwa yang sangat besar kekuasaannya. Kepala Agama Syiwa ini bernama Bagawan Mahapati yang amat sakti mandraguna, cerdik pandai lagi kebal terhadap segala macam senjata. Bagawan Mahapati tidak disukai oleh para panglima yang telah banyak membantu Raden Wijaya atau Prabu Kertarajasa dalam membangun keraton Majapahit. Menurut anggapan mereka, Bagawan Mahapati ini adalah seorang pendeta yang mabok akan kemewahan hidup dan kedudukan tinggi, bahkan mereka menaruh hati syakwasangka bahwa bukan tak mungkin pendeta itu telah mempergunakan aji kesaktiannya untuk memasang guna-guna sehingga Prabu Jayanagara yang masih
muda itu berada di bawah pengaruhnya. Telah banyak panglima-panglima tua yang mengajukan usul dan nasihat kepada Prabu Jayanagara agar supaya mereka itu dienyahkan dari kerajaan. Akan tetapi, segala nasihat ini tidak dihiraukan oleh Sang Parbu yang masih muda belia itu, terutama sekali oleh karena ibunya juga berfihak dan membela Bagawan Mahapati. Tiga hal diatas itu merupakan sebagian daripada sebab-sebab sehingga tak lama sejak Sang Prabu Jayanagara naik tahta, timbulah pemberontakan-pemberontakan yang dipimpin oleh para panglima ayahnya dahulu, di antaranya: RanggaLawe, Sora dan Nambi.
RanggaLawe adalah seorang panglima gagah perkasa yang menjadi bupati di Tuban. Dahulu, panglima ini pernah di janjikan angkat patih oleh mendiangPrabu Kertarajasa, akan tetapi janji ini tak pernah dipenuhi. Juga Prabu Jayanagara yang diam-diam mendapat bujukan dan bisikan dari Bagawan Mahapati, tidak mau memenuhi janji mendiang ayahnya itu. Maka berontaklah Rangga Lawe. Akan tetapi, masih banyak panglima-panglima gagah perkasa yang membela Prabu Jayanagara, terutama berkat kesaktian Bagawan Mahapati,maka gagallah pemberontakan Rangga Lawe itu. Ia tewas oleh panglima tua Kebo Anabrang. Panglima sora menjadi marah sekali mendengar tentang tewasnya Rangga Lawe dalam tangan Kebo Anabrang karena sesungguhnya mereka semua itu adalah kawan-kawan seperjuangan ketika masih membela Prabu Kertarajasa dahulu. Sora mencari Kebo Anabrang sebagai pembalasan dendam atas kematian Rangga Lawe. Setelah itu, maka berontaklah pula Panglima Sora yang pada waktu itu menjabat patih di Daha. Akan tetapi, ternyata Prabu Jayanagara masih dibela oleh orang-orang pandai sehingga pemberontakan inipun gagal, Patih Sora dapat dibinasakan.Setelah itu, pemberontakanpemberontakan susul-menyusul, diantaranya pemberontakan Juru Demung dalam tahun 1313 dan Gajah Biru dalam tahun 1314. Namun, semua pemberontakan itu dapat dipadamkan.
Yang paling hebat adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Raden Nambi, putera dari Aria Wiraraja, karena sebetulnya diantara semua pemberontakan yang timbul, pemberontakan inilah yang amat menyusahkan hati Sang Prabu Jayanagara .Hubungannya dengan Aria Wiraraja dan Raden Nambi tadinya amat baiknya dan mereka ini telah dianggap sebagai keluarga dekat. Aria Wiraraja adaah seorang panglima yang amat setia dan paling besar jasanya terhadap mendiang Prabu Kertarajasa,dan jasanya dalam membangun Majapahit amatlah besarnya. Oleh karena itu mendiang Parabu Kertarajasa membalas jasa Aria Wirarajadengan mengangkatnya menjadi perdana menteri dan menjadikannya wakil raja di Lumajang, sedangkan puteranya Raden Nambi, diangkat menjadi patih di Majapahit.
Semenjak terjadi peberontakan-pemberontakan dan tewasnya Rangga Lawe dan lain-lain panglima tua. Aria Wiraraja merasa tak senang sekali dan ia tidak pernah datang berkujung menghadap kepada raja di Majapahit, dan pada masa itu, "mogok sowan" ini dilakukan untuk menyatakan bahwa ia tidak setuju dengan pemerintahan Prabu Jayanagara. Raden Nambi yang menjadi patih di Majapahit, juga diam-diam meninggalkan ibukota dan tinggal di Lumajang bersama-sama ayahnya. Tentu saja hal ini amat mengecewakan dan menyedihkan hati Prabu Jayanagara. Beberapa kali Bagawan Mahapati dan lain-lain panglima membujuk kepada raja untuk menggempur Lumajang, akan tetapi, Sang Prabu masih merasa segan dan malu hati untuk memerangi Aria Wiraraja, orang tua yang telah banyak berjasa itu. Akhirnya setelah Aria Wiraraja meninggal dunia, barulah tentara Majapahit dikerahkan dan di bawah pimpinan raja sendiri, Lumajang digempur.Raden Nambi dan anak buahnya melakukan perlawanan mati-matian sehingga korban di kedua fihak jatuh bertumpuk-tumpuk. Betapapun juga, fihak Majapahit lebih kuat dan lebih banyak, terutama berkat kesaktian Bagawan Mahapati, akhirnya Raden Nambi beserta seluruh keluarganya dibinasakan. Dan di dalam geger peperangan di Lumajang itulah maka cerita ini dimulai.
Di antara banyak panglima di Lumajang yang gugur dalam peperangan menghadapi serbuan tentara Majapahit, terdapat seorang senopati muda yang gagah perkasa bernama Nagawisena. Senopati ini adalah seorang muda yang menjadi sahabat baik Raden Nambi dan tadinya juga tinggal di ibukota dan ikut pergi dengan Raden Nambi dari kotaraja untuk menyatakan tidak senangnya terhadap pemerintahan terhadap Jayanagara.
