Wajahnya seperti bunga yang sedang mekar ketika ia tertawa: “Orang yang tidak pernah bertemu denganmu tak akan bisa menduga kalau kau punya sepasang alis di atas bibirmu.”
Liok Siau-hong masih tidak bergerak, tiba-tiba dia menghirup, cawan di atas dadanya pun tertarik ke bibirnya, arak di dalam cawan itu terhirup ke dalam mulutnya, dan “Glek!”, semuanya langsung habis.
Ia lalu meniup, cawan itu pun kembali ke posisinya semula.
Lopannio tertawa lagi: “Apakah kau sedang minum atau bermain sulap?”
Liok Siau-hong, dengan mata masih tertutup, tidak menjawab, ia hanya menunjuk pada cawan kosong di atas dadanya.
Lopannio tidak punya pilihan lain kecuali mengisi kembali cawan itu untuknya, tapi ia tak tahan untuk tidak berkomentar: “Kau ingin aku datang ke sini dan minum bersamamu, lalu kenapa kau hanya berbaring di situ seperti orang mati dan bahkan tidak memandang padaku?”
Liok Siau-hong akhirnya bicara: “Aku takut memandangmu.”
Lopannio menyelidiki lebih jauh: “Kenapa?”
Liok Siau-hong menjawab: “Aku takut kau akan merayuku.”
Lopannio menggigit bibirnya: “Kau sengaja memberi kesan pada orang lain bahwa ada sesuatu di antara kau dan aku, dan kau masih takut kalau aku merayumu, untuk apa sebenarnya kau melakukan semua ini?”
Liok Siau-hong menjawab: “Untuk suamimu!”
Lopannio terkejut: “Untuk dia? Kau benar-benar mengira dia suka menjadi kura-kura hidup?”
Liok Siau-hong menjawab: “Menjadi kura-kura hidup masih lebih baik daripada menjadi kura-kura mati!”
Ia tidak memberi kesempatan pada Lopannio untuk memotong: “Dengan profesinya sekarang ini, seseorang mungkin akan mencoba membunuhnya kapan saja dan di mana saja. Dia benar-benar telah terlalu banyak bertemu orang dan terlalu banyak tahu rahasia orang!”
Lopannio tidak bisa memperdebatkan hal itu, Cu Ting memang tahu banyak rahasia dan hal-hal yang aneh dari banyak orang.
Walaupun mereka tahu bahwa bibirnya selalu tertutup rapat, tapi bibir siapa yang lebih rapat daripada bibir orang mati?
Membunuh untuk menjaga rahasia mereka, itulah hal yang bisa saja dilakukan oleh orang-orang itu kapan saja.
Liok Siau-hong melanjutkan: “Sesudah dia tewas, aku sangat meragukan kalau kau akan bersedia menjanda selama setahun saja!”
Lopannio mengangkat alisnya dan mendengus: “Kau kira aku ini orang macam apa? Poa Kim-lian?”
Liok Siau-hong menjawab dengan santai: “Bahkan jika kau Poa Kim-lian, aku bukanlah Sebun Ging!”
{Catatan: Di sini disebut-sebut sebagian cerita Para Pahlawan Batas Air, salah satu dari 4 karya Sastra Cina Klasik tentang seorang wanita yang telah bersuami dan seorang laki-laki gendaknya.}
Lopannio menatapnya; tiba-tiba ia bangkit, berputar, dan mulai berjalan keluar. Liok Siau-hong masih berbaring di sana, sama sekali tidak bergerak, bahkan tidak memiliki keinginan untuk menariknya kembali.
Tapi baru saja Lopannio berjalan keluar dari pintu, ia segera melesat masuk kembali dan berdiri di dekat ranjang dengan tangan bertolak pinggang. “Kau kira aku benar-benar tidak tahu apa yang coba kau lakukan? Kau kira aku bodoh?”
Liok Siau-hong menjawab: “Memangnya tidak?”
Lopannio menjawab, lebih keras daripada yang diperlukan: “Kau bertengkar dengannya, tapi kau tetap khawatir kalau hidupnya berada dalam bahaya, itulah sebabnya kau ingin orang lain mengira bahwa ada sesuatu antara kau dan aku; karena jika aku ingin membuktikan kesucianku, aku tidak boleh membiarkan diriku menjadi janda, tentu saja aku harus memohon kepadamu untuk melindungi dia. Bila kau melindungi dia, maka orang lain pun harus berpikir masak-masak jika mereka ingin membunuh dia.”
Kemarahannya pun bertambah, begitu juga dengan volume suaranya: “Tapi pernahkah kau memikirkanku? Kenapa aku harus dibebani dengan awan gelap yang bau ini?”
Liok Siau-hong menjawab: “Demi suamimu!”
Lopannio tiba-tiba tidak bisa menjawab. Berkorban sedikit untuk suaminya memang sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang isteri.
Liok Siau-hong menambahkan: “Itulah sebabnya, asal suamimu percaya padamu, kau tidak boleh memikirkan atau bahkan perduli terhadap anggapan orang lain!”
Lopannio menggigit bibirnya dan berdiri dengan pikiran kosong sebentar sebelum akhirnya ia tidak tahan dan bertanya lagi: “Kau kira dia benar-benar mempercayaiku?”
Liok Siau-hong menjawab: “Dia bukan orang bodoh!”
Lopannio menatapnya: “Tapi apakah dia juga mempercayaimu?”
Liok Siau-hong menarik nafas dengan malas-malasan: “Mengapa tidak kau tanyakan sendiri kepadanya?”
Ia menghisap lagi dan meminum arak di cawan yang ada di atas dadanya, lalu ia bergumam pada dirinya sendiri: “Jika orang-orang Jing-ih-lau itu tidak bodoh, mereka tentu akan segera tiba, maka kau harus segera pergi!”
Lopannio tiba-tiba tampak gelisah: “Mereka sedang mencarimu, tapi untuk apa?”
Liok Siau-hong menjawab dengan santai: “Aku juga ingin menanyakan hal itu pada mereka, kalau tidak aku tak akan membiarkan mereka menemukanku!”
______________________________
Cu Ting sedang duduk di kursi malasnya, tenggelam dalam pikirannya sendiri, yang biasanya merupakan pikiran-pikiran atau ide-ide yang aneh.
Semua peralatan aneh dan ganjil buatannya berasal dari renungannya ini.
Lopannio berjalan masuk dengan anggun, menggenggam sehelai saputangan dengan kedua jarinya, dan, memilin-milinnya dengan gaya yang menggoda, berjalan di dekat Cu Ting sebanyak dua kali. Tapi Cu Ting tampaknya tidak memperhatikan.
Lopannio tidak bisa menahan dirinya lagi: “Aku pulang!”
Cu Ting menjawab: “Aku sudah lihat!”
Lopannio sengaja memasang mimik muka yang sangat misterius: “Aku baru saja minum arak dengan Siau-hong, begitu banyaknya sehingga aku masih agak mabuk sampai sekarang!”
Cu Ting menjawab: “Aku tahu!”
Lopannio mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali: “Tapi, selain minum, kami tidak melakukan apa-apa!”
Cu Ting menjawab: “Aku tahu!”
Lopannio tiba-tiba mulai berteriak: “Kau tahu kentut!”
Cu Ting menjawab: “Sebenarnya, aku tidak tahu apa-apa tentang kentut!”
Temperamen Lopannio semakin naik dan ia pun berkata dengan ketus: “Aku telah menghabiskan waktu untuk minum-minum bersama laki-laki lain di kamarnya, kau bukan hanya tidak cemburu atau marah, engkau malah masih melamun saja di sini?”
Cu Ting menjawab: “Aku tidak tahu apa-apa, itulah sebabnya aku tidak cemburu atau marah.”
Lopannio bertolak pinggang lagi: “Seorang laki-laki seperti dia, seorang wanita seperti aku, bersama-sama di sebuah kamar, mungkinkah kami masih bersikap terpuji selama itu?”
Ia mendengus dan meneruskan: “Kau kira dia siapa? Seorang malaikat? Liu Ha-ih (nama orang dalam cerita klasik yang terkenal tidak bisa “begituan” dengan perempuan)?”
Cu Ting tersenyum: “Aku tahu dia seorang telur busuk, tapi aku percaya dia!”
Lopannio bertambah marah: “Kau tidak marah atau cemburu karena kau percaya dia, dan bukan karena kau percaya aku?”
Cu Ting menjawab: “Tentu saja aku percaya padamu!”
Lopannio mencela: “Tapi kau lebih mempercayai dia!”
Cu Ting menjawab: “Jangan lupa kalau kami sudah saling kenal sejak kami masih memakai popok!”
Lopannio mendengus: “Jadi kalian telah berteman selama 20 atau 30 tahun, lalu kenapa tampaknya kalian tiba-tiba berubah menjadi musuh seumur hidup, tidak pernah bicara satu sama lain!”
Cu Ting menjawab dengan santai: “Karena dia telur busuk besar, dan aku pun telur busuk besar!”
Lopannio menatapnya sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak, menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa, ia berkata: “Kalian 2 telur busuk ini melakukan apa saja, bukan hanya tidak bisa kubayangkan, malah aku semakin bingung bila mencoba memikirkannya.”
Cu Ting menjawab: “Tentu saja kau tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan oleh telur busuk besar, karena kau bukan telur busuk besar.”
Akhirnya Lopannio tersenyum manis dan berkata: “Akhirnya ada juga ucapanmu yang masuk di akal.”
Cu Ting tersenyum sedikit dan menambahkan dengan santai: “Paling banyak kau cuma telur busuk kecil, telur busuk yang sangat-sangat kecil!”
______________________________
Mata Liok Siau-hong masih tertutup sementara ia tetap berbaring di atas ranjang, dengan secawan penuh arak bertengger di atas dadanya.
Cawan itu diisi oleh Lopannio sebelum ia pergi tadi. Liok Siau-hong tidak akan bangkit dari ranjangnya hanya untuk secawan arak.
Ranjang itu lembut dan nyaman, tidak ada yang bisa membuatnya bangkit dari ranjang itu sekarang.
Jubah merahnya tergantung di sebuah gaetan di kepala ranjang. Untuk suatu alasan tertentu, tidak perduli kapan dan di mana pun, ia selalu membawa jubah seperti ini.
Kau hanya perlu melihat jubah merah ini dan kau akan tahu bahwa dia berada di situ.
Thi-bin-boan-koan dan Kau-hun-jiu pun sudah melihat jubah merah itu sekarang, mereka melihatnya dari jendela.
Lalu mereka bedua melompat masuk lewat jendela, langsung ke kepala ranjang, dan menatap Liok Siau-hong.
Liok Siau-hong masih berbaring di sana seperti orang mati, tidak sedikitpun ada reaksi atau gerakan, bahkan tampaknya tidak bernafas.
Thi-bin-boan-koan bertanya dengan bengis: “Apakah kau Liok Siau-hong?” Tidak ada jawaban.
Kau-hun-jiu mengerutkan keningnya dan berkata dengan dingin: “Kurasa orang ini sudah mati!”
Thi-bin-boan-koan mendengus: “Mungkin sekali, orang seperti ini memang tidak berumur panjang!”
Liok Siau-hong tiba-tiba membuka matanya, memandang mereka, ia segera menutup matanya lagi dan bergumam: “Aneh, aku bersumpah telah melihat 2 orang manusia di kamar ini!”
Thi-bin-boan-koan menjawab dengan keras: “Karena memang ada 2 orang manusia di kamar ini!”
Liok Siau-hong bertanya: “Jika benar ada 2 orang manusia di sini, lalu kenapa aku tidak dengar suara ketukan sebelumnya?”
Kau-hun-jiu menjawab: “Itu karena kami memang tidak mengetuk.”
Liok Siau-hong membuka matanya lagi dan memandang mereka, tiba-tiba ia bertanya: “Apakah kalian benar-benar manusia?”
Thi-bin-boan-koan menjawab dengan marah: “Lalu apa kalau kami bukan manusia? Hantu?”
Liok Siau-hong berkata: “Manusia selalu mengetuk pintu sebelum mereka masuk ke ruangan, cuma anjing liar yang melompat lewat jendela!”
Wajah Kau-hun-jiu berubah warna. Tiba-tiba ia mengayunkan cambuknya. Dia bukan saja termasuk 4 orang pendekar yang terkenal dengan senjata gaetan gandanya di daerah dalam Tembok Besar, kungfu dan keahliannya menggunakan cambuk kulit ular itu juga sama sekali tidak buruk.
Menurut kabar angin, dia mampu menghancurkan sebutir kenari yang ada di atas 3 potong tahu.
Jelas Liok Siau-hong jauh lebih besar daripada sebutir kenari, apalagi dia sedang berbaring di ranjang itu seperti orang mati, maka tidak mungkin serangannya ini akan gagal.
Tapi siapa yang tahu kalau Liok Siau-hong tiba-tiba mengangkat tangannya dan menjepit cambuk itu di antara 2 jarinya seperti seorang pengemis tua yang menjepit kutu.
Dia tidak mempelajari gerakan ini dari Hoa Ban-lau, dialah yang mengajarkannya kepada Hoa Ban-lau.
Ekspresi wajah Kau-hun-jiu persis seperti Cui It-tong waktu goloknya tertangkap, sebentar hijau, lalu putih, dan akhirnya menjadi merah.
Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya, tapi masih tidak mampu merenggut cambuk itu dari jepitan jari-jari Liok Siau-hong.
Liok Siau-hong masih berbaring dengan santai di sana, tanpa setetes pun arak yang tumpah dari dalam cawan di atas dadanya.
Thi-bin-boan-koan melihat semua itu dari samping dengan raut muka terkejut, tiba-tiba ia tertawa dan berkata: “Hebat, kungfu yang benar-benar hebat! Liok Siau-hong benar-benar sehebat yang dikatakan kabar burung.”
Kau-hun-jiu tiba-tiba juga tertawa sambil melepaskan cambuknya: “Kali ini aku yakin bahwa Liok Siau-hong yang ini benar-benar tulen!”
Thi-bin-boan-koan menambahkan: “Di jaman ini, jumlah penipu di dunia persilatan bertambah setiap harinya, jadi sahabat Liok jangan menyalahkan kami.”