Isteri Nagawisesa adalah seorang cantik jelita yang berkulit kekuning-kuningan dan bernama Dara Lasmi, yang sesungguhnya adalah seorang wanita dari Malayu. Ketika dahulu kedua puteri dari Malayu, Dara Petak dan Dara Jingga yang menjadi isteri-isteri dari Prabu Kertarajasa, datang di Majapahit, Lasmi menjadi seorang di antara pelayan-pelayan kedua puteri itu, dan masih kanakkanak. Berkat ketangkasan dan jasa Nagawisena, maka akhirnya ia jutuh cinta kepada Lasmi, mendapat kurnia raja dan dinikahkan dengan Lasmi. Dalam pernikahan ini, mereka mendapatkan seorang puteri yang diberi nama Ratnawulan.
Ketika Nagawisena gugur dalam perang melawan tentara Majapahit, Dara Lasmi membawa anaknya lari dari Lumajang. Sambil menahan tangisnya karena kehancuran hatinya mendengar betapa suaminya yang tercinta itu gugur dalam peperangan dan ia tidak mempunyai kesempatan untuk menengok jenazah suaminya, Dara Lasmi menarik tangan puterinya yang baru berusia sepuluh tahun ini, berlari-lari keluar dari gerbang kota Lumajang sebelah barat.
Sebagaimana sudah lajim terjadi dalam sebuah keributan, terutama keributan yang ditimbulkan oleh perang, banyak hal-hal yang tak patut terjadi dan dilakukan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Demikianpun dalam petempuran di Lumajang ini, banyak anak buah dari bala tentara Majapahit melakukan penyelewengan-penyelewengan merampok harta benda penduduk Lumajang, dan bini orang yang masih muda dan cantik. Oleh karena itu, usaha Dara Lasmi untuk melarikan diri keluar dari kota bukanlah hal yang mudah. Baru saja keluar dari rumahnya, ia telah bertemu dengan dua orang tentara Majapahit yang segera menyerbunya ketika melihat wanita muda yang cantik jelita ini berlari dengan anaknya.
Dara Lasmi berdiri dengan mata terbelalak lebar ketika melihat dua orang tentara musuh itu maju mendekatkan. Ia mendekap anaknya yang menangis ketakutan, lalu menghadapi kedua tentara Majapahit itu sambil berkata.
"Jangan kalian menggangguku, aku adalah isteri dari Senopati Nagawisena!"
Ia hendak mempergunakan nama suaminya yang cukup terkenal untuk membikin takut kedua orang
itu.
Akan tetapi mereka bahkan tertawa geli mendengar Dara Lasmi menyebut nama ini. Seorang di antara mereka, yang bermuka bopeng karena dimakan penyakit cacar berkata.
"Ha,ha, ha, jadi kau puteri dari Malayu? Kebetulan sekali, sudah lama aku mengilar dan merindukan seorang puteri Malayu!" Ia melangkah maju dengan kedua tangan dibentangkan, siap untuk menubruk.
"Mundur!" teriak Dara Lasmi." Apakah kau tidak takut kepada Senopati Nagawisena? Akan dihancurkan kepalamu kalau ia mendengar tentang ke kurang ajaranmu!"
Tentara yang seorang lagi, yang bermuka hitam,tertawa mengejek.
"Ha,ha! Jangan kau menakut-nakuti kami, manis! Suamimu, pemberontak Nagawisena itu,telah mempus dimedanyuda!" Kemudian ia berkata kepada kawannya yang bermuka bopeng.
"Bandu, biarlah kau mendapkan puteri Malayu yang denok ayu ini, dan perawan kecil yang molek mungil itu bagianku. Aku cukup sabar menanti baranglimatahun lagi, tentu ia akan menjadi bunga yang lebih harum dan segar daripada ibunya.Ha, ha,ha,!"
Selagi kedua orang itu tertawa-tawa dengan lagak menjemukan, marahlah Dara Lasmi. Ucapanucapan yang amat menghina itu membuat mukanya yang cantik menjadi merah padam dan kemarahannya tak dapat ditahan lagi. Ia lalu membawa Diah Ratnawulan ke tepi jalan, kemudian ia mencabut keris yang terselip di ikat pinggangnya. Gerakannya cepat dan trengginas sekali. Memang nasib kedua orang tentara Majapahit itu yang sial. Mereka tidak tahu siapakah adanya wanita cantik yang mereka ganggu. Dara Lasmi bukanlah wanita sembarangan dan dahulu, ketikaia masih tinggal bersama dengan orang tuanya di tanah Malayu, ia telah mendapat latihan pencak silat dari ayahnya, seorang pendekar yang cukup terkenal. Setelah menjadi isteri Nagawisena, Dara Lasmi bahkan memperdalam ilmu silatnya. Suaminya sendiri, Nagawisena, banyak mendapat kemajuan dalam ilmu berkelahinya dari isterinya ini.
Kedua orang tentara Majapahit itu makin keras suaranya ketika melihat Dara Lasmi mencabut keris. Apakah daya seorang wanita lemah lembut dan secantik itu? Sebagai dua orang perajurit yang kenyang akan pengalaman pertempuran tentu saja sikap Dara Lasmi tidak menakutkan hati mereka bahkan menggelikan. Mereka salingpadang, kemudian si muka bopeng berkata.
"Lihat calon kekasihku ini! Gagah sekali bukan? Biar kutangkap dia!" Sambil berkata demikian, si muka bopeng itu menubruk maju sambil mengembangkan kedua lengannya, bagaikan seekor harimau menubruk kambing.
Akan tetapi, dengan padangan matanya yang tajam. Dara Lasmi berlaku waspada dan cepat sekali ia melangkah kesamping, mengelak dari terkaman laki-laki buas itu. Begitu tubuh laki-laki itu menyambar lewat, secepat kilat kerisnya menyambar kearah lambung. Perajurit itu terkejut sekali dan cepat memiringkan tubuhnya ke samping untuk menghindarkan diri dari tusukan maut ini, akan tetapi ia kalah cepat dan kulitnya masih tergores keris sehingga mengucurlah darah dari lambungnya!
Barulah terbuka mata kedua orang perajurit itu! Rasa sakit karena kulit lambungnya pecah membuat si muka bopeng menjadi marah sekali dan sekaligus kegairahan hatinya memiliki puteri jelita itu berubah menjadi nafsu untuk membunuh! Ia mencabut klewangnya yang tergantung di pinggang.
"Kau ingin mampus!" serunya dan klewangnya menyambar kearah leher Dara Lasmi!