Dengan 2 kalimat itu mereka berdua berusaha menolong diri mereka sendiri dari posisi yang serba salah, tapi Liok Siau-hong seperti telah tertidur lagi.
Kau-hun-jiu merasa sukar untuk tetap tertawa sehingga ia terbatuk 2 kali dan berkata: “Kurasa sahabat Liok sudah tahu siapa kami!”
Dia tampaknya mengingatkan Liok Siau-hong untuk tidak melupakan bahwa orang-orang Jing-ih-lau bukanlah orang-orang yang bisa disepelekan.
Thi-bin-boan-koan berkata: “Kami datang hanya karena kami diperintahkan untuk mengundang sahabat Liok ikut dengan kami, kami bukan hanya bertanggung-jawab untuk mengundang dan mengantarkanmu, tapi kami juga harus memastikan kalau sehelai rambutmu pun tidak akan terusik.”
Liok Siau-hong akhirnya menarik nafas dengan malas-malasan: “Mengapa aku harus ikut dengan kalian? Rasanya tidak mungkin Lopannio kalian ingin agar aku menemaninya di tempat tidur!”
Wajah Thi-bin-boan-koan menjadi gelap dan ia pun menjawab dengan dingin: “Di sana kami tidak punya Lopannio, tapi di sini ada!”
Wajah Liok Siau-hong juga menjadi gelap: “Karena kalian sudah tahu tentang hal ini, maka kalian harus kembali dan laporkan pada orang she Wi di loteng kalian itu bahwa sebaiknya dia tidak mengganggu Cu Ting, atau aku akan membakar ke-108 lau (loteng) kalian itu!”
Thi-bin-boan-koan mendengus: “Jika kami membunuh Cu Ting, kami mungkin telah membantumu, bukannya begitu?”
Liok Siau-hong menjawab dengan sederhana: “Apakah kalian belum pernah dengar? Aku tidak menyukai janda.”
Thi-bin-boan-koan menjawab: “Asal kau setuju ikut dengan kami, aku berjanji bahwa Lopannio tidak akan segera menjanda.”
Baru saja dia selesai bicara, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
Tidak ada orang di luar, orang yang mengetuk itu telah berada di dalam kamar.
Dia tidak menggunakan tangannya untuk mengetuk, karena dia tidak punya tangan.
______________________________
Senja kembali tiba.
Sinar matahari terbenam menembus jendela dan menyinari wajah orang itu. Wajah itu benar-benar tidak bisa dianggap sebagai wajah manusia.
Setengah dari wajah sebelah kiri telah teriris, lukanya meninggalkan kerutan, menarik hidung dan matanya ke sisi itu, bukan sebuah hidung sebenarnya, tapi hanya setengahnya, dan bukan sepasang mata, tapi hanya satu.
Sebuah lubang yang gelap dan dalam, itulah yang tersisa di mata kanannya, tampak sebuah codet besar di pipinya, kedua tangannya telah buntung di pergelangan, di pergelangan tangan kanannya ada sebuah gaetan yang menakutkan, dan di pergelangan tangan kiri ada sebuah bola besi besar yang ukurannya lebih besar daripada kepala manusia.
Bila dibandingkan dengan orang ini, Thi-bin-boan-koan tiba-tiba tampak seperti laki-laki yang tampan dan halus.
Sekarang ia berdiri di dalam kamar dan mengetuk pintu dengan gaetan besi di tangan kanannya sambil berkata dengan dingin: “Aku bukan anjing liar, aku manusia, maka bila aku masuk ke kamar orang lain, aku selalu mengetuk pintu!”
Bila ia bicara, bagian wajahnya yang teriris akan mengerut, mukanya pun seperti menangis, tapi juga seperti tertawa.
Melihat orang ini, bahkan Thi-bin-boan-koan pun tak tahan untuk tidak bergidik.
Ia benar-benar tidak melihat bagaimana caranya orang ini masuk. Kau-hun-jiu pun telah mundur 2 langkah dan berteriak: “Liu Ih-hin?”
Suara tawa seperti 2 pedang berkarat yang saling bergesekan terdengar dari tenggorokan orang itu: “Masih ada orang di dunia ini yang mengenaliku, itu jarang sekali terjadi di jaman sekarang.”
Thi-bin-boan-koan tampak terkejut: “Kau adalah Giok-bin-long-kun (Laki-laki Berwajah Kemala) Liu Ih-hin?”
Orang seperti ini disebut sebagai Laki-laki Berwajah Kemala?
Tapi orang ini mengangguk dan ia berkata dengan sedih: “Perasaan seperti kebencian yang terlupakan, tidak ada gunanya mengungkit-ungkit masa lalu. Laki-laki Bermuka Kemala sudah mati, sayangnya Liu Ih-hin masih hidup.”
{Ih-hin berarti kebencian yang terlupakan, sebuah permainan kata-kata.}
Raut muka Thi-bin-boan-koan tampak berubah: “Mengapa kau datang ke sini?”
Tampaknya ia sangat takut kepada orang ini, begitu takutnya sehingga suaranya pun terdengar berubah.
Liu Ih-hin menjawab dengan dingin: “Liu Ih-hin ingin mati 10 tahun yang lalu, tapi karena dia masih hidup sampai hari ini, maka aku pun datang untuk meminta kematian.”
Thi-bin-boan-koan bertanya: “Kenapa aku harus membunuhmu?”
Liu Ih-hin menjawab: “Karena jika kau tidak membunuhku, akulah yang akan membunuhmu.”
Thi-bin-boan-koan terpana. Wajah Kau-hun-jiu pun berubah menjadi hijau.
Saat itulah kembali terdengar suara ketukan di pintu.
Kali ini orang yang mengetuk berada di luar, tapi tiba-tiba dia berjalan masuk, dia masuk tanpa membuka pintu.
Pintu kayu yang tebal itu seperti sehelai kertas tipis di hadapannya!
Ia tidak menghancurkan pintu itu dengan memakai alat atau mendepak pintu itu dengan kakinya, ia hanya berjalan maju begitu saja dan pintu itu pun tiba-tiba hancur berkeping-keping.
Tapi penampilannya sama sekali tidak mencerminkan kekasaran, dia malah terlihat seperti seorang pelajar yang halus dan lembut, wajahnya yang putih dan bersih itu pun selalu tersenyum.
Sekarang dia sedang tersenyum dan berkata: “Aku juga manusia, maka aku juga mengetuk.”
Thi-bin-boan-koan tiba-tiba melihat bahwa sekalipun dia tersenyum, nafsu membunuh dan tatapan setajam pisau tampak menyorot di matanya.
Kau-hun-jiu kembali mundur 2 langkah dan berseru: “Siau Jiu-ih!”
Orang itu tersenyum: “Hebat, sobat, pengetahuanmu memang mengesankan!”
Thi-bin-boan-koan kembali terkejut: “Toan-jong-kiam-khek (Pendekar Pedang Penghancur Usus) Siau Jiu-ih?”
Orang itu mengangguk dan menarik nafas: “Angin dan hujan musim gugur selalu menghadirkan kecemasan, kalau ada yang akan terbunuh, aku pun selalu merasa cemas.”