Akan tetapi, pada saat itu, DaraLasmi telah berubah menjadi seorang pendekar wanita. Setiap otot dan urat di dalam tubuhnya menegang, sepasang matanya yang indah bening itu memancarkan cahaya berapi, hawa yang keluar dari pernapasan panas! Ketika Klewang ditangan lawannya menyabar kearah
leher tanpa berkedip sedikitpun DaraLasmi mengelak cepat, bukan untuk menjauhi lawan, akan tetapi bahkan ia menyelinap di bawah sambaran klewang itu dan kaki kanannya melangkah masuk di barengi dengan luncuran kerisnya yang cepat sekali gerakannya, maka."cepp!" keris itu menancap perut lawannya sampai ke gagangnya! Sebagai seorang ahli silat yang mahir, Dara Lasmi secepat itu pula mencabut kerisnya,dibarengi dengan gerakan tangan kiri mendorong ke depan dan tubuhnya cepat membalik kebelakang menjauhi lawan.
Untuk beberapa saat tubuh si muka bopeng seperti kejang dan kaku, klewangnya terlepas dari tangan, matanya memandang terbelalak ke depan. Kemudian ia memekik ngeri, kedua tangannya mendekap perut yang mengucurkan banyak darah dan tubuhnya mulai bergoyang-goyang kekanan kiri, kedua kakinya limbung terhuyung-huyung dan akhirnya ia roboh bagaikan pohon pisang di tumbangkan orang!
Si muka hitam semenjak tadi berdiri kesima dan bengong, hampir tak percaya akan kejadian yang disaksikannya. Setelah melihat kawannya roboh tak berkutik lagi, barulah ia sadar bahwa ia bukan sedang mimpi. Dipegangnya tombak di tangan. Sebenarnya ia telah merasa ngeri dan seram menghadapi seorang puteri yang luar biasa ini, akan tetapi ia bermaksud untuk merobohkan puteri itu dengan sekali tusukan tombaknya.
Dara Lasmi berlaku tenang sekali. Ketika tombak yang ditujukan kearah dadanya itu meluncur dengan kencangnya, ia hanya menggeser kakinya dan memiringkan tubuhnya sehingga tombak yang ditusukkan itu meluncur lewat di samping tubuhnya, kemudian sebelum lawannya sempat menarik kembali tombak itu, tangan kirinya cepat menangkap batang tombak dan kakinya melangkah maju dengan keris di tangan kanan yang masih berlumuran darah itu siap ditusukkan.
Akan tetapi, si muka hitam itu ternyata berhati pengecut dan tiba-tiba ia melepaskan tombaknya lalu membalikkan tubuh dan lari tunggang langgang! Dara Lasmi melepaskan tombak itu dan memandang dengan dada masih berombak karena marah, melihat orang yang berlari cepat dan hanya nampak kedua telapak kaki orang itu yang seakan-akan menendangi pantatnya sendiri!
Diah Ratnawulan berlari memeluk ibunya. Barulah Dara Lasmi lenyap marahnya dan ia mengucap syukur kepada Gusti yang Maha Agung bahwa yang menyerangnya hanya dua orang. Kalau yang menyerangnya berjumlah banyak, sungguhpun ia akan dapat melindungi diri sendiri, akan tetapi belum tentu ia akan dapat melindungi anaknya. Pikiran ini membuat ia cepat memasuki rumahnya kembali dan ketika tak lama kemudian ia keluar, ia telah berubah menjadi seorang wanita yang berpakaian compang camping dan mukanya penuh dengan Lumpur dan arang, menutupi kecantikannya. Demikianlah, wanita yang bernasibmalangini,lalu pergi keluar dari pintu gerbang sebelah barat. Untung baginya bahwa di situsunyi karena peperangan berlangsung disebelah utarakotadan ia dapat keluar dari Lumajang dengan selamat. Dengan tindakan cepat ia mengandeng anaknya berlari terus kebarat.
Diah Ratnawulan biarpun baru berusia sepuluh tahun, akan tetapi ia memiliki kekerasan hati seperti ibunya. Biarpun ia telah merasa betapa kedua kakinya lelah dan sakit sekali, ia menguatkan hati dan menggigit bibirnya,terus berjalan setengah berlari di samping ibunya.
Baru setelah mereka berjalan lama dan jauh meninggalkan kota sehingga suara pekik sorak orang-orang
yang bertempur tak kedengaran lagi, Ratnawulan mengeluh dan berkata perlahan.
"Ibu. apakah kita tidak mengaso dulu.?"
Dara Lasmi berhenti dan mnunduk memandang kearah kedua kaki puterinya. Hatinya terasa perih sepertitertusuk pisauketika melihat betapa kedua kaki anaknya itu bengkak-bengkak dan pinggirnyatelah pecah-pecah. Dua titik air mata menetes turun dna ia cepat merangkulanaknya. "Manis, kita belum boleh mengaso dulu.?"
Dara Lasmi berhenti dan menunduk, memandang ke arah kedua kaki puterinya. Hatinya terasa perih seperti tertusuk pisau ketika melihat betapa kedua kaki anaknya itu bengkak-bengkak dan pinggirnya telah pecah-pecah. Dua titik air mata menetes turun dan ia cepat merangkul anaknya.
"Manis ,kita belum boleh mengaso, belum cukup jauh dari Lumajang. Marilah kau kugendong, nak!"
Setelah berkata demikian, Dara Lasmi lalu menggendong anaknya dan terus berlari lagi, lurus kearah barat di mana nampak menjulang tinggi Gunung Mahameru. Sebagai seorang isteri senopati yang dapat disebut bangsawan juga, ia jarang sekali melakukan perjalanan keluar rumah dari rumah, apalagi melakukan perjalanan sejauh itu, belum pernah ia lakukan.Maka tentu saja telapak kakinya menjadi lemah dan kulit telapak kakinya yang halus lemas bagaikan sutera. Kini, melakukan perjalanan jauh melalui tanah berbatu dan menerjang tetumbuhan berduri, kedua kakinya telah luka-luka dan telapak kakinya bahkan telah bengkak dan pecah-pecah. Akan tetapi, ia menguatkan diridan sambil menggendong anaknya yang telah kepayahan, ia berlari terus memasuki hutan dikaki Gunung Mahameru itu. Haripun mulai menjadi gelap karena senjakala mendatang.