(Catatan: Jiu-ih berarti angin musim gugur, kembali sebuah permainan kata-kata.)
Thi-bin-boan-koan tak tahan untuk tidak bertanya: “Mencemaskan apa?”
Siau Jiu-ih menjawab dengan santai: “Sekarang pun aku sedang cemas karena aku tak bisa memutuskan apakah aku yang akan membunuh kalian atau aku harus membiarkan Liu-toako yang membunuh kalian.”
Thi-bin-boan-koan tiba-tiba tertawa, tapi suara tawanya tersekat di tenggorokan dan lebih mirip suara tangisan.
Kau-hun-jiu malah lebih lucu, ia memandang ke sekeliling ruangan itu, seolah-olah sedang mencari jalan keluar.
Tiba-tiba seorang laki-laki berkata sambil tertawa: “Apa yang kau cari? Sepasang gaetan perakmu?”
Laki-laki ini berdiri di luar jendela, wajahnya tirus dan hitam dan tubuhnya pendek, tapi dia mempunyai jenggot berwarna merah yang menutupi sebagian besar wajahnya, juga ada sepasang gaetan di genggamannya, gaetan milik Kau-hun-jiu.
Ia tersenyum dan berkata: “Aku sudah membawakan gaetanmu ke sini, ambillah!”
Waktu dia selesai mengatakan 'ambillah', dia mendorongkan tangannya ke depan dan sepasang gaetan itu terbang dengan perlahan ke arah Kau-hun-jiu, benar-benar perlahan, seolah-olah ada sepasang tangan tak kelihatan yang membawanya.
Bahkan Thi-bin-boan-koan pun mengenali orang ini dan dia berteriak: “Jian-li-tok-heng (Pengelana Ribuan Li) Tokko Hong?”
Tokko Hong juga mengangguk: “Aku jarang memasuki kamar orang lain, tapi kali ini aku membuat pengecualian!” Waktu ucapannya habis, dia sudah menghilang.
Tiba-tiba ia muncul di pintu dan mengetuk pintu yang telah hancur itu; tepat ketika suara ketukan terdengar, dia tiba-tiba melesat kembali ke jendela dan melompat masuk lewat jendela; sambil tersenyum, ia berkata: “Aku manusia juga, aku mengetuk.”
Pintu itu telah hancur berkeping-keping, tapi dia masih mengetuknya; sesudah mengetuk, dia malah melompat masuk lewat jendela.
Kau-hun-jiu telah menangkap gaetannya. Tiba-tiba dia berteriak dengan bengis: “Apakah kau ke sini untuk mengganggu kami juga?”
Tokko Hong menjawab dengan santai: “Aku tidak membunuh anjing liar, aku hanya menonton orang membunuh.”
Ia menarik sebuah kursi dan duduk, tepat di dekat jendela. Langit di luar sana tampak semakin merah.
Liok Siau-hong masih berbaring dengan santai di ranjangnya, seolah-olah tak perduli apa pun yang terjadi di sana, semuanya tak ada hubungannya dengan dirinya.
Ia tahu tentang Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, dan Tokko Hong.
Mungkin tidak banyak orang di dunia persilatan yang tak tahu tentang mereka, tapi lebih sedikit lagi orang yang bisa membuat Liok Siau-hong bangkit dari ranjang itu sekarang. Tampaknya dia telah memutuskan untuk tinggal di situ dan bermalas-malasan di atas ranjang.
Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, dan Tokko Hong mungkin bukan orang-orang yang paling aneh di dunia persilatan, namun mereka tidak jauh dari itu. Tapi sekarang mereka datang bersama-sama dan muncul di sini, sebenarnya untuk apa?
Walaupun wajahnya terlihat amat hijau, Kau-hun-jiu masih bisa mendengus dan berkata: “Jing-ih-lau tiada persoalan atau dendam permusuhan dengan kalian bertiga, kenapa kalian datang ke mari dan membuat masalah dengan kami?”
Siau Jiu-ih menjawab: “Karena aku suka!”
Ia tersenyum dan melanjutkan: “Aku membunuh siapa pun yang aku inginkan bila aku suka, aku ingin membunuh kalian berdua hari ini, maka aku datang untuk membunuh kalian!”
Kau-hun-jiu melirik Thi-bin-boan-koan dan bertanya dengan lambat: “Bagaimana jika kau tidak suka?”
Siau Jiu-ih menjawab: “Bila aku tidak suka, bahkan jika kau berlutut dan memohon juga aku tidak akan mengangkat satu jari pun!”
Kau-hun-jiu menarik nafas; saat itu juga Thi-bin-boan-koan melompat maju dan berjumpalitan, dengan sepasang boan-koan-pitnya yang terbuat dari besi ia menutuk ke arah hiat-to di tubuh Liu Ih-hin.
Gerakannya tidak luar biasa, tapi akurat, cepat, dan efektif!
Liu Ih-hin malah melangkah maju. “Buk!”, Sepasang boan-koan-pit itu serentak menusuk pundak dan dadanya.
Tapi bola besi yang terpasang di tangan kirinya juga mendarat di wajah Thi-bin-boan-koan. Wajah itu tiba-tiba hancur terbelah dua.
Dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat tubuhnya melunglai, tapi gaetan di tangan kanan Liu Ih-hin menahan tubuhnya dan mencegahnya roboh ke lantai.
Boan-koan-pit itu masih menancap di tubuh Liu Ih-hin, walaupun tidak mengenai jalan darah yang dituju, tapi tetap saja telah menancap dalam-dalam.
Liu Ih-hin seolah-olah tidak merasakannya dan ia hanya memandang dingin pada wajah yang hancur itu; tiba-tiba ia berkata dengan dingin: “Ternyata wajahnya tidak terbuat dari besi.”
Sekali ayun dengan gaetannya dan tubuh Thi-bin-boan-koan pun melayang keluar jendela, untuk menemui Hakim yang sebenar-benarnya.
Saat itulah sepasang gaetan perak milik Kau-hun-jiu juga melayang keluar jendela.
Tapi dia masih berada di dalam kamar itu, wajahnya pucat, tangannya terkulai, sambungan di kedua tangan itu sudah mengeluarkan darah dengan derasnya.
Darah juga menetes dari pedang pendek di tangan Siau Jiu-ih.
Ia tersenyum, memandang pada Kau-hun-jiu, dan berkata: “Kelihatannya kau tak akan pernah bisa menggaet jiwa orang lagi dengan tanganmu itu!”
Kau-hun-jiu mengkertakkan giginya, begitu kerasnya sehingga terdengar di seluruh ruangan itu, tiba-tiba dia menjerit: “Kenapa kau tak membunuhku!”
Siau Jiu-ih menjawab: “Karena aku tidak ingin membunuhmu, sekarang aku ingin kau pulang dan beritahu pada orang-orang di lotengmu bahwa mereka lebih baik tinggal di sana dan jangan keluar selama 2 bulan ini, atau mereka akan menemukan kenyataan bahwa sangatlah sukar untuk kembali ke loteng kalian dalam keadaan hidup.”
Mimik muka Kau-hun-jiu berubah beberapa kali, tapi ia tidak berkata apa-apa dan mulai berjalan ke arah pintu.
Tiba-tiba Tokko Hong muncul di hadapannya dan berkata dengan dingin: “Kau masuk lewat jendela, jadi sebaiknya kau juga keluar lewat jendela!”
Kau-hun-jiu menatapnya dengan bengis sebelum akhirnya menghentakkan kakinya, 2 orang yang masuk lewat jendela itu akhirnya keluar lewat jendela juga.
Liu Ih-hin memandang langit yang gelap di luar jendela, boan-koan-pit itu masih menancap di tubuhnya.
Siau Jiu-ih berjalan menghampiri dan mencabut boan-koan-pit itu dengan perlahan. Melihat darah yang mengucur dari dadanya, sedikit rasa simpati pun muncul dari sepasang matanya yang dingin seperti batu.
Liu Ih-hin tiba-tiba menarik nafas dalam-dalam: “Sayang.... sayang....”
Siau Jiu-ih bertanya: “Sayang kau tidak mati kali ini?”
Liu Ih-hin tidak menjawab!
Siau Jiu-ih juga menarik nafas dalam-dalam: “Kenapa kau melakukan ini pada dirimu sendiri?”
Tokko Hong tiba-tiba juga menarik nafas: “Kau menghancurkan usus orang, tapi dia menghancurkan dirinya sendiri!”
______________________________
Seseorang telah tewas di kamar itu dan kamar itu sendiri pun berantakan, tapi Liok Siau-hong masih tidak bergerak sedikit pun juga, seolah-olah ia tidak melihat apa-apa.
Yang lebih aneh lagi adalah ketiga orang itu tampaknya juga tidak meliriknya, seakan-akan tidak ada orang yang berbaring di atas ranjang tersebut.
Kamar itu sudah gelap. Mereka berdiri di sana dalam kegelapan, tidak ada yang bicara, tapi tidak ada juga yang pergi.
Saat itulah terdengar suara musik yang mengalun dibawa angin malam, suara yang indah seolah datang dari surga.
Semangat Tokko Hong tiba-tiba tampak bangkit. Ia berkata dengan suara yang serius: “Mereka di sini!”
Siapa yang ada di sini? Siapa yang memainkan musik yang demikian indah?
Liok Siau-hong ikut mendengarkan juga, tak ada yang tahan untuk tidak mendengarkan musik seperti ini.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa kamar yang tadinya penuh dengan bau anyir darah, sekarang penuh dengan aroma yang sangat harum.
Aromanya lebih wangi daripada harum bunga yang datang terbawa angin bersama alunan musik itu, dalam sekejap mata dunia terasa penuh dengan keharuman yang luar biasa ini.
Lalu kamar yang gelap itu mendadak jadi terang benderang.
Liok Siau-hong akhirnya tak tahan untuk tidak membuka matanya, tiba-tiba ia melihat bunga-bunga memenuhi udara.
Bunga-bunga segar dari berbagai jenis tampak terbang dibawa angin melalui jendela dan pintu sebelum akhirnya mendarat di lantai dengan perlahan.
Sebuah karpet dari bunga-bunga segar tiba-tiba tercipta di atas lantai, terhampar hingga keluar pintu kamar.
Seseorang berjalan memasuki pintu itu.
Liok Siau-hong sudah banyak melihat wanita, ada yang jelek, ada pula yang sangat cantik. Tapi dia belum pernah melihat wanita secantik ini.
Dia mengenakan jubah hitam lembut yang terjulai sampai ke lantai, menyentuh bunga-bunga segar itu.
Rambutnya yang hitam terurai hingga ke pundak, tapi wajahnya putih, biji matanya yang hitam tampak begitu gelapnya sehingga terlihat berkilauan.
Tidak ada perhiasan lain, tak ada warna lain.
Ia berdiri di atas bunga-bunga itu, tetapi bunga-bunga yang indah dan berwarna-warni di atas lantai itu tiba-tiba seakan kehilangan warnanya.
Kecantikan seperti ini tidak berasal dari alam dunia, ini sesuatu yang lebih agung, sesuatu yang jauh di luar jangkauan akal pikiran.
Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, dan Tokko Hong diam-diam berpindah ke sudut ruangan, wajah mereka penuh dengan perasaan hormat.
Liok Siau-hong merasa seakan-akan berhenti bernafas. Tapi ia masih tidak mau bangkit.
Gadis berjubah hitam itu menatapnya, biji matanya bening dan jernih seperti embun musim semi yang jatuh di atas bunga mawar di saat fajar menjelang.
Suaranya juga lembut seperti angin, seperti angin musim semi yang berhembus di atas danau di pegunungan yang jauh sana di saat fajar tiba.
Tetapi senyumannya misterius, misterius seperti suara seruling yang mengalun di kejauhan di tengah malam yang sepi dan tenang, mengambang tanpa tujuan, membuat mustahil untuk ditebak maksud dan tujuannya. Ia memandang Liok Siau-hong, lalu tersenyum, tiba-tiba ia pun berlutut, seolah-olah segumpal awan di langit tiba-tiba turun ke dunia nyata.
Liok Siau-hong tidak bisa berdiam diri lagi di atas ranjang. Tiba-tiba ia melompat bangkit.
Tubuhnya mendadak seperti berubah menjadi sebatang anak panah yang melesat dari busur yang dipentang sekuatnya, tubuhnya terbang menembus kelambu tempat tidurnya; diikuti oleh suara “Brak!” ketika ia menembus atap.
Sinar bulan menyinari lubang di atap yang baru saja dibuatnya, tapi dia sudah tidak kelihatan lagi.
Seorang gadis yang sangat manis dan berwajah jujur dengan mata yang besar dan bundar, berdiri di samping gadis berjubah hitam itu, berdiri di atas hamparan bunga-bunga.
Melihat Liok Siau-hong tiba-tiba melarikan diri seperti baru saja melihat hantu, gadis itu merasa agak takut dan tak tahan lagi untuk tidak bertanya: “Yang Mulia begitu sopan dan hormat kepadanya, kenapa dia malah lari? Apa yang dia takuti?”
Gadis berjubah hitam tidak menjawab pertanyaan itu.
Tiba-tiba dia berdiri, menyentuh dengan perlahan rambutnya yang lembut seperti awan dan sebuah ekspresi aneh pun muncul di sepasang matanya yang bening dan bersinar; tak berapa lama kemudian ia akhirnya berbisik: “Dia benar-benar orang yang cerdik, salah satu orang yang paling cerdik di dunia ini!”
Bab 2: Orang Terkaya
Waktu ia masuk ke rumah kakek Ho yang kecil itu, kakek Ho sedang minum arak.
Rumah itu adalah sebuah pondok kayu yang kecil dan sangat sederhana, berdiri di tengah sebuah hutan kecil yang terdiri dari pohon-pohon kurma di lereng sebuah gunung.
Kakek Ho juga seperti pondok kayu kecil itu, kecil, menyendiri, rajin dan bersih, mirip sebutir kacang berkulit keras yang telah mengalami berbagai macam badai. Kebetulan ia sedang minum di atas sebuah meja yang kecil tetapi indah.
Arak itu baunya enak, ruangan itu penuh dengan kendi arak dari berbagai jenis dan ukuran, dan tampaknya juga berkualitas tinggi.