Setelah tiba di dalam hutan yang sunyi, barulah ia berhenti mengaso di dekat sebatang anak sungai yang amat jernih airnya. Ia menurunkan Diah Ratnawulan yang segera duduk di atas rumput dan menggosok-gosok kakinya yang amat sakit. Anak itu mulai menangis perlahan-lahan sambil mengeluh.
"Sakitkah kakimu,Wulan?" Tanya ibunya dengan suara penuh iba.
Ratnawulan hanya mengangguk dan ibunya lalu memeriksa kaki anaknya yang pecah-pecah kulit telapaknya itu. Ia lalu menggendong anknya kedalam anak sungai dan mencuci kaki anak itu.Ratnawulan menjerit kesakitan karena luka-luka di telapak kaki itu ketika terkena air yang dingin terasa sakit dan perih sekali.
"Biarlah sakit sedikit, Wulan. Luka-luka ini harus dicucui,kalau tidak, akan menjadi bengkak dan menghebat."
Setelah telapak kaki Ratnawulan dicuci bersih, Dara Lasmi lalu memotong ujung kembennya (kain pengikat pinggang) dengan keris, dan dibalutnyalah kedua kakianaknya itu.
Setelah itu, barulah ia mencuci dan membalut keduakakinya sendiri dan kedua orang yang bernasibmalangini lalumengaso di bawah sebatang pohon ketapang. Rasa sakit pada kakinya mengurang dan hal ini membuat Ratnawulan dapat merasai rasa lapar yang menyerang perutnya. Beberapakali ia memandang ibunya yang duduk melamun seperti kehilangan semangatitu,akan tetapi ia tidak membukamulut.Iamaklumbahwa semenjakpagi tadiibunya pun belum makan danmaklum pula bahwa ibunya tidak membawa makanan apa-apa, maka ia tidak berani menyatakan bahwa perutnya lapar.
"Ibu," akhirnya suara anak itu memecah kesunyian.
Ibunya memandang dan seakan-akan baru sadar dari mimpi,karena ia lalu mendekati anaknya dan merangkulnya.Kepala anaknya diraih dan didekapdi atas pangkuannya dan kembali air mata mulai membasahi bulu matanya.
"Adaapakah, Wulan? Masih sakitkah kakimu?" Ia menekan perasaannya agar supaya anaknya jangansampai mendengar suaranya yang mengandung isak. Ratnawulan menggeleng diatas pangkuan
ibunya, akan tetapianak ini tak dapat menahan lagi dan mulai menangis tersedu-sedan.Dengan penuh
kasih sayang dankeharuan hati, Dara Lasmi mengelus-elus rambut anaknya yang hitam dan panjangitu,lalu berkata,
"Anakku sayang kau lelah sekali? Biarlah malam inikita mengaso di sini, dan besok kalau kau tidakkuat berjalan, ibuakan menggendongmu."
Ratnawulan menahan isaknya.
"Ibu besok kitaakan pergi kemanakah?"
Kalau saja orang lain yang mengajukanpertanyaan ini, tentu DaraLasmi takkan kuat menahan tangisnya, karenasesungguhnya ia sendiri puntidak tahuke manakah ia harus pergi. Akantetapi ia tidak mau menyusahkan hati anaknya,anak yangmasih kecil dan belum tahu apa-apa ini, maka iamenjawab sambil memaksabibirnya terseyum karena anaknya telah memandang wajahnya.
"Wulan, besok kita pergi mendakibukit itu.Disanaindah sekali pemandangannya, kita selanjutnya tinggal dipuncakgunung,di mana banyak terdapatbinatangyang indah-indah. Aku akan menangkap kijang, kelinci, danpelanduk untukmu. Disanabanyak pula kembang yang cantik dan harum baunya, banyak pula buah-buahan yang lezat rasanya."
Mendengar ibunya menyebut buah, terasa pula lapar didalam perut Ratnawulan.
"Banyak buah-buah, ibu?"
"Ya, na, banyak buah-buahan yang lezat. Pisang,jambu,mangga, jeruk, semua terdapatdi puncakitu.
Maka sekarang tidurlahagar besok pagikita dapat melanjutkan perjalanan."
Hening sejenak.
"Ibu.?"
"Ya, sayang?"
"Betul-betul banyak buah disana,bu?"
"Tentu, nak. Ibu tak pernah membohong, bukan?"
"Dan sekarang.ke manakah kita harus mencari makanan, ibu?"
Dara Lasmi merasaseakan-akanlehernya tercekik dan biarpun ia telah menahannya, namun dua butir air mata tak dapat dicegah lagi, menitik turun dari kedua matanya.
"Wulan, anakku. Kau. kau laparkah.?"
Ratnawaulan mempereratpelukan kedua tangannya ke pinggang ibunya akantetapi ia tidak menjawab.
Dan dalam kesunyian itu, terdengar jawaban dari perut anak itu yang berkeruyuk menyatakan kelaparannya.
Bukan main terharunya hati Dara Lasmi.Iamemeluk anaknyadan menciumi mukanya."Wulan. anakku,sayang. tahankanlah untuk malam ini, anakku.Besok akankucarikan makanan untukmu!" Dan kini iatak dapatmenahan lagi membanjirnya air matanya yang membasahi rambutanaknya.
Ratnawulanjuga menangis lagidan memeluk pinggang ibunyamakin erat.
"Wulan, kau sudah besar, usiamu sudahsepuluh tahun. Kauharus dapat menahan penderitaan inidengangagah, seperti Pendekar Wanita Halimi yang gagah perkasa itu!"
"Ibu, ceritakanlah tentangPendekar Hamili itu."
Keadaan telah gelap benarkarena malamtelah tiba. Kalau keadaan tidak segelap itu tentu Dara Lasmi akanmelanjutkan perjalanan, mencari tempat di mana mungkin terdapat pohon yang berbuah.
Maka ialalu mulaibercerita untuk menghibur anaknya.
"Puteri Hamili dibuang ke dalam hutan belukar olehibutirinya yangkejam, dengan maksud agar supaya PuteriHamili mati kelaparandi dalam hutan yang hanya penuh dengan pohonjati dan randu itu.
Telah tiga hari tiga malam Puteri Hamiliberjalan di dalam hutan tak kuasa mencari jalankeluar, karena hutanitu amat luas dan liar. Selama tiga hari tiga malam, PuteriHamili tidak makan nasi sebutirpun dan tidak minum air barang setetespun. Ia merasa amat lapar."