Waktu ia melihat cawan arak di tangan Liok Siau-hong, tak tahan lagi ia pun tertawa dan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata: “Apakah kau takut kalau aku tidak tahu kau datang ke sini untuk minta minum? Itukah sebabnya kau membawa sebuah cawan arak untuk mengingatkanku?”
Liok Siau-hong juga tertawa: “Waktu berangkat tadi, aku hampir tidak punya waktu untuk memakai celana, bagaimana mungkin aku punya waktu untuk meletakkan cawan ini? Tadi masih ada arak di cawan ini, sayang sekarang sudah tumpah semua.”
Kakek Ho merasa hal ini amat janggal sehingga ia mengerutkan alisnya dan bertanya: “Kenapa kau begitu tergesa-gesa?” Ia tidak dapat menebak apa yang telah terjadi.
Liok Siau-hong menarik nafas dan tertawa masam: “Tidak ada apa-apa, cuma tadi ada seorang gadis yang memasuki kamarku.”
Kakek Ho tertawa lagi: “Rasanya ada saja wanita yang masuk ke kamarmu setiap harinya, kau tidak pernah ketakutan sebelumnya!”
“Gadis ini berbeda!”
“Apa yang membuatnya begitu berbeda?”
“Semuanya!”
Kakek Ho mengedip-ngedipkan matanya: “Apakah gadis ini sangat buruk rupa?”
Liok Siau-hong tiba-tiba menggelengkan kepalanya: “Bukan saja dia tidak buruk, dia malah cukup cantik untuk menjadi seorang dewi, dan dia membawa hawa seperti seorang puteri!”
“Lalu apa yang kau takutkan? Takut dia akan memperkosamu?” kakek Ho bergurau.
Liok Siau-hong tersenyum: “Jika dia ingin memperkosaku, maka kau tak akan bisa mengusirku pergi biarpun dengan memakai sapu!”
“Lalu kenapa dia bisa membuatmu melarikan diri?” kakek Ho bertanya.
Liok Siau-hong menarik nafas lagi: “Dia berlutut di depanku!”
Kakek Ho membuka matanya selebar mungkin dan menatap Liok Siau-hong, seolah-olah sekuntum bunga tiba-tiba tumbuh dari lubang hidungnya.
Liok Siau-hong khawatir ia tidak mengerti dan menerangkan lebih lanjut: “Tepat sesudah dia masuk ke kamarku, tiba-tiba dia berlutut ke arahku, berlutut dengan kedua kakinya!”
Kakek Ho akhirnya menghembuskan nafas sekuatnya dan berkata: “Aku selalu mengira bahwa kau orang yang normal, tanpa ada masalah sama sekali, tapi sekarang aku mulai agak curiga!”
Liok Siau-hong kembali tersenyum masam: “Sekarang kau mulai agak curiga kalau-kalau aku memang ada masalah?”
Kakek Ho menjawab: “Seorang wanita seperti dewi, masuk ke kamarmu, dan berlutut di hadapanmu, tapi kau malah begitu ketakutan sehingga melarikan diri dengan panik?”
Liok Siau-hong mengangguk: “Bukan hanya panik, aku malah harus lari lewat atap!”
Kakek Ho menarik nafas: “Kelihatannya kau bukan hanya punya masalah, masalah itu pun rupanya sangat besar!”
“Aku lari karena otakku masih bekerja dengan baik!”
“Oh?”
“Tadi kan sudah kubilang, bukan hanya cantik, dia juga membawa hawa tertentu!”
“Hawa seperti apa?”
“Hawa seorang puteri!”
“Pernahkah kau bertemu dengan seorang puteri sebelumnya?”
“Belum, tapi aku tahu bahwa seorang puteri sekalipun tidak akan bisa membawa tiga orang pengawal seperti dia!”
“Siapa saja pengawalnya?”
“Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, dan Tokko Hong!”
Kakek Ho mengerutkan keningnya: “Liu Ih-hin yang bertarung seperti orang yang mencari mati itu?”
“Ya!” Liok Siau-hong menjawab.
“Siau Jiu-ih yang tampaknya halus dan terpelajar tapi kenyataannya kuat seperti banteng liar?”
“Ya!”
“Tokko Hong yang datang dan pergi tanpa jejak dan selalu sendirian?”
“Ya!”
“Mereka bertiga itu pengawalnya?”
“Ya!”
“Dia punya 3 orang pengawal seperti itu, dan masih berlutut kepadamu?”
“Ya!”
Kakek Ho tidak berkata apa-apa lagi. Ia kembali menuangkan secawan arak dan meminumnya.
Liok Siau-hong juga menghabiskan apa yang tersisa di cawannya dan berkata: “Kau mengerti sekarang?”
“Ya!” kakek Ho menjawab.
“Menurutmu, kenapa dia berlutut kepadaku?”
“Karena dia ingin kau melakukan sesuatu untuknya!”
“Seorang gadis seperti dia berlutut di hadapanku, untuk apa sebenarnya?”
“Untuk sesuatu yang amat sukar!”
“Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya, mengapa aku mau menempuh bermacam bahaya untuknya?”
“Hanya orang tolol yang mau!”
“Apakah aku tolol?”
“Tidak!”
“Jika kau jadi aku, apakah kau juga akan lari?”
“Aku akan lari sepertimu, malah mungkin sedikit lebih cepat!”
Liok Siau-hong menghembuskan nafas panjang sebelum tersenyum kembali: “Kelihatannya biarpun kau mulai tua, kau belum menjadi orang bodoh.”
Kakek Ho menjawab: “Tapi kaulah yang bodoh walaupun masih muda.”
“Oh?”
“Seorang gadis seperti dirinya mau berlutut kepadamu dan memohon sesuatu kepadamu, maka persoalan ini pasti tidak bisa diselesaikan oleh orang lain.”
Liok Siau-hong setuju dengan dugaan itu.
Kakek Ho meneruskan: “Ia sudah berhasil menemukanmu, apakah menurutmu kau bisa lari?”
“Menurutmu dia akan datang kembali?”
“Mungkin ya!”
Liok Siau-hong tersenyum: “Aku tidak punya banyak keahlian, tapi aku cukup cepat bila melarikan diri!”
“Hingga tidak ada orang yang bisa mengejarmu?”
“Hingga tidak banyak orang yang sanggup mengejarku!”
Kakek Ho mendengus.
Liok Siau-hong bertanya: “Kenapa kau mendengus?”
“Dengusanku itu berarti aku sedang mendengus!”
“Aku tidak tahu apa maksudmu.”
“Banyak yang tidak kau ketahui.”
Liok Siau-hong kembali tertawa: “Paling tidak aku masih tahu bagaimana caranya menentukan kendi mana di tumpukan ini yang berisi arak terbaik.”
Ia mengambil sebuah kendi, memang yang terbaik. Tapi baru saja ia hendak membuka segelnya, terdengar suara “Brak!” yang keras sebanyak tiga kali. Ternyata orang sudah membuat 3 buah lubang di dinding sebelah kanan, kiri dan di depannya.
Tiga orang laki-laki berjalan masuk melalui lubang di dinding itu. Ternyata mereka adalah Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih dan Tokko Hong.
Dari wajah mereka yang yakin dan tenang, seolah-olah bukan mereka yang membuat lubang di tembok itu. Seakan-akan mereka bertiga hanya membuka pintu dan kembali ke rumah mereka sendiri setelah semalaman keluar.
Siau Jiu-ih tersenyum dan berkata: “Kami tidak masuk lewat jendela!”
“Jadi kami bukan anjing!” Tokko Hong menyimpulkan.
Sementara keduanya bicara, masing-masing lalu mengambil sebuah kursi. Tiba-tiba saja kedua kursi yang berukiran indah itu sudah hancur berkeping-keping.
Liu Ih-hin duduk dengan perlahan di atas tempat tidur. Tapi baru saja ia duduk, seluruh tempat tidur itu sudah roboh dengan menimbulkan suara yang keras.
Siau Jiu-ih mengerutkan keningnya: “Perabotan ini rupanya tidak kuat.”
“Lain kali sebaiknya kita ingat supaya tidak membeli perabotan dari sini.” Tokko Hong meneruskan.
Saat kedua orang itu mengucapkan kalimat-kalimat ini, 5 atau 6 macam benda lagi telah hancur.
Liok Siau-hong dan kakek Ho seolah-olah tidak melihat semua kejadian itu.
Kakek Ho masih duduk dan minum-minum, tanpa sedikit pun ada perasaan marah di wajahnya, seolah-olah benda-benda yang mereka hancurkan itu bukanlah miliknya.
Sebentar saja semua benda di rumah itu sudah hancur, termasuk lebih dari 20 kendi arak.
Siau Jiu-ih memandang ke sekelilingnya: “Rumah ini seperti akan roboh, lebih baik kita perbaiki dulu!”
Tokko Hong berkomentar: “Itu baru ide yang bagus!”
Mereka bertiga mulai membongkar rumah itu. Liok Siau-hong dan kakek Ho masih duduk di sana, sambil meminum arak mereka dengan perlahan-lahan.
“Brak!”, “Bum!”, “Brukk!” Dinding di keempat sisi rumah itu sudah roboh. “Buummm!!” Atap pun roboh, tepat di atas kepala Liok Siau-hong dan kakek Ho.
Tiba-tiba mereka berdua menghilang.
Tokko Hong dan Siau Jiu-ih saling berpandangan dan melirik ke belakang mereka, kedua orang itu ternyata sudah duduk-duduk di lapangan rumput tepat di depan rumah, masih di atas 2 kursi, dan kendi arak pun masih berada di atas meja di hadapan mereka.
Siau Jiu-ih berkata lagi: “Nafsu adalah pisau yang mematahkan tulangmu, arak adalah racun yang merusak perutmu, kami tidak bisa membiarkannya!”
Tokko Hong pun meneruskan: “Benar, kita tidak boleh meninggalkan satu kendi pun!”
Maka dia berjalan menghampiri dengan tenang, mengambil kendi di atas meja, dan membantingnya ke atas tanah dengan keras.
Kali ini kendi itu tidak hancur. Tiba-tiba benda itu kembali ke atas meja.
Tokko Hong mengerutkan kening, mengambilnya kembali, dan melemparkannya sekuat yang ia bisa.
Kali ini dia melihat apa yang terjadi. Sebelum kendi itu tiba di tanah, Liok Siau-hong tiba-tiba merenggutnya di udara.
Tokko Hong melemparkannya lagi, Liok Siau-hong menangkapnya lagi. Dalam sekejap mata Tokko Hong telah melempar kendi itu paling tidak sebanyak 8 kali, tapi kendi ini masih tetap berdiri di atas meja. Tokko Hong menatap kendi itu, seolah-olah dia sudah kehilangan kesadarannya.
Sesudah memandangnya beberapa lama, akhirnya dia berbalik dan berkata pada Siau Jiu-ih dengan senyum yang dipaksakan di wajahnya: “Kendi ini kepunyaan setan, tidak bisa dihancurkan!”
Siau Jiu-ih bertanya: “Setan macam apa?”
“Setan arak tentunya!”
“Biar aku yang coba.”
Dia berjalan menghampiri, seakan-akan tidak ada 2 orang lainnya yang duduk di meja itu, tiba-tiba dia mengambil kendi itu dan mendorongnya.
Kendi itu melayang sejauh 20 atau 30 m. Tapi tetap tidak hancur.
Waktu kendi itu terbang, tubuh Liok Siau-hong pun turut serta.
Waktu Liok Siau-hong duduk kembali di kursinya, kendi itu juga kembali ke atas meja.
Siau Jiu-ih mengambilnya lagi dan mendorong, kali ini kendi itu terbang lebih cepat dan lebih jauh.
Dari lahirnya ia memang lelaki yang sangat kuat, dorongannya yang seperti itu mampu memindahkan sebuah balok besi yang berbobot beberapa ratus kilogram.
Tapi kendi itu kembali lagi, diikuti oleh Liok Siau-hong.
Siau Jiu-ih juga terpana sehingga ia bergumam: “Kelihatannya memang ada setan yang memiliki kendi ini, setan arak yang punya sayap.”
Liu Ih-hin tiba-tiba mendengus. Sesudah tertawa sekali, ia pun tiba di meja itu. Ia mengambil kendi itu dengan kedua tangannya, memegangnya erat-erat, dan tiba-tiba mencoba menghancurkannya dengan keningnya.
Orang lain berusaha menghancurkan kendi itu, tapi dia tampaknya mencoba menghancurkan kepalanya sendiri.
Siau Jiu-ih menarik nafas, kali ini kendi itu pasti akan hancur, tapi kepala Liu Ih-hin mungkin keadaannya tidak lebih baik.
Tapi kepala itu tidak rusak dan kendi itu juga tidak hancur.
Tangan Liok Siau-hong tiba-tiba terjulur dan menangkap kendi itu dengan menempatkan tangannya di antara kendi dan kepala Liu Ih-hin.
Liu Ih-hin mendengus lagi dan tiba-tiba dia melompat dan menendang perut Liok Siau-hong. Tendangan ini juga tidak berhasil.
Liok Siau-hong tiba-tiba melompat dan berjumpalitan melewati kepalanya, mendarat di belakangnya, masih menahan kendi arak itu dengan tangannya.
Liu Ih-hin menendang ke belakang, Liok Siau-hong bersalto kembali ke depannya. Tiba-tiba ia menarik nafas dan berkata: “Kendi arak ini adalah kendi kami yang terakhir, kepala itu juga kepalamu yang terakhir, kenapa kau begitu ingin menghancurkan kedua-duanya?”
Liu Ih-hin menatapnya, sebelah matanya yang masih normal seolah-olah sudah berubah jadi seperti matanya yang rusak, terlihat seperti lubang yang gelap dan dalam.
Siau Jiu-ih tiba-tiba tertawa: “Kelihatannya orang ini Liok Siau-hong yang tulen!”
Tokko Hong menyahut: “Oh, ya?”
“Selain Liok Siau-hong, siapa lagi yang mau bersusah-payah hanya untuk sekendi arak?”
Tokko Hong juga tertawa: “Itu benar, tidak banyak orang bodoh seperti ini di dunia!”