"Tentuia lapar sekali, ibu, danjuga haus."
"Memang, Wulan,lebih lapardan labih haus daripada kita."
"Ia kuat sekali, ibu."
"Memang, PuteriHamili amat kuat dan gagah perkasa. Pada hari keempat, datanglah seekor srigala jahat dan kejam menjumpainya."
"Srigala itu yang bagaimana, ibu?"
"Srigala adalah anjing hutan, yang jauh lebih kejamdan lebih kotor daripadaanjing, lagi pula ia besardan kuatsertaliar sekali!"
"Aduh, tentu Puteri Hamiliamat ketakutan."
"Tidak, Wulan. Puetri Hamilitakkenal takut!Ia gagah perkasalagi kuatimannya. Srigala dating membawa seika tbuah pisang yang sudah masak, dan dengan suarapenuh bujuk rayu ia mempersembahkan pisang raja itu kepada Puteri Halimi sambil bernyanyi:
"Duhan Hamili yang cantik rupawan
Hamba datang menghibur tuan,
Terimalah seikat pisang raja
Asalkan mau menjadi isteri hamba!"
Dasa Lasmi menceritakan dongeng inisambil menirusuara yang parau danmenyanyikan lagu itu sehingga anknya amat tertarik.
"Ia menipu! Ia mau membujuk danmenipu! Bagaimana seorang puteri cantik harusmenjadi isteri srigala?" teriak Ratnawulan dengan gembira,lupa samasekali akan rasalaparnya!
Ibunya tersenyum. "Kalau kau menjadi Hamili,apakah kau akan mau menerima persembahan itu, Wulan?"
"Tidaksudi, tidak sudi!" jawab anaknya.
"Sungguhpun kauamatlapar?"
"Tidaksudi! Biar kutahan rasalaparku!" jawab pula anak itu penuh semangat.
"Nah, demikianpunPuteriHalimi. Ia menolakkerasdan menjawabdengannyanyian pula:
"Wahai srigala jahanam angkara!
Tiga hari tiga malam aku berpuasa,
Namun bujukanmu ini,
tak sudi aku terima!
Ketahuilah,
Puteri Hamili tahan menderita.
Lapar danhaus gangguan biasa.
Enyahlah kau, srigalam enyahlah!
Puteri Hamili puteri yang gagah!"
"Bagus!" Ratnawulan berteriak sambil tersenyum-senyum dan bertepuk tangan.
"Demi mendengar jawabanini, srigala menjadi marah lalu ia menyerang puteri inidengan terkamannya sambil membukamulutnya yang lebarpenuh dengan gigi yang runcing dan mengerikan."
"Aduh, lalu bagaimana, ibu?" Ratnawulan menggunakan kedua tangannya menekan kedua pipi dan matanya terbelalak lebar memandang wajahibunya yang hanya nampak samara-samar di bawah penerangan bintang-bintang yang suram itu.
"Puteri Hamili tak gentar sedikitpun juga. Ia mencabut pandangnya dan dengan gagah ia melawansehingga srigala itu mati dengan dada tertembus pedang."
Ratnawulan menariknapaspanjang karena lega hatinya.Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas rumput, dan meletakkan kepalanya diatas pangkuan ibunya. DaraLasmi melanjutkanceritanya diseling nyanyian-nyanyianyang merdu, karena memang suaranya amat nyaringdan iapandai sekali bernyanyi dan mendongeng. Akhirnya tertidurlah Ratnawulan tanpa teringat sedikitpun akan kelaparan perutnya.
Setelah tarikan napas anakitu menyatakan bahwaia telahtidur nyenyak barulah Dara Lasmi menghentikan nyanyian-nyanyiannya dan ialalu duduk melamun sambil menaruh tangannya diatas kepala anaknya. Ia mengenangkan segala peristiwa pagi tadidan tak terasa pula ia menangis lagi, yang ditahan-tahannyaagar jangan sampai menimbulkan suara dan mengganggu anaknya yang sedang tidur.
Hatinya penuh dendam dan sakit hati kepda Kartika yang telah menjadi pembunuh suaminya. Kalau suaminyasebagai seorang senopati gugur di dalam peperangan secara sah, ia akan rela karena gugur adalah hal yang tidak memalukan dansudahsewajarnya bagi seorangpanglima perang. Iatakkan menaruh hati dendam kepada siapapunjuga, tidak kepadaKerajaan Majapahit, maupun kepada orangorang tertentu. Kewajiban seorang panglima danperajurit hanya untuk membela Negara danbangsa, membela kerajaan dan junjungan, membela pimpinannya,tanpa memusingkanpikiran tentang urusanyang menimbulkan pertikaian dan peperangan itu. Kalau ia menang, ia akanmemperoleh jasa dan kedudukan, kalauia gugur, iaakan menjadi kesumaNegara dan menjadi pahlawan. Akan tetapi, yaitu Kartika, yang tadinya dianggai sebagai sahabat baik dan setia.
Sepekan sebelum terjadi peprangan, Kartika datang darikota raja mengunjungi suaminya. Sikapnya ketika memandangnya telah menimbulkan rasa jijik dan tak senang di dalam hatinya karena sebagai seorangwanita yang berperasaan halus ia dapat menangkap artisinar mata laki-lakiitu.Akan tetapi oleh karena Kartika dan suaminya, telahmenjadi sahabatkarib semenjak mereka masih tinggaldi kota raja, maka ia diam saja dan pura-pura tidak melihat sinar mata yang mengandung kekurangajaranitu.Kartikaadalah murid tersayang dari Bagawan Mahapati, dan kedatangannya itu untukmembujuk-bujukNagawisena agar supaya suka membantu serbuan tentaraMajapahitdan suka membela Prabu Jayanagara. Akan tetapi, suaminya menjawab dengan suara tetap.
"Kartika, kalausaja yang mengeluarkan ucapan inibukankau, yang telah kuanggap sebagai saudara sendiri, tentu sekarang juga bukan mulutku yang bicara, melainkan kerisku. Dengarlah! Aku telah bersumpah setia kepada Raen Nambi dan sebagai seorang senopati Lumajang, aku akan membela Lumajang dengan jiwa dan ragaku. Siapapun juga yang mengganggu Lumajang, akan kuhadapi dengan
keris di tangan dan biarpun aku harusberkorbannyawa, aku rela."