Sambil tersenyum Siau Jiu-ih menjauhkan kendi itu dari Liu Ih-hin dan meletakkannya kembali di atas meja.
“Bruk!” Tiba-tiba kendi itu pecah berkeping-keping dan arak di dalam kendi juga tumpah di atas meja -- tangan Liu Ih-hin dan tangan Liok Siau-hong tadi telah menyalurkan tenaga dalam ke kendi itu, biarpun kendi itu terbuat dari besi pun ia akan hancur.
Siau Jiu-ih tercengang sebentar, lalu mengeluarkan sebuah senyuman yang agak dipaksakan: “Aneh ya? Bila kau ingin menghancurkannya, eh tidak berhasil; bila kau tidak ingin menghancurkannya lagi, eh malah pecah sendiri!”
Liok Siau-hong menjawab dengan santai: “Banyak kejadian di dunia ini yang terjadi dengan sendirinya dan tidak bisa dipaksakan, jadi kenapa menganggapnya begitu serius?”
Sorot mata Liu Ih-hin tiba-tiba tampak sedih luar biasa dan membuat iba orang lain. Dia berpaling dan berjalan menjauh.
Tampaknya apa yang dikatakan Liok Siau-hong barusan telah mengingatkan dirinya pada suatu rahasia yang terkubur dalam-dalam di benaknya.
Saat itulah sebuah suara yang merdu dan menyegarkan terdengar berkata: “Yang Mulia Tan-hong Kiongcu (Puteri Tan-hong) dari dinasti Rajawali Emas, sang Puteri Burung Hong Merah sendiri, ingin bertemu dengan Liok-toasiauya, Liok Siau-hong.”
Suara itu milik seorang gadis manis berwajah polos yang memiliki mata besar dan berpakaian warna-warni.
Dia baru saja berjalan keluar dari semak-semak pohon kurma yang lebat, tapi tampaknya seluruh bintang-bintang di langit telah pindah ke matanya.
Liok Siau-hong bertanya: “Puteri Burung Hong Merah? Tan-hong Kiongcu?”
Gadis itu memandang dirinya dengan sepasang matanya yang bening dan bersinar, dan tersenyum: “Tan-hong Kiongcu, Burung Hong Merah. Bukan Puteri Siau Hong, burung hong kecil.”
Liok Siau-hong memandang kakek Ho, menarik nafas dan bergumam: “Jadi dia benar-benar seorang puteri!”
Gadis itu menjawab: “Seratus persen asli!”
Gadis itu tersenyum lagi, senyuman yang demikian manis: “Beliau takut kalau Liok-siauya lari lagi, maka dia menunggu di luar!”
Meskipun senyumnya manis, ia berbicara lambat-lambat. Liok Siau-hong hanya bisa balas tersenyum.
Gadis itu menatapnya dan tersenyum lagi: “Beliau menunggu di luar, sekarang pertanyaannya adalah apakah Liok-siauya berani menemuinya atau tidak.”
Kakek Ho tiba-tiba memotong: “Tentu saja dia berani!”
Lelaki tua yang pendiam dan misterius itu tersenyum dan melanjutkan: “Jika dia tidak pergi menemui sang puteri, seluruh rumah teman-temannya mungkin akan segera hancur!”
***
Bintang-bintang berkerlap-kerlip di langit, bulan muda berdiam dengan nyaman di peraduannya yang gemerlapan, tiba-tiba terpancar sebuah aroma yang harum di hutan pohon kurma itu -- asalnya bukan dari pohon kurma, itu adalah bau harum bunga.
Ternyata bau harum itu berasal dari seekor anjing, anjing pemburu yang tampaknya sangat kuat, dengan telinga yang panjang dan kaki-kaki yang panjang.
Terlihat sejumlah rangkaian bunga di tubuh anjing itu, dan dia pun membawa sebuah keranjang bunga di mulutnya.
Di dalam keranjang yang penuh bunga itu sekilas tampak kilauan emas, datangnya dari 4 buah emas batangan yang masing-masing berbobot paling sedikit 50 tael.
Gadis tadi mengambil keranjang itu dan berkata dengan manis: “Ini adalah ganti rugi dari puteri kami atas kerugian Losiansing itu, maukah Liok-toasiauya mewakilinya untuk menerimanya?”
Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya: “Untuk apa itu? Karena kalian sudah merobohkan rumahnya?”
Gadis itu mengangguk.
Liok Siau-hong berkata: “Empat buah emas batangan ini totalnya bernilai lebih dari 100 tael, bukan uang yang sedikit!”
Pondok kayu yang kecil seperti itu, dengan 50 tael pun kau akan mendapat beberapa buah, maka tentu saja ganti rugi yang ditawarkan oleh gadis itu memang tidak sedikit jumlahnya.
Gadis itu berkata: “Kami hanya berharap agar pak tua itu mau menerima penghargaan dan penyesalan kami yang kecil ini.”
Liok Siau-hong menjawab: “Dia tak akan mau!”
“Mengapa?”
“Karena dia sama sekali tidak butuh 100 tael perak ini, dan jika ini adalah ganti rugi untuk rumah itu, kelihatannya masih kurang.”
“Emas batangan ini masing-masing bernilai 50 tael!”
“Aku tahu.”
“Ini masih tidak cukup untuk membayar rumah itu?”
“Masih kurang sedikit!”
“Kurang berapa?”
“Berapa jumlahnya, aku tidak terlalu yakin. Tapi kurasa sekitar 30 atau 40 ribu tael lagi baru cukup!”
“30 atau 40 ribu tael apa?”
“30 atau 40 ribu tael emas, tentunya!”
Gadis itu tertawa.
“Kau tidak mempercayaiku?”
Gadis itu tak bisa berhenti tertawa. Mendengar lelucon seperti ini, apa lagi yang bisa ia lakukan selain tertawa? Membayar ganti rugi puluhan ribu tael emas?
Liok Siau-hong tiba-tiba mengambil kursi kayu berukir yang tadi dia duduki: “Apakah kau tahu kursi macam apa ini?”
Gadis itu berkata sambil tertawa: “Kursi untuk diduduki orang!”
“Tapi kursi ini dibuat 400 tahun yang lalu oleh tukang kayu terkenal Loh Tit, dia sendiri yang mengukir hiasan-hiasan ini. Hanya ada 11 buah kursi seperti ini di dunia, 5 ada di istana kaisar, 6 ada di sini, tapi kalian telah menghancurkan 4 buah di antaranya.”
Mata gadis itu terbelalak selebar mungkin ketika ia memandang kursi di tangan Liok Siau-hong, ia pun tertawa semakin keras!
Liok Siau-hong bertanya: “Apakah kau tahu siapa yang tinggal di rumah ini sebelumnya?”
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Dulu pondok ini adalah tempat peristirahatan musim panas milik pujangga terkenal Liok Hong-ong, ia menuliskan beberapa puisinya di dinding pondok ini, sekarang semuanya telah hancur berkeping-keping.”
Mata gadis itu semakin terbelalak dan ia tampak kaget.
Liok Siau-hong berkata dengan santai: “Setiap potong kayu di rumah ini tidak ternilai harganya, bahkan sekalipun kau datang dengan 40 atau 50 ribu tael emas, itu juga masih kurang.”