"Aduh, sahabatku yangkucinta!" Kartika dengan wajahnya yang tampan itu membayangkan keharuan hati danmulutnya mengeluarkan ucapanyang amat manis." Bagaimana hatiku akan rela melihat kau binasa di bawah serbuan tentara Majapahit?"
"Apa boleh buat, Kartika. Kalau sudah tiba masanyakau menjadi perajurit Majapahit dan menyerbu ke Lumajang, terpaksa aku akan meramkan mata dan menghadapimu dengan senjata di tangan,denganpendirianbahwa penyerbu Lumajang adalahmusuh Negara yang harus kulawan dengan gigih." Kartikamenjadi amatkecewa mendengar pernyataan Nagawisena yang tak tertundukkan itu, maka
sebagai penutup kata ia berkata.
"Nagawisena, sahabatku.Betapapunmenyesal dankecewa rasahatiku, namun apabila benar-benar barisanMajapahit menyerbu ke sini, akan kuusahakan agar kaujangan sampai tewas dalam peperangan itu."
"Tewashanyalah berpulang ke tempat asal, Kartika. Dan tiada yang lebih mulia bagi seorang senopati melainkan tewas dengan tombak tertancapdi dada."
Demikianlah, Kartika kembali kekota raja melaporkan kegagalannya.Danpagi tadi, ketika perang tanding sedang memuncak dan ramainya.Nagawisena yang mengamuk hebat tiba-tiba berhadapan dengan Kartika.
"Sayang, Kartika! Terpaksa kita harus berhadapan dengan senjata di tangan!" ata Nagawisenadengan gagah.
Akan tetapi, tiba-tiba Kartikamelemparkan senjatanya ke atas tanah dan berkata dengan uara
berduka.
"Ngawisena, benar-benarkahakan sekejam itu hatimu? Tidak ingatkahkau betapa dahulukita di masa kanak-kanak bersama-sama mandi di Begawan, mencari sarang-sarang burung dan bermain-main? Ah, kawan, aku tak tega mengangkat senjata kepadamu!"
"Kartika, jangan kauselemah itu!" kataNagawisena sambil mengertak giginya, mengeraskan ati. "Tidak, Nagawisena, tidak!Kitatak boleh saling meyerangi! Simpanlah kembali kerismu dan biarkan aku memelukmu sekali lagi!"
"Kita dimedanperang, Kartika,jangan bersikap seperti wanita lemah!"
"Kabulkan permintaanku yangterakhirini, Nagawisena. Simpanlah senjatamu dan biarkan aku memelukmu sekali lagi. Setelah itu, terserah kepadamu kalau hendakmelanjutkan pertempuran. Pelukanterakhir ini berarti banyak bagiku, sahabatku yang baik. Siapa tahu, kalau bukan kau tentu akuyang akangugur dimedanyuda ini."
Lemah hati Nagawisena mendengar ini. Dimasukkannya kembali kerisnya diwarangka keris dan mereka lalu saling memeluk sebagai duaorang sahabat karib. Akan tetapi, ketika dua orang muda itu saling memeluk, tiba-tibasenopati dari Majapahit cepat memusuk lambung Nagawisena dari belakang dengan kerisnya.
Pelukanterlepas dan Nagawisena terhuyung-huyunglalu roboh mandi darah! Kartika yang berhati palsu itu hanya tersenyummenyerigai dan berkata kepadaNagawisena yang menggeletak di atas rumput.
"Salahmusendiri mengapa kau tidak mendegar bujukanku!"
Demikian terjadilah peristiwa itu. Dara Lasmi mengertak gigi, mengepaltangan dan matanya memancarkan cahaya berapi. Ia mengetahui semua peristiwa ini dariseorangperajurit Lumajang yang menceritakannya dengan jelaskepadanya, sekalian menggambarkan tentang tewasnya suaminya. "Bangsat Kartika, keparatjahanam! Aku bersumpah hendak membalas kekejaman dan kecurangan ini! Kalau aku sendiri tidak dapat turun tangan membalaskan dendam suamiku, tentu anakku yang akan membalaskan sakit hati ayahnya!"
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali DaraLasmi telah melanjutkan perjalanannya mendaki Gunung Mahameruyang amat tinggi itu. Dapat dibayangkan betapa sukarnya perjalanan itu, akan tetapu puteriyang bersemangat besar ini biarpun dengan terpincang-pincang,tetap melanjutkan langkahnya sambil menggendong Ratnawulan di punggungnya. Kadang-kadang anak yang menaruh hati kasihan kepadaibunya iniminta turundan ikut berjalan terpincang-pincang.
Untung sekali, di lereng bukit itu mereka lewat dalamsebuah hutan di mana banyak terdapat pohonpohon
berbuah,maka dengan girangDara Lasmi lalu mencari buah-buahpisang dan lain-lain untuk anaknya dan dia sendiri. Sungguhpun dengan hanya merasa puas, namun makanan itu cukuplah untuk menentramkancacing-cacing di dalam perut yang mengeliat-geliat.
Akan tetapi sadar mereka harus mengalami banyak penderitaan. Baru saja perut mereka terisi dan mereka terhindar balik gerombolan-gerombolan pohon muncul orang-orang lelaki yang kelihatan kasar dan liar. Jumlah mereka dua belas orang dan di tangan mereka kelihatan golok-golok yang mengkilap dan tajam!
Dara Lasmi merasa terkejut sekali dan wajahnya menjadi pucat. Kedua kakinya luka-luka dan sakit
sekali sedangkan tubuhnya telah menjadi lemah karena lelah. Bagaimana harus membela melindungi
anaknya?
Karena merasa bahwa ia tidak akan dapat mempertahankan diri apabila ia melawan, maka Dara Lasmi lalu menggendong anaknya dan cepat berlari pergi dari situ!
Kawanan perampok itu tertawa mengejek dan mereka mulai melakukan pengejaran sambil terteriakteriak karenas ungguhpun pakaian Dara Lasmi sudah tak karuan lagi macamnya, namun kecantikan wanita itu masih amat menggiurkan.
Dara Lasmi tidak menghiraukan lagi kedua telapak kakinya yang pecah-pecah dan berdarah, tidakmerasakan lagi perih-perih kerikil tajam itu. Akan tetapi, kedua kakinya makin lemas dan beberapa kali ia terhuyung-huyung hampir jatuh. Pegejarnya makin dekat saja dan suara teriakan mereka terdengar keras.
Tak lama kemudian ,lagkah kaki pengejar pertama telah berada di dekat Dara Lasmi. Derap kakinya telah terdengar, bahkan bunyi pernapasannya telah terdengar pula.Dara Lasmi makin gelisah dan ketika di depannya terdapat sebuah batu yang agak besar, dalam kegugupannya ia melompati batu itu.Malangbaginya, ia tergelincir dan tubuhnya terguling di atas tanah berbatu-batu.
Walaupun demikian, ia masih ingat untuk mendekap anaknya dan melindungi kepala anaknya dengan kedua lengannya.Beberapa kali ia menggelundung dan mendapat luka-luka dikening dan kedua lengannya. Perih dan sakit sekali tubuhnya terasa sakit.Ratnawulan menangis karena ketika ibunya terjatuh, kakinya tergencet dan berdarah, sakitnya bukan main.
"Ha,ha, ha! Kau hendak lari kemana, manis,”pengejar yang paling cepat larinya tertawa. "Aku yang lebih dahulu menangkapmu, maka akulah yang berhak atas dirimu!"Sambil tertawa bergelak, perampok itu maju menghampiri.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar seruan suara yang halus dan berpengaruh, "Jangan mengganggu orang!"
Mendengar suara yang amat berpengaruh ini, bagaikan ada tenaga yang menahan gerakan perampok yang hendak menubruk DaraLasmi itu. Ia cepat menengok dan melihat seorang kakek tua turun dari lereng bukit dengan tindakan kaki tenang.
Sementara itu,Dara Lasmi mengeluh dan merangkak bangun,memijit-mijit kaki anaknya yang berdarah sambil menghiburnya.
Wanita ini sama sekali tidak memperdulikan luka-lukanya sendiri dan sibuk mendiamkan Ratnawulan yang menangis.
Perampok itu menjadi marah dan pada saat itu, kawan-kawannya yang tadi mengejar telah sampai di situ pula. Mereka lalu memandang kepada kakek itu telah turun dari bukit. Kakek ini telah tua,bajunya berlengan panjang warna putih, celananya sampai di bawah lutut berwarna hitam, tangan kanan memegang sebatang tongkat hitam.Rambut kepala dan kumis serta jenggotnya panjang berwarna putih, nampak mengkilap bagaikan perak ketika tertimpa sinar matahari.
Perampok yang marah itu lalu membentak. "He, kakek tuarenta! Mengapa kau berani menghalangi maksudku? Apakah kau telah bosan hidup?"
"Semenjak dahulu, sekarang dan kemudian aku selalu hidup, bagaimana dapat disebut bosan?" kata kakek itu dengan suaranya yang lemah lembut dan sabar."Kalian janganlah mengganggu wanita ini.
Lihat keadaannya demikian sengsara, tidak kasihan bahkan mau mengganggu, apakah itu bukan perbuatan yang melanggar prikemanusiaan?"
Berandal-berandal itu adalah orang-orang kasar yang setengah liar,mana tahu tentang prikemanusiaan? Seorang di antara mereka berkata kepada pemimpinnya yang tadi mengejar Dara Lasmi,
"Kakang Singo, mengapa perdulikan ocehan seorang kakek yang sudah mau mati? Tangkap saja perempuan itu!"
Mereka serentak maju hendak menangkap Dara Lasmi,akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan kakek itu dengan suara gemuruh. "Jangan bergerak!"
Dan aneh! dua belas orang perampok yang tinggi besar dankuat itu tiba-tiba berdiri diam dalam gerakan masing-masing, ada yang sedang mengulur tangan, ada yang sedang berlari, ada pula yang sedang menengok, semua berdiri diam dan kaku tak dapat bergerak seperti patung batu-batu. Melihat keanehan ini, Dara Lasmi tertegun dan berdiri dengan bengong, kemudian ia maklum bahwa ia berhadapan dengan seorangtua yang sakti, maka sambil menggendong anaknya dan berjalan terpincang-pincang ia lalu menghampiri kakek itu dan menjatuhkan diri berlutut, menyembah, lalu ibu yang sengsara itu terjungkal pingsan bersama Ratnawulan di dalam gendongannya.
"Jagad Dewa Batara!" Kakek itu menyebut."Kasihan sekali nasibmu yang buruk ini, nini!"
Ketika Dara Lasmi siuman kebali dari pingsannya, dengan amat heran ia mendapatkan dirinya telah berada dalam sebuah pondok bilik yangamat sederhana dan Ratnawulan telah tidur nyenyak di sebelahnya, yaitu di atas sebuah pembaringan bambu yang bersih.
Ia bangun perlahandan memandang ke kanan kiri. Pondok itu tak berkamar, hanya kecil saja bagaikan gubuk ditengah sawah. Iaturun dari pembaringan bamboo itu dan merasa makin terheran ketika merasa betapa kedua kakinya telah sembuhsama sekali. Ketika keluar dari sebuah pintu yang kecil didepan pondok, angina sejuk meniup perlahan dan ia merasa tubuhnya menjadi segar dan berbareng perutnya terasa lapar sekali. Setelah ia keluar dari pondok, ia menahan seruannya karena merasa amat kagum. Pemandangan di luar pondok benar-benar mengagumkan dan indah sekali.Ternyata bahwa pondok itu berada di puncak Gunung Mahameru dan didepannya terbentang luas tamasya alam yang indah menawan hati. Bunga-bunga harum indahtumbuh di sana-sini, pohonpohon yang penuh buah-buahan terdapat banyak sekali disekitar tempat itu. Suara burung yang berkicau membuat ia merasa seakan-akan berada di alam mimpi.
Ternyata bahwa saat itu metahari baru saja terbit,maka ia merasaheran bagaimana ia bisa berada di tempat ini. Ia teringat kepada kakaek yang menolongnya, maka ia menduga bahwa tentu kakek itu yang membawa mereka berdua ketempat ini. Dara Lasmi mencari-cari dengan matanya,namun kakek itu tidak nampak berada di sekitar tempat itu.
"Ibu.!"tiba-tiba terdengarRatnawulan memanggilnya.Ia kembali ke dalam pondok dan anaknya telah turun dari pembaringan. Juga keadaan Ratnawulan amat sehat dan segar.Agaknya hawa gunung yang sejuk mambuat mereka merasa amat segar dan sehat.
"Sudah bangunkah kalian?" tiba-tiba terdengar suara halus bertanya. Suara ini datangnya dari depan pondok,maka Dara Lasmi lalu mengandeng tangan anaknya dan segera keluar dari pondok. Ternyata bahwa yang bicara itu adalah kakek yang kemarin menolong mereka, maka Dara Lasmilalu mengejak anaknya cepat-cepat berlutut menyembah memberi hormat. "Sungguh hamba amat bersyukur dan berterimakasih kepada eyang yang telah menolong kami berdua. Kalau tidakada eyang yang menolon kami, entah bagaiakan jadinya dengan nasib diriku!"
Tak tertahan lagi, saking terharunya, Dara Lasmi mengucurkan air matanya.
"Bersyukurlah kepada Yang Maha Adil, nini, dan jangan berterima kasih kepadaku. Memang kau dan anakmu sudah berjodoh untuk bertemu dengan aku, maka sekarang ceritakanlah mengapa kau seorang wanita muda bersama anakmu sampai tersasar ke lereng Gunung Mahameru dan berada dalam keadaan yang demikian sengsara?"
Sambil mengucurkanair matanya, Lasmi menceritakan pengalamannya. Akhirnya, ia menutup penuturannya sambil menyembah.
"Oleh karena hamba telah tertolong oleh eyang dan telah berada di sini, maka nasib hamba berdua selanjutnya, hamba serahkan pada eyang. Kalau eyang sudi, biarlah hamba tinggal bersama anak hamba di sini, menjadi pelayan dan mengerjakan segala keperluan eyang."
Kakek itu mengelus-elus jenggotnya yang panjang sambil menarik napas. "Hm, Mahapati agaknya yang menjadi gara-gara. Sungguh sayang Majapahit yang jaya dikotori oleh bagawan itu. Nini, jangan kau berduka, karena betapapun juga, suamimu gugur sebagai seorang ksatria utama. Kau tinggalah di sini bersama anakmu dan asal saja kau tidak teringat akan kemewahan hidup dikota dancukup merasa puas denganapa yang ada, kau tentu akan menemui kebahagiaan hidup ditempat sunyi ini. Di lereng sebelah utara, takjauh darisini, terdapat beberapa kelompok dusun sehingga kau tak perlu khawatirakan kesunyian, sungguhpun di sini kau takkan bertemu dengan orang-orang gunung yang sederhana saja. Adapun anakmu ini, jiwa ksatria ayahnya menurun kepadanya, maka biarlah ia kudidikdan menjadi muridku."
Bukan main girangnya hati Dara Lasmi,dan kini yang mengalir turun dari matanya adalah air mata kebahagiaan.
"Terima kasih, eyang. Sungguhkata-kata eyang itu merupakan pendengaran yang paling indah dan membesarkan hati bagi hamba."
"Kau anak yang baik, nini, dan demi Yang Maha Adil, kebaikan selalu mendatangkan kebaikan."
Kakek tua itu bukan lain ialah Sang Panembahan Mahendraguna, seorang pertapa sakti yang telah puluhan tahun bertapa di puncak Gunung Mahameru. Orang-orang dusun yang tinggal di sekitar gunung itu, menyebutnya dengan sederhana saja, yaitu Eyang semeru. Selain bertapa kakek ini suka bertani, menanam sayur-sayurdan suka pula berjalan-jalan ke kampong-kampung untuk member wejangan-wejangan kepada orang-orang kampong dan gunung, bahkan tak jarang ia menolong mereka yang menderita sakit.Tak seorangpun tahu darimana asalnya kakek luar biasa ini yang hidupnya amat sederhana, akan tetapi tak seorangpun diantara mereka yang tidakmenaruh hormat terhadap Eyang Semeru.
Demikianlah, semenjak tertolong oleh kakek sakti ini DaraLasmi hidup di puncak Mahameru, mengatur segala keperluankakekitu dan juga mendidik Ratnawulan anak tunggalnya yang terkasih. Tepat sebagaimana yang dikatakan oleh Eyang Semeru, semenjak tinggal di gunung itu, Ratnawulan memperlihatkan bahwa ia memiliki ketangkasan dan sifat-sifat keperwiraan, tiada bedanya dengan seorang anak laki-laki. Ia mendapat latihan-latihan ilmu pencak silat dari ibunya dan dalam waktu setahun saja, semua kepandaian ibunya telah diwarisinya sampai tamat!
Dara Lasmimemang sengaja mendidik puterinya agar supaya menjadi seorang pendekat wanita, karena tidak saja ketangkasan dan kegagahan diperlukan bagi seorang yang hidup di tempat berbahaya itu, jugaia bercita-cita untuk menyuruh anaknya ini kelak membalas dendam kepada Kartika! Disamping memberi latihan silat, Dara Lasmi juga memberi latihan-latihan pekerjaan yang harus diketahui oleh seorang wanita, yaitu pekerjaan tangan,memasakdan lain.
Alangkah girang hatiDara Lasmi ketika mendapat kenyataan bahwa setelah menamatkan pelajaran ilmu pencaksilat yang ia berikan kepadanya, Ratnawulan mulai mendapat pelajaran dari Eyang Semeru sendiri! Dan ketika ia melihat cara Eyang Semeru memberi latihan keperwiraan kepada anaknya, ia menjadi takjub karena ternyata bahwa kakek itu adalah seorang ahli yang sukar dicari bandingannya! Baru mendapat latihan beberapa bulan saja, sudah nampak kehebatan gerakan Ratnawulan apabila anak itu sedang berlatih pencak.Gerakan-gerakannya selain cepat,juga amat luar biasa. DaraLasmi ketika masih kecil dan berada di rumah ayahnya yang menjadi pendekat pencak,sudah sering kali melihat kawan-kawan ayahnya bermain silat, akan tetapi belum pernah ia melihat gerakan-gerakan yang secepat dan sehebat ilmu pencak yang diajarkan oleh Eyang Semeru kepadaRatnawulan. Maka diam-diam wanita muda ini mengucap syukur di dalam hatinya kepada YangMaha Agung yang telah mempertemukan ia dan anaknya dengan Eyang Semeru.